Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 73


__ADS_3

Saat aku sedang terkagum-kagum melihat lukisan dari warna warni fireworks di langit itu. Tiba-tiba ada sekotak kalung terbuka di depan mataku yang di sodorkan oleh calon suamiku ini.



Aku tersenyum malu lalu menoleh melihatnya. Dia sudah sedari tadi memandangiku dengan kedua lesung pipi yang menancap pada sudut bibirnya. Lagi-lagi dia membuatku merasa istimewa dan berharga..


"Ini kalung yang sempet kamu balikin dulu ke aku, ingat gak?" ucapnya menatapku.


"Iya inget kok. Teruuuss?"


"Ya terus mau aku balikin lagi ke orang yang memang aku niatkan buat pakai ini. Gimana?"


Aku seakan takjub, dia seromantis ini padaku. Dengan kedua tangan yang ku tangkupkan pada kedua pipinya. Aku mengecup bibirnya mesra. Aku seolah melupakan situasi saat ini, melupakan ada beberapa pasang mata yang memperhatikan tingkah kami.


Dan dengan percaya dirinya, aku melumat bibirnya didepan mereka semua. Suara mereka yang bersiul dan gaduh seolah aku biarkan memenuhi gendang telinga kami. Aku terlalu bahagia dibuatnya. Jefri selalu seromantis ini setiap hari menuju hari bahagia kami.


Lalu ku kalungkan kedua tangan ku pada pundaknya, ku dekap tubuhnya dengan posisi kami berdua masih duduk. Lalu aku berbisik pelan di telinganya.


"Boleh pasangin ke leher aku gak?"


Dia mendorong tubuhku sedikit, melepaskan dekapanku. Lalu tersenyum.


"With my pleasure.." lalu di kecupnya lagi bibirku kilas.


Anak-anak yang melihat itu menjadi semakin riuh, berteriak sambil menggoda. Kaisar menggenjreng gitarnya dengan keras namun nyaman ditelinga. Ku balikkan tubuhku jadi membelakangi Jefri. Ku angkat rambut ku dengan sebelah tanganku.


Jefri memasangkan kalung itu di leherku. Kemudian di kecupnya lagi tengkuk leherku kilas. Membuat yang melihat pasti berdecak iri dan kepingin juga di gituin!


Ku gigit bibir bawahku. Kedua pipiku seakan tertarik, tidak bisa aku menyembunyikan senyuman ini, batinku.


**********


Jefri POV.


Hari ini hari pertama aku dan Tika cuti menjelang hari bahagia kami. Sekaligus hari pertama aku dan Tika tidak bertemu lagi karena kami sudah memasuki hari-hari di pingit.


Kami berdua dilarang keras untuk bertemu apalagi untuk sekedar video call. Jadi kami melalui hari hanya dengan chat dan telpon. Seperti kembali pada zaman ponsel masih bernada dering polyphonic, tidak bisa video call.


Pagi ini aku sengaja bangun seperti biasanya. Sama seperti saat aku berangkat bekerja. Lalu ku raih ponselku dan segera memencet nomer telepon Tika. Yup! Aku sudah menghafal 12 digit nomer teleponnya. Jadi misalkan kejadian dulu terulang lagi, saat ponselku kehabisan batrai, aku bisa dengan mudah meminjam ponsel siapa saja untuk menghubungi Tika. Cemerlang!!


"Selamat pagi calon istri ku.." ucapku saat Tika mengangkat sambungan telepon ku.


Aku tersenyum sendiri saat mengatakan itu.


"Pagi calon imamku." sahutnya dengan suara yang agak serak khas baru bangun tidur.

__ADS_1


Aku sumringah mendengar jawabannya.


"Kamu baru bangun?" tanyaku yang sekarang sudah duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Iya, kaget bunyi telepon kamu. Padahal tadi malem niatnya hari ini mau bangun agak siangan." sewotnya.


Aku tertawa, "Sorry ya sayang, kamu tenang aja cuman tinggal 4 hari lagi kok kamu denger bunyi hp kamu pagi-pagi begini."


"Oh ya? Jadi 4 hari ke depan bakalan gini terus?"


"Iya dong! Sisa nya di tiap pagi kamu buka mata bakalan selalu ngeliat wajah aku yang ileran." aku kembali tertawa.


"Oh jadi kalo tidur pules kamu ileran? Oke kalo gitu ntar aku beli slabber gede buat kamu deh."


"Slabber?"


"Iya, slabber, ituh kain handuk yang biasa dipake bayi di lehernya kalo ileran sampai netes-netes." jelasnya.


