Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 31


__ADS_3

"Nah gitu dong anak mamah keluar dari kamarnya, jangan dikamar terus..."


"Mamah masak apa?" tanyaku yang melihat mamah sedang memasak.


"Tumis buncis sama jagung, trus ada patin goreng sama sambel juga, Lisa makan disini kan?"


"Iya Tante, Lisa ikut makan disini." Lisa semangat.


"Urusan makan aja lu cepet yaa.."


"Biarin." sambil menjulurkan lidahnya mengejekku.


Aku dan Lisa duduk di kursi kitchen. Ku ambil sebuah pisang dan memakannya. Tak lama ponsel Lisa berbunyi, dia meminta izin menjauh untuk mengangkatnya. Aku kembali mengobrol dengan mamah.


"Mah, bibi mana?"


"Bibi pulang kampung, cucunya sakit."


"Oh, trus mamah kok masaknya rapi banget pake dandan segala?"


"Habis makan nanti mamah mau jalan sama Tante Sasa, kamu dirumah biar di temenin sama Lisa ya?"


"Tau gitu tadi aku didalam kamar aja." gumamku.


"Apa kata kamu?"


"Enggak papa Mah." memutar bola mata.


Aku berdiri mengambil jus buah dalam kulkas. Dan menuangnya ke dalam gelasku. Belum sempat ku letakkan kembali kemasan jus tadi ke dalam kulkas tiba-tiba...


"Sore Tantee," suara lelaki yang sepertinya aku kenal.


Ku balikkan badanku mencari sumber suara itu. Betapa terkejutnya aku melihat Jefri berdiri di dekat kursi yang tadi aku duduki.


"Sore Tik," sapanya tersenyum padaku.


"Loh Jeff, kapan datengnya?" tegur Lisa yang muncul di belakang Jefri.


"Barusan,"


"Ayo duduk semuanya, kita makan, ayo Jefri ikut makan juga yaa, temenin Tika makan, udah beberapa hari ini dia males makan. Ayo duduk." ajak Mamah.


Aku pun menarik kursi yang memang posisinya di bagian dalam meja, jadi aku dan Mamah duduk berhadapan dengan Lisa dan Jefri. Mamah beranjang untuk mengambil beberapa gelas. Kemudian duduk di sebelahku.


Lisa dengan ketidak sopanannya langsung mengambil nasi, dan memilih lauk serta mengambil sedikit tumisan, "Selamat makan." ucapnya lalu melahap isi piringnya.


Aku merasa tidak nyaman dengan Jefri yang sedari tadi tidak mengambil nasi, dia terus memandangiku. Sampai-sampai Mamah menyenggol lenganku. Aku mengerti maksud Mamah. Ku ambil piring Jefri dan memasukkan nasi ke atasnya, lalu ku ambilkan pula sepotong lauk kemudian mengembalikan piring itu kedepannya. Tanpa berkata, aku hanya membalas tatapan matanya, dia seakan mengerti aku menyuruhnya makan, dia pun menyentuh sendok dan garpunya dan perlahan memakannya.

__ADS_1


Aku pun begitu, memakan masakkan mamah dengan santai namun masih dalam porsi yang sedikit. Kini aku mulai merasakan lagi jika otak, hati dan tubuhku tidak sinkron. Jelas saja, otakku mengatakan A, hatiku merasakan B, namun tubuhku ingin C.


"Kamu ga suka sayur?" ucapku memecah keheningan.


Aku bertanya pada Jefri, namun dia hanya menunduk melihat sambil memakan isi piringnya, Lisa memandangku, "Jeff?" panggilku lagi.


"Oh iya, kamu nanya aku?"


"Masa nanya Mamah,"


"Ya kali aja nanya Lisa." senyumnya, "Kamu ga ambilin aku sayur, jadi ya makan ini aja."


Jawabannya simpel namun begitu mendengarnya Mamah dan Lisa sontak jadi tertawa terbahak-bahak. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Sedangkan Jefri memasang wajah innocent nya.


