Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 29


__ADS_3

Happy fasting , happy sahur and happy reading πŸ’‹


β€”β€”β€”β€”β€”


Dave POV.


Sambil menunggu Lisa turun, aku bersandar duduk pada bumper depan mobilku. Tak lama kemudian aku melihatnya keluar dari dalam lift dan berlenggang mendekatiku. Semakin hari Lisa semakin fashionable, dia sudah bisa mengartikan setiap clue card yang aku berika padanya untuk berdandan dan mengenakan pakaian yang cocok. Sehingga ia tidak perlu lagi merasa kebingungan untuk memilih apa yang akan ia kenakan.


Kebiasaan pertama.


Aku langsung menyambutnya dalam pelukanku, menyematkan telapak tanganku pada pinggulnya lalu mengecup bibirnya.


Kebiasaan kedua.


Aku akan memuji penampilannya. Yang semakin hari semakin fantastis. Ia tidak seperti wanita lainnya yang suka berdandan tebal serta terlihat menor. Lisa lebih menyukai berdandan biasa, natural dan aku pun menyukai itu. Kemudian aku mengecup pipinya.


Kebiasaan ketiga.


Membukakan pintu mobil untuknya dan menutupkan pintunya. Lalu setelah aku duduk di dalam mobil, aku akan meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. Tentu saja sambil menatap wajahnya.


Ketiga kebiasaan itu selalu aku lakukan padanya. Namun aku tidak pernah bosan. Begitupun dengan dirinya yang selalu saja bersemu merah jika aku melakukan itu.


Kini aku melajukan mobilku menuju ke tempat acara yang ingin kami datangi. Yaitu pesta ulang tahun temanku. Teman sekaligus rekan kerjaku sesama di bidang property.


"Kita gak beli kado apa?" tanya Lisa saat di perjalanan.


Astaga!


Aku melupakan hal ini. Pantas saja sejak dari apartemen-ku dan pergi menjemput Lisa, aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Padahal sudah dari jauh hari aku sudah membelikan sebotol wine untuk orang itu.


"Astaga! Aku lupa. Lita mampir dulu kalo gitu ya? Gak apa-apa 'kan?" Aku meminta isinnya.


"It's oke, Babe. Ini kan acara kamu, kok malah izin ke aku sih."


Lagi-lagi aku tersenyum mendengar keramahan hatinya. Mungkin jika sebagian wanita pasti sudah akan menyalahkan atau bahkan memarahiku jika lelakinya melupakan sesuatu. Tapi tidak dengan Lisa, dia teramat pengertian padaku.


Akhirnya aku memutuskan untuk mampir ke sebuah swalayan terdekat. Di kota ini, banyak swalayan besar yang menyediakan berbagai jenis wine. Jadi tidak perlu untuk pergi ke toko khusus yang menjual wine untuk mendapatkannya.


"Aku nunggu di sini aja ya?" pinta Lisa sesaat sebelum aku membuka pintu.


"Loh kenapa?"


"Kamu aja, lagian aku gak begitu ngerti sama jenis minuman itu." Lisa beralasan.


Aku terus saja membujuknya untuk menemaniku turun, masuk ke dalam swalayan dan berkeliling. Lagi pula terlambat sedikit untuk menghadiri acara itu bukanlah hal perlu ubtuk dicemaskan bagiku.


Setelah sedikit perdebatan. Akhirnya aku menang dan Lisa terpaksa harus turun dari mobil dan menemaniku masuk ke dalam swalayan. Aku terkekeh geli melihat raut wajahnya yang cemberut.


"Ayo lah jangan cemberut gitu. Aku cuman gak mau kamu sendiri di mobil. Kalau ada perampok gimana?" Aku membuat alasan.


Ya, itu bukan hanya sekedar alasan biasa. Aku memang mengkhawatirkan hal itu. Bukan tanpa alasan, wilayah di sini memang sering sekali terjadi perampokkan. Tapi aku tidak punya pilihan tempat yang lain untuk membeli sebotol wine.


Sesampainya di dalam swalayan aku langsung meraih tangannya dan menggenggamnya. Kemudian menoleh melihatnya yang ternyata sedang terpaku menatap genggaman tanganku padanya.


"Why?"


"Nothing," jawabnya sambil mengerdikkan kedua bahunya.


