
Tubuhku terasa sulit digerakkan. Perlahan ku buka mataku. Langit-langit kamar yang tidak aku kenal. Ku gerakkan kepalaku perlahan untuk melihat sekeliling, kamar asing yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Perut ku serasa tertekan sesuatu yang tidak terlalu berat, namun membuatku merasa aman. Aku menoleh pelan ke arah perutku. Sebelah lengan melingkar diatas perutku. Ku cari pemilik tangan itu, dia sedang tertidur pulas. Seorang lelaki dengan wajahnya yang begitu tampan. Dengkurannya membuat lelaki itu semakin terlihat maskulin dimataku.
Dia calon suamiku.
Aku tersenyum melihatnya. Ku gerakkan tangan ku yang tertancap selang infus ini pelan untuk menyentuh pipinya. Perlahan ku elus dengan lembut. Dia terpekik. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali menatap ke arah ku. Lalu dia tersenyum, tangannya menyentuh sebelah sisi pipiku.
"Sayang, kamu udah bangun? Masih ada yang sakit gak?" tanyanya panik.
Aku hanya tersenyum menjawabnya, butiran air jatuh perlahan di sudut mataku. Dia mengusapnya, lalu memegang tanganku tadi di pipinya. Matanya terus saja menatapiku dengan sendunya.
"Jangan tinggalin aku. Aku ga sanggup hidup klo ga sama kamu." lirihnya pelan.
Kini sudut matanya yang meneteskan air. Dan belum pernah aku melihatnya menangis untukku. Sebegitu pentingnya kah aku untuk dirinya? Batinku.
Aku mengelus pipinya, mengusap airmatanya. Dia mengecup telapak tanganku kilas lalu di lekatkannya lagi ke pipinya. Masih dengan mata yang memandangiku. Dia bangkit dari duduknya lalu mencium keningku yang tertutup dengan sesuatu, lama. Hingga dia memegangi tanganku kemudian duduk disisi ku. Kemudian dia seakan menekan sesuatu tombol di samping ranjangku.
Kami beradu pandangan sambil sesekali tersenyum.
Tak lama berselang.....
Tokk..
Tokk..
Ceklek..
"Selamat pagi." sapa seorang lelaki dengan pakaian khas seorang Dokter.
"Pagi Dok, Tika udah sadar!" seru Jefri yang kemudian berdiri.
Lelaki yang di panggil Dokter oleh Jefri itu mendekatiku, "Gimana perasaannya? Masih ada yang sakit atau gimana?" tanyanya.
"Sedikit pusing. Sama susah gerak." lirihku.
"Iya ga papa, itu hal yang wajar. Saya periksa sebentar ya?" izin Dokter itu.
Aku mengangguk. Tiba-tiba pintu kembali terbuka, Haikal muncul disana. Dia segera mendekati ranjangku.
"Udah lama?" tanyanya menoleh pada Jefri.
"Lumayan.." sahut Jefri.
"Gimana kondisi nya Dok?" tanya Haikal dengan nada cemasnya.
Aku langsung menggapai tangan Haikal dan mengenggamnya, "Ga papa kok. Aku baik-baik aja." lirihku yang masih sedang diperiksa sambil menatap Haikal.
Haikal tersenyum lalu membalas genggamanku.
"Iya ga papa kok, detak jantungnya sudah kembali normal. Tinggal nanti siang kita lakukan pemeriksaan lanjutan pada kepala, bahu dan pahanya. Dan mungkin besok pagi kita akan tes darah juga." ucap Dokter ramah.
"Makasih ya Dok." ucapku sambil tersenyum.
"Baik kalo begitu saya permisi dulu, nanti akan ada suster juga yang memeriksa lagi ya?"
"Iya Dok. Makasih Dok ya?" jawab Haikal.
__ADS_1
"Mari..." Dokter itu keluar dari ruangan.
Aku kembali menoleh pada Haikal yang dari tadi menatapku, "Kenapa? Kok ngeliatin gitu sih?"
"Ga papa. Aku seneng kamu sadar dan masih ingat aku." lirih Haikal dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku terkekeh pelan, "Emang segitu parahnya ya? Justru aku masih inget itu makanya aku sadar." candaku, "Bantu aku duduk dong.." pintaku.
