
Lisa POV.
Aku adalah seorang anak tunggal dari sepasang suami istri yang harmonis. Ayahku seorang asisten dalam sebuah keluarga yang lumayan kaya. Bukan asisten rumah tangga, melainkan tangan kanan pemilik perusahaan Adiya Group and Company. Perusahaan itu tidak hanya bergerak di bidang jasa saja, tapi sudah mulai merambah ke bidang lainnya. Salah satunya ke bidang usaha dagang dan kontraktor.
Sedangkan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya full bersamaku di rumah. Dan saat aku mulai sekolah, ibu juga mulai menyibukkan dirinya dengan membuka toko bunga. Hingga suatu hari, saat aku masih sekolah di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku dikenalkan pada seorang perempuan.
Saat itu ayah membawaku memasuki sebuah rumah yang nampak tak asing bagiku. Sebab siang itu tiba-tiba saja ayahku dipanggil bosnya untuk menghadap. "Tunggu ayah di sini, jangan ke mana-mana," titahnya padaku.
Ayah kemudian mengetuk sebuah pintu besar berwarna hitam pekat dan masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan aku memilih untuk duduk di atas sofa empuk di sekitar sana.
Cukup lama aku menunggu hingga akhirnya seorang perempuan melintas, lalu tiba-tiba kembali dan mendekatiku. Ia memandangiku dengan teliti dari bawah kakiku hingga ujung rambutku. Berkali-kali ia menaik turunkan kepalanya itu, benar-benar dengan seksama ia memperhatikanku.
"Maaf siapa ya?" sapa perempuan itu dengan sopannya lalu sebuah senyuman mengembang di wajahnya.
Baru saja aku hendak menyebutkan namaku dan mengulurkan tanganku untuk berkenalan, tiba-tiba pintu hitam di sampingku terbuka. Ayahku keluar dari sana dengan seorang lelaki lain yang sebaya dengannya. Spontan aku berdiri dari dudukku lalu menundukkan kepalaku.
"Papaaaahh!!" seru perempuan tadi. Dia berlari dan langsung memelukku lelaki yang disebutnya sebagai papahnya itu. Lalu ayahku berdiri di sampingku sambil mengelus puncak kepalaku.
Dalam hati aku mencoba menerka-nerka, mungkin lelaki yang sebaya dengan ayahku itu adalah bos ayah dan perempuan itu sudah jelas dan pasti anaknya, karena dia memanggilnya dengan sebutan papah. Pasalnya itu yang terjadi di depan mataku hingga membuat ayahku tiba-tiba saja memperkenalkan perempuan yang umurnya mungkin sebaya denganku.
"Sayang, kenalkan ini Tika dan ini atasan ayah, pak Benny. Tika ini anak beliau." Ayah mengatakan dengan sangat tertata dan menyuruhku untuk bersalaman dengan perempuan yang bernama Tika ini.
Aku menyodorkan tangan kananku, lalu dengan senyumannya, ia meraih tanganku dengan kedua tangannya itu. Kulit tangan terasa sangat halus dan lembut, bahkan senyumannya pun terlihat menawan. Kami tidak berkata apa-apa, hanya saling melempar senyuman.
Kemudian ayah mengajakku untuk berpamitan, pergi meninggalkan mereka dan keluar dari rumah itu. Aku sempat berbalik, memandangi Tika yang merengek pada papahnya, meminta izinnya untuk berenang siang itu.
Di dalam perjalanan pulang, aku asik melihat-lihat keluar jendela mobil. Memperhatikan pengendara motor lainnya yang memacu kendaraan bermotor mereka di tengah terik matahari. Ayah sempat bertanya-tanya padaku tentang sekolahku hari ini. Lalu beliau juga menjelaskan jika dulu saat kecil, aku sering dibawa ke rumah pak Benny tadi.
Bahkan dulu aku dan Tika sering bermain bersama saat kami masih sama-sama belum sekolah. Hingga akhirnya jarang bertemu karena jadwal sekolah serta bimbingan belajar yang menguras waktu. Membuat kami lelah dan akhirnya tidak pernah lagi ayah membawaku ke rumah itu.
