Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 52


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Dave POV.


Sudah hampir sebulan aku mendekam di dalam rumah sakit ini. Menghabiskan waktu setiap hari hanya untuk melatih kaki ini agar bisa kembali berjalan seperti sedia kala. Entah itu di ruangan latihan ataupun di kamar sendiri. Aku seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu begitu saja.


Begitu pula dengan Dana, yang sengaja menyimpan semua alat elektronik dan juga komunikasi. Katanya agar aku lebih fokus dan semangat untuk melatih diri. Dan nanti, sebagai reward-nya dia akan menyerahkan semua itu untukku, jika kedua kaki ini sudah sanggup untuk menopang tubuhku berdiri tegak lagi.


“Selamat pagi, Pak Dave?” sapa salah seorang perawat rumah sakit bernama Aveline. Aku sampai hafal betul namanya, sebab hampir di setiap pagi selalu dia yang datang menyapa dan membukakan tirai jendela kamarku, sebelum Dana datang.


“Pagi,” jawabku singkat.


Tak berapa lama setelah itu, Dana datang dan langsung membantuku untuk berpindah ke kursi roda dan mendorongku ke kamar mandi. Dan sebelum perawat Aveline keluar dari kamar ini, aku sempat melihat wajahnya yang tersipu. Aneh.


Setelah selesai dengan urusanku di kamar mandi, Dana langsung menyiapkan sarapan dari pihak rumah sakit yang memang sudah disediakan untukku.


“Aku sudah mulai bosan,” ucapku pada Dana saat kami sudah berdua saja di dalam kamar.


“Aku tahu,” jawabnya singkat.


Aku melirik wajahnya. Memerhatikannya dengan saksama. Tidak, dia tidak merasa bosan setiap hari harus bersamaku di dalam gedung luas ini. Dana pasti merasa senang dan saat ini aku baru menyadari jika ada sesuatu yang janggal padanya.


“Bukannya kamu pulang ke rumah ya?” tanyaku heran.


Dia tersentak lalu menoleh padaku. “Kenapa jadi nanya aku pulang ke rumah?”


“Kenapa gak mandi?” tanyaku lagi dengan menatapnya lekat.


Dia mundur selangkah, “Aku mandi.”


Aku memajukan tubuhku untuk mendengusnya. Hidungku mendapati aroma wangi parfum yang tidak biasa. Terkesan tipis dan manis. Dana langsung menjauhiku dan duduk kembali di sofa, membuka sarapannya sendiri.


“Lupakan! Perawat mana lagi yang sudah berhasil kamu nikmati?” tanyaku blak-blakan sambil melanjutkan sarapanku dengan santai.


“Oh astaga, Dave!! Kenapa pikiran kamu sepicik itu?” tuduhnya.


“Karena pada kenyataannya kamu menikmati aku tinggal di sini, jadi kamu bisa dengan mudah mendapatkan mangsa.”


Seketika itu tawa Dana terdengar menggelegar. Lumayan nyaring. Seperti itulah Dana. Sudah lama aku tahu jika dia sering bermain perempuan. Bergonta-ganti pacar, bahkan dalam hitungan minggu. Dan dari beberapa wanita yang dekat dengannya itu, belum pernah aku mendengar ada yang memiliki status pasti dengannya.


Entah apa yang dia cari dari beberapa wanita yang pernah ia dekati itu.


“Baiklah, Kakakku tersayang. Sepertinya panca indera kamu itu terlalu jeli dan tajam untuk menemukan kecacatanku.”


Tanganku mematung, mulutku terhenti sejenak untuk mengunyah makanan, begitu mendengar Dana mengatakan kata 'cacat'. Aku tahu, aku sedang cacat saat ini. Lalu perlahan, aku mengembuskan napas dan kembali melanjutkan sarapanku.


“Em ... maaf! Bukan maksud aku—”


“Sudahlah, lupakan.” Aku menyela ucapannya, lalu kami kembali makan dengan hening.


Beberapa hari yang lalu, Dana sempat mengembalikan ponselku. Katanya agar aku dapat menghubungi kekasihku dan mengabarinya tentang keadaanku saat ini. Tetapi aku menolak usulnya itu. Bukan tanpa alasan, bagiku untuk apa aku menghubunginya jika hanya akan meminta belas kasihannya saja?

__ADS_1


Lagi pula, saat ini aku malu bertemu dengannya. Dengan kondisi seperti ini, aku yakin dia akan lebih merasa malu terlebih lagi jijik melihatku yang tidak bisa apa-apa.


Sejak awal melakukan latihan, aku seakan tidak yakin dengan kemampuanku sendiri. Tidak ada perkembangan pesat dari caraku melangkahkan kaki hingga detik ini, walaupun dokter Pillow mengatakan selalu ada perbedaan.


“Dave!!” Suara Dana tiba-tiba saja membuyarkan pikiranku.


“Apa sih?!” hardikku, menoleh padanya.


“Dari tadi juga dipanggil gak nyahut-nyahut. Hari ini latihan mulai jam berapa?”


