Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 69


__ADS_3

Dua hari berlalu....


"Sayang, Jefri mana?" tanya Mamah padaku saat baru memasuki ruangan.


"Ada, dia lagi ke depan ngambil hasil tes rontgen sama darah."


"Oh. Trus Haikal tadi ke sini gak?"


"Ga ada tuh Mah, emang kenapa?"


"Tadi dia bilang mau ke sini, soalnya sempet mampir ke rumah tadi pagi."


"Oooohh.." aku kembali membaca buku ku.


"Hari ini perban kamu dibuka kan?" tanya Mamah yang sambil mengupaskan ku beberapa jenis buah.


"Iya Mah, tapi kadang masih ngerasa nyeri-nyeri gitu. Apalagi yang kepala."


"Jangan-jangan otak kamu geser nih, makanya nyeri-nyeri." sambio menyodorkan sepiring buah.


"Mamah, apaan sih! Anak nya sakit malah dibikin becandaan." aku nyolot.


Kemudian dengan senyumnya, Mamah duduk di hadapanku. Menatapku yang menyuapkan buah ke dalam mulutku sendiri.


"Kamu beneran baik-baik aja kan?" tanya Mamah.


"Ya iya dong Mah, baik banget malah."


"Jefri ke kamu gimana?"


"Maksud Mamah?" aku mengernyitkan alisku.


"Dia berubah atau biasa aja ke kamu?"


"Ya berubahlah Mah," sahutku santai mengunyah buah dan menelannya, "Dia lebih perhatian lagi. Lebih protect lagi. Pokoknya beda aja sama yang kemaren."


"Maksud Mamah bukan itu."


"Lah trus maksudnya?" aku tambah bingung dengan pertanyaan Mamah.


"Ah udah lupain aja! Kapan kata dokter perban kamu dilepasnya?"


"Paling bentar lagi Mah."


Pintu tiba-tiba perlahan terbuka. Jefri muncul memasuki ruangan.


"Loh Mamah, kapan datangnya?"


"Baru aja, gimana hasil pemeriksaan nya?" tanya Mamah menggebu.


"Kata dokter nya sih udah ga papa lagi. Paling bentar lagi dokter nya datang buat ngelepas perbannya.

__ADS_1


"Kamu ga ngantor lagi hari ini? Udah tinggalin aja, ada Mamah kok. Masa kamu izin terus?" tanyaku saat Jefri mendekatiku.


"Aku udah izin lagi hari ini, di bolehin kok." senyumnya.


Tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka. Kini orangtua Jefri yang datang menjenguk. Hampir setiap hari mereka datang dan membawakan Jefri pakaian ganti. Bahkan mereka juga selalu membawakan buah, roti, sampai nasi lalapan ikan nila kesukaan ku.


Untung saja, aku masih bisa makan diam-diam tanpa sepengetahuan pihak rumah sakit. Bahkan kadang Haikal juga membawakanku makanan dari luar. Dia memang paling bawel kalo masalah makanan. Apalagi dengan kondisiku yang seperti ini.


Ups!


Oke kita kembali ke cerita Papa Mama nya Jefri.


Mereka berdua selalu ada juga di setiap harinya. Sampai hari ini, mereka mengetahui bahwa perban yang masih melekat di kepala dan beberapa bagian tubuhku akan dibuka. Mereka datang lebih pagi dari biasanya.


"Gimana gugup gak?" tanya Mama.


"Gugup dong Ma, coba deh Papa sini, tuh dinginkan telapak tangan Tika." ucapku tersenyum mengobrol dengan Mama Papa nya Jefri.


Sedangkan Jefri hanya tersenyum melihatku asik mengobrol.


Sebenarnya aku sengaja membuat semuanya terlihat normally. Seakan aku melupakan kelakuan Jefri yang menemui mantannya dibelakangku. Aku tidak ingin menyebut itu suatu kesalahan. Dan aku tidak ingin semua orang tau. Cukup kami berdua. Karna yang menjalani hanya kami berdua.


Tidak terasa Dokter dan dua orang suster datang memasuki ruangan kemudian menghampiriku.


"Gimana perasaan nya hari ini?" tanya dokter padaku.


"Lumayan baik Dok. Terkadang masih nyeri-nyeri aja di ketiga nya."


Aku menganggukkan kepalaku.


"Oke kita buka dari yang di kepala dulu ya? Silahkan suster.." titah Dokter.


Kedua suster itu langsung mengambil posisinya kemudian perlahan membuka perbannya. Aku yang sedang terduduk di tengah ranjang langsung memejamkan mataku. Membiarkan suster itu melakukan hal yang maksimal. Hingga perban di kepalaku berhasil di lepaskan. Salah satu suster memberikan sebuah cermin di tangan ku.


