
Dave POV.
Aku memandangi wajahnya, setelah sebelumnya melihat-lihat isi apartemennya. Belum genap sehari aku mengenal wanita ini, tapi dia sudah seperti candu bagiku. Selalu membuatku bergairah di setiap kesempatan. Kuraup sekali lagi bibir mungilnya yang ranum itu. Masih terasa manis walaupun ia hanya menelan air putih.
Teetttt teetttt!
Suara bel dari pintu apartemennya memaksaku untuk melepaskan rasa manis itu. Ia mendorong tubuhku pelan. Lalu meminta izinku untuk segera membukakan pintu karena suara bel itu terus saja berbunyi. Bahkan semakin brutal.
Aku menghela napasku setelah melihat punggungnya yang menghilang di balik lemari yang juga sebagai pembatas ruangan. Lalu melangkahkan kakiku untuk ikut menyusulnya ke depan melihat siapa yang telah mengganggu waktuku untuk bersenang-senang.
"Hai," sapa Lisa pada seorang wanita yang mana wanita itu adalah Julia. Temannya. Mereka saling memeluk dan melekatkan masing-masing pipi mereka secara bergantian.
Julia terkejut, ketika melihat aku yang muncul dari dalam. Dan dia sambil mengacungkan jari telunjuknya untuk menunjukku. Aku hanya menarik kedua sudut bibirku, memperlihatkan senyuman termanis yang aku punya. Dengan berjalan pelan aku melangkah ke belakang Lisa berdiri.
"Loh, Dave?"
Aku menyapanya, "Hai, Juls."
Julia menatapku dan Lisa secara bergantian dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Kemudian Lisa mempersilakan Julia untuk masuk ke apartemen-nya. Tapi saat Julia melangkahkan kakinya, aku justru malah meminta izin dari Lisa untuk segera pamit.
Karena tidak enak rasanya jika tidak memberikan waktu pada Lisa untuk bersama dengan temannya. Sebab aku yakin dalam sebuah hubungan perlu adanya ruang sendiri. Entah itu untuk berkumpul bersama teman atau sekedar untuk menyendiri.
"Aku pulang dulu ya? Nanti malam aku hubungi." Aku mengecup kanannya.
"Memang tahu nomer telponku?"
Aku kembali tersenyum padanya. "Tentu saja. Aku juga sudah menyimpan nomerku di hape kamu." Aku mencubit dagunya dengan lembut.
Lalu aku juga berpamitan dengan Julia, tapi tidak untuk mengecup pipinya. Sebab aku tahu pasti, jika aku mengecup pipi Julia, maka penilaian Lisa padaku pasti akan berkurang. Pasti akan ada minus-nya.
Jadi lah aku yang hanya melambaikan tangan pada Julia dan pergi berlalu keluar dari apartemen-nya itu. Dengan pasti aku melangkahkan kakiku menuju lift dan berakhir masuk ke dalam mobilku. Lalu aku kembali melesat pergi meninggalkan bangunan gedung apartemen itu.
Di sepanjang perjalanan, otakku terus saja memikirkan wanita yang bernama Lalisa Florencia tersebut. Bola matanya yang berwarna biru bersinar, hidungnya yang mancung lalu di sempurnakan dengan bibirnya yang merona segar. Membuatku selalu bergairah jika melihatnya.
Padahal jika dipikir-pikir, baru tadi malam aku mengenalnya, tetapi aku langsung berani memintanya untuk menjadi milikku. Apa aku sudah gila??
Kedua sudut bibirku tidak ada henti-hentinya untuk terus saja tertarik, mengembangkan sebuah lengkungan senyuman. Menghiasi hari-hariku yang tadinya sangat membosankan.
—————
__ADS_1
Lisa POV.
Aku langsung mengunci pintu apartemen-ku setelah Dave pergi. Lalu menyusul Julia yang sudah masuk ke dalam kamarku dan berbaring di ranjangku.
"Ini sprei bersih 'kan?" lirihnya pelan.
Aku menoleh menatapnya lalu tertawa terbahak-bahak. Dan menyatakan bahwa sprei di ranjangku ini memang dan masih bersih. Kini giliran Julia yang tertawa sebab ia dapat mengerti maksud dari lelucon garing yang coba aku sampaikan padanya.
Kemudian Julia langsung mendekatiku, mencercaku dengan berbagai macam pertanyaannya. Sedangkan aku sibuk mengeluarkan ponselku dari dalam tas dan mengisi penambah dayanya. Agar ponsel itu bisa kembali aktif.
"Lu sama dia ngapain aja?? Sorry ya tadi malem gua lupa, gua keasikan ngobrol sama temen lama." Julia menyesali perbuatannya padaku tadi malam.
Ya, masih ingat kah kalian? Dengan kejadian tadi malam di mana Julia hanya mengatakan untuk pergi ke belakang, tapi pada kenyataannya ia tidak pernah kembali pagi hingga berjam-jam lamanya. Sehingga membuatku merasa pusing melihat beberapa kilatan lampu di lantai dansa.
Belum lagi kebodohan yang aku lakukan saat bersama Dave di klub itu. Ya, aku berkali-kali menengak gelas kecil yang berisi minuman beralkohol hingga akhirnya aku pingsan karena mabuk.
Tapi tidak ada perasaan menyesal yang aku rasakan saat itu. Yang ada aku malah selalu menginginkannya. Mungkin benar kata orang yang menjabarkan tentang rasa nikmatnya penyatuan itu. Ditambah lagi aku yang baru kali ini merasakan semuanya. Benar-benar membuatku ingin lagi dan lagi.
"Woy!! Sialan gua dikacangin!" pekik Julia membuyarkan lamunanku pada lelaki itu.
