
Lisa POV.
Di sepanjang perjalanan yang entah menuju ke mana, Dave selalu menggenggam jemariku. Sesekali ia menariknya lalu mengecup punggung tanganku. Membuatku merasa seperti wanita spesial baginya.
"Kita mau ke mana sih?" tanyaku sekali lagi.
Lagi-lagi Dave hanya tersenyum dengan arah pandangan matanya yang lurus ke depan, memerhatikan jalanan yang kami lalui dengan mobilnya ini. Tak butuh waktu lama, Dave membelokkan arah setir kemudinya, memasuki sebuah tempat yang memang di khususkan untuk memarkirkan mobil.
"Jalan kaki lagi?" tanyaku.
Dave mengangguk, "Makanya aku minta kamu pake sepatu kets," sahutnya lalu melepaskan safety belt-nya lalu melepaskan jasnya juga.
Dave melemparkan jasnya ke kursi belakang sambil tersenyum menatapku sedangkan aku memerhatikan apa yang ia lakukan. Membuka kancing lengan kemejanya lalu menggulung lengan kemeja itu hingga ke siku.
"Are you ready?" Dave berseru.
"For what?"
"For this."
Dave mengajakku turun dari mobil dan berjalan mengelilingi Trafalgar Square. Dulunya tempat ini adalah kandang kuda kerajaan. Sekarang telah berdiri National Gallery di sana di mana terdapat lukisan-lukisan dengan tiket masuk yang diberikan secara cuma-cuma. Di depan National Gallery juga terdapat empat patung singa dan patung Admiral Nelson yang gugur saat Perang Trafalgar melawan Prancis dan Spanyol.
Di sana juga ada area dengan air mancur di tengahnya. Trafalgar Square adalah area publik dan sering digunakan untuk demo oleh masyarakat di daerah Westminster. Tempat yang begitu luas dan penuh dengan sejarah.
Hampir satu jam lebih aku dan Dave mengelilingi tempat itu. Hingga akhirnya membuatnya mengeluh karena merasa lapar.
"Kamu gak laper?" Dave menanyaiku sambil terus memegang pinggangku.
"Kamu laper ya? Aku kan tadi banyak makan donat." Aku terkekeh melirik padanya mengingatkan padanya jika sebelumnya ia memberikanku banyak donat saat di kantornya.
Dave terkekeh lalu memindahkan tangannya pada pundakku, merangkulku dari samping. Setelah dari sana Dave membawaku makan siang di sebuah tempat yang juga tidak kalah menarik dan indahnya. Yaitu Cruise di Sungat Thames sambil menikmati and pemandangan indah jantung kota London yang memiki jam terbesar di dunia. Big Ben.
Dave begitu romantis, dia selalu membuatku tertawa dengan kelakarnya. Tak jarang ia pun sering membuatku merasa spesial di depan banyak orang. Kami benar-benar menikmati hari ini dengan begitu indah. Bahkan Dave juga mengajakku untuk menikmati terbenamnya matahari yang jarang sekali aku lakukan.
Langit mulai oranye becampur dengan putihnya awan kemudian perlahan matahari terbenam, menimbulkan langit yang menggelap. Hawa semakin dingin membuatku mengancingkan coat yang kukenakan.
"Kamu gak kedinginan?" Aku bertanya saat Dave menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Lalu menoleh padaku.
"Dingin. Tapi kalo kamu duduknya lebih rapat sama aku ... mungkin dinginnya hilang." Dave kembali menggombal. Tapi aku suka itu. Mungkin jika saat ini ada cermin, aku akan melihat wajahku yang bersemu merah akibat gombalannya itu.
Dave mendekatkan duduknya padaku, lalu meletakkan tas yang sedari tadi menjadi oembatas di antara kami itu ke atas meja. Lalu ia memelukku dari samping. Mengecup pucuk kepalaku begitu lama lalu mengeratkan dekapannya. Aku melewati senja itu dengan rasa bahagia yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan.
—————
Dave POV.
Lisa langsung tertidur di dalam mobil saat perjalanan pulang. Padahal baru sekitar dua menit kami dalam perjalanan. Sesekali aku memandangi wajahnya. Aku sungguh jatuh cinta dengan wanita ini!
