
Selamat membaca ...
——————————
Dana POV.
“Makasih ya diantarin sampai ke sini,” ucapnya malu-malu.
Mataku langsung memerhatikan sebuah gedung di depan kami. Gedung yang jaraknya memang terlalu jauh jika berjalan kaki dari apartemenku, tetapi tidak jika menggunakan sebuah mobil. Aku kembali menatapnya, lalu mengangguk untuk membalas ucapan terima kasihnya sambil menarik kedua sudut pipiku.
“Gua pulang dulu. Bye!” Aku merasa tidak tahu lagi harus berkata apa.
Kemudian aku kembali masuk ke dalam taksi dan segera berlalu. Di dalam taksi aku segera menoleh setelah jalan beberapa meter, melihatnya yang beranjak masuk ke dalam apartemennya.
Kembali aku duduk dan menghadap ke depan kemudian mengatakan alamat rumah pada driver taksi untuk merubah tujuanku. Terlintas sebuah ide untuk menjadikan wanita tadi sebagai targetku. Bukankah lumayan jika aku bisa mendapatkannya? Untuk menemaniku selama di sini. Jadi aku tidak perlu pergi ke klub untuk mencari wanita.
Aku terkekeh pelan membayangkannya sambil memandangi pemandangan di luar kaca jendela taksi ini.
Lumayan lama perjalanan kami hingga taksi ini membawa aku mamasuki sebuah halaman rumah besar dan menurunkanku di sana. Begitu turun dari taksi, seorang maid sudah menyapaku. Cepat-cepat aku membayar ongkos taksi tersebut, kemudian berjalan menuju ke dalam rumah untuk segera menemui Dave.
Sesampainya di dalam kamar Dave, aku sedikit terkejut melihat seorang dokter laki-laki yang sedang memeriksanya terkapar di atas tempat tidur dan di sana juga ada Leo yang sudah mendampinginya. Perlahan aku bergerak ke arahnya.
“Gimana kondisinya?” bisikku pada Leo.
“Sudah lumayan kemarin sempat pingsan,” jelas Leo.
Beberapa saat kemudian setelah dokter itu selesai memeriksa, Leo mengantarkannya ke depan, sedangkan aku mencoba menjaga Dave yang perlahan membuka matanya.
“Baru datang?”
Aku hanya mengangguk sekilas lalu membalas bertanya, “Kamu gak apa-apa?” Aku cemas melihatnya yang seperti ini, nampak tidak mirip dengan dirinya yang dahulu.
“Bull*hit kalau aku bilang tidak apa-apa.”
Aku menarik sebuah sofa kecil yang ada di sekitar lalu duduk di dekatnya.
“Aku merasa ada yang janggal dengan peristiwa ini, Dan. Sebab tidak mungkin rasanya jika api akan secepat itu melahap semuanya. Apalagi kabel listrik yang aku gunakan itu sudah diganti dengan kualitas yang paling bagus,” jelas Dave seakan tidak rela.
Jelas saja dia tidak rela, aku pun akan merasakan hal yang sama jika itu terjadi pada perusahaan yang sudah lama aku bangun dengan usahaku sendiri. Belum lagi beberapa asset barang yang sudah siap untuk segwra di kirim ke pelanggan, kini telah menjadi abu. Hancur tidak bersisa.
Tapi mungkin, aku tidak akan setenang dia saat ini. Mungkin aku akan segera ke tempat kejadian lalu mencari tahunya sendiri. Ah, aku lupa kakinya masih kurang begitu pulih saat ini.
“Aku ingin kamu menyelidikinya, Dan. Bantu aku buat nyari tahu. Setidaknya sampai kedua kaki aku ini benar-benar kembali sempurna,” pinta Dave padaku, membuatku tambah merasa kasihan padanya.
Rasanya sungguh tidak sanggup jika aku yang tiba-tiba berada dalam posisinya. Mengalami semua ini dalam kurun waktu yang begitu cepat. Bahkan hanya dalam hitungan bulan.
Aku tertunduk lemas, permintaannya begitu berat bagiku. Tapi aku juga tidak bisa untuk menolaknya, hanya dia satu-satunya yang aku miliki saat ini. Dan selama ini, bukankah dia yang selalu menghidupiku?
__ADS_1
“Gantikan posisiku, setidaknya sampai aku benar-benar bisa berjalan. Aku akan berdiri di belakang kamu, mengajari kamu tentang semua ini. Please, Dan, kita gak boleh kembali ke masa lalu kita yang serba kekurangan.” Dave begitu panik. Dia mencengkeram tanganku begitu kuat.