Dengan sigap Jefri memencet tombol di ujung bawah ranjangku yang membuat bagian atas ranjang menaik sehingga membuat posisiku bisa duduk. Kemudian ku peluk Kakak ku yang satu ini. Dia terlihat senang sekali.
"Aku harus telpon Mamah sama Max, tadi aku nyuruh mereka pulang sebelum kamu di pindahkan ke sini." ucapnya sambil melepas pelukanku.
Aku mengangguk. Haikal menjauh dari ranjangku, duduk di salah satu sofa yang tersedia di ruangan ini. Pintu kembali terbuka. Lisa terkejut melihatku dan langsung bergegas memelukku. Ia menangis.
"Syukurlah lu udah sadar, hu..hu.. Gu-gua takut ke-kehilangan lu, huu..huu.." lirihnya sambil menangis tersedu.
"Udah udah, gua ga papa kok. Liat deh, gua baik-baik aja kan?" ucapku sambil melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya dengan jemari ku.
Lisa mengangguk dan kembali memelukku tanpa berkata-kata. Hanya menangis lirih. Aku mengelus punggungnya pelan.
"Hai Lex, makasih ya masih sanggup nemenin dia." candaku yang diiringi tawa Alex. Lisa memukul pelan bahuku yang cidera.
"Aw.. Aw.. Huh.." rintihku.
"Sorry sorry. Gua lupa. Masih sakit ya?" paniknya.
"Ya iya lah, lu kira sulap bisa langsung ilang nyerinya."
Lisa menatapku dan kami tertawa.
"Lu jangan gini lagi ya? Jangan nakutin gua!"
"Jeff, lu makan dulu gih. Itu tadi kita beliin nasi sop. Panas-panas enak loh." ucap Lisa.
"Ini gua juga beliin kalian soto ayam, panas-panas juga." sahut Haikal yang sudah selesai menelpon Max dan Mamah.
"Aku sama Alex udah makan kok Kak. Jefri aja tuh yang ga mau makan apa-apa. Cuman minum aja dari tadi malem." jelas Lisa sambil memberi kode mata denganku.
Aku menoleh pada lelaki yang ku cintai itu. Sedari tadi dia duduk di ranjang menghadapku sambil terus memegang tanganku. Dia tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Hei, kenapa ga mau makan?" ucapku pelan sambil melepas pegangan tangannya dan mengangkat dagunya untuk kembali menatapku, "Kenapa?"
"Ga papa." jawabnya singkat.
"Kalo kamu makan sambil suapin aku, mau?" tanyaku manja dan memegang pipinya halus.
"Aduh aduuh, ga tahan gua! Lex tolong panggilin suster, buat minta pasangin gorden disekeliling ranjangnya. Biar mata gua ga liat yang begini-begini." protes Haikal.
Kami semua tertawa mendengar kebawelan Haikal yang tidak terduga itu.
"Kamu mau makan apa? Itu ada makanan dari sini juga." tawar Jefri.
Aku tidak bernafsu melihat makanan dari rumah sakit. Kemudian aku menoleh pada Haikal yang sibuk dengan ponselnya di sofa.
"Kal, aku boleh makan soto ayam nya gak?" seruku.
"Kuah sama ayamnya sih boleh, tapi lebih bagus kalo pake nasi dan kubis nya jangan dimakan." jawabnya santai.
__ADS_1
"Kalo gitu nasinya minta di nasi sop nya Lisa aja."
"Itu ada nasi," sahut Jefri yang sudah mengambil soto ayam Haikal dan bungkusan nasi sop yang dibawakan Lisa sambil menunjuk nasi rumah sakit dengan mulutnya.
"Enggak! Nasi rumah sakit ga enak." ucapku sambil mengusap hidungku.
Haikal tertawa mendengar penolakkanku. Dia segera berdiri dan menjauhkan nampan makanan rumah sakit yang ada di meja sebelah ranjangku.
"Emang keciuman banget ya? Kan udah pake plastik warp?" tanya Haikal.
"Nempel di plastiknya kali! Ato enggak bau nampannya." jawabku asal.
"Bau apaan sih?" tanya Jefri sambil menyiapkan makananku.
