
Selamat membaca ...
——————————
Dana POV.
Aku mengerjabkan mata, sebab rasanya sudah terlalu lama aku tertidur setelah sebelumnya memulai drama kecil dengan wanita di sebelahku ini. Perlahan aku mengusap kedua mataku bergantian lalu memeriksa jam berapa saat ini. Ternyata sudah jam dua waktu Indonesia. Rasanya jam tidurku kembali tidak begitu normal.
Saat seorang pramugari lewat, aku segera memanggilnya. Memesan segelas kopi panas, sebab aku memutuskan ingin membaca laporan keuangan dari villa di Bali yang kemarin aku dapatkan. Dan juga mempelajari beberapa email yang Dave kirimkan beberapa hari lalu, tentang cara menjalankan sebuah bisnis property.
Aku rasa, aku bisa sekaligus menjalankan kedua bisnis itu, bukankah lebih menguntungkan? Lagi pula aku sudah terbiasa untuk menawarkan beberapa barang ke orang lain.
Sang pramugari tadi kembali dengan membawakanku secangkir kopi dan meletakkannya di samping laptop yang sudah aku buka sejak beberapa saat lalu. Kemudian tiba-tiba saja dia berkata, “Maaf, mungkin ibunya juga ingin memesan sesuatu? Cokelat hangat mungkin?” tawarnya yang sontak membuatku seketika menoleh begitu saja.
Kedua mataku mendapati wanita yang tadi si sampingku, kini sedang menatapku, dia memerhatikanku. “Boleh, saya mau cokelat hangat itu,” ucapnya mengarahkan wajahnya pada sang pramugari di belakangku lalu tersenyum.
“Baik, ditunggu sebentar. Permisi.” Sang pramugari itu langsung pergi tapi kepalaku malah kembali menoleh menatap wanita ini.
Dia tidak lagi tersenyum saat aku menatapnya kali ini. Padahal senyumannya tadi terlihat begitu manis, semakin mempercantik wajahnya. Mengapa pagi itu aku malah mengumpat padanya? Aneh.
“Kenapa ngeliatin? Aku ganteng?” Halah kali ini aku merasa salah mengucapkan kalimat ini. Rasanya tidak cocok jika digunakan untuk menghadapi wanita barbar.
“Bukan.” Dia menjawab singkat lalu kembali tersenyum.
Nah! Senyuman yang sama seperti tadi. Dengan cepat aku mengusir pikiranku karena terkagum padanya. “Lalu?”
Dia menunjuk sesuatu dengan mulutnya, membuat aku sedikit berpikiran nakal. “Itu! Yang bikin laporan di laptop elu itu siapa?”
“Memang kenapa?” Aku merasa aneh dan mengerucutkan kening lalu memandangi layar laptopku sekilas.
“Dia gak bisa masukin rumus excel apa emang semua mesti hitung manual pake kalkulator?”
“Mestinya pake rumus sih.”
“Trus elu gak ngecek itu udah bener atau belum rumusnya?”
Aku menatapnya dengan bingung, tiba-tiba saja wanita itu menjulurkan tangannya kemudian dengan lincah mengetikkan sesuatu pada sebuah kolom dalam aplikasi Microsoft itu. Aku memerhatikannya lalu setelah dia menekan tombol enter tiba-tiba BOM!! Semua isi kolom penjumlahan angkanya berubah secara otomatis, dengan menggunakan tanda-tanda desimal yang semakin menjadikan perhitungannya lebih akurat.
“Ah, iya, ini rumus yang gue cari. Thanks!” seruku kemudian dia kembali tersenyum bersamaan dengan datangnya segelas cokelat hangat yang diantarkan oleh pramugari tadi.
“Thanks!” ucapnya.
Dan entah mengapa aku terus saja memandanginya. Ternyata dia wanita yang cukuo ramah dan baik, apalagi dengan senyumannya yang menawan. Aku terkekeh pelan.
“Apa ada yang lucu?” celetuknya tiba-tiba.
Aku mengangguk lalu menoleh padanya. “Mungkin awal bertemu kita gak terlalu baik. Jadi mungkin kita bisa berkenalan dengan cara yang lebih baik ...,” ucapku tersenyum lalu menyodorkan tangan kananku untuk bersalaman padanya.
Untuk beberapa detik, wanita itu terlihat heran menatapku dengan kedua bola matanya yang jernih dan mengkilat, seolah bersinar. Kemudian akhirnya dia membalas uluran tanganku. Namun, bukannya terus menjabat aku malah keterusan untuk menarik tangannya lalu mengecup punggung tangannya itu.
Telapak tangannya begitu halus membuatku benar-benar terpana dibuatnya. Mengingatkan aku dengan kulit tubuh kekasih yang sengaja aku tinggalkan.
