
Still Lisa POV.
Dengan perasaan yang kacau, aku menginjak pedal gas mobil, kembali menuju rumah. Kulupakan rencanaku untuk mengelilingi kota ini untuk terakhir kalinya. Aku sudah tidak bersemangat lagi.
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar tidur. Merebahkan tubuhku yang terasa lelah. Sebenarnya bukan tubuhku yang lelah, melainkan otak dan pikiranku. Sebab aku selalu saja merasa menguras energi di saat otakku memikirkan lelaki tadi. Apa lagi jika hatiku sudah mulai merasakan rindu yang menggebu-gebu, wih! Bisa-bisa aku akan uring-uringan di dalam kamar seharian.
Sambil menatap langit-langit kamar, aku kembali mengembuskan napasku. Hancur sudah mood-ku untuk satu hari ini. Padahal nanti malam aku sudah akan pergi dari kota ini. Aku meraih bantalku lalu menutupi wajahku dengan bantal itu. Membenamkan kepalaku dalam-dalam, berharap untuk dapat kembali tidur. Melupakan kejadian yang aku lihat tadi.
Tapi ternyata tidak, mataku terus saja bergerak ke sana dan kemari, padahal aku sudah mencoba menutup kelopak mataku dengan rapat. Aku kembali membuka bantal itu dan meletakkannya di sampingku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku bangkit dari ranjangku dan mencoba mengambil tasku dari atas nakas lalu merogohnya. Mencari telepon genggam yang sangat berguna untuk semua manusia di muka bumi ini.
Setelah ku cek ternyata yang menelpon adalah om Reza, lagi-lagi beliau. Dengan malas aku menerima telepon darinya. Padahal, om Reza hanya menanyakan bagaimana sejauh ini persiapan yang aku lakukan untuk membereskan semua barang-barangku, tapi entah mengapa aku jadi sangat malas untuk membahasnya kemudian aku juga meminta beliau untuk mengantarkanku ke bandara.
"Loh, katanya Tika, nanti dia sama Max yang mau nganterin kamu ke bandara," ucap om Reza memberitahuku.
"Em, nanti biar aku yang bilang sama Tika deh. Tapi om bantuin, jadi kalo Tika nanya, jawabannya pasti sama. Aku males aja ntar kalo pake acara mewek-mewek," rengekku pada beliau.
"Iya iya, ya udah." Beliau menjawab dan ku akhiri dengan memutus sambungan telepon.
Begitulah alasanku menolak permintaan Tika, setelah itu aku langsung menelponnya dan mengatakan itu. Dia marah besar, tapi alasan ku juga masuk akal. Namun bagi Tika sepertinya semua itu penting dan entahlah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Seharian aku lewati lagi dengan berduam diri di rumah, hingga akhirnya sampai waktunya aku untuk bersiap pergi. Tepat pada jam sembilan malam, om Reza datang dan mengangkat kedua koper yang sudah aku persiapkan. Kemudian kami langsung pergi menuju bandara Soekarno Hatta.
Tidak ada sepatah kata pun yang beliau ucapkan. Semuanya berjalan dengan sangat lancar, tidak ada kendala maupun hambatan yang terlalu membuatku berpikir, sampai akhirnya aku pergi meninggalkan kota ini dan meninggalkan segalanya.
Sudah sekitar delapan jam penerbangan pertama dilakukan, kami mendarat di kota Dubai untuk melakukan transit atau bahkan mengisi bahan bakar. Sebagai penumpang kami diwajibkan untuk turun dari pesawat dan kembali melakukan pengecekan ulang di bandara Dubai International. Lalu kembali melakukan penerbangan lagi dengan jarak tempuh selama kurang lebih tujuh jam lagi. Hingga akhirnya pesawat kembali mendarat, kali ini mendarat pada Heathrow International Airport, negara yang menjadi tujuan hidupku, London.
Bandara Heathrow sendiri merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia. Yang mana hampir pada setiap jamnya memiliki jadwal untuk pesawat mendarat dan lepas landas. Itu artinya, bandara ini memiliki tingkat jumlah penumpang yang banyak pula.
London adalah ibu kota Inggris dan Britania Raya, merupakan wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya. Berlokasi di sepanjang Sungai Thames, London telah menjadi permukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke-1 dengan nama Londinium. Semua informasi itu aku dapatkan saat membaca sebuah buku di dalam pesawat tadi.
__ADS_1
Aku berjalan keluar dari bandara, terlihat ada seorang wanita berumur yang mengangkat tinggi papan nama bertuliskan namaku. Aku mendekatinya kemudian menyapanya. Sudah lama aku tidak bertemu dengan keluarga ibuku. Dan wanita itu pastilah tanteku.
"Lisa?"
Aku mengangguk lalu beliau memelukku, beliau juga mengatakan betapa rindunya bertahun-tahun tidak bertemu denganku.
"Om Reza barusan saja menelponku, dia berpesan untuk segera menghubunginya jika kamu sudah bertemu denganku," ucapnya saat kami berada dalam perjalanan.
"Iya, biar nanti aku hubungi jika sudah sampai."
Aku sempat melontarkan senyumku, lalu kembali menatap beberapa pemandangan yang tersaji indah di luar mobil.
***
Sudah berbulan-bulan berlalu, aku juga sudah mendapatkan tempat tinggal sendiri. Sebuah flat yang disewakan oleh om Reza untukku.