Kemudian kami langsung mencari di mana letak rak botol-botol wine tersusun. Hingga akhirnya aku dan Lisa sampai di tempat itu. Berbagai macam jenis wine tersaji di rak itu. Dengan harga yang beragam pula. Aku langsung mencari jenis yang sama dengan yang aku tinggalkan di apartemen-ku.


β€”β€”β€”β€”β€”


Lisa POV.


Dave masih saja menggenggam jemariku saat ia sedang asyik membaca tulisan yang tertera di label botol-botol wine itu. Seperti ada yang ia cari. Sedangkan aku hanya berdiri di sampingnya sambio ikut membaca beberapa merk minuman berbahan dasar anggur itu.


Namun tiba-tiba saja suara seseorang menyapa Dave, sontak membuatku sedikit terkejut kemudian membalikkan badanku. Begitu pun dengan Dave yang menoleh karena namanya disebut-sebut.


"Tasha?!" pekik Dave saat melihat seorang wanita yang ada di hadapan kami. Dan secara spontan Dave juga melepaskan genggaman tangannya padaku.


Aku hanya asyik memandangi mereka berdua secara bergantian. Dari cara Dave menatap wanita yang dipanggilnya dengan nama Tasha itu, terlihat tidak seperri biasanya.


Sedangkan wanita bernama Tasha itu sedikit tersenyum lalu dengan cepat arah pandangannya berubah menjadi memandangiku. Bahkan ia menatapku dari mata hingga ke ujung kakiku. Aku merasa terintimidasi dengan pandangannya itu.


"Oh jadi ini pengganti aku?" ucap wanita itu dengan santai.


What the f*vk!!


Pengganti???


Aku langsung menoleh menatap Dave. Tanpa kata, Dave berbalik mengambil sebotol wine dari raknya lalu meraih tanganku dan menarikku pergi dari sana. Langkah kakinya yang lebar membuatku harus setengah berlari untuk menyeimbangkannya. Sesampainya di meja kasir, Dave benar-benar tidak berkata apa-apa, hanya mengeluarkan dompetnya lalu membayar sebotol wine tersebut. Dan lagi-lagi menarik tanganku hingga aku akhirnya merasa kesal dengan perubahan sikapnya itu.


Hanya tinggal beberapa langkah lagi, aku dan Dave sampai di mobil tetapi aku malah menarik tanganku. Melepaskan genggaman tangannya yang terasa mencengkram urat nadiku.


"Kamu kenapa sih?" Aku menarik tanganku dari cengkramannya itu.


Dave berdiri mematung menghadap ke arah mobilnya. Aku berjalan memutarinya untuk melihat raut wajahnya. Menatap kedua bola matanya untuk mencari sebuah jawaban dari sikapnya ini.


"Siapa wanita tadi? Mantan kamu?" tanyaku dengan pasti. Sejak tadi aku sudah bisa menebak, jika wanita itu pastilah mantan Dave. Sebab dari caranya menatapku dan caranya bertanya sudah cukup untuk membuatku menyimpulkan semua ini.


Tapi ada satu hal yang membuatku tidak mengerti, yaitu perubahan sikap Dave yang begitu mendadak. Aku sudah memiringkan wajahku untuk melihat wajahmya yang menunduk sambil meraih tangannya, "Babe?"


Seketika tangan Dave menepis tanganku lalu berlalu dari hadapanku. Dia memilih diam dan langsung melangkah masuk ke dalam mobilnya. Sungguh ini sudah kedua kalinya Dave bersikap seperti ini padaku. Perubahan sikap yang begitu drastis.


Lalu siapa wanita tadi?


Mengapa dengan mudahnya dia mengacaukan sikap Dave?

__ADS_1


"Come in!!!" teriaknya dari dalam mobil di belakangku. Yang tiba-tiba membuatku terpekik kaget. Lalu menoleh ke arah pintu masuk swalayan. Yang mana dari kejauhan aku dapat melihat sosok wanita itu di sana. Tersenyum lalu melambaikan tangannya padaku.


Aku membalikkan tubuhku lalu masuk ke dalam mobil. Menarik tali safety belt dan memasangnya. Napasku sedikit terengah, bukan karena berjalan cepat memasuki mobil. Tapi karena aku merasa emosi. Ada sebuah perasaah dalam hatiku saat ini yang sulit untuk aku jelaskan.


