
Selamat membaca ...
——————————
Lisa POV.
Seketika aku menangis kencang begitu Julia memelukku. Perasaan yang berkecamuk dalam dadaku langsung aku tumpahkan begitu saja dengan deraian air mata. Tidak ada kalimat yang aku lontarkan, karena aku memang hanya ingin menangis, melampiaskan semuanya dengan tangisan. Hingga hati ini merasa puas.
“Kamu mandi dulu ya? Bersihin badan kamu, biar aku siapin pakaiannya. Habis itu kita makan sambil cerita. Sekalian nanti aku obatin lagi luka kamu.” Julia menyarankan aku untuk menyegarkan diri dengan mandi. Aku menurutinya.
Dia memberikan selembar handuk dan juga sikat gigi baru padaku sebelum aku memasuki kamar mandinya. “Pakai aja sabun, sampo dan lainnya yang ada di sana. Jangan sungkan.” Lagi-lagi Julia menawarkan kebaikannya padaku. Dan aku, lagi-lagi hanya mampu mengangguk membalasnya.
Di saat mandi, sekilas kejadian saat wanita itu menyerangku kembali terlintas. Aku masih ingat betul saat dia mengatakan bahwa aku adalah pelakor dan aku telah merebut miliknya. Apa benar semua itu?
Seketika itu aku kembali meneteskan air mata, mengapa hidupku harus seperti ini? Cinta pertamaku terasa jauh dan terhalang oleh sebuah tembok tebal yang begitu bening. Lalu sekarang, saat aku mendapatkan cinta yang lainnya, mengapa malah cinta milik orang lain? Mengapa aku harus hidup dalam kesialan setelah kedua orang tuaku meninggal??
Sengaja aku kembali menumpahkan air mataku sembari menangis, rasanya hati ini belum terlalu puas untuk menangis.
**
Julia sudah memberikan salah satu piyamanya untukku. Lalu dia mengajakku untuk segera makan malam bersama dengan saudaranya yang tadi menerima panggilan teleponku.
“Aku memesan layanan antar, semoga saja ini sesuai dengan selera makan kamu, Lisa. Ayo makan!” Julia mengajakku melangkah bersamanya menuju meja makannya itu.
Apartemennya ini terlihat lebih kecil jika dibandingkan dengan milikku. Bahkan memang lebih kecil sebab dapurnya juga hanya seadanya, tidak selebar dapur di apartemenku yang dilengkapi dengan kitchen set. Ini adalah kali pertamanya aku masuk ke dalam kamar apartemennya. Sebab dulu aku hanya menunggu di depan pintunya atau paling tidak aku menunggu di dalam mobilnya di pinggir jalan.
Sekarang tidak aku sangka, ternyata dari penampilannya, jauh berbeda dengan kehidupannya. “Aku tidak tahu kalau isi apartemen kamu seperti ini. Maaf, aku pikir kamu—”
Julia tersenyum lebar lalu berkata, “Aku tahu kamh dari keluarga kaya, apa lagi semenjak aku tahu di mana wilayah apartemen yang kamu tinggali. Wilayah itu termasuk kawasan standar kota London. Memang bukan yang paling mewah tetapi berada di pertengahan. Jauh berbeda denganku.” Julia membukakan sebuah kotak makan lalu menyodorkannya padaku.
“Ini, silakan dinikmati,” ucap seorang wanita lain yang tadi aku lihat. Wanita yang disebut Julia sebagai Amelya.
“Amelya, 'kan? Terima kasih,” sahutku sambil menyambut sepasang sendok dan garpu yang dia berikan. Kemudian dia duduk di samping Julia, tepat berseberangan denganku.
Meja makan Julia ini menempel ke dinding jadi hanya memiliki tiga bagian kursi. Yang mana saat ini Julia berada di antara aku dan juga Amelya. Julia juga membukakan kotak makan lainnya untuk Amelya dan juga untuk dirinya sendiri.
Kemudian kami bertiga makan dalam keheningan. Hanya suara sendok dan garpu yang berdenting indah saling menabrak yang menjadi suara latar di saat kami menyantap makan malam kali ini. Hingga akhirnya semua kegiatan itu selesai.
Saat ini perasaanku sedikit lebih tenang. Mataku asyik memerhatikan isi apartemen Julia dengan saksama. Sambil melihatnya yang sedang mencuci piring. Sesekali aku meneguk minumanku, lalu kembali mencoba menenangkan diri.
