
Still Lisa POV.
Tak terasa, waktu berlalu dengan begitu cepat. Gelak tawa dan berbagai obrolan membuat aku dan Dave semakin akrab. Hingga aku benar-benar melupakan keberadaan Julia saat itu. Hingga akhirnya kepalaku tiba-tiba saja merasa pusing. Aku memegangi pelipis mataku sambil perlahan menekan-nekan.
"Kamu kenapa?" tanya Dave di telingaku. Aku hanya menjawabnya dengan mengarahkan jari telunjukku pada bagian pelipis mata yang tadi sempat kupijat pelan.
"Ayo keluar dari sini, kita cari udara segar," ajaknya kembali berucap di telingaku dan dengan telapak tangannya yang menempel pada punggung bawahku.
Tanpa berpikir apa-apa, aku segera menerima tawarannya untuk keluar dari tempat bising ini. Lagi pula aku sepertinya memang memerlukan sedikit udara segar. Dave menggenggam tanganku, membawaku melewati kerumunan manusia yang asik berdansa dengan bebas di lantai dansa.
Sesekali bahuku bertabrakkan dengan bahu orang lain yang sangat menikmati musik. Pandanganku semakin buram hingga membuat tubuhku seakan melemah lalu tiba-tiba saja aku jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
—————
Dave POV.
Wanita yang sedari tadi kugenggam tangannya untuk membantunya keluar dari tempat ini, tiba-tiba terjatuh tepat di tengah-tengah lantai dansa. Membuat beberapa orang yang ada di sekitar kami menjadi sedikit berteriak terkejut.
Dengan sigap aku segera mengangkat tubuhnya bak bridal style, lalu membawanya keluar dari tempat ini. Aku langsung memasukkannya ke dalam mobilku. Meletakkannya di kursi depan lalu menurunkan sandaran kursinya. Tubuhnya terlihat lemah.
Kurogoh saku celanaku, mengambil ponselku lalu menekan nomer telepon Julia. Beberapa kali aku menghubunginya, tetapi selalu gagal. Bukan karena teleponnya tidak aktif, melainkan karena dia tidak menerima panggilan telepon dariku. Kalau sudah begini apa yang harus aku lakukan??
Aku tidak tahu harus membawanya ke mana.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyentuh pipinya, menepuk pelan setelah sebelumnya, aku memeriksa denyut nadi di lehernya yang terbuka. Semua masih terasa normal.
"Apa dia belum pernah minum minuman beralkohol? Atau jangan-jangan dia kebanyakkan minum?" gumamku sambil menyelipkan jemariku pada sela-sela rambutku lalu menariknya pelan.
Sialan!
Aku sudah merusak seorang wanita lagi. Padahal tadinya aku hanya ingin berkenalan padanya, karena aku tertarik mendengar penuturan Julia padaku beberapa hari lalu melalui sambungan telepon.
Ya, aku masih begitu ingat saat ucapan Julia saat itu. Dia mengatakannya dengan penuh semangat dan seolah sedang mempromosikan sebuah barang yang sangat bagus dan akan membuatku puas. Tunggu dulu, puas?
Aku kembali menatapi wanita yang masih terlelap dalam ketidaksadarannya. Kuhela napasku lalu aku embuskan dengan cepat. Kuulangi sekali lagi dengan tarikan napas yang aku maksimalkan, kemudian membuangnya dengan begitu kasar.
__ADS_1
Sekali lagi aku mencoba untuk membangunkannya, menepuk pipinya. Namun tiba-tiba saja mataku yang tadinya fokus pada wajah cantiknya kini menatap turun dari sana. Lehernya begitu jenjang, kulitnya putih dan bersih. Lalu semakin turun, terlihat sebuah lekukan bulatan yang menggoda.
Dengan susah payah aku menelan saliva-ku, saat mataku masih terfokus ke bagian yang menonjol itu. Sebagai lelaki normal, bagian itu memang menjadi pusat perhatian semua mata lelaki. Apa lagi jika setengah terbuka dan terlihat seperti sekarang ini. Dengan gerakan naik turun yang begitu jelas terlihat akibat pernapasannya.
'Ya ampun apa yang sudah aku pikirkan? Bukannya aku sudsh berjanji tidak akan bermain wanita lagi?' bisikku dalam hati.