Tidak perlu menunggu lebih lama lagi, Dave yang sudah menyalakan mesin mobilnya sedari tadi langsung menancapkan gasnya. Tidak mau berlama-lama di tempat ini. Di saat kami akan keluar dari wilayah ini dengan berat hati kami juga harus melewati jalur di depan pintu masuk. Yang mana artinya kami harus melintasi sosok wanita tadi yang saat ini berdiri manja di depan sana.


Aku menoleh menatap Dave di saat dia melajukan mobilnya melintas di depan wanita itu. Pandangan matanya sama sekali tidak berkedip. Lurus ke arah depan. Dengan tajam dan tanpa ekspresi. Sangat dingin. Untuk beberapa waktu aku juga melakukan hal yang sama, diam.


Kami sama-sama terhanyut dalam pemikiran masing-masing. Kulemparkan arah pandangan mataku ke luar, ke sisi kiri jendela mobil. Memandangi sisi jalanan. Aku menghela napas dan kembali mengumpulkan nyaliku untuk bertanya tentang wanita tadi.


Sesekali aku mencuri pandang pada Dave yang menyandarkan kepalanya pada tangannya yang menjadi penyangga, terlipat bertumpu pada sudut jendela pintu.


"Lebih baik kita pulang, kalau sikap kamu terus begitu. Aku gak mau dicuekin di sana," lirihku dengan pandangan mataku yang lurus ke depan.


Tak lama setelah aku melontarkan kalimat itu, Dave menepikan mobilnya. Aku tidak menoleh untuk menatapnya, malah sebaliknya aku membuang pandanganku lagi dan lagi. Sambil melipat kedua tanganku di depan


Suara embusan napas Dave begitu nyaring, hingga telingaku dapat mendengar itu dengan jelas.


"Iya dia mantanku," lirih Dave, aku menoleh padanya seketika, begitu mendengar pernyataannya yang jelas yang keluar dari mulutnya.


"Trus kenapa mesti begini?" ucapku menahan amarah akan sikapnya yang tiba-tiba menjadi kasar tadi.


"Begini gimana? Aku udah biasa aja ya ...." Dia menjawabnya dengan nada suara yang sedikit meninggi. Tidak sadar dengan apa yang sudah ia lakukan.


Aku menatapinya. "Hanya butuh waktu sedetik, wanita itu bisa ngancurin mood kamu. Dan kamu gak sadar yang jadi korbannya saat ini aku?" Aku menghela napas.


"Apa jangan-jangan dia juga yang nelpon kamu waktu itu? Yang bisa sekejap mata bikin kamu tiba-tiba bersikap kasar?" tambahku lagi.


Dave hanya menundukkan kepalanya. Membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya yang menyangga pada setir mobil.


Ada hawa panas yang menjalar pada tubuhku saat ini. Tiba-tiba emosiku terasa gersang, kering seakan sudah saatnya terbakar. Napasku beradu dengan detak jantungku saat ini. Aku terbakar api cemburu pada wanita itu.


Kupandangi dirinya yang masih dalam posisi semula. Tanpa kata, tanpa perlawanan darinya.


"Pulang. Aku mau pulang sekarang," pintaku pada akhirnya.


Sebab aku tahu batasan terhadap diriku sendiri. Dan inilah batasanku. Aku rasanya tidak mampu untuk menghadiri acara ulang tahun temannya ini. Karena mood-ku pun sudah ikut berubah.


"Kita tetap harus pergi." Dave bersikukuh.


Aku menatapnya. "Pulang sekarang." Suaraku tak kalah tegas. Mood-ku benar-benar sudah hancur saat ini, begitu melihat perubahan dari dirinya hanya karena bertemu dengan mantannya.


Dave mengangkat wajahnya lalu menoleh membalas tatapan mataku. Mata kami saling beradu seolah menyiratkan sebuah rasa kekecewaan satu sama lain. Yang akhirnya Dave mengalah, ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


Aku langsung menyandarkan punggungku pada kursi dan kembali menatap pemandangan di luar jendela.


"Hallo, Sam? Sorry I can't come. Suddenly there are things I have to finish now. Yes, I'm very sorry. Happy birthday to you again. Thank you, bye."