“Apa kamu mau selamanya di sini, di negara ini tanpa kekasih kamu itu?” tambahnya lagi yang spontan membuatku mengangkat wajah dan menatapnya hingga membuatnya salah tingkah.
“Maaf, aku hanya tahu jika kamu memiliki kekasih di Indonesia. Hanya sampai sana, aku tidak akan melampaui batas privasi kamu. Aku janji, tapi bantu aku untuk mengembalikan semuanya. Please?!” Lagi-lagi Dave menjelaskan.
Aku tahu, Dave tidak akan mengurusi urusan pribadiku, sebab dia akan memperlakukanku sebagaimana aku memperlakukannya. Tidak mungkin akan lebih. Walaupun dia memiliki koneksi yang sangat banyak dan luas, dia pasti akan mengontrol rasa penasarannya jika semua itu berhubungan dengan urusan pribadiku.
Begitulah kami berdua menjalani hidup selama ini, saling menghargai bukan berarti saling menginjak dan menjatuhkan.
“Baiklah, aku akan membantu. Tapi aku memiliki sebuah persyaratan. Karena uang tidak memandang siapa pun.”
Dave kemudian mengangguk. Bertepatan dengan itu Leo masuk ke dalam kamar dan berada di tengah kami.
“Apa? Cepat katakan dan Leo akan menjadi saksi. Kalau perlu Leo akan memanggilkan pengacaraku.” Dave semakin menggebu. Menatapku dengan begitu penuh harap.
Aku menghela napas, melepaskan tangannya yang mencengkeram tanganku.
“Sebelumnya kamu janji memberikan villa di Bali dan juga apartemen yang aku tempati sekarang 'kan? Berarti itu tidak masuk hitungan,” ucapku untuk mengingatkannya sekali lagi.
Dave mengangguk cepat lalu menjawab, “Akan secepatnya Leo menyiapkan surat perpindahan hak milik itu dengan pengacaraku. Kamu tinggal menandatanganinya saja. Lalu?”
“Ajari mengelola bisnis kamu. Aku akan bantuin kamu untuk mengembalikan kepercayaan pelanggan sebelumnya, tapi ... jika ada pelanggan baru, itu artinya akan menjadi pelangganku dan buatkan aku anak perusahaan setelahnya,” ucapku lantang.
Seolah tanpa berpikir panjang, Dave langsung saja mengangguk spontan dan kembali menjawab, “Tidak usah perusahaan baru. Leo, berikan dia kepemilikan atas 50% saham perusahaan itu. Kita akan menjadi pemimpin perusahaan itu bersama-sama.”
“Baik, Pak. Dokumennya akan segera saya siapkan.” Leo berkata.
**
Dalam kurun waktu dua hari kantor Dave yang tadinya hancur sebagian, kini sudah mulai kembali di bersihkan dan di renovasi. Kami menggunakan sisa uang yang kami miliki tanpa menjual asset lainnya untuk kembali membangun semua ini.
Dave juga ikut berjuang dengan menghentikan segala terapi dan biaya pemeriksaan rutin yang biasanya dia lakukan, lalu mengalihkan biaya itu sepenuhnya untuk renovasi kantor.
Dia sendiri yang mendesain ulang kantornya sedangkan aku dan Leo membantunya untuk mengawasi semua pelaksanaannya. Dave sangat bersemangat nelakukan semua itu karena dia takut. Takut akan kehidupan yang dulu menimpa pada kami. Kemiskinan dan kekurangan itu merupakan trauma mendalam baginya. Mengingatkannya dengan segala hinaan dan cemoohan orang-orang di sekitar kami.
Mungkin saat itu aku tidak terlalu mengerti dengan sebuah kata hinaan karena aku tidak memiliki perasaan itu lagi sejak lama. Yang aku tahu hanya satu, apa pun yang aku inginkan maka harus aku dapatkan. Walaupun harus menjatuhkan harga diriku untuk memilikinya, itu akan aku lakukan.
Dan saat ini, aku ingin membuktikan pada kekasihku dan keluarganya. Jika aku bisa mendapatkan kekayaan yang setara dengannya dan kalau perlu jauh lebih tinggi darinya. Dan jika suatu hari itu datang, aku akan siap mencarinya ke mana pun dia berada dan memberikan semua barang bernilai untuknya. Menebus masa pacaran kami yang selalu seadanya atau mungkin kadang membuatnya malu jika harus bersamaku.
