
Selamat membaca ...
——————————
Max POV.
Kini aku kembali duduk di sofa empuk ini. Tepat di mana Lisa beberapa hari yang lalu memelukku. Menanyakan perasaanku padanya. Dan membuatku setiap hari harus memikirkannya. Tanpa aku sadari.
Sejujurnya, aku malu untuk menyapanya tadi. Aku gugup, tapi aku berusaha untuk tidak menampakkan semua itu padanya. Dan sialnya lagi aku harus menghubunginya, untuk membukakan pintu. Coba saja Tika tidak menantangku untuk menemuinya tadi, mungkin jantungku tidak akan sekencang ini. Apa ini yang disebut dengan cinta? Entahlah, aku tidak tahu. Dan sekali lagi aku katakan dalam hati, aku tidak tahu dan tidak mau tahu tentang perasaan ini.
__ADS_1
Tiba-tiba Tika datang dan mendaratkan bokongnya dengan kasar pada bagian sofa di sampingku. Wajahnya ditekuk seperti seekor angsa, masak di kuali nona minta dansa, dansa empat kali. Sorong ke kiri sorong ke kanan, lalalalalalalalala~
Oke, lupakan sejenak lirik lagu anak kecil itu, saatnya kita kembali ke dunia dewasa~
“Kenapa raut muka jadi begitu? Mana Lisa-nya?” tegurku sambil menoleh melihat ke arah dapur dan sekitar, mencari sosok wanita itu. Ya, aku sudah menyebutnya sebagai seorang wanita, sebab Lisa sudah mengerti dan berani untuk menciumku saat itu.
Kemudian dengan wajahnya yang seperti itu, Tika mengatakan bahwa, Lisa belum menerima ajakkannya dan lebih memilih untuk melakukan aktifitasnya membersihkan tubuhnya. Meninggalkan Tika yang berdiri mematung sendirian di depan pintu kamarnya.
Tika mengatakan jika dirinya ingin mengajak Lisa untuk pergi ke pantai dan itu artinya harus mengajakku. Sebab aku pernah mengatakan padanya, jika ia dan Lisa ingin bepergian jauh, harus melalui izinku dan kali ini bukan hanya izinku yang berhasil ia dapatkan, melainkan berhasil membawaku ikut serta pada rencananya itu.
__ADS_1
Kemudian Tika juga mengatakan mengapa alasannya ingin mengajak Lisa pergi ke pantai. Sebab selama ini mereka belum pernah pergi ke tempat seperti itu berdua untuk berlibur. Dan perkataan adikku ini sekilas kembali mengingatkanku, jika tinggal beberapa hari lagi Lisa berada di kota ini. Sebab nanti ia akan pergi ke luar negeri untuk kuliah. Menyelesaikan pendidikannya.
Tak banyak kalimat yang bisa aku lontarkan untuk menenangkan Tika. Bahkan aku hanya menyarankannya untuk duduk dengan tenang dan menunggu sahabatnya selesai melakukan aktifitas paginya. Lalu kembali mengajaknya pergi ke pantai seperti rencana semula.
Brak!
Suara seseorang menutup pintu terdengar begitu jelas di telingaku, membuatku dengan paksa harus menoleh, mencari siapa yang membuat sumber suara itu. Dan benar saja, Lisa yang menghasilkannya, dia menutup pintu kamarnya lalu melangkah menuju dapur. Dan dengan spontan aku menoleh pada Tika yang ternyata juga sedang memerhatikan Lisa. Kemudian dengan secepat kilat Tika mendatangi Lisa untuk membujuknya ikut serta kembali pada rencana awal.
Aku hanya mendengarkan sekilas dengan pikiranku yang melayang entah ke mana. Hingga akhirnya, Tika menyeret Lisa untuk berdiri di hadapanku dan mengatakan bahwa pada akhirnya mereka siap untuk melakukan perjalanan menuju pandai kali ini. Dan aku pun hanya bisa mengabulkan permintaan adikku yang satu ini.
__ADS_1
Dan yang terpenting, aku harus bisa menjaga sikapku. Membiarkan adikku dan Lisa yang menikmati perjalanan kali ini.
Bersambung ...