Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 57


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Dana POV.


Keesokan paginya. Begitu bangun dari tidur dan mimpi panjangku, segera aku membereskan beberapa barang yang nantinya akan aku bawa ke Bali.


“Ada beberapa barang yang masih tertinggal di apartemen, aku harus mengambilnya nanti,” gumamku seraya tersenyum.


Entah mengapa pagi ini aku merasa sangat bersemangat untuk melakukan semuanya. Bahkan rasanya aku kembali menjadi pribadiku yang sehat sempurna.


Dan rencananya untuk beberapa hari aku akan menemui kekasihku terlebih dahulu, aku ingin bertemu dengannya dan keluarganya agar aku menjadi lebih bersemangat untuk memulai hari yang cerah nantinya.


Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi di sini, itu artinya di Jakarta masih sekitar jam dua belas malam. Aku segera mengambil ponselku dan berniat untuk menghubungi kekasihku, mungkin saat ini dia baru saja bersiap hendak tidur. Setidaknya nanti dia bisa menjemputku jika aku sampai di sana. Sudah lumayan lama aku tidak bertemu dengannya.


Ya, aku selalu seperti ini jika Dave menyuruhku untuk ke Bali. Aku pasti akan ke Jakarta terlebih dahulu untuk bertemu dengannya. Karena jika tidak begini, kapan lagi aku bisa bertemu. Menunggu aku pergi dengan uang sendiri itu terlalu lama. Dan terlalu banyak uang yang dibutuhkan.


“Hallo? Kamu sudah mau tidur ya?” sapaku lalu merebahkan diri ke atas tempat tidur lagi, sambil memandangi langit-langit dan membayangkan senyuman di wajahnya.


“Belum, aku baru aja sampe rumah, tadi nemenin Max makan di luar. Kamu pasti baru bangun tidur, iya 'kan? Awas ilernya jatuh.” Dia tertawa cekikikan.


Aku tertawa pelan mendengarnya tertawa. Lalu aku mengatakan padanya jika hari ini aku akan pergi ke Jakarta untuk menemuinya. Kemudian terdengar suara bahagia darinya, betapa senangnya aku. Sudah seperti anak remaja yang sedang di mabuk asmara. Benar-benar membuatku tersipu.


“Aku belum membeli tiketnya, nanti aku kabari lagi jam berapa tepatnya aku akan sampai di sana.” Aku kembali memberitahukannya.


“Oke, nanti biar aku pinjam mobil Max buat jemput kamu.”


“Iya. Ya sudah, aku mau ngeberesin pakaian dulu. Bye Sayang.”


Setelah mendengar ucapan perpisahan darinya, aku segera memutuskan sambungan telepon dan langsung bergerak untuk mandi. Aku harus ke apartemen untuk mengambil beberapa barang sebelum pergi.


Baru saja aku selesai bersiap dan hendak pergi, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarku. “Tuan, sarapannya sudah siap dan Tuan Dave menunggu Anda,” ucap seorang maid di balik pintu.


Setiap hari dan setiap pagi, maid itu memang diperintahkan oleh Dave untuk membangunkanku dan menyuruhku untuk segera turun, sarapan bersama dengan kakakku itu. Aku tidak mengacuhkannya, membiarkan maid itu berlalu begitu saja tanpa mendapatkan balasan dariku. Setelah siap barulah aku turun ke bawah, menemui Dave di ruang makan.


“Tumben rapi, mau ke mana? Jangan lupa untuk membeli tiket.” Dave membuka suaranya.


“Aku sudah membelinya melalui situs online. Tiga jam lagi aku akan ke bandara, tapi sebelum itu aku mau ke apartemen,” jelasku kemudian menyeruput minuman dalam gelasku.


Tingtong!


Suara bel dari pintu depan berbunyi dan seorang maid melintas untuk membukakan pintu itu. Pasti Leo yang menekan tombol bel itu, sebab tadi malam aku menyuruhnya untuk datang kemari.


“Ah, Dave, itu pasti Leo, aku me—”


Tiba-tiba Dave membulatkan kedua matanya menoleh kepadaku. Seketika aku mengerjab, tubuhku langsung merasa kaku begitu melihat pandangan matanya yang mematikan itu. Sudah mirip seperti seorang singa yang akan memangsa penganggu wilayahnya.


Dengan susah payah aku menelan salivaku. Makanan dalam mulutku pun seketika aku telan begitu saja, padahal baru beberapa kali aku mengunyahnya. Sungguh siap nasibku pagi ini. Dave pasti akan marah besar karena aku begitu lancang menyuruh orang lain ke sini untuk menemuinya, walaupun orang itu adalah asistennya sendiri.