"Tika ga tahan sama aroma sterilizer rumah sakit." sahut Haikal sambil tersenyum sinis.
"Ooh, pantesan tadi Haikal ngotot loh sama penjaga administrasi. Minta siapin kamar ini secepatnya. Trus request minta semprotin pengharum ruangan juga. Sama ini, minta dipasangin se-set bedcover ini. Dia ambil dari mobil." cerita Jefri semangat.
Aku dan Haikal hanya tertawa ringan.
"Lu ga usah kaget Jeff, di mobil Ka Haikal itu isinya udah kayak rumah. Semua-semuanya ada. Sampe piring gelas alat mandi pun lengkap." sindir Lisa.
"Kok bisa?" tanya Jefri sambil mengaduk nasi soto ayam agar lebih cepat hangat.
"Soalnya dia ga punya waktu banyak buat pulang ke rumah." kini aku yang menyindirnya.
Haikal hanya tersenyum dan kembali duduk disofa. Aku membuka mulut ku untuk mendapat suapan pertama dari sendok Jefri. Lisa kembali tertawa duduk di sisi sofa lainnya bersama Alex.
"Kamu makan juga dong!" pintaku pada Jefri.
Sambil tersenyum Jefri juga menyuapi makanan itu masuk ke mulutnya sendiri.
Menyuapi ku lalu menyuapi mulutnya sendiri.
Menyuapi ku lalu menyuapi mulutnya sendiri.
Sampai akhirnya makanan itu habis.
Aku merasa kenyang. Lalu meminum air mineral botol yang dibeli oleh Lisa.
Dengan kencang pintu terbuka, Jefri berdiri dan membalikkan tubuhnya melihat siapa yang datang. Mamah muncul di ambang pintu kemudian berlari kecil melewati Jefri dan langsung memelukku. Aku meringis nyeri akibat pelukan yang Mamah berikan. Dia langsung menangis nyaring memelukku.
Aku menahan perih dibahu ku. Aku tahu, sakit yang aku rasakan tidak sebanding dengan kesedihan dan ketakutan Mamah menghadapi kejadian yang menimpaku.
"Mah.. Udah dong, jangan nangis lagi.. Aku ga papa kok, sekarang kan udah baik-baik aja.." elusku sambil menenangkan Mamah dengan mata ku yang sengaja ku pejamkan.
"Aku minta maaf ya, bikin Mamah khawatir.. Udah.. Udah dong Maahh.. Yang pentingkan sekarang aku ga papa.. Iya kan?" ucapku lagi sambil mengecup bagian atas telinga Mamah kilas.
Ku eratkan pelukkanku pada Mamah sambil mengelus punggungnya. Perlahan tangisannya mereda dalam pelukan yang lumayan lama. Hingga akhirnya Mamah melepaskan pelukan itu. Aku membuka mataku, menatap Mamah sambil tersenyum. Mamah menangkupkan wajahku dengan kedua telapak tangannya. Menatapku dengan perlahan lalu menarik kedua sisi bibirnya, tersenyum lalu mengecup keningku. Kemudian kembali memelukku erat.
"Udah ya, jangan nangis lagi.." lirihku.
"Kamu jangan bikin Mamah takut." bisik Mamah.
"Iya aku janji." ucapku sambil tersenyum melihat Max berdiri di ujung ranjang, "Udah gantian meluknya. Aku juga mau meluk Max nih.." rengekku.
Mamah melepaskan pelukannya sambil tertawa mengusap airmatanya. Max mendekatiku, mengecup keningku lama sambil memelukku. Kini butiran airmata ku yang jatuh. Lalu aku mendekap Max, membenamkan wajah ku di tengah dadanya yang bidang. Butiran demi butiran airmata semakin jatuh bebas dari sudut mataku. Entahlah, aku tidak tahu mengapa bisa begini jika Max atau Haikal mengecup keningku lama kemudian memelukku.
__ADS_1
"Sudah.. Sudah ya.. Kamu harus cepet sehat.. Kamu ga perlu minta maaf sama Mamah, sama Haikal atau sama aku. Ga ada yang salah disini. Dan ga ada siapa pun yang mau kayak gini. Kami semua sayang kamu kok!" kecupan Max di puncak kepalaku kembali mendarat. Aku semakin erat memeluk Max.