Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 37


__ADS_3

Dia menciumku lalu dia melingkarkan kedua kakinya di pinggangku, masih dengan posisi semula. Lalu ku bawa ia ke dalam kamar lagi. Dia mengigit bibir bawahnya sambil menatapku. Ku ciumi kembali bibir merah mudanya. Dia kembali menyelipkan jemarinya, menggenggam rambutku lembut.


Begitu putih dan sungguh luar biasa. Lagi-lagi aku menikmati semua ini.


Kini ku benarkan posisinya. Matanya hanya terpejam dengan nafas yang masih memburu.


Aku ikut berbaring disebelahnya, lalu ku tarik selimut putihnya untuk menutupi kami berdua. Tiba-tiba dia bergerak spontan menempelkan kepalanya di dadaku sambil memelukku. Terdengar jelas di telingaku hembusan nafasnya yang kembali normal. Dipeluknya aku seperti memeluk sebuah guling hidup.


"Kenapa pakai baju?" lirihnya.


Aku terdiam beberapa saat untuk mencerna ucapannya, "Bajuku? Emang kenapa?"


"Dingin. Skin to skin for better," lirihnya lagi.


Aku tersenyum mendengar ucapannya kali ini. Namun beberapa saat aku turuti permintaannya. Lalu kembali lagi ke dalam pelukkan.


"Padahal ada selimut," ucapku.


"Kamu lebih hangat."


Aku tersenyum lagi. Kini Tika mengeratkan pelukannya. Sekali lagi, aku menyukai ini!


Aku sungguh merasa nyaman. Berkali-kali kalimat ini terlintas dibenakku. Sambil ku elus kulit lengannya, sesekali ku kecup puncak kepalanya.


"Tik..."


"Emh?" jawabnya dengan deheman.


"Kirain tidur."


"Hampir."


"Boleh nanya?"


"Asal jawabannya jangan sulit."


Aku terkikik geli mendengar ucapnya ini.

__ADS_1


"Nanya apa?" tegurnya menyela tawaku.


"Tapi jangan marah ya?"


"Emang aku pernah marah?" tanyanya balik.


"Ya tau kamu! Aku mau nanya nih."


"Iya iya, apa?"


"Kenapa kamu mau kayak gini sama aku?"


Deg.. Deg.. Deg..


Aku dapat merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat setelah aku selesai melontarkan kalimat itu.


Hening sejenak. Sunyi senyap.


Kemudian di tolehkannya wajahnya menatapku. Di letakkannya kedua tangannya berpangku diatas dadaku untuk menopang dagunya. Dia menatapku tajam. Aku ikut gugup menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.


Aku tersenyum malas mendengar jawabannya. Aku setengah mati mengumpulkan keberanian buat nanya ini, eh dia malah bercanda. Pikirku.


"Loh kenapa?"


"Aku nanya alasannya kenapa mau, bukan kenapa doyan!" tegasku.


"Jangan galak-galak dong!" candanya lagi sambil mencolek ujung hidungku.


"Jadi kenapa?"


"Kamu ga kepingin apa?"


"Kepingin apaan?" tanyaku bingung.


"Yaa itu...,"


"Itu apa?"

__ADS_1


"Emm," bisiknya dengan raut wajah menggoda.


"Astaga, bukannya tadi udah?"


"Kamu kan belum, emang gak sakit kepala?"


"Yang pentingkan kamu udah."


"Ya ga adil dong, masa aku aja."


"Kamu tuh yaa pinter banget ngalihin perhatian orang! Pertanyaan aku tadi belum dijawab, malah ngebahas yang lain," tegasku.


"Ya udah kalo ga kepingin!" sahutnya sambil keluar dari selimut, duduk dan memunguti pakaiannya.


Ku tangkap tangannya, lalu ku dekap lagi tubuhnya dari belakang, "Kenapa mau kayak gini?" bisikku di telinganya, lalu ku kecup punggung bahunya.


"Cinta ga butuh alasan, Jeff," lirihnya.


"Kok bisa cinta sama aku?"


"Kan tadi udah aku bilang."


"Ya, tapikan kita baru kenal beberapa bulan." aku bersikeras.


"I don't know! Yang jelas aku ga pernah kayak gini. Klo kamu mikirnya siapa aja cowo yang deketin trus aku mau begini sama cowo-cowo kamu salah. Aku...."


"Kamu mikirnya kejauhan," ku kecup lagi pundaknya lalu tengkuk lehernya.


Dia melenguh, "Temani aku berendam," pintanya.


"Menggosok punggung kamu?"


"Iya."


Dia berdiri dengan menggunakan sprei yang menyelimutinya, dengan rambut sepinggang bergelombang yang menawan. Dia berbalik menghadapku dan menjulurkan sebelah tangannya, mengajakku untuk ikut dengannya.


Dia menuangkan sabun aromatherapynya, memutar knop air hangat untuk mengisi bath up. Dia menggelung rambutnya ke atas dan menjepitnya dengan jepitan rambut. Lalu memasuki bath up, padahal air belum setengahnya terisi. Kemudian dia mengajakku.

__ADS_1


__ADS_2