“Kenapa menyuruhnya ke sini? 'Kan bisa lewat telepon?” ucapnya dengan tatapan yang dapat membuat bulu kudukku berdiri.


Sulit rasanya untukku mengembuskan napas. Jangankan mengembuskan, menghirup lagi saja membuat aku akan berpikir sepuluh kali lagi, sebab saat ini aku seperti membuat lubang pemakamanku sendiri. Dave bisa berubah mengerikan jika dia sedang dalam keadaan tidak senang.


“A—aku mana tahu ... ka—kalau ponsel kamu sudah aktif,” jawabku dengan terbata dan pandangan menatapnya gamang.


Dave tidak mengatakan apa-apa lagi, dia kemudian meraih gelas minumnya lalu mereguk perlahan air putihnya. Tak berapa lama kemudian Leo sudah berhadir di depan kami berdua.


“Selamat pagi, Pak! Senang rasanya saya bisa bertemu dengan Bapak dan melihat Anda baik-baik saja. Karena selama berbulan-bulan ini, saya sedikit kehilangan arah untuk meng-handle perusahaan.” Leo tampak gemetar dalam berucap dan dia menundukkan wajahnya.


Leo memang seperti itu semenjak beberapa tahun lalu diangkat menjadi asisten pribadi Dave. Dia seperti sangat beruntung mendapatkan posisi itu. Tapi tidak dengan Dave yang menganggapnya biasa saja. Dave tetap tertutup pada orang lain. Jangankan Leo, padaku saja, baru kemarin malam dia bercerita.


“Leo, kamu udah makan? Ayo duduk, kita sarapan bersama.” Aku menyuruhnya untuk duduk di sampingku

__ADS_1


“Bibi ... tolong cepat siapkan sarapan untuk Leo, segera!” pekikku.


Di rumah ini memang memiliki seorang maid tertua yang biasa aku panggil dengan sebutan Bibi. Dia adalah maid yang berasal dari Indonesia, yang memang Dave bawa ke kota ini untuk mengurusi makanan kami. Beliau juga tinggal di rumah ini dan hanya beliau saja yang mendapatkan fasilitas itu. Sedangkan maid lainnya, hanya maid yang berasal dari sini dan mereka tidak tinggal di rumah ini. Mereka pulang setelah matahari terbenam lalu kembali sebelum matahari terbit ke rumah ini.


Hening. Dave tidak mengatakan apa-apa, dia malah terlihat santai dan melanjutkan sarapannya. Hingga bibi datang menghampiri dan memberikan sepiring sarapan untuk Leo, yang duduk di sampingku. Lalu maid satunya lagi meletakkan dua buah gelas dan mengisinya dengan air putih juga segelas orange juice.


“Silakan dinikmati, Tuan,” ucap bibi dan maid itu, kemudian mereka pergi menjauh, kembali pada pekerjaan masing-masing.


“Ayo, Leo, makanlah, setelah ini baru kita bicarakan.” Aku memberikan usul yang kemudian diangguki oleh Leo.


Namun, tiba-tiba saja Dave berkata, “Apa yang ingin dibicarakan? Katakan sekarang.” Dengan dingin Dave memberikan perintah. Terus mengunyah makanannya dan memandangi isi piringnya itu. Tidak sedikit pun dia menoleh untuk menatap Leo. Dave benar-benar savage!!


“Biarkan dia makan dulu Dave, makanan itu sudah ada di depan wajahnya. Kamu terlalu kejam,” ucapku menegur, “ayo Leo, makan dulu. Semua itu bisa dibicarakan setelah selesai makan.”


Dave terdiam lalu kami pun kembali makan dalam keheningan, hanya suara sendok dan garpu yang berdenting menemani.


Setelah sarapan, aku memutuskan untuk segera pergi karena waktuku tidak banyak, aku harus ke apartemen sesegera mungkin. Aku biarkan Leo dan juga Dave untuk berbicang bersama. Pasti banyak kabar yang ingin Leo sampaikan padanya.


“Leo, nantikl kalau urusan kamu sudah selesai dengan Dave, jangan langsung pulang. Antarkan aku ke bandara. Aku akan segera kembali. Oke?” pintaku padanya.


“Baik,” sahutnya.


Kemudian Dave berbalik, sambil mengatakan agar Leo segera mengikutinya ke ruang kerjanya. Dan betapa terkejutnya Leo saat melihat Dave yang menggerakkan kursi rodanya. Setelah menjauh, barulah Leo bertanya padaku tentang apa yang terjadi, hingga bos-nya itu mengenakan sebuah kursi roda.


