Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 67


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Lisa POV.


Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri setelah sebelumnya asyik bersantai. Begitu selesai dan keluar dari kamar mandi, ponselku berdering.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Segera aku meraih benda tipis yang aku letakkan di atas nakas lalu melihat nama Dana tertulis di sana. Ujung sudut bibirku tersenyum tipia lalu jempolku segera menekan tombol berwarna hijau dan menggesernya lalu menempelkannya pada telingaku. “Hallo?”


“Aku di dalam lift, kamar kamu lantai enam, 'kan, nomer berapa?” tanya Dana dari seberang sana.


Entah kebodohan dan kelemahan apa lagi yang aku lakukan hingga harus memberitahukannya nomer kamarku dan tidak berapa lama kemudian bel pintu apartemenku berbunyi.


Saat ini aku hanya mengenakan jubah mandi dan juga selembar handuk yang menggelung rambut basahku setelah keramas lalu membukakan pintu. Sosok Dana berdiri di ambang pintu lalu tersenyum. Dia mendorongku dan langsung mendekapku lalu mencumbuku dengan hujan kecupan pada bagian leherku. Tubuh ini terasa bergetar begitu merasakan kembali sentuhannya.


Secara spontan aku merapatkan tubuhku padanya, membusungkan dada hingga meliuk-liuk. Dan tiba-tiba Dana menyentuh pundakku dengan lidahnya dan menghisap untuk memberikan jejak miliknya pada tubuhku.


Langkahnya semakin membuatku terseok dan dia langsung mengangkat tubuhku, membawaku masuk ke dalam kamar yang terbuka. Ya aku membiarkan pintu kamar dan pintu balkon terbuka, agar udara sejuk masuk ke dalam kamar tanpa menggunakan AC.


Dana merebahkanku di tengah tempat tidur, lalu menatapku dengan kedua matanya yang terlihat berbeda. Seakan ada sebuah perasaan sedih yang sedang dialami olehnya.


Dengan kedua telapak tangan yang aku tangkupkan kepada kedua sisi pipinya, aku menarik wajahnya untuk mengecup bibirku. Sepertinya saat ini aku menggila. Aku haus dengan semua sentuhan dan perasaan itu. Aku haus dengan semua sensasi yang pernah aku rasakan dan nikmati dulu. Dan saat ini aku ingin kembali merasakannya.


Dana menarik handuk di kepalaku dan membuangnya sembarang. Mengecup bibirku dengan penuh semangat. Dan tangannya perlahan menarik tali dari jubah mandiku. Aku bisa merasakan semua itu sembari lidahnya yang bermain di dalam mulutku.


Perlahan dia melepaskannya lalu kembali menyerang ceruk leherku, aku menikmati semua itu sambil menyerukan beberapa leguhan nakal yang lolos begitu saja dari mulutku ini.


Jubah mandiku tersibak, sapuan bibir itu berjalan ke semua sudut dan aku hanya bisa merasakan tanpa menolak. Otak dan tubuh ini membutuhkannya. Hingga akhirnya aku biarkan semua terjadi.


Keringat yang menetes serta lenguhan yang menggema seolah menjadi bukti kehangatan malam ini yang kami raih bersama. Semilir angin yang berembus seolah menjadi penyejuk bagi setiap gerakan kehangatan yang kami lakukan.


**


Aku terbangun dengan rasa nyeri di pangkal paha dan juga sebuah tangan yang melingkar di perutku. Sejenak mengerjabkan kedua mata lalu menoleh pada sosok seorang lelaki yang terbaring di sampingku. Tidak ada perasaan apa pun dalam hatiku saat ini begitu melihatnya tertidur pulas.


Pada awalnya aku hanya mengaguminya, lalu mencoba dekat dengannya karena dia orang yang begitu humoris. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk berdua dengannya dalam keadaan seperti ini. Rupanya beberapa saat yang lalu aku terbawa suasana hingga jatuh dalam permainan itu.


Namun, tidak ada sedikit pun rasa menyesal yang aku rasakan saat ini. Yang ada aku menjadi semakin lebih menginginkan hal itu. Aku merasakan diriku yang berubah saat ini.