Ingin sekali rasanya ku lumat bibirnya yang dengan santainya menjawab pertanyaan yang membuatku malu, batinku.


Astagaa, kenapa aku bisa begini?


Setelah selesai makan, Lisa membantu Mamah untuk membereskan gelas dan piring bekas kami makan tadi, sedangkan Mamah menyuruhku untuk membawa Jefri bersantai di halaman belakang dekat kolam renang.


**********


Kami selesai makan. Diluar dugaanku, ku pikir akan sulit menghadapi Nyokab nya Tika, apa lagi sekarang ada Lisa. Ga mungkin kalo Lisa ga tau masalah aku dan sahabatnya. Tika pasti udah cerita semuanya sama Lisa. Kecuali cerita tentang persetubuhan kami, itu aku ragu sih.


Aku dan Tika berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya. Bersantai disana berdua. Ya mungkin Tika ga bakalan mau kalo ga disuruh Mamahnya untuk mengajak aku bersantai disini.


"Aku malu sama Alex." jawab Tika singkat lalu duduk di sofa gantung.


"Malu kenapa?" aku ikut duduk di sofa gantung itu.


"Ya malu aja, ke-gap temen sendiri."


"Oh... Trus waktu aku hubungin kok ga pernah dibales?"


"Sibuk kerja."


"Tadi juga sebelum kesini aku ada ngechat loh, izin mau kesini, trus nelponin juga." jelasku lagi.


"Handphone nya di kamar, mana aku denger."


"Kamu marah ya sama aku?"


"Kamu nanya mulu yaa!" nada suaranya meninggi.


Aku terdiam. Menatap kolam renang. Aku bingung harus bagaimana lagi.


🎶

__ADS_1


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


🎶


Ponselku berdering.


Ku lihat layarnya, MyPaula calling.


"Angkat dulu tuh telpon pacar kamu, ntar dia ngamuk lagi kebanyakkan di cuekinnya!" ucap Tika spontan dan pergi meninggalkanku masuk ke dalam rumahnya.


Aku kaget. Gawat, gumamku.


Segera ku geser tanda hijau dilayar ponselku.


"Ada apaan sih? Aku lagi sibuk ini."


"Papi kok ngomong nya gitu sih?"


"Ya udah sorry, kenapa nelpon?" aku mengalah.


"Jangan lupa malam ini nganterin Mimi ke bandara. Ntar lupa kayak kemaren-kemaren."


"Iya iya ingat kok, mau diantar jam berapa?"


"Jam 7 dong, kan pesawatnya jam 9 kurang. Papi beneran ga mau ikut nih?"


"Iya, kerjaan dikantor banyak banget. Ga bisa ditinggalin." kilahku.


"Biasanya juga pasti ikut, pasti ditinggalin kerjaannya."


"Yang ini ga bisa ditinggal. Ya udah ya, ntar jam 7 di jemput." selaku.


"Ya udah kalo gitu, muach. Mana kiss nya buat Mimi?"


"Iya iya muach. Dah ya."


Ku tunggu hingga Paula yang mematika sambungan teleponnya. Ku hembuskan nafasku kasar. Aku bingung harus bagaimana. Aku benar-benar tidak bisa memilih diantara mereka. Terlalu berat rasanya jika harus aku memutuskan hubungan ku dengan Paula. Dia terlalu banyak menemani hidupku.

__ADS_1


Tapi terlalu egois pula jika aku ingin memiliki Tika sekaligus. Kini dimataku Tika terlalu sempurna. Dengan seluruh sikapnya yang aku tahu, aku selalu dibuatnya berpikir untuk mendekatinya. Tapi aku nyaman jika didekatnya, aku bisa menjadi diriku sendiri. Dan aku merasa aku bisa memimpin seorang wanita. Rasa-rasa itulah yang tidak bisa aku dapatkan lagi dengan Paula.


__ADS_2