
Dave POV.
Secara tiba-tiba Lisa memutuskan sambungan teleponku. Yang sontak membuatku tertawa terbahak-bahak. Dia selalu saja mampu membuatku tertawa di saat aku ingin memarahinya. Seketika rasa kesalku berganti dengan sebuah senyuman yang selalu menghiasi di kedua sudut pipiku.
'Apa dia malu?' pikirku.
Aku kembali menatap layar ponselku. Lalu menekan nomer telepon seseorang untuk menunda beberapa menit jadwal meeting-ku.
"Hallo, Leo? Saya sepertinya akan sedikit telat, bisa dimundurkan lima belas menit dari jadwal sebelumnya? Iya, maaf. Terima kasih."
Setelah memutuskan sambungan telepon itu, pikiranku kembali melayang, membayangkan wajah Lisa. Aku sangat menantikan dia turun dan segera muncul dari balik pintu lift itu.
Beberapa kali pintu lift terbuka, tapi sialnya bukan Lisa yang berada di balik pintu itu. Sedangkan mataku tidak henti-hentinya menatap ke arah sana secara bergantian. Sebentar-sebentar melihat layar ponselku, Sebentar-sebentar melihat ke arah lift jika ada bayangan. Sungguh membuatku gila!
Tak jarang aku juga melirik ke arah jam tanganku hingga akhirnya sesosok wanita yang aku tunggu-tunggu pun akhirnya benar berada di balik pintu lift tersebut. Aku melirik lagi jam tanganku. Dua belas menit berlalu setelah ia terakhir kali memutuskan sambungan telepon kami.
Lisa terlihat santai dengan celana jeans berwarna biru malam yang cocok pada kakinya, memperlihatkan bagian jenjang dari kakinya itu. Di padukan dengan baju kaos putih lengan pendek polos yang menutupi bagian atas tubuhnya. Lalu ia juga mengganti tasnya dengan yang berukuran lebih besar dari sebelumnya. Coat yang berada di genggaman tangannya. Tentu saja ia juga mengenakan sepatu kets untuk melindungi kakinya yang halus.
Dia benar-benar menuruti semua perkataanku. Dan sekali lagi, dia membuatku mengulum senyumku.
Perlahan dia membuka pintu mobil kemudian masuk. Dan di wajahnya sudah terpasang raut wajah cemberut.
"Kenapa mukanya di tekuk gitu?" tanyaku penasaran.
Lisa menggelengkan kepala lalu meletakkan coat dan tasnya bertindihan di atas pangkuannya. Lalu saat tangannya hendak memasang safety belt, aku menahannya.
"Kenapa? 'Kan mestinya aku yang marah karena nungguin lama di sini," protesku.
"Iya, maaf!" Lisa menjawabku dengan sedikit ketus.
Aku menghela napasku. "Kalau kamu keberatan nemenin aku ke kantor, bilang aja." Kemudian aku menyandarkan punggungku pada kursiku. Dengan arah pandanganku yang lurus ke depan.
"Enggak, bukan gitu. Ya udah lah lupain. Trus sekarang, how i look?"
Aku menoleh ke arahnya yang ternyata ia juga sedang menoleh padaku. "Beautiful." Lalu kuberikan senyuman manis padanya. Sebab, memang seperti itu lah adanya. Dia cantik dan aku suka.
—————
Lisa POV.
Dave langsung membelokkan setir kemudinya memasuki sebuah bangunan minimalis dengan lantai dua. Design bangunan itu juga sangat bagus dan unik. Benar-benar mencirikan bahwa tempat itu adalah tempat yang tepat jika ada yang menginginkan sesuatu yang terkesan unik tetapi juga elegan.
"Ayo turun," ajak Dave padaku.
"Emm ... aku nunggu di sini aja ya? Boleh 'kan?" pintaku lalu menggigiti bibirku.
Aku tidak terlalu percaya diri untuk menemaninya turun dan berjalan berdampingan memasuki kantornya itu. Sambil melepas safety belt-nya, ia menatapku dengan tajam. Matanya sungguh mampu membuat nyaliku semakin menipis.
Dia tidak mengatakan apapun lalu langsung membuka pintunya dan turun dari mobil. Membuatku dapat bernapas dengan lega. Bahuku merosot turun dengan punggungku yang sudah menempel pada kursi yang kududuki.
BLAM!!
Tiba-tiba pintu mobil di sampingku terbuka. Dave yang membukanya. Ia sudah memasang kaca mata hitamnya.