Pelan-pelan aku mengangkat tangannya, menjauhkannya dari atas perutku, lalu aku bangkit dsri tempat tidur. Sambil tertatih melangkah menuju kamar mandi. Aku membersihkan tubuhku.


Bayangan Dave kembali hadir saat aku sedang asyik mencuci rambut. Pikiranku melayang, mengingat kembali di saat Dave menyentuh tubuhku dengan bibirnya dahulu. Penuh kelembutan dan penuh gairah, membuat jiwaku yang haus olehnya kembali bergairah.


Segera aku tuntaskan mandiku lalu keluar dengan rambut yang basah. Memungut jubah mandiku yang tergeletak di lantai serta mengambil handuk untuk rambutku. Sambil memandangi lelaki itu dan sekali lagi aku menatapnya dalam-dalam, ternyata benar aku memang tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Dan entah mengapa, aku bisa berbuat seperti ini.


Klik!


Aku matikan lampu kamar, melangkah menuju meja riasku dan membuka sebuah laci di sana. Mengambil sekotak bungkus rokok beserta pemantiknya dan berjalan menuju balkon. Di sana aku memandangi gedung di sebelah dan juga jalan raya yang sudah sepi. Jelas saja sepi, saat ini sudah pukul satu dini hari. Hanya ada beberapa mobil yang melintas.


Angin semakin kuat berembus, membuat pikiranku semakin kalut. Tadinya aku pikir, aku bisa melupakan Dave tapi ternyata aku salah. Aku malah membayangkan sedang bermain dengannya beberapa saat lalu.

__ADS_1


Aku akui, lelaki itu membuatku terkesan dengan banyak hal. Lelaki itu pula yang mengajariku tentang bagaimana cara memandang cinta. Lantas sekarang? Apa ini juga cinta?


Nyatanya tidak. Aku tidak merasakan apa pun saat bermain tadi, hanya nikmat, nikmat dan nikmat. Tidak ada kata lain yang pantas.


Aku mulai menyulut sebatang rokok, lalu menikmatinya sambil mengembuskan napas beserta asap itu dengan begitu kasar. Aku seakan kehilangan jati diriku sendiri. Aku seolah selalu merasa haus akan gairah itu.


Diam-diam aku mulai memejamkan mata saat duduk pada sebuah kursi yang sengaja aku letakkan di sana. Bukan untuk tidur, melainkan untuk kembali mengingat masa indahku bersama dengan Dave. Dia begitu sempurna bagiku. Apa aku harus menemuinya? Tapi ke mana aku harus mencarinya? Bukankah dia tidak pernah lagi kembali ke apartemennya?


“Dave ... aku merindukanmu ...,” gumamku pelan.


“Aku masih di sini dan juga merindukanmu.” Aku segera membuka mataku, suara Dana membuatku benar-benar terkejut. Dia tersenyum menatapku. Mungkin dia tidak mendengar dengan apa yang aku katakan tadi. Hingga dia menyahuti ucapanku seperti itu. Untunglah.


Aku tersenyum canggung menatapnya lalu tiba-tiba dia merebut sebatang rokok yang terselip pada jemariku dan menikmatinya. “Aku enggak tahu kalau kamu juga merokok.” Dia berdiri lalu bersandar pada pagar pembatas sambil memandangiku.


Sebuah seringaian aku berikan padanya lalu menjawab, “Aku hanya merokok jika di kamar dan itu pun jika pikirian sedang kalut,” jawabku sambil memandanginya yang lagi-lagi menikmati rokok itu dan mengembuskannya asapnya ke atas.


“Berarti sekarang lagi kalut? Mikirin apa?” Suaranya melemah lalu beranjak untuk duduk di belakangku. Aku memajukan tubuhku. Kursi ini memang panjang, kursi yang biasanya digunakan untuk berjemur. Jadi cukup untuk dua orang.


Dana menyuruhku untuk bersandar pada dada bidangnya yang polos tanpa pakaian itu. Sedangkan bawahnya sudah mengenakan celana kainnya, lalu sekali lagi dia menyesap rokok itu sebelum akhirnya mematikannya pada sebuah asbak di samping kursi yang kami duduki bersama.


“Apa kamu pernah merasakan perasaan di masa lalu yang kembali muncul tiba-tiba? Padahal kamu sudah mencoba melupakan orang itu cukup lama.” Mataku memandangi langit yang penuh dengan bintang saat ini. Begitu indah, tapi tidak seindah kehidupanku.