“Gak tahu, aku lupa!!” Aku menghela napas. Semakin hari aku lewati, terasa semakin berat.


**


Selesai beristirahat sebentar dari aktivitas berjemur tadi pagi, Dana kembali membantuku untuk menaiki kursi roda dan membawaku menuju ke ruangan fisioterapi. Melatih kembali jaringan otot kaku yang ada pada kakiku.


Siang ini aku akan melakukan toe lift. Caranya terdengar mudah saat di jelaskan oleh dokter Pillow, yaitu aku tetap duduk di kursi rodaku dengan telapak kaki menempel rata di lantai. Kemudian aku diminta untuk mengangkat jempol kaki sementara jari yang lain tetap di lantai.


Lalu terus melakukan gerakan ini sampai aku bisa mengangkat kelima jari, satu per satu. Dimulai dengan jempol kaki dan diakhiri dengan jari kelingking. Sampai akhirnya aku diminta kembali menurunkan setiap jari, satu per satu, dimulai dengan kelingking dan akhiri dengan jempol kaki.


Semua itu sangat mudah dilakukan dalam gerakan lidah, tapi tidak denganku yang mencobanya lanhsung dengan kedua kaki ini. Jangankan keduanya, salah satu saja kakiku bisa melakukannya sudah merupakan kemajuan besar bagiku.


Berjam-jam aku mencoba gerakan itu, kedua tanganku sampai harus mencengkeram erat sandaran tangan pada kursi roda ini. Tetapi tetap saja tidak bisa. Jempolnya memang bergerak, tetapi hanya sedikit saja. Sedangkan bagian tumit kaki ini sama sekali tidak bisa terangkat.


Bulir-bulir keringat sepertinya mulai muncul pada keningku, hingga akhirnya mengalir membasahi sis-sisi pipi wajahku. Beberapa kali aku harus mengerdikkan bahu untuk mengusapnya. Padahal ruangan ini di fasilitasi dengan sebuah AC yang lumayan menghasilkan udara sejuk, semenjak aku memasukinya.


“Istirahatkanlah sebentar. Kita akan mengganti cara latihannya.” Dokter Pillow memberikan aba-aba.


“Kalau melakukan big toe pull. Lebih baik tidak usah. Sama sulitnya dengan gerakan toe lift ini.” Aku langsung menolak saat dia hendak berdiri dari duduknya.


Belum melakukannya saja aku sudah menyerah. Semuanya memang terdengar mudah saat diucapkan tapi tidak saat dilakukan.


“Aku ingin langsung mencoba berjalan di sana.” Dengan gerakan kepala, aku menunjukkan sebuah sudut yang menyediakan dua buah tiang penyangga untuk latihan berjalan langsung.


“Bagaimana Anda bisa melakukan itu jika latihan dasar ini—”


“Biarkan dia mencobanya.” Dana menyela ucapan dokter Pillow dengan kedua matanya yang tajam. Lalu dia kembali menatap layar ponselnya sambil menghela napas.


Dokter Pillow akhirnya menuruti permintaanku, dia mendorong maju kursi roda ini menuju tempat yang aku inginkan. Tepat di depan tiang lintasan tersebut.


“Kedua tangan harus kuat, sebab hanya tangan Anda itu yang menjadi satu-satunya tumpuan seluruh tubuh,” jelasnya.


“Jangan meremehkan kekuatan tangannya kalau cuman buat menopang tubuhnya sendiri. Seharian semalaman pun dia pasti kuat melakukannya,” celetuk Dana yang hanya membuat senyuman tipis padaku. Sedangkan dr. Pillow terkekeh pelan.


Dua tiang besi yang kokoh berada tepat di depan mataku sebagai penyangga. Kemudian aku mencengkeram tiang itu dan menyiapkan kuda-kuda untuk menarik tubuhku, agar bisa langsung berdiri di sana.


BRAAK!!


Tiba-tiba saja aku terpental dari kursi roda itu dan jatuh tersungkur. Dengan geram tanganku spontan memukul lantai itu.


“****!!” pekikku spontan.


Aku tepis tangan dr. Pillow yang ingin berusaha membantuku kembali berdiri. Begitu pula dengan Dana yang langsung menghentikan langkahnya saat aku menghardik dokter wanita itu.

__ADS_1


Muak, aku muak dengan semua kegiatan ini dan muak dengan kondisiku yang tidak banyak berubah. Dan aku sadar, di sini tidak hanya aku saja yang merasa kesal, jenuh dan penuh amarah, Dana juga. Dia juga pasti merasakan hal yang sama. Sebab secara tidak langsung aku hidup bergantung padanya.


Jangankan untuk berdiri, berpindah dari ranjang ke kursi roda saja, aku harus meminta bantuan Dana.


“Kita sudahi saja latihannya hari ini. Maaf, Dokter, mungkin dia lelah.” Kemudian Dana langsung membantuku untuk kembali duduk di kursi roda dan segera mendorong kursi ini keluar dari sana, kembali ke kamarku.