Dave mengucapkan permohonan maafnya pada temannya itu melalui sambungan telepon, karena dia membatalkan janjinya untuk datang dan bergabung dalam acara penting bagi lelaku bernama Sam.


Pikiranku saat ini begitu kalut, membuat aku semakin penasaran denga sosok wanita itu. Bagaimana latar belakangnya? Berapa lama mereka menjalin hubungan? Tapi jika aku kembali mengingat wajah wanita itu, sepertinya tidak mungkin jika dia berumur sebaya denganku. Sebab dari caranya berpakaian dan berdandan terlihat jelas jika wanita itu jauh berada di atasku. Lebih tua dariku.


Sesampainya di basemen gedung apartemen-ku, tanpa berkata apapun, aku langsung membuka pintuku sendiri begitu Dave membuka pintunya, lalu aku langsung berjalan menuju lift. Bahkan di saat aku masuk lift, Dave sama sekali tidak mengejarku.


Kuhempaskan tubuhku di tengah ranjang. Tanpa menyalakan satu bola lampu pun, aku memandang ke atas, ke langit-langit di dalam kamarku.


Mengapa aku bisa sekesal ini?


Apa aku benar-benar sudah jatuh hati pada lelaki itu?


Ya, rasa kesal dalam hatiku ini memang dipicu dari cara Dave melepaskan genggaman tangannya pada tangaku yang begitu terburu-buru. Seolah-olah dia baru saja tertangkap basah sedang berselingkuh. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa wanita itu memang mantannya.


Dan cara wanita itu bertanya?


Seolah sedang mengejek selera Dave yang memilihku sebagai pasangannya. Emosiku memang terasa berlapis saat ini. Aku meremas bantalku lalu melemparkannya ke dinding kamar dengan penuh emosi. Lalu entah mengapa aku seakan seperti seorang anak kecil yang mainannya sedang direbut.


Aku mengacak rambutku. Menarik bed cover di atas ranjangku lalu membuangnya ke sembarang arah. Ini sungguh gila!


Akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari atas ranjangku yang sudah tak berbentuk. Lalu meraih tas ransel yang sering kugunakan untuk kuliah. Membuka sebuah kantong di dalam tas itu lalu mengambil isinya.


Kemudian aku melangkah menuju balkon kamarku. Duduk di sebuah kursi kecil dan membuka segel dari sekotak bungkus rokok. Lalu mengambil sebatang isinya dan menyulutnya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak merokok. Apa lagi sejak bersama dengan Dave.


Aku mengembuskan hisapan asap tembakauku yang pertama ke arah atas. Kemudian memandangi asap rokok itu yang seketika hilang ditiup angin malam. Ya, di luar langit sudah gelap dan aku baru menyadari itu.


Sambil memandangi langit malam yang di hiasi sebuah bulan dan beberapa cahaya bintang. Membuat rasa sepi dalam jiwaku kembali meronta. Sama seperti rokok ini, sudah lama ku beli, tetapi baru sekarang aku dapat menikmatinya.


***


Dua hari berlalu setelah kejadian itu ...


Aku mengurung diriku di kamar. Bukan karena kehilangan semangat tapi karena aku kehilangan akal sehatku. Ya, aku sakit, karena lebih memilih untuk tidak makan sama sekali hanya meminum air saja. Tubuhku terasa lemas di saat suara bel pintu apartemen-ku berbunyi. Aku mengerjabkan mataku berkali-kali.


Teetttt teettt teettt!


Dengan susah payah aku bangkit dari ranjangku. Sebuah tempat tidur yang kurang layak, sebab keadaan kamarku yang saat ini benar-benar seperti kapal pecah. Ranjangku sudah tidak di tutupi dengan bed cover lagi. Bantal-bantalku sudah berserakkan. Belum lagi perabotan lainnya yang juga tidak pernah lagi aku rapikan.


Kepalaku masih terasa sangat berat dan pusing, di saat aku melangkahkan kaki dengan perlahan keluar kamar. Menuju ke pintu depan. Suara bel itu terus saja di tekan dengan tidak sopan. Aku sudah bisa menebak jika orang di balik pintu itu, tidak lain pastilah Julia.


Ceklek ceklek!


