
Tika POV.
"Mah, kapan datang?" tanyaku sambil menuangkan secangkir kopi.
Mamah dengan santai sambil memasak, "Tadi malam, kamu udah tidur."
"Non, tadi malem Non Lisa ke sini balikin mobil, tapi katanya Non ga nyahut waktu di hubungin jadi Non Lisa langsung pulang. Bibi juga ga tau kalo Non Tika udah dateng." ujar Bibi menyodorkan kunci mobilku.
Aku hanya menganggukan kepalaku beberapa kali. Ku cari ponselku didalam tas. Ternyata banyak sekali telpon, video call, belum lagi ratusan notif chat. Ya sejak 2 hari yang lalu ponselku sengaja ku aktifkan mode senyap. Aku hanya ingin fokus kerja beberapa hari kedepan.
Aku menekan contact Lisa, menelponnya..
"Hallo Sa."
"Hm." jawabnya dengan deheman.
"Belum bangun lu?"
"Ya kali pengangguran kayak gua bangun pagi. Eh tadi malem lu kemana? Dihubungin ga dianggurin."
"Ada gua dikamar, hape gua silent. Tumben lu gak cek ke kamar gua?"
"Buru-buru gua tadi malam. Gua kirain lu jalan sama Jefri, soalnya kemaren siang, Jefri sempet panik gitu nyariin lu."
"Oh ya?"
"Iya, katanya dihubungin ga ada balesan, trus waktu pagi-pagi jemputin, eh elu nya udah ga pergi kerja kata Bibi. Trus dichat juga ga lu bales."
"Ohh, ntar deh balik kerja gua ke rumah lu. Udah lama juga gua ga ke sana."
"Oh oke deh, eh ntar sekalian beliin es dawet ya kalo ke sini?"
"Iya iya, ntar klo ada yang dititip lu chat aja."
"Gak! Nitip dawet aja gua, percuma juga nge chat, boro-boro lu bales, lu baca aja kagak! Udah ah bye.." omel Lisa lalu dia mematikan telpon sepihak, aku hanya menaikkan keningku.
Hari ini aku ke kantor seperti biasanya, meeting dengan Bos, dengan Metta, lalu pergi ke rumah produksi mencek stock barang. Meeting lagi dengan team WO di kantor, hingga sore menjelang. Setidaknya sudah 3 hari ini aku merasa benar-benar bekerja produktif tanpa gangguan ponselku. Sebenarnya bukan gangguan ponsel, tapi lebih ke gangguan otakku yang selalu memikirkan Jefri.
Sepulang dari kantor, aku bergegas menuju rumah Lisa, tidak lupa mampir untuk membelikan es dawet pesanannya.
"Mih, mau ini mau ini.." teriak anak kecil yang mungkin baru berumur 5 tahunan.
__ADS_1
Aku menoleh ke belakang mencari sosok ibunya. Pantas saja anaknya lucu, ibu nya pun terlihat cantik dengan balutan jumsuit panjang berlengan pendek dengan rambut yang digerai serta kacamata mentereng yang nangkring ditopang hidungnya.
"Iya sebentar, itu bapaknya lagi bungkusin punya orang. Pak, satu ya buat anak saya."
"Iya sampun, tunggu sebentarnya ya, habis ini bapak bikinin punya Eneng nya ini dulu. Baru punya adik kecil." ujar Bapak dawet menjelaskan pelan dengan anak kecil tadi.
"Ga mau, aku haus!! Tante ngalah ya sama anak kecil? Anak gede harus ngalah, ga boleh egois loh."
Aku kaget mendengar anak itu bicara, sudah layaknya orang dewasa, aku tertawa pelan.
"Maaf ya mba, anak saya terlalu cerewet." ujar ibunya.
"Iya ga papa kok. Pak, bikinin buat adeknya aja dulu, saya masih bisa nunggu." ucapku pada Bapak dewet sambil melempar senyum pada anak kecil yang sedang kegirangan itu, karena dia bisa mencicipi lebih cepat es dawetnya.
"Yay!!!"
"Paul, lain kali ga boleh gitu ya ngomongnya. Cepet bilang makasih sama Tante nya. Maaf ya mba ya, saya jadi ga enak."