Sebelum kembali ke mobil setelah turun dari cruise, Lisa sempat mengatakan bahwa ia ingin aku kembali mengantarnya pulangbke apartemen-nya bukan membawanya pulang ke tempatku. Aku menuruti keinginannya.
Aku tidak pernah dikendalikan oleh siapa pun, tetapi begitu dengan wanita ini. Ada rasa senang jika ia yang mengendalikan hidupku. Ada pula rasa bahagia jika aku berhasil membuatnya takut.
Bahkan rasa cemas yang selama ini pernah aku rasakan sebelum tidur, seketika sirna. Semenjak pikiranku hanya berisi tentangnya. Belum lagi sikapnya, tawanya. Kedua pipiku rasanya tidak ingin berhenti tersenyim jika mengingatnya.
🎶
Thinking you could live without me
Thinking you could live without me
Baby, I'm the one who put you up there
I don't know why
__ADS_1
Thinking you could live without me
Live without me
Baby, I'm the one who put you up there
I don't know why
🎶
Tiba-tiba ponselku berbunyi membuat Lisa melenguh. Dengan cepat aku merogoh saku celanaku untuk menekan tombol silent. Aku menoleh melihat Lisa, ia masih tertidur lelap. Hampir saja aku membangunkannya!
Setelah kulihat nama siapa yang menghubungiku, lalu kugeserkan tombol hijau pada layar. "Hallo?"
Panggilan telepon itu dari Dana, adikku. Dia menanyakan kapan aku akan mengiriminya uang sebab ia kehabisan uangnya. Aku benar-benar lupa jika harus melakukan semua itu. Aku terbuai akan kebersamaanku dengan wanita di sampingku ini dan bisa-bisanya aku melupakan kewajiabanku.
"Maaf aku lupa. Sekarang aku lagi di jalan. Trus gimana test-nya?"
Dana mengatakan jika dokter psikologi-nya ternyata sedang tidak ada di tempat, hingga akhirnya dia harus menunggu dua hari lagi. Dan membutuhkan uang untuk biaya menginap.
"Kamu 'kan bisa tinggal di villa aku? Besok kamu datengin aja, biar aku kasih tahu mereka. Iya."
Sesingkat itu lah pembicaraanku bersama dengan Dana setiap kali ia menelpon. Bukan karena adanya wanita di sampingku lalu aku akan segera mengakhiri pembicaraan, hanya saja ... kami memang seperti itu sejak dulu. Sejak kecil.
Sejak kedua orangtua kami meninggal, Dana depresi. Sebab kematian kedua orangtua kami bukanlah disebabkan oleh kecelakaan atau sejeninya. Tapi ... pembunuhan.
Ya, aku menyebutnya seperti itu. Pasalnya ibuku selalu saja disakiti oleh ayah. Sejak aku kecil hingga Dana lahir. Saat umurku sembilan tahun, ayah menjadi seorang pengangguran. Ibu menjadi buruh pakaian dari rumahbke rumah. Dan sejak kecil aku selalu mencari cara agar aku, Ibu dan Dana bisa makan untuk setiap harinya. Sebab secara tiba-tiba saja ayah meninggalkan rumah, tidak pernah kembali.
Sampai suatu saat aku remaja dan berhasil membantu orang lain untuk menjual barang-barang pindahan mereka. Aku mendapat royalti hingga akhirnya pekerjaan itu aku geluti setiap harinya. Kami bertiga perlahan dapat hidup dengan layak tapi tidak bertahan lama.
Ayah kembali, bersikap kasar dengan ibu, mendorongku hingga aku terjatuh hanya untuk meminta uang. Dan itu terjadi terus menerus hingga menyebabkan Dana memiliki sisi buruknya. Kemudian tanpa sengaja, suatu malam, ayah ke dapur dalam keadaan mabuk. Mencari ibu.
Aku tidak tahu persis bagaimana kejadian itu, sebab saat itu aku sedang tidak ada di rumah. Yang ada di rumah hanya Dana. Ya, dia melihat jelas bagaimana kasarnya ayah menyetubuhi ibu dengan keji dan beringas, hingga ibu tak sadarkan diri akibat ulahnya. Ibu sesak napas dan berakhir tergeletak di lantai.