Ya, aku meninggalkan kekasihku beberapa hari yang lalu. Bukan tanpa alasan, tetapi alu ingin membuktikan padanya dan pada keluarganya, jika aku bisa menyamaratakan derajatku dengannya. Dave saja bisa membuktikan, lalu mengapa aku tidak bisa menjadi sepertinya?
Entah saat ini keluarganya memang tidak bisa menemuiku atau sengaja menolak ingin menemuiku, yang jelas akhirnya aku bisa menikmati tubuhnya. Menjadi yang pertama sungguh menyenangkan dan aku juga merasakan betul bagaimana rasanya yang pera*an dengan yang sudaj jebol berkali-kali. Tidak seperti wanita yang pernah aku rasakan selama ini.
__ADS_1
Dan tentu saja berbeda dengan wanita di London.
Tiba-tiba wanita ini menarik tangannya, mungkin karena merasa aku terlalu lama mengecup punggung tangan yang halus itu. “Maaf,” ucapnya saat aku menatapnya.
“Buat apa minta maaf?” cercaku cepat.
“Maaf karena gue narik tangan gue sendiri.” Dia menjawabnya dengan nada yang terbata. Seketika membuat tawaku meledak begitu saja. Dan kali ini, dia yang menutupi mulutku dengan kedua telapak tangannya, sambil memberikan sebuah isyarat agar aku tidak ribut.
“Sssttt!!!” Sambil melotot padaku, membuatku semakin tertawa. Tingkahnya begitu lucu saat ini.
Lalu setelah tawaku sedikit mereda, barulah dia melepaskan bungkaman tangannya itu. “Bisa gak sih ketawanya biasa aja, gak usah nyaring, macam orang sedang demo!” protesnya berbisik.
Aku lalu menoleh ke sekeliling kami, memang penumpang di sekitaran kami saat ini terlihat sedang tertidur dengan begitu nyenyak. Bahkan lampu baca juga hanya menyala pada panel-panel tertentu saja. Hanya sebagian orang yang masih terjaga saat ini. Terutama kami berdua.
Lalu entah mengapa, aku merasa sedikit tertarik dengan wanita ini. Aku merasa ada satu sisi dari dirinya yang lembut dan juga menghangatkan. Ada satu sisi dirinya yang membuat aku ... penasaran dengannya.
“It's ok! Gue Dana, elu?”
“Florencia.”
Nama yang begitu manis, semanis orang yang memilikinya. Lagi-lagi aku memandanginya sambil tersenyum.
——————————
Lisa POV.
'Lelaki ini ... menyebalkan!' batinku. Tetapi aku tetap tersenyum memandanginya.
Aku sengaja menggunakan nama belakangku untuk berkenalan dengan lelaki ini. Rasanya aku trauma menggunakan nama depan jika hanya untuk berkenalan. Lagi pula teman-teman di kampus juga sering memanggilku dengan menggunakan nama belakangku, jadi mungkin tidak masalah jika aku menggunakannya untuk seterusnya.
**
Saat ini di London sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Semua penumpang pesawat menyaksikan sun rise dari atas pesawat yang selalu saja mampu membuatku terpukau. Hanya saja karena tempat duduk kami berdua sama-sama berada di tengah, jadi aku ataupun dia tidak bisa menikmati pemandangan indah itu. Hanya dari kejauhan kami melihatnya.
Aku segera turun dari pesawat setelah semuanya benar-benar dinyatakan aman dan boleh keluar dari sini. Aku juga sempat untuk mengatakan pamit kepada Dana. Lelaki yang duduk di sebelahku dan menemaniku selama dalam perjalanan di atas pesawat.
Aku langsung mengaktifkan ponselku setelah menggantinya dengan nomer baru yang aku beli. Ya, kemarin sebelum aku pergi ke bandara, Tika membawaku ke mall untuk membuang waktu, hingga akhirnya aku terpikir untuk mengganti nomerku lalu mengaktifkan sistem roamingnya, agar nomer ini bisa aku gunakan di sini. Seperti nomer sebelumnya.
Keputusanku untuk mengganti nomer bukan tanpa alasan, tetapi karena aku ingin sekaligus menghapus kenanganku bersama kedua lelaki yang mungkin kini sudah memiliki jalan mereka masing-masing dengan wanita yang mereka pilih. Dan bagiku, ini adalah keputusan yang tepat. Dan untuk saat ini hanya Tika yang menyimpan nomer baruku ini.
Rencananya aku akan menggunakan taksi untuk segera kembali ke apartemen sekarang dan mungkin aku akan memesan layanan pesan antar saja untuk sarapanku. Karena jujur saja, aku memesan makanan di pesawat tadi dengan penuh kemalu-maluan. Bagaimana tidak, seketika saja aku merasa menjadi diriku yang lain saat lelaki itu menawarkan memesan makanan. Dan ini adalah yang pertama kalinya aku sarapan di atas pesawat dengan lelaki asing yang tidak terlalu aku ketahui asal usulnya.
