Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 33


__ADS_3

Ku lihat Jefri duduk di ruang tengah sambil menonton tv.


"Katanya mau pamit, kok masih disini?" tegurku sambil berjalan menghampirinya.


"It was, trus kan kamu suruh aku nunggu di bawah." jawabnya cuek.


Bener juga sih, batinku, "Trus sekarang ga mau pulang?"


"Kamu ngusir?" ditatapnya mataku intens.


Duh iman ku melemah cuy!!


"Ya sembarang sih, kalo masih mau disini ya silahkan." sewotku sambil berdiri hendak ke dapur.


Namun belum sempat tubuhku berdiri sempurna, Jefri menarik tanganku yang menyebabkan tubuhku menjadi berbalik tidak seimbang dan langsung mendarat bebas diatas tubuhnya.


Shit!!!


Umpatku dalam hati saat hidungku berhasil membentur dada bidang tubuhnya. Namun wangi tubuhnya memang sungguh membuatku terbius, seakan tidak mau lepas dari tubuhnya. Sampai aku tersadarkan gegara kedua tangannya kini berada di belakang tubuhku. Mendekapku.


"Maaf ya.." ucapnya lirih dan bahkan hampir tidak terdengar oleh telingaku.


Ku angkat kepalaku menghadap wajahnya. Aku sungguh jatuh hati padanya!


Tiba-tiba setetes air muncul disudut mataku, dengan cepat ku sembunyikan kembali wajahku dalam dada bidangnya. Namun seakan gerakkanku terlalu pelan, Jefri menyadari itu.


"Hei jangan nangis dong, kan aku yang salah.." lirihnya kini sembari mendekapku erat.


Tidak bisa lagi ku tahan, kalimat yang barusan diucapkannya seakan tamparan besar untukku. Seakan memberikan jawaban jika 'iya benar' dia sudah memiliki kekasih dan dia sangat mencintai kekasihnya itu.


Kini butiran demi butiran air mengalir bebas dari sudut mataku, membanjiri seluruh wajahku. Sebagian kaos yang digunakan Jefri pun ikut menjadi saksi dari pedihnya rasa hatiku.


Aku mulai menjulurkan tanganku untuk mendekapnya. Menikmati hangatnya suhu tubuhnya. Merasakan nyamannya dalam lindungan tubuh kekarnya. Wangi tubuhnya ku hirup dengan lekat, ku simpan dalam otakku agar aku mampu melepaskannya. Namun tubuhku seakan tidak rela untuk membiarkannya pergi.

__ADS_1


Jefri tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya mendekapku, mendengarkan suara tangis yang coba ku tahan, sambil mengelus pelan tubuhku. Semakin lama tangisku semakin menjadi. Aku tidak mampu lagi menutupi isak tangisku. Jefri semakin erat mendekapku dan mengecup puncak kepalaku, lama. Hingga akhirnya aku tertidur dalam dekapannya.


**********


Jefri POV.


"Katanya mau pamit, kok masih disini?" tegurnya saat menuruni tangga dan menghampiriku.


"It was, trus kan kamu suruh aku nunggu di bawah." jawabku sesuai titahnya.


"Trus sekarang ga mau pulang?"


"Kamu ngusir?" ku tatap wajahnya intens.


"Ya sembarang sih, kalo masih mau disini ya silahkan." sewotnya yang kemudian hendak berdiri meninggalkanku.


Dengan cepat ku raih tangannya hingga dia berbalik dan langsung terjatuh tepat diatas dadaku. Aku merasa bersalah padanya. Ku dekap tubuhnya kini.


Dia menatapku, lalu tiba-tiba ku lihat matanya memerah mengkilat, ada genangan air dipelupuk matanya. Lalu dia menyembunyikan kembali wajahnya di dadaku.


"Hei jangan nangis dong, kan aku yang salah.." ujarku sambil mendekap lebih erat tubuhnya.


Tak lama berselang, Tika membalas dekapanku namun diiringi dengan suara isakkan tangisnya. Astaga apa yang aku lakukan? Ku biarkan dia menangis meluapkan emosinya, ku usap pelan punggungnya.


Ya Tuhan, mengapa dia memangis seperti ini? Apakah aku penyebabnya? Kembali terlintas dalam otakku tentang kalimat yang sempat diucapkan Alex padaku 3 hari yang lalu. Bahwa Tika sudah tahu jika aku memiliki Paula.


Ya benar, pantas saja tadi saat Paula menelpon ku, Tika terlihat agak sewot dan berbeda. Dan ya benar, sekali lagi aku ingat kalimat yang Tika katakan saat itu, sampai dia meninggalkanku sendiri di sana.


Entah apa yang ada didalam pikirannya saat ini, hingga dia bisa menangis seperti ini.


Apa ini salah satu bentuk ketulusannya padaku? Sebegitu terlukanya kah dia dengan perlakuanku ini. Aku sungguh tidak ada niat untuk menyakitimu. Tidak ada sedikitpun niat itu!!


Yang ada aku ingin melindungimu, aku ingin bersamamu. Tapi aku takut.. Aku terlalu takut untuk memilikimu sepenuhnya.

__ADS_1


Dan aku terlalu takut untuk memilih.


Semua kalimat itu hanya mampu aku ucapkan dalam otakku saja. Hingga aku sadar, tidak ada lagi suara isak tangis Tika. Tenang dan damai.


"Tik.. Tikaa." panggilku.


Tidak ada jawaban. Namun masih dapat ku rasakan nafasnya yang naik turun. Mungkin dia tertidur, pikirku. Dengan sigap ku angkat tubuhnya ala-ala Bride's, ku bawa menuju kamarnya. Ku rebahkan tubuhnya diatas ranjang putihnya. Lalu ku selimuti dengan bedcover putih yang tersedia. Ku tatapi nanar wajahnya yang begitu innocent. Ku kecup dahinya kilas. Kemudian ku tinggalkan dia tidur di kamarnya untuk beristirahat.


Ku lirik jam tanganku setelah aku berhasil menutup pintu kamar Tika, "Shiitt!!!"


Sudah jam 6, aku harus pulang dulu ke rumah ganti baju, sempet kali ya, pikirku. Aku bergegas untuk pulang tidak lupa ku tutup pintu depan rumahnya, lalu ku gembok pagarnya. Ku tinggalkan dia tertidur sendiri.


**********


"Lama amat sih Pi, mampir kemana dulu sih?" omel Paula begitu aku sampai.


"Ketiduran." jawabku asal, "Mana barang yang mau dibawa?"


"Aissh kebiasaan deh, janjinya jam 7 datangnya lewat dari jam 7. Tuh di dalam tasnya."


Aku tidak menanggapi omongan Paula. Segera ku angkat tas kopernya dan memasukkannya ke kursi belakang mobilku.


"Ayo cepetan, langsung berangkat aja, kan katanya udah telat." aku balik sewot.


"Bentar ah ada yang ketinggalan."


Aku langsung masuk ke dalam mobil, menunggunya duduk di balik kemudi. Tak berapa lama Paula masuk dan memasang safety beltnya. Ku nyalan mobil dan langsung ku ijak gas menuju ke bandara.


Selama di perjalanan aku hanya diam, karena memang sekarang aku lagi males buat ngomong. Aku malas membahas apapun. Otakku melayang memikirkan Tika.


Begitupun dengan Paula, entah kenapa dia gak bawel. Dia sama sekali tidak seperti biasa nya yang selalu ngomong, selalu bertanya detail penyebab keterlambatanku, pokoknya dia selalu mendominasi.


Ku biarkan dia tetap diam. Karena untuk sekarang itu lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2