“Pak, saya sudah menemukan desain untuk property milik Mr. Mike Lewis.” Leo menyerahkan sebuah dokumen padaku.
Saat ini, ruang kerja Dave, kami gunakan sebagai kantor utama. Sementara menunggu kantor itu selesai. Yang mana rencananya dalam dua bulan semua akan sudah kembali sesuai rencana awal.
“Oh, ini yang kemarin menghubungi Helena ya?” tanyaku pada Leo.
“Benar, Pak.”
__ADS_1
Aku memandangi gambaran desain itu dan memerhatikannya. Dave sudah mengajariku sedikit tentang beberapa bagian penting yang harus diperhatikan saat membuat benda tersebut.
“Bawa aku ke pabrik. Aku akan mengawasi pembuatan benda ini dan beberapa benda lainnya. Lalu pastikan pada Helena, agar dia terus melakukan pekerjaannya dengan baik, walaupun ada sebagian pelanggan yang mencaci-maki,” titahku pada Leo.
Kami kemudian kami keluar dari ruangan, bersiap pergi ke pabrik pembuatan untuk mengawasi sendiri semua benda yang akan kami buat dengan cepat. Sebab pelanggan sudah menunggu barang pesanannya.
Sebelum pergi, aku memutuskan untuk mendatangi Dave terlebih dahulu. Untuk melihat kondisinya saat ini. Sebab sejak dia menghentikan semua terapi itu, dia hanya melakukan latihannya sendiri, tanpa di dampingi oleh siapa pun.
Tok tok tok!
Aku mengetuk pintu kamarnya yang tertutup rapat. Lalu membukanya tanpa menunggu jawaban darinya di dalam sana.
“Oh, Dan! Mau ke mana?” tanya Dave yang sedang berdiri dan melatih otot kakinya.
Kemudian aku melangkah masuk diikuti dengan Leo di belakang. “Aku akan ke pabrik. Mungkin aku akan mengawasi pembuatan beberapa barang.”
Dave berbalik, lalu menyangga tubuhnya pada kedua tangannya yang mencengkeram badan sandaran kursi yang berada di samping tempat tidurnya.
“Ingat apa yang aku katakan. Perhatikan beberapa bagian barang yang sudah hampir selesai. Klien bagian pertama ini sangat penting bagiku.” Dave menjelaskan.
“Pergilah, semakin cepat akan semakin baik. Aku tidak apa-apa di sini.”
Mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya membuatku tersenyum tipis, lalu kembali berbalik. “Panggilkan bibi untuk menemaniku di sini,” pintanya sesaat sebelum aku berhasil membuka pintu kamarnya.
“Iya,” jawabku lalu keluar.
Setelah aku memanggil bibi dan meminta beliau untuk menemani Dave, barulah aku dan Leo segera pergi. Di dalam perjalanan menuju pabrik, aku meminta Leo untuk membelokkan terlebih dahulu kemudi setirnya menuju ke kantor. Aku juga ingin melihat bagaimana progress pengerjaan renovasi kantor itu. Sebab aku tidak ingin dilakukan dengan sembarangan. Agar Dave merasa puas dengan hasil kerjaku.
“Oh iya, Pak, untuk dokumen pengalihan saham dan hak milik villa, apartemen serta mobil sudah siap dengan Mr. George, pengacara bapak Dave. Apa mau sekalian saya aturkan jadwal untuk pertemuan itu?” info Leo.
Aku berpikir sejenak, rasanya aku tidak ingin melakukan semua itu. Karena aku belum melakukan apa-apa untuk Dave, tetapi dia sudah memberikan imbalan padaku.
“Simpan saja dulu dokumen itu di sana. Aku harus mengerjakan kewajibanku terlebih dahulu. Tetapi jika Dave bertanya, katakan jika aku sudah menandatangani semua surat itu lalu jelaskan juga alasan ini pada Mr. George, agar tidak ada salah paham,” jelasku tegas.
Selama aku membantu Dave memimpin perusahaannya, hampir tidak pernah lagi aku bersikap bercanda pada Leo. Bahkan saat ini aku merasa terlalu tegas padanya. Tetapi ujar Dave, hal ini sangat perlu dan juga penting. Agar karyawan tahu batasannya dan bertindak sopan di setiap waktu kepada atasannya. Dan aku mengikuti saran dari Dave itu.
“Baik, Pak.”
Bersambung ...
——————————
Sekian dulu,
Babay 💋
@bossytika
__ADS_1