"Ga papa kok mba, santai aja, cuacanya memang panas, jadi wajar aja." ucapku sambil menyentuh lengan wanita yang menjadi ibunya.
"Ini Dek," serah Bapak pada anak kecil itu, dia berseru kegirangan.
"Eh jangan mba, jangan. Saya bisa bayar sendiri kok. Ga papa mba bayar punya anaknya aja. Jangan di itung pak ya punya saya." setelah lama kami bersikeras akhirnya Pak dawet mengembalikan uang kembalian yang sesuai dengan ibu anak tersebut.
Aku tersenyum ramah membalas lambaian tangan anak kecil itu.
"Ini Neng dawetnya."
"Oh iya ini Pak uangnya. Kembaliannya buat Bapak aja ya, semoga berkah jualannya ya Pak, permisi."
"Waduh jangan Neng, ini lebihannya banyak." tolak beliau.
"Ga papa Pak. Simpan aja kembaliannya" ujarku lalu pergi menuju ke mobilku kembali dan segera menuju rumah Lisa.
Sesampainya di rumah Lisa....
"Lu seharian dalam selimut aja Sa?"
"Remuk banget rasanya badan gua. Kapok deh gua kalo tu Tante ke sini lagi." omelnya yang langsung mencomot kantong kresek ditanganku.
"Eh tadi Jefri nelpon gua lagi loh, trus..."
__ADS_1
"Lu ga bilang kan klo gua mau ke sini?"
"Yah udah terlanjur bilang..." sahut Lisa sambil menutup rapat mulutnya.
"Shit! Gila lu! Kan gua ke sini mau cerita sama lu, bukan mau ngumpul. Aish, udah deh gua balik kalo gitu." aku panik lalu segera melangkahkan kaki lagi menuju mobil.
"Lu kenapa sih Tik?"
"Makanya kalo lu mau tau mestinya tadi lu ga usah cerita sama dia. Udah ah!" aku segera memasuki mobil dan pergi dari sana.
Nafasku ngos-ngosan. Detak jantungku tidak beraturan. Aku sungguh panik. Berkali-kali aku memperhatikan kaca spion, takut ada yang mengikuti dan takut jika tiba-tiba berpapasan dijalan dengan Jefri.
Ya aku memutuskan untuk menghilang. Menghilangkan dia dari hidupku dan menghilang dari hidupnya. Biar saja tertinggal kenangan kami bersama yang tidak bisa aku hilangkan. Setidaknya aku berani mengambil tindakkan untuk tidak meneruskan kebodohan dan kegilaanku. Toh sebelumnya aku sudah pernah mengatakan 'cinta' padanya walaupun itu secara tersirat. Dan setidaknya lagi, aku sudah berusaha mengungkapkan isi hatiku.
Dan cukup untukku jika dia tidak bisa memilih.
Aku yang akan mundur.
Aku membelokkan setir, bukan menuju pulang ke rumah, tapi aku menuju ke luar kota.
*********
Lisa POV.
"Lu kenapa sih Tik? Ada apa sih lu sana Jefri." gerutuku saat melihat Tika pergi dengan mobilnya.
Belum lagi aku sampai di pintu rumah, sebuah mobil memberi klakson. Aku berbalik. Ternyata Jefri.
"Mana Tika?" serunya begitu keluar dari mobil.
"Barusan cabut, lu sama Tika kenapa sih Jeff? Ada masalah? Berantem?"
"Gua juga ga ngerti. Ya udah gua cabut ya, kali aja dia belom jauh. Dahh." pamit Jefri lalu melesat pergi.
Hmmmm.
Tika emang tipe cewe yang kalo ada masalah, lebih baik dia diem trus ngilang. Tapi bukan berarti sebelumnya ga ada penjelasan. Biasanya dia ngilang kalo dia udah cape, bosen ngejelasin hal yang menurutnya monoton. Nah trus kalo dia sampe nge-jauhin Jefri begini, apanya yang monoton coba?
Kan mereka cuman temen? Belom pacaran kan?
Aku kembali masuk ke rumah dan menikmati es dawet tadi, sendirian.
__ADS_1