'Di mana dia menyembunyikan kaca mata hitam itu? Ajaib sekali,' batinku.
"Cepat turun!" tegasnya.
"Tapi, Da—"
"Turun!!" Dia semakin menaikkan nada suaranya. Dan lagi-lagi membuatku terpekik kaget.
Aku sudah tidak punya pilihan lagi. Sudah sampai sejauh ini pula. Aku harus masuk ke dalam kantornya. Peduli apa demgan para mulut liar di sana, toh Dave adalah pemimpinnya, masa iya karyawan ngomongin atasannya. Batinku bermonolog.
Kulepas tali safety belt-ku. Lalu berdiri keluar mobil, memasang coat-ku lalu kuletakkan tali tasku di atas pundakku.
BLAM!! Tiit tiit!!
Pintu mobil kembali ditutup kemudian kunci alarm di nyalakan. Dave menarik pinggangku lalu membawaku melangkah bersamanya. Berjalan memasuki ruang kantornya yang seketika menjadi hening, saat kali mulai memasuki pintu depan.
Melewati beberapa barang di depan sana sebagai display dan meja karyawannya lalu menaiki tangga. Entah ia membawaku ke mana. Kami menaiki tangga hingga sampai pada lantai atas. Dave tidak melepaskan tangannya dari pinggangku, membuat seluru mata karyawannya menatapku dengan tatapan menyeramkan.
"Dave ...," lirihku.
"Pandangan lurus ke depan." Dave berkata singkat. Aku mengikuti apa ujarnya hingga ia membawaku masuk ke dalam sebuah ruangan lalu menutup pintunya.
__ADS_1
BLAM!!
Belum sempat aku terpukau dengan isi ruangan ini tiba-tiba saja Dave menarik tanganku punggungku kembali menyentuh dinding daun pintu. Lalu ia ******* bibirku dengan rakus. Tangannya membelai turun ke pinggangku
Aku yang tiba-tiba mendapatkan serangan itu secara mendadak merasa belum siap dan kehabisan napas dengan cepat. Bahkan mataku sempat membulat sempurna setelah sebelumnya terbelalak. Lalu tiba-tiba ...
Tokk tokk tokk!
Dave melepaskan lumatannya lalu menyapu ujung bibirku dengan jempolnya. Menyeringai tipis padaku. Kemudian menarik tubuhku dari dinding pintu itu. Agar dia bisa membukanya.
Pintu terbuka, seorang lelaki terlihat berdiri dengan rapi di ambang pintu.
"Maaf, Pak, jika menganggu saga bisa kembali lagi nanti," ucap lelaki itu dengan sopan. Penuh tata krama.
"Masuklah," sahut Dave yang mendorong pintu itu lalu membiarkannya masuk, "Kamu, duduklah!" perintahnya. Aku segera mencari tempat duduk dan bersantai pada kursi tunggal yang menjadi pilihanku.
"Semua jadwal sudah saya rescheduled, Pak. Tepat lima menit lagi rapat direksi akan diadakan dan saya juga sudah menyiapkan berkas serta dokumen yang bapak minta sebelumnya." Dave hanya mengangguk kepalanya lalu dengan satu tangannya yang mengibas, lelaki di hadapannya itu langsung mengerti akan maksud tangan Dave lalu segera pergi, keluar dari ruangan itu.
Lalu aku sibuk mengagumi beberapa hal yang terdapat dalam ruangan kerja Dave. Aku kembali berdiri, melangkah pelan memutari sekeliling iai ruangan itu. Sungguh mempesona. Salah satu dinding ruangannya terbuat dari kaca tebal. Hingga aku dapat melihat dengan jelas pemandangan yang tersaji di luar gedung. Belum lagi furniture yang ada terlihat lebih elegan lagi dari bebeapa furniture yang ada di rumahnya.
"Kamu diem di sini ya? Jangan ke mana-mana," titahnya yang membuatku menoleh padanya yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Aku mengangguk.
BLAM!!
Pintu kembali tertutup.
Aku kemudian beralih ke meja kerjanya yang juga terbuat dari kaca tebal. "Wow!" seruku saat menduduki kursinya.
Baru kali ini aku memasuki sebuah ruangan yang membuatku tidak ada henti-hentinya berdecak kagum. 'Coba saja semua ini bisa aku miliki,' batinku.
—————
Dave POV.
Setelah menutup pintu ruanganku, aku berjalan menuju ruangan Leo, dia yang menggantikan Dana selama beberapa hari ke depan sebab Dana sedang melakukan check-up rutinnya.