"Kamu harus pintar sekolahnya. Harus juara. Biar kamu bisa lulus tes masuk ke sekolah swasta. Sekolah itu punya program bagus untuk muridnya. Ayah mau kamu sekolah di sana untuk SMA nanti." Ayah mengatakan keinginannya untuk memasukkanku ke Sekolah Menengah Atas yang menjadi nomer satu di kota Jakarta.
Seiring berjalannya waktu, aku lulus dari SMP dan memasuki SMA yang sesuai dengan keinginan papa. Yang mana ternyata, sekolah itu juga adalah pilihan Tika untuk menghabiskan masa anak-anaknya, sama sepertiku. Dan entah mengapa semua itu membuat aku dan Tika menjadi lebih akrab setiap harinya. Dari kelas sepuluh hingga dua belas kami selalu bersama.
Sepulang sekolah ayah selalu menjemputku dan Tika juga ikut, lalu pulang bersama ke rumah Tika. Ya, dia selalu mengajakku untuk makan siang di rumahnya dan aku selalu menerima tawarannya itu.
Kami akhirnya tumbuh bersama dan aku tidak menyangka jika ternyata, sudah sejak kecil kami dipertemukan. Hanya saja saat beranjak dewasa ini kami mulai akrab satu sama lain. Bahkan bisa dibilang, kami hanya bisa akrab berdua saja, sebab di sekolah kami jarang bergaul dengan anak perempuan lain yang sebaya dengan kami.
Semua masa remaja kami lewati dengan penuh kegembiraan. Tidak ada drama dan tidak ada kebohongan.
Hingga akhirnya sebuah tragedi terjadi. Pak Benny, yang mana adalah papahnya Tika, meninggal dalam sebuah perawatan di rumah sakit yang memang disebabkan oleh penyakit yang beliau derita. Jantung. Sebuah penyakit yang bisa menyerang siapa saja dan di rentan usia berapa saja. Membuat Tika harus kehilangan sosok yang ia cintai.
__ADS_1
Aku tahu betul jika Tika teramat mencintai papahnya. Berkali-kali Tika mengatakan itu saat aku menemaninya di rumah sakit untuk manjaga papahnya. Sampai beliau harus menghembuskan napas terakhirnya dan itu bertepatan saat Haikal sudah 4 hari kembali dari studinya di luar negeri. Bukan karena telah selesai masa studinya, melainkan karena izin untuk pulang menjenguk papahnya yang sakit. Tapi takdir berkata lain.
Semua terpukul dengan kondisi itu. Terlebih lagi Tika. Di saat seperti itu aku baru menyadari pentingnya seorang sahabat untuk menemani. Berhari-hari Tika bersedih, mengurung diri di kamar bahkan sampai tidak ingin makan. Dia benar-benar membahayakan dirinya sendiri.
Setiap hari aku dan ayah kembali ke rumah itu. Ayah mengurus beberapa keperluan perusahaan bersama dengan mamah Tika, sedangkan aku terus mengetuk pintu kamar Tika yang masih tertutup rapat setiap harinya. Bahkan tidak terdengar suara apapun dari dalam sana.
"Non, makan dulu, bibi sudah siapin makan siang," sapa bi Mince mengagetkanku dari belakang, aku tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu kembali berbalik menatap kenop pintu kamar Tika yang bergeming. Lalu aku berniat meneriakkan sebuah kalimat pada Tika saat itu.
"Tik, lu gak mau nemenin gua makan siang? Udah 4 hari loh lu gak keluar kamar." Tidak ada jawaban. Aku menghela napasku dengan kasar. "Ya udah, gua makan sendiri ya?" Aku membalikkan badan dan bersiap melangkahkan kakiku.
Namun tiba-tiba saja ... Ceklek ceklek!
Suara anak kunci dari pintu kamar di belakangku. Spontan aku berbalik dan mendapati Tika yang muncul dari balik pintu. Dengan rambutnya yang tidak teratur dan pakaian yang sama, yang ia kenakan saat pemakaman papahnya. Matanya sembab. Hatiku terenyuh melihat kondisinya yang seperti itu.
Benar kata mamahnya, dia terlalu mencintai papahnya sendiri. Dia bahkan rela berhari-hari tidak makan karena menangisi kepergian papahnya sendiri, bahkan ia tidak memedulikan dirinya sendiri.
