
Tika POV.
Aku merasakan ada sesuatu dibawah sana. Dengan cepat ku minta Jefri untuk mampir ke mini market. Aku langsung mengambil pembalut dan membayarnya. Lalu aku meminjam toilet mini market untuk mengecek. Ya benar saja, untung cairan itu belum sampai mengenai dalamanku. Aku bernafas lega. Akhirnya aku datang bulan. Setelah sebulan yang lalu aku gagal mendapati cairan merah itu keluar dari bawah sana.
Setelah itu aku kembali ke mobil. Jefri cerewet sekali.
"Beli apaan sih?"
"Ada deh, kepo banget sih." sahutku singkat.
Lalu kami kembali meneruskan perjalanan pulang ke rumahku. Begitu sampai, aku menyuruhnya untuk langsung pulang. Dia tidak protes. Lalu dia mencium keningku kilas.
Dalam hatiku, "Coba aja kamu milik aku seutuhnya."
Lalu aku tersenyum dan dengan gesit menuruni mobil nya lalu segera masuk ke dalam rumah. Dia pergi.
Sesampainya dalam kamar, ku lemparkan tas belanjaku ke kursi malas di pojokkan. Ku letakkan tas kecilku di meja bawah televisi. Lalu ku rebahkan kasar tubuhku ke tengah ranjang.
Aku memejamkan mataku sambil berpikir.
Begitu bodohnya aku saat ini. Berkali-kali aku kalah dengan nafsuku. Berkali-kali aku kalah dengan kehadirannya. Bahkan berkali-kali pula malah aku yang menggodanya.
Pria mana yang tidak tergoda jika ada wanita yang menggodanya. Jangankan pria yang sudah memiliki pacar, pria beristri (udah di ralat nih readers 😘🤪) pun pasti akan tergoda jika ada wanita yang menggodanya.
Setiap bertemu dengannya, aku merasa seperti terbius, terhipnotis dengan matanya, senyumnya, bahkan dengan sentuhannya.
Ku acuhkan segala kemungkinan yang terjadi.
Tidak ku pedulikan permainan kami yang tidak menggunakan k*****, bahkan aku dengan percaya dirinya tidak takut akan kehamilan.
Karena menurutku selama semua pelepasan terjadi diluar organ vitalku, aku akan aman-aman saja.
Namun sepertinya aku salah, bulan lalu aku sempat panik karena hingga tanggalnya aku tidak mendapatkan datang bulanku. Malah baru hari ini aku dapati.
Dan tadi pagi dengan nakalnya aku mengajaknya ke kamar ku ini. Aku benar-benar nakal!!
Lalu dengan mudahnya sampai-sampai aku seakan tidak peduli jika dia sudah memiliki pacar.
Bodohnya lagi, aku takut menanyakan hal itu. Aku selalu berpura-pura tidak tau akan hal itu saat aku bersamanya. Aku mendustai diriku sendiri.
__ADS_1
Mungkin aku harus menetralkan kembali otakku beberapa hari ke depan. Dan mungkin aku harus mulai melupakannya dari hari ini. Berhenti mengganggu hubungannya dengan pacarnya itu.
Aku menitikkan airmataku kembali dan untuk kesekian kalinya, coba saja aku tepat berada di posisi pacarnya?
Apa aku sanggup jika harus dibohongi oleh perselingkuhan seperti ini?
Apa aku rela jika pacarku ternyata mencicipi wanita lain diluar sana tanpa sepengetahuanku?
Apa aku bisa menerimanya lelaki seperti itu untuk menjadi suamiku kelak?
Aku menangis tersedu. Berbagai macam pemikiran ada diotakku. Namun hatiku seolah tidak ingin melepaskannya. Andai aja saat itu aku tidak memasuki kamarnya...aku tidak akan mungkin menjadi seperti ini. Dasar bucin!!
Aku lelah dengan pemikiranku, kemudian aku tertidur bersama dengan airmataku.
**********
Paula POV.
Akhir-akhir ini Jefri jadi aneh. Setiap ketemu selalu uring-uringan. Belum lagi sikapnya yang kadang ngeselin. Respon nya juga lama.
Trus ini blazer siapa coba?