“Kamu sudah lama tinggal di sini, Jul?” tanyaku setelah beberapa kali mengembuskan napas.
Julia menoleh sekilas lalu kembali menatap beberapa peralatan yang sedang ia cuci sambil menjawab pertanyaanku, “Iya udah lumayan lama, sudah beberapa tahun.”
“Sebelumnya tinggal di mana?”
“Aku sebelumnya tinggal di asrama. Lalu saat mulai bekerja, aku putuskan untuk keluar dari sana, sebab di asrama memiliki beberapa peraturan yang tidak bisa aku patuhi. Salah satunya tentang jam malam.”
“Lalu langsung dapet tempat ini?” Aku penasaran.
“Enggak juga, ada tempat pertama sebelum ini. Beberapa hari aku tinggal di motel. Lalu setelah itu berkeliling mencari tempat, dapatlah apartemen ini.” Kemudian Julia melepaskan celemeknya lalu kembali duduk di kursinya tadi. Sedangkan Amelya, mungkin sudah kembali ke kamar tidur Julia tadi, begitu makan malam berakhir.
Ya, aku lihat di sini hanya ada satu kamar tidur dengan satu tempat tidur. Rasanya tidak nyaman jika aku harus menginap di sini. Kasihan saudaranya Julia jika kami harus tidur berdesakkan. Akhirnya aku kembali berpikir dan berniat untuk kembali saja ke apartemenku.
“Sekarang bukan saatnya buat bicara tentang aku, tapi tentang kamu. Ada apa?” ucap Julia lembut sambil mengusap punggung tanganku yang berada di atas meja. Dia menatapku sedangkan aku yang terkesiap langsung menundukkan wajah.
“Cerita aja. Siapa tahu dengan cerita kamu bisa membebaskan sedikit perasaan yang penuh dalam hati kamu itu. Biar lega dan nyaman.”
Aku menghela napasku dengan kasar lalu untuk beberapa detik aku menutup kedua kelopak mataku. Mencoba menenangkan hati sekali lagi, agar saat menceritakan semuanya pada Julia, tidak ada lagi tangis yang aku lepaskan.
__ADS_1
“Aku sudah berkencan dengan Dave beberapa kali dan juga sudah tidur bersama. Lalu dia juga memintaku untuk menjadi kekasihnya,” Aku mulai menceritakan semuanya kepada Julia.
Bahkan dengan rinci aku menceritakan semua kejadian, hingga Julia terkejut begitu mendengar saat aku mengatakan jika tadi pagi aku diserang oleh istrinya Dave saat berada di apartemennya.
“Kamu yakin, Lis, itu istrinya?” Julia memekik keras.
Aku mengangguk cepat. “Yakin, aku dengar dengan sangat jelas. Wanita itu bilang aku penggoda suaminya,” tuturku.
“Padahal sebelumnya kami juga pernah betemu. Saat itu ... wanita itu terlihat sangat tenang dan santai. Tidak menggebu-gebu seperti tadi pagi. Sudah seperti orang gila yang menyerangku,” tambahku lagi.
Dengan semua kejanggalan yang aku alami, aku ceritakan habis kepada Julia tidak ada yang aku tutup-tutupi. Saat ini, aku butuh seseorang untuk membantuku berpikir. Dan aku tidak bisa memikirkan semua ini sendiri. Aku hanya perlu seseorang yang mendengarkan isi hatiku.
“Aneh. Kalau sudah ketemu, kenapa baru sekarang wanita itu ributnya?” tutur Julia menganalisa.
Aku mengerdikkan kedua bahuku lalu menatap mata Julia lekat-lekat, seolah kami saling mencari jawaban dalam sepasang pandangan mata. “Trus kamu sudah bicara sama Dave?”
“Aku cuma mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Awalnya aku pikir Dave selingkuh dan bermain di belakangku. Tapi saat dalam perjalanan menuju kemari aku kembali ingat dengan penuturan wanita itu yang mengatakan bahwa akulah penggoda suaminya. Itu artinya aku yang menjadi simpanan Dave, bukan wanita itu. Dan itu membuatku semakin sakit, Jul,” keluhku.
“Astaga Lisa ....” Julia langsung memelukku kembali. Dan kali ini air mataku kembali jatuh begitu saja.
“Menangislah. Lampiaskan semuanya. Dengan begitu kamu akan merasa lebih tenang,” tambahnya lagi.
