
Sebulan berlalu. Aku menjalani hari seperti biasanya. Pagi pergi ke kantor, kadang makan siang dengan Lisa. Terkadang aku makan siang dengan client. Lalu sore harinya pulang ke rumah.
Sesekali malam hari aku pergi untuk sekedar hangout atau ngopi. Tapi bukan di tempat yang biasanya lagi. Aku menemukan tempat baru yang lebih nyaman untuk menikmati secangkir kopi ku. Benar-benar tempat yang kecil, cozy dan walaupun penuh tidak akan membuat telingaku pengak.
Sudah tidak ada lagi mode senyap pada ponselku. Semua nomer dan semua akses yang berhubungan dengan Jefri sudah aku blockir. Setelah sempat aku membalas chatnya, memintanya untuk tidak lagi muncul di hadapanku atau berniat untuk mendekatiku jika dia menyadari kesalahannya.
Hidup ku terasa kembali seperti sebelumnya, sebelum aku mengenalnya. Aku lebih bisa tegas sekarang. Lebih legowo. Lebih sabar dan lebih visa mengendalikan nafsuku.
Max dan Haikal pun jadi lebih sering ke rumah jika weekend. Bahkan terkadang, jika salah satu diantara mereka sibuk tidak bisa datang ke rumah. Kami akan merencanakan untuk family dinner di resto yang dekat dengan wilayah mereka.
Namun 1 hal yang sampai saat ini tidak bisa aku hindari. Max, Haikal dan Mamah akan dengan sangat bersemangat jika membahas tentang Jefri. Ya Max sudah mengetahui jika Jefri adalah temannya Nando, Abang Tingkat nya di kantor yang dulu.
"Gimana Jefri Mah, masih sering ke rumah?" Tanya Max.
"Udah jarang, bahkan yang ini udah lama banget ga pernah muncul lagi." jawab Mama seadanya.
"Uhuuuk! Bisa ganti topik pembahasan please?" pintaku sopan.
"Kan aku nanyanya ke Mamah bukan ke kamu, jadi kamu tenang aja, kamu makan aja yang banyak.."
Aku menghembuskan nafas kasar. Kesal.
************
Lisa POV.
"Ngapain sih lu kepingin ketemu gua disini?"
"Sorry kalo gua ganggu waktu lu Sa. Gua cuman mau tanya kabar Tika." sahut Jefri dengan mata yang sayu.
"Lu masih belum ketemu Tika?"
"Nomer gua kayaknya di block sama dia. Semua medsos juga. Gua cuman kepingin tau kabar dia, itu aja."
"Tika baik. Dia kerja kayak biasanya. Ga ada yang berubah. Baru 2 hari yang lalu gua ketemu dia."
"Dia ga ada cerita apa-apa gitu?"
"Ga ada sih Jeff. Emang lu bikin salah apa sih sama Tika jadi sampe dia ngejauh gitu? Pake acara ngeblokir nomer segala."
"Gua baik-baik aja sama dia. Terakhir ketemu semuanya baik. Gua......"
"Lu sayang sama Tika, Jeff?" selaku.
"G-gua ga ngerti." Jefri menundukkan wajahnya, "Gua..ga yakin sama diri gua sendiri."
Aku terlalu kasian melihat kondisi Jefri, "Gini deh Jeff, ntar sore gua mau ke rumah Tika. Kalo lu mau, lu datengin aja ntar. Gua tau banget, Tika ga mungkin ngusir tamu, dia juga ga mungkin ga mau ketemu atau pake alasan biar ga ketemu lu, gimana?"
"Kalo dia tiba-tiba tambah marah sama gua gimana?"
"Ya lu instropeksi diri lah, apa yang bikin dia tambah kesel. Lu pasti tau lah, kan kalian berdua deket. Kalo gua kan baru-baruaja kenal sama lu."
Jefri terlihat meanggukkan kepalanya.
Jujur sampai saat ini sebenarnya aku kurang tau mereka berdua ini ada hubungan seperti apa jadi ujungnya seperti ini. Tidak mungkin jika hanya sekedar teman?
**********
Paula POV.
Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Jefri. Ku hubungi, kadang tidak ada respon, kadang walaupun direspon pasti lagi sibuk.
Sebulan terakhir ini ku rasa Jefri mulai berubah. Kami tidak pernah lagi jalan berdua, apa lagi bertiga dengan anakku, Paul. Dia seolah menjauh. Sepertinya aku harus betemu dengannya.
Ku ambil ponselku di atas meja makan. Ku tekan nomer ponselnya.
__ADS_1
Tuuuut..
Tuuuut..
Tuuuut..
Tuut tuut tuut..
Ku dial sekali lagi.
Tuuuut..
Tuuuut..
Tuuuut..
"Hallo?" jawab diseberang sana.
"Hallo Papi, lagi ngapain?"
"Aku lagi sibuk kerja, nelpon nya nanti aja ya.."
"Mimi mau ngomong serius, bisa kita ketemu?"
"Kapan?"
"Sore ini bisa Pi?"
"15 menit lagi aja, sekalian aku istirahat, aku juga kepingin ngomong penting."
Deg.. Deg.. Deg...
Jantungku berdegup kencang begitu mendengar kalimatnya. Dia juga ingin bicara hal penting. Aku terdiam beberapa saat.
"Nanti aku kirim alamatnya dimana kita ketemu." sambungnya lagi.
"Udah dulu ya."
Sambungan telepon dimatikan sepihak. Hatiku terenyuh. Cara berbicaranya saja sudah berubah. Apa yang harus aku lakukan?