Padahal tadinya mau sekalian nanyain masalah ini. Tapi dianya malah ga bisa jemput...
Hmmmm, ku hembuskan kasar nafasku di kursi penumpang. Ya aku pulang menggunakan taksi.
Pikiranku melayang-layang entah kemana. Teman-temanku sering banget cerita, katanya ngeliat Jefri lah lagi makan di warung pinggiran jalan. Trus katanya ngeliat lagi sama cewelah berduaan. Belum lagi blazer ini yang bikin aku makin yakin klo semua itu bener.
Awas aja kalo sampe semuanya bener. Berani banget dia selingkuh. Aku udah banyak banget ngeluarin duit buat dia, dari dulu sampe dia jadi sukses begini. Trus tiba-tiba aja diposisi yang sekarang cewe lain yang nikmatin? Ga bisa, ga bisa, harus aku yang nikmatin hasilnya.
"Loh itu bukannya mobilnya Jefri?" ujarku pelan saat melihat mobilnya dideretan depan saat di lampu merah.
Aku mencoba mempertajam penglihatan ku. Menebak apakah disebelahnya ada seseorang atau dia sedang sendiri? Kemana dia? Apa perlu aku telepon? Kan rumahnya bukan sekitaran daerah sini?
Ku urungkan kembali niatku untuk menelponnya. Mungkin aku salah liat. Jefri bukan orang seperti itu. Tadikan dia bilang ada acara keluarga dirumahnya. Pasti sekarang dia lagi di rumah, rebahan.
**********
Jefri POV.
__ADS_1
Selesai mengantar Tika pulang, aku langsung melesat kembali ke rumahku. Jarak antara rumahku dengan rumahnya hanya perlu waktu 10 menit jika jalanan terlalu padat. Namun berbeda dengan malam ini, hanya perlu 6 menit, aku sudah kembali lagi ke garasi mobilku.
Disepanjang jalan pulang, aku sungguh hanya memikirkannya. Aku ingin segera memilikinya. Aku ingin hidup dengannya. Apalagi kedua orangtua ku sepertinya senang dengan pribadinya dan keponakkan ku juga welcome dengannya.
Didalam kamar, aku asik dengan pemikiranku sendiri. Meingat kembali saat pertama kali aku bertemu dengan Tika, tak jarang aku tersenyum sendiri. Benar-benar konyol.
Toookk..
Toookk..
"Dull... Mama boleh masuk?"
Suara Mama didepan pintu membuyarkan lamunanku. Aku segera berdiri dan membukakan pintu kamarku.
"Kenapa Ma?"
Mama berjalan memasuki kamarku dan duduk di pinggir ranjang, "Kamu tadi nganterin Tika sampai rumahnya kan?"
Aku ikut duduk di ranjangku, "Ya iya lah Ma, masa aku tinggalin dia di pangkalan ojek."
"Trus kamu udah pernah ketemu orangtua nya?"
"Ketemu Mamahnya, kalo Papahnya udah lama meninggal."
"Oh gitu, trus-trus dia berapa bersaudara?"
"Setau aku sih dia anak ketiga. Aku ga pernah nanya masalah gituan sih Ma sama dia. Kecuali kalo dia cerita." jawabku sambil merebahkan tubuhku.
"Trus kapan kamu mau ngajak Mama ketemu sama Mamahnya Tika?"
Aku kaget mendengar permintaan Mama, "Mama apaan sih?"
"Kamu mau sampe kapan begini? Kamu bawa Tika ke rumah trus ngenalin ke Mama aja udah seneng banget loh Mama, mana Tika orangnya gitu, beda banget sama ipar kamu. Ya setidaknyakan Mama punya temen di rumah. Kamu ga kepingin punya anak apa?" ucap Mama sambil menepuk pahaku.
"Aduh Ma, sakit!" ringisku, "Ntar aku pikirin lagi deh Ma, sekarang aku mau istirahat dulu ya, pleasee.." pintaku sambil sedikit menyenggol lengan Mama.
"Kamu ini, kelamaan mikirnya, ntar keburu Tika di embat sama yang lain baru nyesel!" umpat Mama sambil keluar dari kamarku.
Akhirnya tenang..
__ADS_1