Untuk beberapa waktu, hanya suara tangisanku yang memantul dalam kamar apartemen Julia ini. Dia kembali membiarkan aku menangis sejadi-jadinya, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku meminta Julia untuk mengantarkanku pulang ke apartemenku.
“Tapi 'kan kata kamu, tas kamu ada sama Dave, 'kan? Gimana buka pintu kamar kamu?”
“Aku bisa meminta kunci cadangannya dengan pemilik apartemen itu.”
“Pemiliknya tinggal di sana?”
Aku mengangguk mantap. “Iya, kamarnya berdekatan dengan kamarku. Dan dia selalu ada di kamarnya jika sudah malam seperti ini.”
Aku tersenyum kemudian Julia segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Julia memang tidak pernah menggunakan pakaian yang sembarangan jika ia keluar dari apartemennya ini. Sebab dia tidak ingin bertemu dengan orang yang dikenalnya dalam keadaan tidak berdandan. Dan aku mengerti akan hal itu.
“Ayo, gak apa-apa 'kan kalau Amelya ikut?”
Aku menggelengkan kepala. “Gak apa-apa. Biar pulangnya kamu ada temen.”
Di sepanjang perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan. Julia sibuk menjawab beberapa pertanyaan dari Amelya, saudaranya. Sedangkan aku lebih memilih untuk berdiam diri, asik dengan pemikiranku sendiri sambil memerhatikan lampu jalanan yang ada di depan. Hingga akhirnya tidak terasa kami sampai di dalam basemen gedung apartemenku.
“Ayo, kami temani kamu ke atas. Takutnya pemilik apartemen itu gak ada, ntar kamu terlantar di sini.”
Aku menerima tawaran dari Julia itu, lalu kami bertuga melangkah memasuki lift. Sesampainya di lantai tujuan, aku langsung berjalan lebih dahulu melewati pintu kamarku menuju sebuah pintu yang berada di pojokan koridor.
Tok tok tok!
Aku mengetuk pintu itu beberapa kali. Hingga terdengar suara anak kunci yang diputar.
Cklik! Cklik!
Seorang wanita muncul dari balik pintu, dia terlihat cantik dan menawan. Ya dia adalah pemilik dari gedung apartemen ini. Namanya Athria, aku ingat sekali dengan namanya. Apalagi saat ini dia sedang tersenyum padaku.
“Hai, maaf mengganggu malam-malam. Aku kehilangan kunci kamarku. Apa kamu memiliki kunci cadangannya?” tanyaku sopan.
Saat pertama kali menyewa kamar apartemen itu, aku bersama om Reza juga dilayani olehnya. Dia adalah wanita yang baik menurutku. Bahkan dulu, dia pernah beberapa kali memberikan aku makanan sebagai tanda perkenalannya untukku.
“Tentu.” Dia menengok ke belakangku, mungkin ingin melihat Julia dan Amelya yang berdiri di depan pintu kamarku. “Tunggu sebentar aku ambilkan.”
Dia kembali masuk ke dalam kamarnya dengan pintu yang dia biarkan terbuka. Aku dapat melihat beberapa perabotan mewah yang berada di dalam sana. Tidak kalah mewahnya dengan perabotan yang aku miliki di kamarku.
__ADS_1
Selang beberapa menit berdiri menunggu di depan pintu kamar apartemennya, lalu mendadak ia kembali muncul dengan dua buah kunci di tangannya. “Em, aku lupa kuncinya yang mana, biar aku coba sendiri. Boleh?” izinnya dengan sopan.
“Oh, iya tentu aja boleh. Maaf merepotkan.” Aku merasa tidak nyaman padanya.
Lalu dia langsung memasukkan kunci secara satu per satu dan ternyata kunci yang kedualah yang dapat membuka pintu kamar apartemenku. “Terima kasih, sekali lagi maaf merepotkan.”
“Tidak apa-apa, sama sekali tidak merepotkan. Lagi pula, aku juga memang sedang menunggu kamu pulang.”
Seketika aku terperangah mendengar kalimat yang baru saja dia lontarkan dengan mulutnya sendiri. Sekilas aku menoleh pasa Julia. Bulu kudukku berdiri begitu saja. Rasanya seperti sedang dimata-matai.
“Oh, maaf. Maksud aku bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku menunggu kamu pulang karena tadi ada seorang lelaki yang ke sini dan menggedor-gedor pintu kamar kamu. Karena aku merasa terlalu berisik dan takut mengganggu penghuni lain, lalu aku memutuskan untuk menghentikannya.”