Tidak ada yang Dana katakan sampai saat ini. Tadi sebelum dia mengangkatku kembali ke atas brankar, dia hanya sempat mengencangkan sprei pada brankar itu lalu membenarkan posisi bantal, baru dia meletakkanku kembali. Aku sudah seperti benda mati yang bernapas.


“Kamu mau ke mana?” tegurku saat Dana berhasil meraih gagang pintu.


“Aku akan mengurus semua surat dan dokumen agar kamu bisa keluar dari sini malam ini juga.” Dana pergi begitu saja.


Lagi-lagi aku menyadari satu hal, bahwa Dana selalu saja mengabulkan keinginanku. Hingga aku tidak menyadari, apakah keinginannya sudah terpenuhi atau belum.


——————————


Dana POV.


Aku segera kembali ke ruangan fisioterapi, di mana itu adalah ruangan pribadi dari dr. Pillow. Lalu segera mendekapnya erat.


Di situasi ini, semua memang sudah gampang tersulut amarah, sangat emosional. Tidak hanya Dave yang letih, aku dan dr. Pillow juga merasakan letih. Sebab memang tidak ada kemajuan pesat pada kondisi kaki Dave. Bahkan tadi malam, dr. Pillow sempat menceritakan jika dia merasa bahwa Dave sudah mulai putus asa dengan keadaan.


Benar, tadi malam aku memang bersama dengan dr. Pillow, menghabiskan waktu semalam suntuk. Bukan hanya untuk mencurahkan perasaan tentang cara mengatasi Dave tetapi juga mencurahkan perasaan kosong dalam jiwa masing-masing. Perasaan hampa tanpa pasangan di sisi kami.


Aku tahu betul jika dr. Pillow adalah seorang istri dari lelaki lain. Yang mana suaminya juga seorang dokter pada rumah sakit di kota Newcastle. Mereka sama-sama memiliki waktu yang cukup sibuk di saat hari kerja. Hingga mereka sering menghabiskan waktu di tempat kerja masing-masing setiap harinya, hanya bertemu saat weekend di rumahnya.


Hanya butuh waktu seminggu bagiku untuk meluluhkan seorang wanita, dr. Pillow ini salah satunya. Rasanya lumayan untuk mengobati hasratku merindukan tubuh kekasihku.


“Biarkan aku membawanya pulang, mungkin dengan rawat jalan dia akan kembali menemukan semangatnya.” Aku mengelus puncak kepala dr. Pillow.


“Maaf ... aku tidak menyangka jika dia akan serapuh ini. Seperti yang aku ceritakan tadi malam, di dalam kaki manusia terdiri dari 26 tulang dan sekitar 100 jenis bagian otot, tendon dan ligamen. Semua itu harus berfungsi agar dia bisa kembali berjalan dengan normal.” Lagi-lagi dr. Pillow menjelaskan keahliannya.


“Iya, aku ingat semua apa kata kamu. Tapi mungkin Dave butuh udara segar. Aku akan pastikan dia tetap mengikuti jadwal latihan yang kamu berikan. Lagi pula, aku tidak akan lalai, karena ada kamu yang mengingatkanku. Iya 'kan?” Aku mencubit kecil dagunya, lalu menyesap lembut bibir merah ceri miliknya itu.


Untuk beberapa saat kemudian, dr. Pillow segera menyiapkan semua berkas yang aku butuhkan untuk mengeluarkan Dave dari rimah sakit ini. Beberapa berkas untuk diberikan kepada pihak administrasi rumah sakit dan sisanya untuk aku bawa pulang.


Tepat jam enam sore, aku berhasil mengeluarkan Dave dari sana menggunakan mobilku dan membawanya pulang ke rumah. Ya, aku dan Dave memang memiliki rumah bersama. Rumah awal yang kami diami saat bersama Tasha istrinya. Tapi semenjak dia cekcok dan memiliki banyak masalah dengan Tasha, dia tidak pernah lagi mengunjungi rumah itu.


“Kenapa membawaku ke sini? Aku ingin tinggal di apartemen aja.” Dave membentakku.


“Tenang. Semenjak Tasha pergi dari sini dan kembali ke rumahnya sendiri, dia tidak pernah lagi datang ke sini. Aku juga sudah menyuruh maid untuk membuang semua barang wanita itu.” Perlahan aku mulai menjelaskan begitu memasuki halaman rumah kemudian berhentu tepat di depan pintu depan.


“Lagi pula, aku harus mengurusi villa dan juga perusahaan kamu. Lalu kalau aku pergi ke Bali, siapa yang akan ngurusin kamu? Kita sudah bayar mahal untuk gaji beberapa orang maid di sini, manfaatkan itu.” Akhirnya aku mulai mengeluarkan nada tinggiku padanya. Dan untungnya, Dave kali ini menuruti permintaanku.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Babay 💋

__ADS_1


Terima kasih.


@bossytika


__ADS_2