Dia menusuk ayah bertubi-tubi dengan menggunakan pisau dapur. Dan semenjak itu hubungan aku dan Dana setidit merenggang. Bahkan saat ia masuk penjara, aku merasa tidak tega. Lalu mengeluarkannya dengan uang jaminan. Uang yang aku kumpulkan untuk biaya sekolah kami.
Seminggu setelahnya, aku perlahan menjual isi rumah. Kemudian aku memasukkan Dana ke tempat rehaabilitasi umum. Bukan tanpa alasan, semua aku lakukan untuk kesembuhannya. Hingga akhirnya aku menjual rumah orangtua kami. Aku terus melanjutkan sekolahku hingga lulus, sendirian.
Perlahan aku mempelajari banyak hal tentang bisnis property. Hasil pertama aku dapatkan untuk membeli tanah di di kota Bali yang saat ini menjadi villa, yang rencananya akan aku berikan pada Dana. Lalu aku mencoba peruntunganku di kota ini. Tidak mudah semua ini aku dapatkan.
Begitu aku rasa cukup, aku mengeluarkan Dana dari tempat rehabilitasi itu dan membawanya ke kota London. Tetapi hidup terpisah denganku. Aku mengajarinya segala hal. Dia kembali hidup dengan seperti biasa. Tidak ada raut wajah penyesalan yang terpancari di wajah Dana setelah bertahun-tahun ia melakukan semuanya itu.
Singkatnya, aku tetap membiayai hidupnya. Beberapa bulan sekali ia akan pulang ke Bali untuk melakukan medical check-up secara rutin. Tapi jika kalian menyanyakan, apakah aku menyagangi Dana? Aku akan menjawab iya dan pasti. Tapi tidak untuk hidup bersama.
Tidak terasa akhirnya aku sampai membawa Lisa pulang ke apartemen-nya. Ku belokkan setir kemudiku memasuki area basemen gedungnya lalu kuparkirkan mobilku. Aku menatap ke samping. Lisa masih tertidur dengan begitu lelap.
Kulepaskan safety belt-ku lalu mengelus pipinya. Perlahan Lisa melenguh, lalu membukakan matanya.
"Sudah sampai, Nona." Aku sengaja menyebutnya seperti itu. Sebab saat tadi siang dia, mengatakan akan senang sekali jika ada orang lain yang memanggilnya denga sebutan itu.
Dia terkekeh lalu mengembuskan napasnya dengan kuat. Aku menatapnya.
"Mau aku antar ke atas?" tawarku.
Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gerakan cepat. Kutatapi wajahnya dan kedua bola matanya. Lalu meraih kedua tangannya untuk kukecup jemarinya.
"Kamu gak usah kerja lagi ya? Besok ajukan surat resign. Lebih baik kamu kuliah." Kuselipkan anakan rambut yang terjatuh menutupi sebagian wajahnya.
"Kalo aku gak kerja, terus gimana aku hidup?"
"Kamu dapat beasiswa 'kan kuliahnya?" Aku menanyakan sekali lagi. Padahal sebelumnya ia sudah pernah menceritakan tentang kuliahnya ini.
Lisa mengangguk dengan cepat. "Aku yang biayain hidup kamu, asal kamu kuliah," tawarku.
__ADS_1
Lisa terlihat berpikir dan memandangiku. "Kamu yakin? Kenapa kamu mau biayain aku?"
"Wanita itu cocoknya di rumah, bukan di kantor." Aku melepaskan tangannya lalu turun dari mobil. Berjalan memutari mobil dan membukakan pintunya.
"Be mine?" Sekali lagi aku mengucapkan permintaanku padanya. "Ini yang terakhir kalinya aku mengucapkan ini."
Dia menundukkan wajahnya, lalu ku genggam kembali kedua tangannya. Membiarkannya berpikir sejenak. Hingga akhirnya ia mengangkat kembali wajahnya lalu menatapku.
"Tapi kita baru kenal ...," lirihnya.
"Baru kenal tapi sudah tidur bersama, lalu apa bedanya?" Kupandangi kedua bola matanya yang biru memukau. "Biarkan aku kenal kamu saat kita bersama." Aku kembali menambahi kalimatku.