Aku semakin dibuat terkejut olehnya. “Lelaki?”
Athria menganggukkan kepalanya dengan pasti. Lalu merogoh saku baju piyamanya, menyodorkan sebuah kartu nama padaku. “Lelaki ini yang ke sini. Dia mencarimu dan terlihat frustasi saat itu.”
Aku menundukkan kepalaku lalu membaca nama yang tertera di atas kartu itu. Dave Winston. Tertera juga alamat kantor beserta nomer ponselnya di sana.
Spontan aku mencengkeram tangan Athria lalu berkata, “Tolong, aku mohon. Jangan hubungi dia, jangan katakan padanya jika aku sudah pulang dan berada di sini.” Aku memohon padanya.
Kemudian Athria mengatakan permintaan maafnya sebab sebelumnya dia sudah lebih dahulu untuk menghubungi Dave dan mengatakan perihal kondisiku saat ini. Sebab dia sudah lebih dulu berjanji pada Dave untuk mengabarinya jika dia melihatku kembali.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Setelah semua itu, aku mengucapkan terima kasihku pada Athria karena dia mau memberikan kunci cadangan itu kepadaku, lalu dia kembali ke kamarnya. Sedangkan Julia dan juga Amelya langsung berpamitan padaku untuk pulang.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Jika Dave datang kemari malam ini, bicarakan semuanya dengan lapang dada. Dia pasti memiliki alasan dan penjelasan. Jika tidak masuk akal menurut kamu, minta waktu padanya untuk sendiri. Bukankah kamu kabur juga memiliki alasan?” Julia menasihatiku.
Benar apa kata Julia. Semua pasti memiliki alasan. Jika aku tidak bisa mengerti dengan alasan itu, aku berhak untuk memutuskan seperti apa hubungan kami berdua selanjutnya. Aku harus mencari jawabannya sendiri dan aku harus bersikap dewasa.
Setelah kepulangan Julia dan juga Amelya, aku langsung mengunci pintu dan masuk ke dalam kamar. Merebahkan diri di atas tempat tidur. Lalu memandangi langit-langit kamarku ini, sambil memikirkan beběrapa kemungkinan yang akan terjadi nanti, jika Dave benar malam ini akan langsung kemari, begitu mendapatkan kabar dari Athria.
Aku mengembuskan napas berkali-kali sambil berusaha menenangkan jantungku yang mendadak tidak karuan semenjak Athria mengatakan, bahwa dia sudah mengabari Dave. Bagaimana aku akan menghadapinya nanti?
Padahal dalam pikiranku masih banyak beberapa pertanyaan yang tidak aku mengerti jawabannya. Apalagi tentang Dave.
Jika wanita itu mengatakan aku adalah penggoda suaminya, apa itu artinya Dave adalah suaminya? Lalu apartemen itu, apakah tempat tinggal mereka? Mengapa Dave memajang fotoku di kamarnya? Atau apartemen itu hanya tempatnya beristirahat sementara saat bersamaku?
Kepalaku benar-benar terasa pusing. Aku kembali bangkit dari tempat tidurku, lalu berdiri melangkah menuju meja rias dan menarik sebuah laci yang menyimpan beberapa bungkus rokok yang belum terbuka segelnya. Aku mengambilnya sekotak beserta dengan pemantiknya. Lalu membuka pintu balkon kamar.
Dengan rakus aku menghirup udara dingin malam ini. Lalu membuka bungkus rokok itu, menyulut sebatang rokoknya dan menikmatinya. Melupakan sejenak permasalahan yang membuat kepalaku berdenyut begitu lama.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa buat kasih like sama komen yaa. Kasih komen apa pun bebas, asal jangan komen tentang novel lain 😂
Terima kasih karena sudah mengerti akan kebimbangan hati Lisa dan rumitnya pemikiran Lisa. Karena berkelahi dengan diri sendiri itu tidak mudah guys. Apalagi jika harus menerika sakit hati yang bertubi-tubi. 😔
Oke sekian dulu untuk malam ini.
Jika ada yg ingin bergabung dalam grup chat, silahkan saja langsung cuss. Karena aku di dalam grup itu akan menebarkan poin untuk kalian 😂
Terserah kalian poinnya mau dipakai buat vote karya aku atau tidak, itu menjadi hak kalian 😘
Babay 💋
Terima kasih.
@bossytika
__ADS_1