Ya, beberapa minggu lalu om Reza datang ke sini. Bukan hanya untuk mengunjungiku saja, melainkan untuk mengurus beberapa keperluan perusahaan keluarga Tika.
"Om sendirian ke sini?" tanyaku saat dalam perjalanan. Rencananya beliau akan mengajakku untuk melihat beberapa flat untukku.
Bukan karena toko bunganya, melainkan karena mendengar om Reza hanya pergi sendiri. Aku pikir ia akan ke sini bersama Max. Sebab setahuku Max sudah mulai menduduki kursinya di perusahaan itu. Walaupun belum terlalu aktif.
Aku memang masih mengetahui perkembangan dari Max, semua itu aku dapatkan dari Tika. Kami masih sering berhubungan, entah itu melalui pesan singkat, panggilan telepon atau bahkan video call. Aku dan Tika selalu menceritakan hal apapun yang kami rasa pantas untuk diceritakan bahkan untuk mendapat masukkan. Jarak rasanya bukan masalah bagi kami untuk tetap berteman seperti biasanya.
Tika juga sudah memahami alasanku beberapa waktu lalu, saat aku membatalkan janji padanha untuk mengantarkanku ke bandara. Kami sudah mulai tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.
"Pertengahan tahun nanti, Tika bakalan liburan ke sini. Makanya kamu harus cepet dapat flat." Om Reza tiba-tiba menambahkan kalimatnya.
"Loh apa hubungannya sama Tika?" Aku kurang memahami maksud dari ucapan om Reza barusan.
"Gak apa-apa, biar kalian bisa santai berdua saja. Kalian kan suka begitu. Nanti kalo di rumah saudara ibu kamu, kalian gak bisa bebas." On Reza seklias menatapku dan memberikan senyumannya.
__ADS_1
Setelah melihat beberapa flat, akhirnya aku lebih memilih sebuah flat yang letaknya di lumayan jauh dari kampusku. Dengan kondisi lingkungannya yang lumayan sepi. Sebab tanpa sepengetahuan siapapun, aku sudah melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan swasta dan sudah tiga bulan terakhir bekerja di perusahaan itu.
Ya, aku melakukan itu karena aku terlalu bosan jika selalu berdiam diri di rumah saudara ibuku. Tidak enak rasanya jika tidak ada perkuliahan lalu aku berdiam diri di dalam kamar seharian. Begitu memiliki flat aku akan lebih leluasa. Bukankah begitu?
Butuh waktu selama dua hari untuk aku berkemas dan akhirnya menempati flat sewaan itu. Setelah semuanya selesai dan beres, om Reza berpamitan padaku untuk kembali ke Jakarta.
Seakan tidak mau menelewatkan kesempatan emas, aku segera menelpon Julia. Teman dari tempat kerjaku. Yah, aku dan Julia bekerja pada perusahaan yang sama, yaitu perusahaan pialang. Oleh sebab itu, sudah selama tiga bulan ini pula aku tidak lagi mengikuti kegiatan perkuliahan. Setiap hari selama sepuluh jam aku gunakan waktuku untuk bekerja dan malamnya untuk bersantai.
Begitu pula malam ini. Aku menghubungi Julia untuk mengajaknya berpesta kecil di flat baruku. "Hallo, Juls? Iya gua udah dapetin. Oke, gua share location ya. Jangan lama, bye!"
Setelah panggilan telepon berhasil aku putuskan, aku segera mengirimi Julia sebuah perta lokasi, di mana flatku berada. Aku menunggunya dengan tidak sabar. Berkali-kali aku melangkah, mondar-mandir hanya untuk mengatasi gelisahku.
Mengapa aku gelisah?
Sebab sebelumnya, Julia pernah berjanji padaku, jika suatu hari aku sudah memiliki flat atau tempat tinggal sendiri, maka ia akan mengenalkanku dengan seorang temannya. Teman lelakinya dan waktu ini pun telah tiba.
Aku sudah siap berdandan dengan rapi dan juga wangi. Sempat beberapa kali aku mengganti pakaianku, agar terlihat pantas dalam pertemuan pertama. Siapa tahu aku tipe lelaki itu dan dia juga menjadi tipeku? Who knows?
Tekadku sudah bulat, aku memang harus segera melupakan lelaki yang bernama Maxweliam itu. Sebab tidak jarang aku melihat beberapa postingan dari Instagrem Tika, yang memperlihatkan kedekatannya dengan seorang wanita yang juga sedang ada Max di dalamnya.
Mungkin aku hanya menduga saja, jika wanita itu adalah kekasih Max. Tapi entahlah, Tika tidak pernah membahas wanita itu dan aku pun seakan tidak sanggup untuk menanyakannya. Sebab aku sudah yakin dengan pemikiranku sendiri. Karena wanita itu adalah wanita yang sama, yang kulihat saat dulu kami pernah makan bertiga lalu wanita yang sama pula dengan yang mencium Max di depan mini market, sebelum aku pergi dari kota itu.
Bersambung ...
—————
Hallo, lohha ...
Mohon maaf jika masih ada typo menjyjykan 🤣
Jangan lupa untuk like, love, komen dan vote semua karyaku di setiap babnya yah.
__ADS_1
Trus kalo mau poin buat vote karya aku juga bisa, silakan kalian langsung aja join ke dalam Grup Chat NovelToon yang ada di beranda judul karyaku.
Sekali lg terima kasih dan semoga selalu sehat. Jangan males like yahh, babay 💋