Perlahan Lisa menundukkan kembali wajahnya, lalu kulihat anggukan kepalanya yang tipis-tipis bergerak. Membuatku tidak percaya dengan jawabannya hingga aku harus meraih dagunya dan mendongakkan wajahnya untuk menatapku.
"Say it?" tegasku.
"Iya, aku mau." Dengan pelan sekali Lisa mengatakan itu. Namun suaranya sampai di telingaku, terdengar sangat jelas.
Rasa bahagia dalam hatiku saat itu sangat lah berarti. Ku kecup bibirnya dengan lembut. Ku dekatkan tubuhku pada tubuhnga yang sudah menempel pada pintu mobil. Dengan hasrat membara aku ******* bibirnya. Lalu menyelipkan lidahku di antara kedua bibirnya sambil mencecapi bibirnya yang ranum, lidahku langsung membelit lidahnya. Lisa membalasku.
Kemudian secara bergantian aku dan dia saling merasakan bibir kami. Hingga ku naikan kecupanku. Beralih dari bibirnya ke telinganya. Lalu kedua tanganku yang tadinya menggenggam tangannya kini sudah berada di masing-masing di kedua bokongnya. Bermain di sana.
Lalu tiba-tiba Lisa menghentikannya. Mendorong pelan tubuhku. Hingga lidahku terlepas pada telinganya. "Sudah malam, pulang sana," tegurnya membuatku tersenyum simpul.
"Kamu gak mau sama aku dulu?"
Lisa menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mengatakan jika saat ini ia sedang sangat mengantuk dan ingin segera tidur. Berbaring di ranjangnya yang dingin dan empuk. Alasan klise!! Menurutku.
Setelah beberapa kali aku mengecap bibirnya, barulah aku berpamitan untuk pulang padanya. Begitupun dengan dia yang masih melingkarkan tangannya pada ceruk leherku. Seolah-olah satu sama lain tidak ingin di tinggalkan.
Lalu aku berinisiatif untuk mengecup keningnya. Lumayan lama. Dalam hatiku berkata, 'Akhirnya aku bisa juga ngedapetin ini cewe. Dan baru kali ini aku mengemis memintanya untuk menjadi milikku.'
Sebab aku sudah terbiasa untuk menjadi seorang penimpin. Namun begitu dengannya, semua rasa jadi berbeda dengan apa yang pernah ia lakukan, sungguh membuatku melupakan semua kejadian pahit yang pernah aku alami.
"Inget, besok ajuin surat resign ya?" Aku mengatakan nya sekali lagi agar Lisa kembalu mengingatnya terus. Ia mengangguk, menurut pada permintaanku.
"Trus besok kamu ke mana?" tanyanya balik.
"Besok jam tujuh pagi, kamu aku jemput. Aku antar kamu ke kantor. Kita berangkat sama-sama."
"Serius?" Mata Lisa berbinar-binar. Sekalinlagi ingin memastikan.
Aku hanya mengangguk menjawabnya lalu menyuruhnya untuk segera menaiki lift dan beristirahat. Lagi-lagi ia menurutiku. Beranjak melangkah menuju lift. Menunggu pintunya terbuka lalu masuk.
Tiba-tiba ia berteriak sebelum pintu lift itu terturup, "Hati-hati di jalan ya?" ucapnya diiringi dengan sebuah gerakan 'kiss bye'.
Kedua sudut bibirku kembali terangkat dengan begitu lebar. Mencetak garis lengkung yang sangat sering terjadi akhir-akhir ini pada wajahku.
Dengan hati yang berbunga-bunga, aku kembali melangkahkan kakiku. Masuk menuju ke dalam mobil. Kembali menyalakan mesinnya lalu menginjak pedal gasnya. Dengan kecepatan yang sedang, mobilku melewati berbagai macam bentuk dan bangunan.
—————
Loha ...
Makasih ya untuk kalian yang terus mendukungku. Trus jangan lupa buat kasih subsrek (like, love, rating, komen dan lain lainnya).
Semoga ini bisa menghibur ya, menemani kalian yang sedang melakukan aktifitas di rumah aja.
Aku juga mau ngucapin selamat bulan Ramadhann. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga puasa tahun ini semua lancar dan di berkahi. Lalu semoga pandemi corona ini segera pulih, segera berlalu untuk negeri kita ini.
Aamiin.
#salambucin.
__ADS_1