"Leo, tolong mintakan office boy kita untuk membelikan saya sekotak donat dan segelas orange juice," pintaku padanya sambil mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang.
"Suruh juga mereka untuk menyajikan itu ke ruangan saya. Untuk wanita yang ada di dalam ruangan saya. Sekarang ya," tambahku lagi.
Setelah itu barulah kami bersma-sama pergi memasuki ruangan meeting untuk memulai rapat yang sempat kutunda beberapa menit.
Sepanjang waktu di dalam ruang meeting, pikiranku terus melayang memikirkan Lisa yang berada di ruangan sebelah. Di dalam ruang kerjaku. Apa yang sedang ia lakukan sekarang?
Aku benar-benar tidak bisa fokus pada beberapa penjelasan yang sedang ditampilkan satu-satu oleh direksi di perusahaanku ini. Bahkan rasanya aku hanya melihat mulut mereka yang terbuka tanpa ada suara yang bisa sampai ke telingaku.
Hingga akhirnya perlahan aku menyandarkan punggungku pada kursiku ini. Dari tempatku duduk aku bisa dengan jelas melihat semua presentasi dari mereka. Semua melakukannya dengan baik. Tidak ada yang terlewat, hanya saja otakky yang terlewat tidak ada di dalam ruangan ini.
"Pak Dave?"
Aku tersentak, sepertinya aku melamun tadi. "Iya, kenapa?"
Para direksi saling berpandangan. Kemudian Leo yang berbicara padaku, "Bagaimana, Pak Dave, untuk produk barunya, bapak memilih furniture yang mana untuk kita jadikan barang utama?"
Aku menghela napasku, "Menurut kalian sendiri, lebih bagus yang mana?"
Sekali lagi, aku melihat para direksi yang mengikuti rapat hari ini, mereka saling berpandangan. Membuatku merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja aku lontarkan. Dan membuatku menjadi salah tingkah.
Aku menarik napasku lalu mencoba kembali fokus kepada rapat kali ini. Lalu aku meminta Leo untuk memgumpulkan beberapa hasil presentasi mereka semua lalu aku kembali lagi mengecek satu per satu.
Sungguh!
Baru kali ini rasanya aku tidak bisa fokus pada pekerjaanku. Dan membuat kepalaku rasanya pening sekali.
—————
Lisa POV.
Tokk tokk tokk!
Suara pintu berbunyi. Aku segera bangkit dari duduk santaiku di atas kursi kerajaan Dave lalu bergegas melangkah untuk membukakan pintu itu. Melihat siapa orang yang sudah menyetuk pintunya. 'Mengganggu aja,' batinku.
"Permisi, Bu. Saya ingin mengantarkan ini," ucap lelaki paruh baya yang berdiri di ambang pintu. Dengan sebuah nampan yang isinya segelas orange juice dan juga beberapa buah donat. Beberapa yang kumaksud adalah 1, 2, 3 ... sepertinya selusin donat. Aku terkejut melihat itu.
Belum lagi aku sempat mengatakan sesuatu, lelaki paruh baya itu sudah melangkahkan kakinya untuk masuk dan berjalan menuju ke meja kerja Dave dan meletakkan isi nampan itu di sana.
__ADS_1
Aku mengikuti langkah beliau hingga berdiri di smapingnya. "Maaf, Pak, saya gak minta ini semua," sanggahku.
Aku takut menerima semua itu. Takut jika tiba-tiba ada yang meminta biaya ganti atas pemesanan makanan ini.
Beliau tersenyum, "Ini pak Dave yang memintanya. Lalu meminta saya juga untuk memberikannya kepada ibu," sahut beliau dengan sopan yang luar biasa.
"Saya permisi kalau begitu." Kemudian beliau berlalu pergi keluar ruangan seraya menutup pintu dengan pelan.
Aku kembali menempelkan bokongku pada kursi kerjaan Dave. Sambil tersenyum lalu mengambil satu buah donat itu dan menikmatinya. Sambil memainkan ponselku.
Lama menunggu Dave melakukan rapatnya, aku sampai memutuskan membuka coat yang ku gunakan lalu melemparkannya ke sofa temoat di mana pertama kali aku duduk. Lalu kembali lagi ke kursi Dave.
Satu per satu mulutku terus saja mengunyah donat itu. Lalu sesekali aku meminum orange juice yang juga disediakan untukku.