Dengan sigap aku langsung memeluknya dan seketika pula pelukanku itu membuatnya kembali menangis, meneteskan air matanya hingga membuatnya terisak. Lalu aku coba menenangkannya. Kuregangkan pelukan itu untuk melihat raut wajahnya. "Lu mandi dulu ya? Setelah itu kita makan," lirihku yang diikuti dengan anggukan kepalanya.
Aku menemaninya menuju kamar mandi dan meninggalkannya di dalam sana, lalu kututup pintu kamar mandi itu. Aku berdiri di depan kamar mandi, menyadarkan punggungku pada dinding hingga akhirnya aku mendengar suara gemerecik air shower. Sebenarnya aku takut saat ini, takut jika Tika berpikiran untuk mengakhiri hidupnya karena kehilangan papahnya. Lalu duduk di bawah pancuran air sambil menatapi kucuran darah dari tangannya yang disayatnya. Seperti dalam film-film menyedihkan!
Astaga!
Sepertinya aku terlalu banyak menonton film menyedihkan, hingga otakku harus berpikiran seperti ini. Aku mencoba menunggunya keluar dari kamar mandi, dengan mataku yang memperhatikan sekelilingku.
Bahkan pengap!
Setelah beberapa menit menunggu, Tika keluar dari kamar mandi mengenakan handuknya lalu berjalan melewatiku menuju lemari bajunya dan mengenakan pakaiannya di balik pintu lemari itu. Setelah selesai, kami bersama-sama menuju meja makan dan mendapati semuanya sudah ada di meja itu. Semua mata serempak menatap kami, terlebih menatap Tika yang berdiri di sampingku. Dia menundukkan wajahnya.
"Tika lapar," lirihnya pelan, mungkin suara itu hanya aku yang dapat mendengarnya. Kemudian aku meraih tangannya, menggenggam erat kemudian mengajaknya melangkah mendekati meja makan.
Haikal berdiri dari kursinya, lalu menyuruh Tika duduk di sana dan aku di sebelahnya. Semuanya membiarkan kursi dari pak Benny kosong.
***
Setiap hari kami lalui, ayah dan ibuku semakin sibuk bersama dengan mamahnya Tika. Mereka mengurusi perusahaan yang ditinggalkan oleh pak Benny. Kondisi Tika pun semakin hari semakin membaik. Ia kembali bersekolah dan perlahan mulai menerima keadaan.
Ayah dan ibuku pun mendapatkan sebuah rumah luas yang diberikan oleh pak Benny sebagai warisan. Lalu tragedi kembali menghampiri kami, khususnya untukku.
Kedua orangtuaku melakukan perjalanan dinas untuk kemajuan perusahaan Adiya Group and Company, menuju ke Maldives. Sedangkan aku dititipkan dirumah Tika selama mereka pergi. Hampir setiap hari aku dan kedua orangtuaku berhubungan. Kadang lewat pesan singkat, telepon atau bahkan video call. Mereka juga sempat menunjukkan pemandangan di sana kepada aku dan juga Tika. Begitu indah.
Namun pemandangan itu tidak seindah pada akhirnya. Sebab sepulangnya ayah dan ibuku dari sana. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kendala hingga akhirnya harus melakukan pendaratan darurat di atas daratan hutan.
__ADS_1
Saat semua itu terjadi, aku dan Tika sedang berada di dalam kamarnya, asyik mendengarkan radio. Kemudian tiba-tiba saja suara pintu di buka membuat aku dan Tika sontak terkejut. Kami melihat mamahnya berdiri di ambang pintu lalu berlari memelukku dan sepersekian detik kemudian beliau menangis.
Awalnya aku tidak mengerti, aku hanya memandangi Tika dengan rasa aneh yang menyelimutiku saat itu. Sedangkan mamah Tika, semakin erat memelukku lalu mulai angkat suara. Mengatakan bahwa kedua orangtuaku mengalami kecelakaan tadi pagi waktu setempat.
Dalam isak tangisnya beliau terus memberitahukan kondisi kedua orangtuaku saat mengalami kejadian naas tersebut. Seketika aku berteriak tidak percaya mendengar kabar itu.
"Enggak! Enggak mungkin! Tadi pagi sebelum berangkat sekolah ayah masih nelpon. Pasti bohong 'kan?! Tante becanda' kan?! Aku tahu ini pasti prank, pasti April Mob 'kan?!" Aku terkekeh mengatakan semua itu dengan air mata yang sudah mengalir membahasahi pipiku.