Aku membuka mata lalu bercermin, melihat kondisi kepalaku pasca operasi, "Dok, kok bisa ga keliatan bekasnya gini?"


"Sebenarnya itu keliatan cuman karena rambut kamu agak lebat, makanya terlihat mulus. Kalo di telaah pasti keliatan. Tapi kakak kamu benar-benar hebat melakukan itu. Seharusnya dia mengambil study lagi untuk spesialis bedah."


"Tunggu, maksud Dokter, Haikal?" ucapku tidak percaya.


Ku pikir hanya aku yang tidak tahu, tapi ternyata semua orang yang ada di ruangan ini juga tidak mengetahui tindakkan Haikal.


"Iya, bahkan dengan keahliannya, kamu yang tadinya kehilangan banyak sekali darah, cukup dengan dua kantong darah mas ini, bisa terselamatkan." jelas Dokter lagi.


Kedua suster tadi masih melanjutkan membuka perban di bahu dan pahaku. Aku kembali heran mendengar cerita Dokter itu.


"Kamu kenapa ga cerita ke aku kalo kamu donorin darah kamu buat aku?" cerca ku pada Jefri yang masih berdiri di belakang suster.


"Ngapain aku cerita yang begituan? Yang penting kamu cepet sehat." jawabnya singkat.


Setelah perban di bahu dan pahaku selesai di buka dan dibersihkan. Salah satu suster menyuntikkan sejenis obat pereda nyeri kedalam cairan infusku.

__ADS_1


**********


Jefri POV.


Ruangan kembali sepi. Mamah, Mama dan Papa sudah pulang, meninggalkan kami berdua kembali di sini. Aku duduk di kursi samping ranjangnya. Tika sudah tertidur lelap kembali akibat obat yang diberikan. Untungnya dia sudah makan siang.


Aku menatapnya dengan terus menciumi tangannya. Aku kagum padanya yang bisa menutupi masalah kami berdua agar orangtua kami tidak mengetahuinya. Dia sungguh membuat aku terlihat gantle di depan orangtua kami.


Aku kembali frustasi. Rupanya pernikahan yang aku janjikan ini tetap tidak bisa membuat dia seratus persen mempercayaiku. Tetap saja dia cemburu, batinkum


Kemarin aku menerima pesan lagi dari Paula, jika anaknya, Paul, kini semakin sehat dan sudah dibawa pulang kemarin. Aku tidak terlalu peduli, lalu dengan kesal ku block semua nomer Paula. Bahkan sampai kesemua media sosialnya aku block.


Saat ini aku hanya ingin Tika yang segera pulih. Agar kami bisa melanjutkan kembali beberapa persiapan pernikahan kami yang tertunda.


Aku sungguh menginginkan segera menikahinya. Hidup satu atap dengannya. Mengurus rumah bersama..


Ku elus pipi nya perlahan. Tiba-tiba pintu berdecit pelan, Haikal masuk.


"Udah lama dia tidur?" tanya Haikal padaku.


"Lumayan, dari kelar buka perban." sahutku.


Haikal tidak lagi berbicara padaku. Dia langsung duduk di sofa dan sibuk dengan ponselnya. Aku pun begitu, masih duduk di kursi ini dan memandangi Tika.


Awkward moment. Itu yang aku rasakan, sebelumnya tidak pernah aku merasa seperti ini. Aku merasa terintimidasi akan kehadiran Haikal yang hanya duduk disana menekan-nekan ponselnya tanpa mengajakku mengobrol. Walaupun aku tau, kata Tika, dia memang bukan type lelaki yang cerewet.


Aku mencoba menghilang kan perasaanku itu dengan mengambil novel yang sering Tika baca. Dan aku mulai membacanya dalam hati hingga Tika kembali bangun.


"Mau minum?" tawarku saat Tika membuka matanya.


Tika menggelengkan kepalanya pelan lalu menoleh, "Loh Haikal? Udah lama disini?"


"Enggak juga. Kamu gimana, udah enakkan?" tanyanya sambil mendekati Tika.


"Udah lumayan kok, ini salep buat badan kamu, bukan lotion ya ini, tapi cara pake nya sama kayak lotion, tipis-tipis aja." sambil memberikan sebuah botol plastik pipih.


Tokk..


Tokk..


Aku berdiri dan segera membukakan pintu. Ternyata seorang lelaki yang pernah aku lihat sebelumnya. Dia membawa sesuatu ditangannya.


"Permisi, betul ini kamarnya Tika?" tanya lelaki itu.


"Iya bener, masuk." aku mempersilahkan .


Tika dan Haikal menoleh.


"Loh Dana?" Tika terkejut.


**********

__ADS_1


__ADS_2