Aku memutar anak kuncinya lalu melepaskan gerendel pintu itu. Lalu perlahan menurunkan kenop pintu dan menariknya ke dalam.


"Surprise!!!!" teriak seorang wanita yang kulihat buram dengan mataku, lalu tiba-tiba semua menggelap.


β€”β€”β€”β€”β€”


Tika POV.

__ADS_1


Lisa pingsan sesaat setelah membukakan pintu apartemennya untuk aku dan juga Max. Aku yang terkejut melihatnya langsung dengan spontan memberikan kue di tanganku pada Max, tetapi Max malah langsung masuk dan menepuk-nepukkan tangannya pada pipi Lisa.


Aku juga ikut masuk setelah itu lalu meletakkan birthday cake di tanganku ini di atas meja. "Angkat ke kamar dong, Max!" seruku pada kakak pertamaku itu.


Mataku langsung berpendar mencari di mana letak kamar Lisa, kemudian secara seklilas aku melihat sebuah pintu yang terbuka lalu aku bergegas melangkah ke arah sana. Begitu aku mendorong pintu itu, betapa terkejutnya aku melihat isi di dalamnya.


"Max, bawa ke sini!" perintahku Max yang kemudian mengangkat tubuh Lisa yang lemah tak berdaya itu. Kemudian dengan secepat kilat pula aku melapisi ranjangnya dengan sprei dan bed cover yang terjatuh ke lantai.


Max meletakkan Lisa di atas ranjang dengan pelan. Lalu menyusupkan bantal di atas kepalanya juga sangat hati-hati. Aku memerhatikan semuanya.


"Tolong ambilkan air hangat sama handuk kecil." Max memberi perintah seraya menarikkan selimut untuk menutupi tubuh Lisa.


Sesaat kemudian aku kembali masuk ke dalam kamar Lisa. Lalu melihat Max yang membuka pintu balkon kamar Lisa. Max menoleh saat melihatku yang membawa sebuah baskom.


"Kompres keningnya." Max menyuruhku dengan suaranya yang tegas.


"Tapi, Max, aku gak ada nemuin handuk kecil."


Max kemudian keluar dari kamar dan kembali membawa sebuah kain sleyer miliknya. Memberikannya padaku. Dengan sigap aku langsung merendam lalu memerah kain itu, kemudian meletakkannya di atas kening Lisa.


"Kamu tunggu di sini, aku beli makan dulu."


Aku mengangguk ketika Max menyuruhku untuk tetap berada di samping Lisa. Sembari menunggu Max kembali dan Lisa yang tidak kunjung sadarkan diri. Aku memutuskan untuk membersihkan kamar tidurnya yang terlihat amburadul. Tidak pernah Lisa seperti ini pada kamarnya dulu.


Kamar tidurnya sudah berhasil aku bersihkan. Beberapa benda aku kumpulkan di atas meja riasnya, termasuk beberapa buku novel yang ikut berserakkan di lantai.


Setelah itu, aku kembali ke meja depan mengambil birthday cake, yang tadinya sengaja aku persiapkan untuk surprise party-nya, lalu memasukkannya ke dalam kulkasnya yang kosong. Hanya terdapat beberapa minuman botol dan beberapa jenis buah-buahan segar.


Aku juga mencuci beberapa piring, gelas, mangkuk serta beberapa macam sendok dan peralatan makan lainnya. Kemudian menyapu dan mengelap lantai. Lisa benar-benar tidak mengurus apartemennya ini dengan baik.


"Tika? Ini beneran?" seru pelan dari Lisa yang berdiri di ambang pintu kamarnya dengan bersandar pada kusen pintu. Aku tinggalkan tongkat pel yang sisa sedikit lagi selesai, untuk menghampirinya.


"Kalo masih pusing mending tiduran lagi deh," usulku sambil menempelkan tanganku pada keningnya, seolah mengecek suhu tubuhnya yang terasa masih hangat.


Aku memapahnya agar kembali menuju ke ranjang dan beristirahat. Sambil menunggu Max yang masih mencarikan makan.


"Lu kok tahu alamat ini?" Lisa merebahkan tubuhnya sambil kubantu untuk menarik selimut untuknya.


"Ya iya lah, 'kan nanya sama om Reza. Lu lagi diet ya? Sampe pingsan gitu." Aku mulai cerewet.