——————————


Dana POV.


DEG! DEG!


Jantungku tiba-tiba berdegup dengan kencang begitu mendengar pertanyaan yang dia lontarkan. Pertanyaan yang baru beberapa saat lalu aku rasakan begitu melihatnya sedang menikmati sebatang rokoknya seorang diri di sini. Mirip dengan Tika yang juga merokok secara diam-diam.


Apalagi saat berset*buh dengannya, kedua mataku seakan melihat bayangan Tika pada raut wajahnya, pada wangi rambut dan juga tubuhnya. Apakah tadi saat tertidur aku meracau menyebutkan nama wanita lain?


“Hei, kenapa diam? Pertanyaan aku kenapa emggak dijawab?” desaknya tiba-tiba.


Flo menghela napasnya yang terdengar sangat berat. Aku semakin mendekap tubuhnya yang berbalut dengan jubah mandinya lalu mengecup pipinya.


Entah apa yang aku lakukan beberapa saat yang lalu dan yang saat ini aku lakukan pada wanita ini. Aku tidak mengerti. Aku seakan menganggapnya milikku. Aku seolah menganggapnya adalah Tika. Wanita penenang jiwaku.


Pikiranku selintas kembali mengingat sebuah kejadian yang membawaku mendatangi Flo dan mengetuk pintu kamarnya untuk bermain gila padanya. Aku seakan kehilangan akal sehatku dan kacau begitu melihat Tasha yang penuh dengan darah dan tidak bernapas lagi.


Entah bagaimana Dave menyelesaikan mayat Tasha itu. Lagi pula, Tasha pantas mendapatkan semua itu. Dia wanita yang tidak tahu terima kasih. Sudah berpisah dengan Dave, masih saja dia ingin membuat Dave kehilangan segalanya.


Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Dave bahkan wanita yang saat ini juga sedang dia cintai. Bagiku, Dave memang salah, tapi tidak seharusnya wanita itu menghukum Dave seperti ini. Tidak adil baginya.


“Dana?” panggil Flo tiba-tiba, membuyarkan lamunanku tentan saudaraku saat ini.


“Hm?!” Aku hanya menjawab dengan sebuah dehaman.


“Apa kamu punya seorang kekasih?” tanya Flo.


Lagi-lagi pertanyaannya ini membuat kepalaku berdenyut. “Kalau ada, buat apa aku di sini?”


Lagi-lagi aku berdusta untuk menjawab pertanyaannya. Aku tidak ingin dia merasa seperti dimanfaatkan saat ini. Biarlah kedekatan ini terus terjalin, agar aku tidak perlu lagi ke klub malam untuk menumpahkan hasratku dengan wanita di sana.


Dan setidaknya hingga aku bisa kembali membuktikan pada Tika ataupun pada keluarganya, jika aku pantas juga setara untuk bersanding dengannya.


“Kamu mau 'kan pindah ke apartemenku?” Sekali lagi aku mengajukan pertanyaan ini padanya agar aku bisa kapan saja menikmati tubuhnya. Menikmati dirinya yang begitu mirip dengan Tika.


Dan lagi, untuk saat ini, aku masih bisa menghidupi wanita ini dengan sedikit hasil kerja kerasku dan aku yakin dia hanyalah wanita yang membutuhkan harta dan kesenangan, maka aku akan memberikan itu untuk sementara waktu. Ya, aku sanggup melakukan itu.


“Aku akan memikirkannya lagi,” jawabnya singkat.

__ADS_1


“Kamu sudah enggak punya waktu lagi buat mikirin semua itu. Waktu terus berjalan dan kamu harus pindah.” Aku berusaha terus untuk membujuknya. Sampai-sampai aku sedikit bingung dengan caranya berpikir.


Sudah diberikan tumpangan gratis malah tidak masih perlu untuk berpikir.


“Barangku terlalu banyak,” lirihnya.


“Aku akan bantuin kamu buat beresin dan kita pindahin.”


“Lalu kamu juga akan tidur di sana? Aku lihat, di sana juga hanya memiliki satu kamar tidur.” Kemudian dia menoleh menatap kedua mataku, kami saling berpandangan.