Tak lama ponselku berbunyi, ada chat masuk. Jefri mengirim kan nama sebuah resto di mall, tempat kami akan bertemu.
**********
Jefri POV.
Setelah Lisa pulang, aku masih tetap disini menunggu Paula datang. Ku minta pelayan untuk membersihkan mejaku, terutama mengangkat gelas kopi bekas Lisa.
Ya aku memang harus segera memutuskan hubunganku dengan Paula. Hubungan yang tidak ada ujungnya. Hubungan yang tidak mungkin lagi untuk aku perjuangkan, karena bagaimana pun, Paula sudah memiliki anak dan tidak mampu rasanya jika aku harus bertemu dengan Ayah anak itu suatu saat nanti.
Bukan hanya itu saja, banyak pertimbanganku yang lainnya hingga aku mengambil keputusan ini. Yang jelas aku sudah mulai tidak nyaman dengan hubungan ini. Seperti tidak ada rasa lagi untuknya.
"Udah lama?" tegur Paula.
"Ga juga. Duduk."
"Papiii, Paul rindu Papi." ujar Paul sambil mendekapkan tubuhnya padaku.
Aku tersenyum kecut, "Paul mau makan apa?"
"Terserah Mimi aja, biar Mimi yang pilih, Paul mau ke sana, boleh Mi?"
"Iya, tapi hati-hati yaa, jangan sentuh apapun!" larang Paula pada anaknya.
Aku hanya memperhatikan sambil tersenyum sesekali. Paul menjauh berjalan menuju toko di sebelah. Untungnya disebelah resto ini adalah toko mainan.
__ADS_1
"Kenapa jadi bawa-bawa Paul?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Mama ada acara, jadi ga ada yang jaga Paul, makanya harus aku bawa." jelas Paula datar.
Sepertinya cara bicara Paula mulai mengimbangi cara bicaraku, batinku.
"Kamu mau ngomong apa?" ujar Paula lagi.
"Santai, kita makan dulu." sahutku yang tetap berusaha untuk tidak memandanginya.
Aku berusaha untuk tetap sibuk dengan ponselku selagi menunggu pesanan kami datang.
Sesampainya pesanan kami datang, Paula segera mencari anaknya di toko sebelah. Aku mulai memakan makan siangku. Paula datang menggendong anaknya dan duduk sambil menyuapi anaknya.
Terlintas dibenakku, aku menginginkan anak. Tapi anak dari benihku, bukan anak dari orang lain. Aku memantapkan niatku untuk mengakhiri hubungan ini dengannya saat makan selesai.
"Mi, Paul main ke sebelah lagi ya?"
"Ini makannya belum habis.."
"Udah kenyang Mi.." ucap Paul setengah berteriak lalu berlarian kembali ke toko sebelah.
"Aku boleh tanya sesuatu?" ucap Paula padaku.
"Ya?"
Dia membuka tasnya, mengambil sebuah bingkisan plastik lalu menyodorkannya padaku, "Ini punya siapa?"
Ku buka plastik itu, lalu ku ambil isinya, blazer. Sepertinya aku kenal ini milik siapa, batinku.
"Aku nemu dimobil kamu, di jok belakang, dibawah tas aku, waktu kamu anter aku ke bandara. Sengaja aku bawa, biar klo aku nanya aku punya buktinya." jelasnya lagi.
"Aku rasa, aku ga perlu jelasin apa-apa ke kamu. Aku rasa hubungan kita udah ga bisa dipertahankan lagi. To the point aja, aku mau kita putus. Kita kenal baik-baik jadi kita sudahinya juga secara baik-baik." sahutku.
"Loh kamu ga bisa gini dong, aku cuman nanya aja ini punya siapa? Bukannya aku nuduh kamu, aku ga cemburu, aku cuman...."
Aku tersenyum, Paula menghentikan kalimatnya sendiri, "Aku minta pengertian kamu. Aku udah ga nyaman sama hubungan kita."
"Loh salah aku dimana? Kan kita...."
"Ga ada yang salah. Kita dewasa aja. Lagian kalo kita terusin juga ga ada ujungnya." selaku.
"Iya tapi kan selama ini kita selalu bisa ngatasin masalah kita berdua kan? Kan kita sama-sama belajar. Lagian aku ga pernah nuntut kamu macem-macem." jelas Paula sambil menggenggam tanganku.
"Aku kepingin kita baik-baik aja. Tapi hubungan kita ga bisa di terusin. Itu aja." jelasku lagi sambil melepaskan tanganku.
Paula meneteskan airmatanya.
"Mimiiiii, aku dibeliin tante egois mainan ini." teriak Paul yang sambil berlarian menuju ke arah meja kami.
Paula segera mengusap airmatanya, "Tante egois?"
"Iya tante itu." tunjuk Paul mengarah pada dua sosok wanita yang berdiri tak jauh dari meja kami.
"Tante yang dulu beli es dawet!" serunya.
Aku ikut menoleh arah telunjuk mungil Paul. Penasaran siapa tante egois yang berbaik hati membelikan Paul mainan yang lumayan besar ukurannya.
"Tika??" seruku kaget.
"Papi kenal tante egois?" tanya Paul polos membuyarkan keterkejutanku.
Aku tidak sanggup berbicara. Tatapan mataku kembali pada sosok Tika yang mematung melihat ke arah kami. Saat aku memutuskan ubtuk berdiri, Tika menarik tangan Metta dan segera pergi dari sana.
"Kamu kenal?" ujar Paula menarik tanganku.
__ADS_1
Aku speechless..