Tiba-tiba keinginanku untuk mengetahui tentang latar belakang Dave timbul seketika. 'Bukan kah Julia sudah lebih dahulu mengenalnya? Mengapa tidak aku tanyakan saja padanya?' batinku saat melihat Julia yang kembali sibuk dengan benda canggih yang sangat tipis di tangannya.
"Juls ...," sapaku pelan. Julia hanga menjawab dengan dehamannya. Kemudian aku kembali memulai wawancaraku.
"Juls, lu 'kan udah kenal lama sama Dave. Ceritain dong dia orangnya kayak gimana?" pintaku dengan suara yang manja.
"Gua cuman kenal sebatas di klub itu aja gak lebih. Gak kayak lu yang bisa gaet dia sampe di luar klub." Kemudian Julia kembali menatap layar ponselnya.
Sedangkan aku, pikiranku melayang dengan begitu liar. "Lu tahu gak kalo ternyata dia kaya banget?" ucapku tanpa sadar. Ya, kalimat itu lolos begitu saja dari mulutku. Hingga membuat Julia mendelik sarkas padaku.
"Udah sampai sejauh apa lu sama dia dalam sehari semalam ini?
"Jauh, Juls. Jauh banget. Yang jelas dia baik dan dia nyuruh gua buat kuliah lagi."
"Trus kerjaan lu gimana?"
"Kalo gua bisa hidup nyaman tanpa pusing mikirin biaya hidup sama stress-nya kerjaan kantor, kenapa enggak?" Aku menjawabnya dengan penuh rasa bahagia.
"Tapi keluarga lu tetep ngirimin 'kan?"
__ADS_1
Aku mengangguk lalu kembali membalikkan tubuhku, menatap langit-langit kamarku. Membayangkan impian ku untuk menjadi wanita yang kaya raya, akan segera terwujud. Aku hanya perlu usaha sedikit lagi, agar Dave jatuh cinta padaku dan tergila-gila padaku. Aku bisa memanfaatkan Dave.
***
Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali alarm dari ponselku telah berbunyi. Itu menandakan bahwa aku harus segera bangun dari tidurku dan beranjak pergi untuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuhku dan segera berpakaian, bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Jarak dari apartemen-ku ke kantor tempatku bekerja memang cukup lumayan jauh, hanya saja aku tidak perlu repot untuk pergi ke sana. Setidaknya saat ini aku bisa menggunakan alat transportasi umum di sini, seperti kereta bawah tanah atau yang biasa dikenal dengan sebutan tube. Atau bisa juga menggunakan kereta atas tanah yang sering disebut dengan rail.
Dibandingkan dengan dulu, saat aku tinggal di rumah keluarga ibuku, aku harus menaiki transportasi umum sampai tiga atau bahkan empat kali ganti. Hingga akhirnya aku membutuhkan lebih banyak uang untuk pergi.
Dan kini sudah berbeda, hanya dengan sekali menaiki transportasi umum, aku sudah bisa sampai ke tempat kerjaku. Itu artinya aku juga bisa menghemat pemakaian oyster card-ku. Yang aku gunakan untuk membayar penggunaan alat transportasi tersebut sehingga harganya jauh lebih murah.
Oyster card sendiri bisa dengan mudah didapatkan di beberapa stasiun. Cara penggunaannya pun hampir sama dengan kartu Kereta Api Commuter yang ada di Jakarta.
Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk serangkaian perjalanan pagi ini ke tempat kerjaku. Yang akhirnya aku dapat duduk dengan lega di kursi kerja dan masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi sebelum jam bekerjaku dimulai.
Rencananya aku akan beranjak pergi ke pantry untuk membuat secangkir kopi, tetapi tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku kembali ke meja kerjaku, lalu mengambil tasku dan merogoh isinya. Mencari ponsel pintar yang aku miliki.
Kemudian aku kembali duduk di kursiku, mengurungkan niatku untuk pergi membuat secangkir kopi. Apa lagi setelah melihat nama siapa yang menelponku.
'My boy? Sejak kapan aku menyimpan nomer telepon orang dengan sebutan lebay seperti itu?' pikirku dalam hati.
Dengan pikiranku yang berusaha menerka-nerka dan jantungku yang tiba-tiba bergemuruh, aku menggeser tombol hijau pada layar untuk menerima panggilan itu.
Aku terkejut begitu mendengar suaranya dan dengan spontan menutup mulutku yang menganga, terbuka lebar. Lidahku seakan kelu demga tubuhku yang membeku. Aku tidak menyangka jika dia akan menghubungiku. Sebab tadi malam, saat aku menunggunya menelpon, dia malah tidak ada sama sekali memghubungiku. Hingga akhirnya aku ketiduran.
"Hai, my boy???" Aku tertawa terbahak-bahak seraya mengejeknya dengan menyebutkan nama yang tertera pada layar ponselku itu.
Ya benar. Yang menghubungiku pagi ini adalah Dave. Dia juga ikut tertawa di seberang sana saat mendengarku menyapanya.
Tak banyak yang coba ia katakan padaku saat ini. Dia hanya ingin mengajakku untuk makan siang bersamanya. Dan tanpa pikir panjang lagi ajakannya itu segera aku terima. Lalu aku menyebutkan nama perusahaan di mana aku bekerja.
Kemudian Dave mengatakan bahwa ia akan menjemputku tepat pada pukul dua belas siang. Dan lagi-lagi aku menerima titahnya itu.
Setelah panggilan teleponnya berakhir, aku kembali memulai pekerjaanku dengan semangat. Bahkan yang biasanya aku mengeluh saat kembali menerima tugas, kini terasa ringan dan biasa saja.
Tidak ada lagi sebuah keluhan.
Dan mungkin yang ada hanya senyuman.
__ADS_1
Bersambung ...