Sebab perbincangan kami selama di atas sana, hanya membahas tentang pekerjaan dan juga pengalaman kerja. Hanya seputaran itu. Dan anehnya, aku tidak merasa bosan dengan pembahasan kami berdua itu. Malah semakin menarik hingga tidak sadar kami menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbincang.
Apalagi saat sang pramugari itu terus saja memanggilku ibu dan memanggil Dana dengan sebuah bapak. Apa wajah kami berdua benar-benar terlihat seperti sudah sangat setua itu?
Tidak terasa langkah kaki ini kini sudah membawaku keluar dari gedung bandara dan melewati pintu kedatangan, tetapi tiba-tiba saja aku mendengar namaku yang melayang di udara. Lumayan nyaring, hingga dengan spontan mau tidak mau aku harus segera menoleh ke belakang, mencari pemilik suara itu.
Ternyata yang memanggilku itu adalah orang yang sama yang sudah menemaniku selama di atas pesawat tadi. Aku tersenyum melihatnya yang berlari lalu menghampiri.
Dengan napasnya yang tersengal, dia memegang perutnya sendiri. “Dari ujung sana gua panggil-panggil. Elu lurus aja terus jalan.”
“Sorry, gak denger. Ada apa?”
Lelaki itu langsung merogoh saku celananya, seperti mencari sesuatu di dalam sana. Hingga akhirnya dia mengeluarkan sebuah benda tipis berlogo Mapple di tangannya lalu menyodorkannya padaku. “Boleh minta nomer elu?”
__ADS_1
Aku sempat terkejut saat dia mengatakan ingin meminta nomer teleponku, hanya saja dengan secepat kilat aku sembunyikan rasa keterkejutanku itu padanya. Tidak menyangka jika dia akan seberang itu.
Dengan senyum tipis aku menjawab, “Gue lupa nomer telepon gua berapa.”
Dia tertawa, cukup keras dan cukup mengundang banyak pasang mata untuk melirik memerhatikan kami berdua. “Jadi gak mau ngasih nih?”
Lagi-lagi aku terperangah, lalu aku membuka tasku dan mengambil ponselku sendiri. “Gue udah bilang 'kan, gue lupa nomer gue berapa, jadi sekarang, elu aja yang tulisin nomer lu di sini.” Aku menyerahkan ponselku padanya.
Senyuman manis kembali mengembang pada wajahnya dan kali ini dia yang menerima ponselku lalu menuliskan nomernya di sana.
🎶
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go (go)
🎶
Lagu itu mengalun dari ponselnya begitu saja, sambil dia mengembalikan ponselku. Ternyata, di ponselku sedang menghubungi ponselnya.
“Biar gue juga tahu nomer elu berapa, jadi gue gak perlu nungguin kapan elu bakalan ngehubungin gue!” ucapnya begitu pasti, membuatku sedikit terkekeh.
“Apa ada yang lucu?” tanyanya antusias dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Aku mengangguk lalu berucap, “Apa elu beneran pembohong?”
“Hah?!” Dia mengungkapkan rasa kebingungannya dengan pertanyaan yang aku ajukan barusan.
“Itu, nada deringnya. Bad Liar!” jawabku santai.
Dia tertawa lalu mengatakan jika itu hanya sebuah lagu biasa yang dia sukai, bukan berarti bahwa semua liriknya itu mencerminkan dirinya. Beberapa detik kemudian, malah aku yang tertawa puas mendengar jawabannya.
Lelaki ini begitu unik!
Kemudian dia juga menanyakan padaku, apakah aku sudah dijemput atau aku pergi dari bandara ini menggunakan transportasi apa. Lalu dengan spontan dia menawariku untuk pergi bersamanya dan entah mengapa aku pun menyetujuinya begitu saja, seakan terhipnotis.
Dia menyetopkan sebuah taksi kosong yang melintas. Saat kami benar-benar sudah berada diluar pintu kedatangan. “Gue pikir elu pake mobil bening Jaguar itu,” celetukku saat dia membukakan pintu taksi itu untukku.
“Mobil itu gua tinggal di apartemen. Masa iya gua titipin di sini? Mahal. Kalo dihitung rupiah bisa tiga ratus ribuan lebih.”
Kali ini giliran aku yang tertawa, karena saat di dalam pesawat tadi, dia tidak seperti ini. Bahkan dia membeli sebotol wine tadi saja tidak menanyakan harganya terlebih dahulu. Lalu sekarang dia malah mempermasalahkan harga penitipan mobil di sini. Benar-benar lelaki absurd!
Bersambung ...
——————————
Sekian dulu,
Babay 💋
__ADS_1
@bossytika