"Astaga, niat banget kamu beli gituan buat suaminya." protesku.


"Ya dari pada tiap hari mesti ganti sarung bantal?"


"Ya ga papa dong ganti tiap hari. Toh juga entar banyak yang ngasih kado sejenis bedcover set gitu."


"Yakin kamu?"


Tika cekikikan disana, "Sayang, udahan dulu ya, aku mau jogging bentar, udah lama ga jogging."


"Oh iya udah, hati-hati ya. Trus pakaiannya jangan yang ketat, ga usah yang seksi-seksi jogging nya." titahku.


"Iya iya, pake training sama kaos gober. Tenang aja."


"Ya udah, kiss nya mana?" pintaku.


"Muuuuuuaaacchhh!"


"Muaahh!" balasku.


Lalu ku putuskan sambungan teleponnya dan segera aku bangkit menuju kamar mandi melakukan ritual pagiku.


Aku tidak tahu, apakah aku akan sanggup 4 hari kedepan ini tidak melihat wajah gemasnya?


Tokk..


Tokk..

__ADS_1


Sepertinya suara pintu kamarku, batinku.


"Duuuulll, ceraikan aku Dul." (ups salah dialog! Itu dialog film layar lebar, hahahaha.)


----


"Duullll," teriak Mama dari luar kamarku.


Aku yang sedang menggosok gigi segera berjalan keluar kamar mandi dan membuka pintu kamarku.


"Khenapa Ma?" tanyaku dengan sikat gigi masih menancap dalam mulutku.


"Kamu ini, cepetan, kita sarapan bareng, ada yang mau Mama Papa omongin sama kamu." ucap Mama tegas.


"Owkeh!" aku segera kembali menyelesaikan ritualku.


Tanpa mandi aku segera menuju ke ruang makan. Di sana sudah terlihat Papa yang sedang membaca korannya dan Mama yang menyiapkan sarapan kami. Aku segera duduk lalu mengambil piring makanku.


"Pagi ini Papa mau tanya sama kamu sekali lagi. Kamu siap berumah tangga?"


Aku menoleh melihat Papa, wajahnya lebih serius dari sebulan yang lalu saat ia melontarkan pertanyaan yang sama padaku.


Aku mengambil nafas panjang, "Pa, aku siap untuk menafkahi Tika lahir dan batin. Aku bakalan usaha terus buat ngebahagiain dia. Tapi kalo maksud dari pertanyaan Papa itu the real siap ga siap nya, aku ga tau Pa, yang jelas aku mau ngejalaninnya dulu, dan seberapa besar masalah nantinya, aku harap kami bisa ngatasinnya berdua."


Dengan lantang aku ucapkan semua itu. Papa langsung tersenyum menoleh pada Mama. Begitupun dengan Mama.


"Tuh kan Pa, jawaban anak kita ini sudah jauh berbeda dengan sebulan yang lalu, yang masih terdengar silly." Mama tertawa sambil menyodorkan piring makan Papa.


"Iya iya, Papa kalah."


Aku heran mendengar percakapan mereka. Secara bergantian ku padangi kedua orangtua ku ini. Papa terkekeh pelan melihatku yang kebingungan.


"Memang ada yang lucu sama jawaban aku?" tanyaku yang mencoba merilekskan punggungku di sandaran kursi.


"Papa sama Mama itu mau denger jawaban yang pede dari Kakak. Habis tiap kali ditanyain yang serius Kakak jawabnya pasti seenaknya. Kopi?" jelas Nita, adik ipar ku yang tiba-tiba muncul dari dapur dan menawariku secangkir kopi.


Aku mengambil secangkir kopi dari tangan yang di sodorkannya.


"Loh, memang kalian kira selama ini aku main-main? Ga serius?" sewotku lalu ku hirup kopi hitam ku.


Mama dan Papa semakin tertawa terbahak-bahak.


Nita tertawa pelan sambil menutup mulut dengan satu tangannya, "Kak, selama ini tu Kakak selalu becanda dan gak pernah juga ngenalin cewe ke keluarga selain Tika. Jadi ya wajarlah, lucu aja jadinya ngeliat Kakak yang serius banget." tawa Nita meledak diikuti tawa Papa dan Mama.


"Ya ampun, aku nya serius malah dikira becanda. Sekalinya becanda ntar dikira serius." ku gelengkan kepalaku lemah.

__ADS_1


Sungguh keluarga ku yang aneh...


__ADS_2