Semakin lama aku semakin bosan. Lalu memutuskan untuk menghubungi sahabatku, Tika. Kulihat jam sudsh menunjukkan pukul sebelas siang waktu London. Itu artinya di Jakarta sudah jam lima pagi. 'Tika pasti sudah bangun, dia kan mesti kuliah,' pikirku.
Aku menekan nomer teleponnya dari What'sapp, agar bisa melakukan video call dengannya. Tidak perlu menunggu lama, dengan sekejap Tika sudah menerima panggilanku.
"Hai!!" seruku menyapanya.
Tebakkanku salah!
Dia baru saja bangun dan saat ini sedang menggosok-gosokkan matanya. Masih di balik selimutnya.
"Hm ... di sini matahari belum muncul," protesnya membalas sapaanku.
Aku terkekeh geli. Lalu aku mengarahkan kamera ponselku untuk memperlihatkan sekelilingku padanya.
"Di mana itu? Bagus bener? Apartemen lu begitu isinya?"
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaannya itu. "Bukaann, ini bukan di apartemen gua. Lu inget kan yang kapan hari gua bilang ketemu cowo di klub trus 'skidipapap' sama gua?"
Tika terlihat menegakkan dirinya, duduk bersandar pada kepala ranjangnya di sana sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan pasti. "Iya inget, kenapa?"
"Nah, ini kantornya. Ternyata dia rich!!" ucapku memberitahu dengan semangat.
"Serius lu? Punya usaha apa dia?" Tika bersemangat.
"Property. Tadinya gua pikir property kek di sana, B aja. Tahunya begini kantornya!" Aku terus saja berjalan berkeliling dalam ruangan itu memperlihatkan pada Tika betapa mewahnya seorang Dave. Dia sampai terkagum-kagum melihat beberapa furniture yang dimiliki oleh Dave.
Video call itu cukup berlangsung lama, sekitar satu jam lebih. Sampai akhirnya kami harus mengakhiri sambungan itu, karena Tika harus bersiap untuk pergi kuliah.
"Ya udah, nanti kapan-kapan kita telponan lagi ya, bye. Muuaah!"
Aku memutuskan sambungan telepon itu. Kemudian kembali memainkan ponselku untuk membunuh rasa jenuhku menunggu Dave yang tak kunjung kembali.
Kembali aku melirik jam pada ponselku, saat ini sudah jam dua belas lewat tiga puluh tujuh menit dan Dave belum juga kembali. "Bosan," gumamku sendiri.
Semakin lama mataku semakin mengantuk hingga tak terasa aku memejamkan mataku.
CUP!!
Dengan spontan aku mendorong orang yang tadi ******* bibirku lalu aku membuka mataku lebar-lebar. Mengerjabkannya berkali-kali.
"Aww!!" seru Dave yang terdorong keras akibat tenagaku.
Aku terkejut, "Sorry ... sorry ... aku gak sengaja. Kamu sih main nyosor aja." Aku memprotes tak mau disalahkan.
Dengan tatapan tajamnya Dave melangkah mendekatiku. Lalu memegangi kursinya. "Maaf ya nunggu lama, jadi sampai ketiduran," lirihnya lalu kembali ******* bibirku dengan begitu lembut. Membuatku untuk membalas, melakukan hal yang sama, melumatnya.
Cukup lama hingga akhirnya kami sama-sama kehabisan napas dan mengakhiri lumatan itu. Kami terengah. Kemudian menempelkan kening dan hidung kami lalu bersama menarik napas untuk mengontrol diri.
"Kamu mau bikin aku gendut ya?" ucapku pelan.
Dia menoleh ke arah meja kerjanya, tepat di mana piring donat itu berada. Sudah setengahnya habis meluncur masuk dan kini bersarang di dalam perutku. Ia terkekeh geli.
"Kamu gak mau gendut tapi makannya banyak. Trus yang salah aku?"
"Kamu yang sediain sih, jadu salah kamu lah," rengekku.
Kemudian dia kembali mengecupku tapi kali ini hanya sebentar. Kemudian ia menarik lenganku, mengajakku keluar dari kantornya. Ia juga mengambilkan tas dan coat-ku. Lalu kembali menggenggam tanganku, berjalan keluar dari kantornya bersama diiringi dengan beberapa pasang mata yang memerhatikan tingkah kami.
"Ke mana?" tanyaku saat dia membukakan pintu mobilnya dan menyuruhku masuk.
"Rahasia," jawabnya seraya menutup pintu mobilnya.
__ADS_1