“Kalau kamu mau, aku bisa tidur di rumah. Aku juga punya rumah di sini,” lirihku melemah sambil menatapnya. Kali ini aku yakin, dia akan memintaku untuk menemaninya di apartemen itu.


“Jangan! Em, maksudku ... bukankah bagi sebagian orang di sini tinggal bersama itu menyenangkan? Untuk bisa saling mengenal?”


Aku terkekeh melihat raut wajahnya yang begitu polos. Ternyata aku bisa dengan mudah mendapatkan wanita ini. Tidak aku sangka.


Perlahan aku menarik dagunya untuk saling menatap pada kedua mataku, lalu mengecup kembali bibir merah mudanya yang terasa manis bagiku. Tangannya seketika berada di leher belakangku dan mencengkeram erat di sana. Aku tahu kode jenis apa yang wanita ini berikan. Mungkin dia sudah sangat menikmati permainan yang aku berikan.


Perlahan aku kembali mengangkat tubuhnya. Beranjak melangkah membawanya kembali masuk ke dalam kamar dan membaringkannya dinatas tempat tidur. Kini, di bawah cahaya minim dari pintu balkon yang kami biarkan terbuka, aku kembali menyesap setiap jengkal tubuhnya. Menikmati setiap tanda kepuasan yang dia berikan dan aku berusaha membuatnya terbang melayang, hingga dia merasakan candu untuk melakukan ini terus kepadaku.


**


Pagi harinya.


Setelah selesai mengajak Flo melakukan sarapan bersama pada sebuah rumah makan khusus sarapan pagi, aku segera mengantarkannya ke kampus.


“Aku hari ini akan sibuk sampai malam, jadi kamu gak perlu jemput aku. Aku bisa pulang sendiri.” Aku mengangguk. “Bye,” ucapnya seraya melepaskan safety belt-nya, tetapi buru-buru aku menangkapnya. “Apa?” tanyanya bingung.


“Good bye kiss-nya mana? Masa cuman dapet morning kiss?” Wajah Flo seketika memerah, dia tersipu malu begitu mendengar permintaanku.


“Apa harus? Bukannya kita cuman te—”


CUP!


Aku membungkamnya dengan sebuah kecupan yang nakal. Sebab aku tidak ingin mendengar dia yang menjelaskan status hubungan kami berdua. Karena aku tidak ingin memiliki sebuah hubungan berkomitmen apa pun selain dengan Tika. Hanya dia yang pantas.


“Selamat belajar! Kalau kamu butuh apa-apa, cepat hubungi aku. Oke?” titahku lalu kembali mengecup bibirnya kilas.


“Bye ...,” lirihnya sambil keluar dari mobil.


Setelah itu, barulah aku kembali pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Sebab siang ini aku memiliki klien baru untuk perusahaan.


Sesampainya di rumah, sambil bersiul aku melangkah masuk menuju ke kamarku. Namun, tiba-tiba saja suara Dave membuatku terkejut. “Dari mana aja kamu?”


Aku menoleh menatapnya yang sedang sarapan di meja makan. “Bersenang-senang.”


“Bukannya tadi malam aku menyuruh kamu untuk pulang? Kenapa malah bersenang-senang? Kamu yang berulah dan selalu aku yang membereskannya. Sampai kapan kamu akan seperti ini?”


Aku menatapnya. “Ayolah Dave! Aku melakukan semuanya untuk kamu. Dia selalu menyakiti kamu dan berulah. Lebih cepat dia mati maka hidup kita lebih cepat tenang!”


Dave terlihat menggelengkan kepalanya, tetapi sangat tipis gerakan itu, hampir tidak terlihat. “Apa kamu enggak punya rasa bersalah sedikit pun?”


“Buat apa? Apa kamu masih cinta sama dia?” Aku berdecih lalu tertawa. Tidak menyangka jika ternyata Dave selemah itu.


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, yang penting kamu sudah membuang mayatnya 'kan? Kalau begitu aman.” Kemudian aku kembali berbalik dan melangkah menuju ke kamarku. Aku cepat mandi dan kembali bersiap.


Bersambung ...


——————————


Sekian dulu,

__ADS_1


Babay 💋


@bossytika


__ADS_2