"Kok diet?"


"Habisnya kulkas lu isinya kosong." Aku kembali meletakkan kain kecil tadi di atas kening Lisa.


"Oh, itu gua lagi males ke pasar."


Teetttt teettt teettt!


"Lu jangan ke mana-mana," titahku padanya seraya berdiri, begitu mendengar suara bel dari pintu depan. Setengah berlari aku membukakan pintu, sebab aku tahu Max paling tidak senang menunggu lama.


Ceklek!


"Udah sadar?" tanya Max begitu aku membukakan pintu. Aku mengangguk menjawabnya.


Max langsung masuk dan menuju dapur tanpa bertanya apa-apa lagi padaku. Ia menyiapkan apa yang sudah ia beli ke dalam piring. Lalu menyuruhku ikut serta membawakan minuman untuk Lisa.


"Max?!" Lisa terkejut saat melihat Max yang masuk lebih dulu dengan aku yang mengekor di belakangnya.


Kakakku itu meletakkan nampan yang berisi makanan itu ke sebuah kursi rias, yang ia tarik sebelumnya dengan menggunakan kakinya.


β€”β€”β€”β€”β€”


Lisa POV.


Aku terkejut melihat Max yang juga tiba-tiba muncul di hadapanku. Tadinya aku pikir hanya Tika yang datang. Tetapi tidak kusangka jika lelaki ini juga ikut kemari.


Aku mencoba menutupi perasaan gugupku. Apa lagi begitu lelaki itu yang mengambilkan kain yang menempel pada keningku. Lalu menyentuh leherku dengan punggung tangannya.


"Masih panas. Makan dulu nanti setelah itu baru dikompres lagi trus istirahat." Max berbalik dan meninggalkan aku di kamar dengan Tika yang juga masih berdiri dengan secangkir minuman di tangannya. Yang kemudian ia memberikan gelas minuman itu padaku.


"Kalian berdua ngapain ke sini?" tanyaku pelan pada Tika, takut Max mendengar di luar sana.


"Kalo gua ya mau ketemu elu lah, trus juga keliling di sini. Beda kalo Max, dia ada urusan." Tika menemaniku makan, dia duduk di sampingku sambil memainkan ponselnya.


Seketika otak dan hatiku terasa bergemuruh. Merasa kacau. Kenapa lelaki ini harus kembali muncul? Dan dengan sikap manisnya seperti tadi?


'Tidak-tidak, aku tidak boleh goyah. Sekarang aku sudah memiliki Dave!' batinku.


Seketika itu pula aku baru menyadari bahwa Dave, pacarku itu, dia sama sekali tidak ada memghubungiku setelah kejadian betemu dengan mantannya di swalayan itu.


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari ponselku. "Tik, liat hape gua gak tadi?" Aku panik.


"Ada, tuh lagi gua charger-in." Tunjuk Tika pada benda tipis yang tersambung pada kabel penambah daya di atas meja riasku. Aku bernapas lega sambil mengembuskan napas.


Bergegas aku menyelesaikan makanku dan meminta tolong pada Tika untuk mengambilkan ponselku itu. Ternyata ponselku masih dalam mode tidak aktif. Pantas saja tidak ada suara dari ponsel pintar ini.


Begitu ponselku telah aktif, beberapa notif pesan singkat langsung berbunyi puluhan kali atau bahkan hingga ratusan kali. Aku tidak menghitungnya. Begitu pula dengan notifikasi panggilan lainnya.


Saat aku mengecek ponselku, ada puluhan panggilan dari Dave. Hingga ratusan chat darinya yang isinya sama. Semuannya mengkhawatirkan keadaanku. Aku tidak mengira jika Dave akan merasa sepanik itu jika aku tidak mengabarinya dalam jangka waktu yang lebih lama lagi.


Lalu aku menoleh pada Tika yang masih duduk di sampingku. Aku penasaran, apa dia menceritakan pada Max jika aku sudah memiliki seorang pacar di sini?


Lalu, apakah dia juga menceritakan pada kakaknya itu, bahwa aku sempat berkerja dan meninggalkan kuliah untuk waktu yang cukup lama?


Entahlah. Mungkin nanti aku akan mencari tahu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2