Cepat-cepat aku melangkah mundur, setelah tadi memasukkan setengah tubuhku untuk mencoba membangunkannya. Dengan pikiran yang kacau aku kembali menghubungi Julia yang mendadak saat ini nomernya tidak aktif. Membuat pikiranku semakin kalut.
'Lalu harus aku bawa ke mana wanita ini?' batinku yang seraya berdecak kesal.
Kuarahkan pandanganku melihat ke sekitaran. Parkiran basemen ini memang nampak sepi, sebab masih belum waktunya untuk pulang, bagi mereka yang benar-benar ingin menghabiskan kesenangannya.
Dengan pintu mobilku yang masih terbuka, aku mencoba menyalakan mesinnya, lalu menghidupkan AC dan kembali menutup pintu mobil dengan pelan. Sejenak aku biarkan wanita itu di dalam mobil. Mungkin saja ia hanya pingsan sesaat.
Kusandarkan tubuhku pada mobil hitam yang bermerk Aston Martin series Rapide yang kumiliki ini, lalu kembali ku rogoh saku celanaku untuk mengambil sebatang rokok dari kotaknya dan menyulutnya.
Kunikmati sebatang rokok itu dengan perlahan sambil menjernihkan pikiranku. Sesekali aku menundukkan kepalaku, menatapi ujung sepatu yang membungkus kakiku dengan begitu sempurna. Lalu mengembuskan napas, berusaha membuat pikiranku tenang.
Sekilas terlintas ideku untuk membawa wanita ini pulang ke apartemenku. Ya, kenapa tidak dari tadi saja aku membawanya ke apartemen? Kenapa baru terpikir sekarang? Dengan bodoh aku menepuk keningku sendiri kemudian membuang putung rokok yang tersisa sedikit itu ke sembarang arah dan menginjaknya dengan alas sepatuku yang mengkilap.
Segera kulangkahkan kakiku menuju pintu satunya lagi lalu masuk dan duduk di balik kemudi. Sebelum aku menginjak pedal gas mobil ini, aku sempat memandangi wajah wanita yang terbaring di sebelahku ini. Kemudian melesat pergi meninggalkan salah satu gedung klub malam yang paling terkenal di kota ini.
Isi pesan itupun sangat singkat. Hanya sebuah kalimat yang menyatakan bahwa teman wanitanya ini sedang bersamaku. Itu saja.
Tidak butuh waktu lama, cukup sepuluh menit, akhirnya aku sampai membawanya masuk ke dalam parkiran basemen di gedung tempatku tinggal. Aku kembali mengedarkan pandangan mataku ke segala arah. Melihat situasi yang terjadi, sebelum aku lagi-lagi menggendong wanita ini untuk memasuki lift yang jaraknya lumayan jauh dari posisi mobilku berhenti.
Lagi-lagi mata nakalku memandangi kedua pahanya yang mulus di bawah cahaya lampu basemen. Dress yang ia kenakan begitu pemdekydan menggoda. Baru sekarang ini aku memerhatikan penampilannya. Saat di dalam klub tadi aku seakan terpesona pada wajahnya saja, hingga bagian lain pada tubuhnya tidak begitu aku perhatikan. Walau pada awalnya aku sudah melihatnya secara keseluruhan.
Untuk kedua kalinya aku menelan saliva-ku yang semakin terasa sulit dan ... pahit.
Aku kembali mengalihkan pandangan mataku, mengecek sekeliling, mematikan mesin mobil lalu perlahan turun dari mobil. Bergegas aku membuka pintu satunya dan kembali mengangkat wanita itu, membawanya menuju lift, naik ke lantai di mana kamarku berada.
Untungnya gedung apartemen yang kutinggali ini sangat mengedepankan soal privasi dari pemiliknya. Sehingga lift basemen hanya bisa digunakan oleh para pemegang kartu pintu kamar.
Sesampainya di kamar, aku segera merebahkannya di atas ranjang kamar tidurku. Aku mengambil napas dengan rakus, sebab terlalu lama aku mengangkatnya dari mobil hingga ke kamarku saat ini.
__ADS_1
Sambil mencoba mengatur kembali pernapasanku, dengan kedua tanganku yang berkecak pinggang, aku kembali menatapnya. Mataku kembali menyusuri bagian tubuhnya yang tidak tertutup dalam pakaiannya. Membuatku seakan ingin mencecapi setiap jengkal yang ada.