Aku mencoba melepaskan pelukan itu. Aku ingin berlari menuju mobilku dan segera pulang ke rumah untuk bertemu dengan ayah dan ibu yang sudah aku rindukan. "Enggak, lepasin!! Aku mau ketemu ayah, aku mau ketemu ibu." Aku merengek dalam pelukan tante Ida. Hingga akhirnya aku merasakan dadaku sesak dan tiba-tiba semua menjadi gelap.
Aku terbangun di dalam kamarku sendiri, dengan kondisi ramai di luar kamar. Jenazah kedua orangtuaku sudah siap untuk dimakamkan saat itu. Membuatku kembali menangis, meronta-ronta menolak keadaan yang terjadi. Rasanya aku tidak sanggip menerima kenyataan bahwa mereka telah tiada, meninggalkan aku sendirian untuk menjalani hari.
Hampir sebulan aku mengurung diri di rumahku sendiri. Makan seadanya, menutup pintu untuk siapapun yang ingin menjengukku. Hingga akhirnya Tika datang dan memaksa masuk dengan mendobrak pintu belakang rumahku.
Kini keadaan manjadi terbalik, Tika menemaniku setiap hari. Memasak untukku, membersihkan rumahku, sampai mencuci pakaianku. Semua ia lakukan dengan tulus. Hingga ia kembali mengajakku bersekolah. Menyelesaikan kewajiban belajar kami.
"Lu beneran mau tinggal sendiri di sini? Ikut gua ke rumah aja yuk. Biar tinggal sama-sama. Jadi ke mana-mana kita juga barengan. Paling enggak sampai kelulusan." Tika menawarkan padaku untuk tinggal di rumahnya setelah satu minggu aku kembali bersekolah.
"Enggak, gua di sini aja. Lagian gua udah ngomong kok sama om Reza, kalo gua mau kuliah di luar negeri aja. Lagian di sana juga ada tante gua." Saat itu kami sedang asyik mengobrol di halaman belakang rumahku sepulang sekolah, sambil mengerjakan beberapa tugas.
Kami saling membantu dalam masa sulit, secara bergantian saling menguatkan untuk melanjutkan hidup. Aku tertolong banyak berkat Tika dan keluarganya. Dan tidak hanya sampai di sana, mamahnya hampir setiap hari mengunjungiku. Sesekali beliau membawakan bahan makanan untuk mengisi kulkas di rumahku. Memperlakukanku layaknya anak kandungnya. Begitu pula dengan Max. Dia selalu menyempatkan untuk menanyakan keadaanku melalui pesan singkat.
Pernah terbesit dalam hatiku untuk mengartikan lain perhatian yang diberikan olehnya. Pasalnya Max juga tampak menawan seiring dengan berjalannya waktu. Masing-masing dari kami tumbuh dengan pesona yang luar biasa. Karena perhatian dari Max itulah yang membuatku akhirnya memutuskan untuk menerima ajakkan Tika untuk tinggal di rumahnya selama masa ujian akhir sekolah atau yang dikenal dengan ujian kelulusan sekolah.
Semua orang di rumah itu memperlakukanku dengan sangat baik. Merawatku seperti aku adalah salah satu anggota keluarga kandung mereka. Hingga akhirnya kelulusan sekolah tiba, Om Reza yang merupakan saudara dari ayahku mengabulkan permintaanku untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.
Dan sejak itulah, kehidupanku yang sebenarnya segera dimulai ...
—————
Hai kalian para pembaca setia.
Aku sudah membaca semua komen kalian di bab announcement 2.
Dan setelah dipikirkan, demi menjaga kualitas cerita sebelumnya dengan tokoh utama Tika dan Jefri, akhirnya aku akan mengangkat cerita Lisa 😁
Yang mana cerita ini nantinya juga akan berhubungan dengan Tika serta Dana 😂
Tapi kemungkinan banyak Lisa-nya, sebab ceita ini nantinya juga akan berhubungan dengan kisah akhir yang ada di judul Kebahagian Tak Sempurna.
Jadiiiiii, dinikmati saja cerita ini, okay??
__ADS_1
😂😂😂
Terima kasih 😘