Sungguh sulit menjadi seorang lelaki dewasa yang normal sepertiku ini. Andai kalian tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Menjadi seorang lelaki yang di depan matanya ada kesempatan yang begitu besar, tapi harus menahan napsunya.
Perlahan aku membungkukkan tubuhku untuk melepaskan sepatu tinggi yang masih terpasang pada kaki jenjangnya. Dan entah apa yang merasukiku, hingga akhirnya dengan kurang ajar tanganku menyentuh permukaan kulit kakinya itu. Rasanya seakan terhipnotis, tanganku terus saja bergerak naik, seiring dengam tubuhku yang juga bergerak hingga kini sudah berada di atasnya.
Kutatapi wajahnya yang begitu membuatku terpesona dari awal pertemuan. Tanganku tanpa sadar kini bergerak mengelus pipinya yang begitu lembut. Lalu kulepaskan sebuah tas kecil yang dari awal memang membelit ke sebelah bahunya lalu menjatuhkannya ke lantai.
Tiba-tiba saja ia melenguh pelan, membuatku sedikit terkejut dan kembali menarik tanganku yang tadi mengelus pipinya. Lalu ia menyebutkan sebuah nama yang tidak aku ketahui. Namun dari caranya menyebutkan nama itu sungguh membuat hasratku kembali bergairah. Dan dalam kondisi seperti ini, aku yakin sekali jika dia memang benar-benar mabuk.
Dengan berani aku mendekatkan bibirku pada telinganya, lalu mengecupnya sekilas di sana. Lagi-lagi ia melenguh tapi tidak menyebutkan nama yang sama lagi. Semakin berani, akhirnya aku mengecup bibir ranumnya, mencecapi dengan begitu lembut.
Beberapa detik terjadi lalu mendadak wanita ini membuka mulutnya meloloskan lidahku untuk masuk ke dalam rongga mulutnya. Menyusuri setiap jengkal dan membelit lidahnya. Penuh gairah. Hingga aku kembali melepaskan kecupan itu.
Kembali kupandangi wajahnya, kelopak matanya masih saja tertutup. Bibir ranumnya yang terasa manis sudah berhasil aku nikmati. Pandangan mataku kini kembali beralih pada bagian dadanya, membuat jantungku terasa berdegup lebih cepat dari sebelumnya, tidak beraturan.
Aku merubah posisiku, meraih kedua tangannya lalu kuletakkan di atas kepalanya. Kukunci dengan salah satu cengkraman tanganku. Kemudian aku menyematkan wajahku pada leher janjangnya lalu mengecupinya dengan lembut.
Terus aku melakukan step by step segalanya untuk menikmati tubuhnya. Bahkan aku seakan merasa puas dengan miliknya yang sungguh membuatku candu. Dan dengan tidak menduganya aku, malam ini kami lakukan berkali-kali. Mulai dari kondisinya yang mabuk hingga hampir setengah sadar.
Kami sangat menikmatinya ...
—————
Julia POV.
'Sialan, hape-ku lowbatt!' rutukku dalam hati, saat aku keluar dari sebuah ruangan VVIP yang menjadi salah satu fasilitas di klub malam ini.
Entah berapa lamanya aku di dalam ruangan itu, bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak pernah kulihat lagi. Tiba-tiba ponselku berbunyi, belum sempat aku melihat nama siapa yang muncul di layar kaca ponselku, dalam sekejap ponsel itu mati.
Blub!
Seketika layar ponsel itu langsung menjadi gelap. Membuatku semakin penasaran dengan siapa yang telah menghubungiku tadi.
Bergegas aku berjalan kembali menuju meja bar, tapi begitu sampai di sana aku tidak dapat menemukan keberadaan Lisa dan Dave yang aku tinggalkan. Apa mungkin mereka sudah pulang? Entahlah. Kemudian aku lebih memilih untuk segera pulang, agar aku bisa cepat mengisi kembali daya ponselku.
__ADS_1
Lagi pula setahuku Dave adalah lelaki yang baik. Walaupun terkesan playboy, dia tidak pernah akan berani menyentuh teman-temanku. Yeah! Dave pasti mengantarkan Lisa selamat sampai tujuan. Jadi aku tidak perlu khawatir.
Bersambung ...