“Itulah yang sebenarnya akan aku ceritakan nanti. Sekarang kamu pergi saja temui dia. Dan ingat, jangan memandangi kedua kakinya itu, bersikap biasa aja itu jauh lebih baik. Dia terlalu sensitif sekarang.” Leo memahami apa yang aku katakan, kemudian dia segera pergi untuk menyusul Dave ke ruangan kerja.


Di sepanjang perjalanan menuju apartemen, aku terus saja membayangkan wajah kekasihku, aku benar-benar merindukannya, sungguh.


—————————


Lisa POV.


Hari ini aku berencana akan mengembalikan semua barang yang pernah Dave berikan padaku. Sebab dengan uang pemberian dari Julia, aku pikir akan cukup untuk menghidupiku hingga akhir bulan ini, sambil menunggu kiriman dari om Reza lagi.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Lantunan lagu dari Marron 5 yang berjudul Wait itu menggema di seluruh ruangan kamar tidurku, aku yang sedang berada di balkon dibuat kaget dengan dering itu dan bergegas untuk mengambilnya. Dan nama om Reza tertera pada layar kaca benda tipis itu.


“Hai, Om. Apa kabar?” sapaku begitu menerima sambungan telepon itu.


Om Reza langsung mengatakan jika kabarnya sekeluarga baik-baik saja dan dia juga langsung menyampaikan bahwa minggu depan aku harus segera pulang ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan Max.


Awalnya aku sempat menolak untuk datang, dengan alasan bahwa aku memiliki banyak tugas kuliah yang harus di selesaikan. Tetapi tiba-tiba saja Om Reza mengatakan akan menelepon ke kampusku untuk memintakam izin tidak hadir selama satu minggu. Aku mulai gelagapan.


“Em ... jangan dong, Om. Udah kek anak kecil aja pake dimintain izin. Ya udah, memang kapan acaranya? Tiga hari aja ya? Jangan seminggu,” protesku sambil merengek.


Setelah bernegosiasi dengan om Reza, beliau akhirnya sepakat untuk mengatur kepulanganku selama tiga hari ke Jakarta.


“Ya sudah, nanti kirimin aja tiketnya. Aku mau siap-siap kuliah dulu. Bye.”


Aku memang tidak bisa berkutik jika om Reza membahas tentang pendidikanku, sebab jika satu kali saja beliau menghubungi kampusku maka tamatlah riwayatku. Beliau bisa tahu jika aku sudah tidak lagi menjadi mahasiswi berprestasi di sana semenjak berbulan-bulan yang lalu.


Padahal rencana awal, aku tidak ingin pulang dan menghadiri acara Max itu. Tapi sepertinya aku tidak memiliki alasan yang begitu kuat dan masuk akal. Benar-benar payah!


**

__ADS_1


“Lu yakin mau balikin semuanya?” tanya Julia begitu dia baru sampai di apartemenku beberapa waktu yang lalu.


Aku kembali menimbang-nimbang dan berpikir sejenak, lalu aku merasa keputusanku sudah bulat. Toh minggu depan aku akan pulang ke Jakarta. Jadi aku bisa membicarakan sedikit tentang hidupku di sini pada om Reza, siapa tahu beliau meu menambahkan sedikit uang sakuku. Tapi jika tidak, mungkin aku akan memikirkannya nanti.


Namun, tiba-tiba saja dalam pikiranku terlintas sebuah pekerjaan yang digeluti oleh Julia. Aku penasaran dengan pekerjaan itu. Apa aku harus mencobanya sesekali? Entahlah, mungkin nanti akan aku tanyakan kembali pada Julia, sepulang dari Jakarta. Yang jelas saat ini aku akan mengembalikan semua milik Dave ini.


Beberapa barang pemberian dan juga pembelian dari Dave sudah aku masukkan ke dalam dua buah kotak berukuran sedang. Lalu aku meminta Julia membantuku untuk membawanya ke bawah. Memasukkannya ke dalam kursi bagian belakang mobil itu.


“Lu ikutin gua di belakang ya,” titahku pada Julia, dia mengangguk patuh.


Kemudian aku langsung masuk ke dalam mobil ini dan mengendarainyai menuju ke apartemen Dave. Aku sengaja memilih akan mengembalikan ke apartemennya, sebab di sana aku tidak akan bertemu dengannya. Karena saat ini masih termasuk jam kerja dan dia pasti tidak ada di sana. Jadi, aku bisa dengan mudah menitipkan kunci mobil ini dengan pegawai resepsionis di sana. Dan kedua buah kotak itu akan aku tinggalkan di dalam mobil ini.


Sesampainya di basemen gedung apartemennya itu. Dari kejauhan mataku sudah menyisiri mobil-mobil yang terparkir di sana dan tidak ada tanda-tanda mobil Dave.


Tok tok tok!!


Suara ketukan kaca jendela dari Julia benar-benar mengagetkanku. Aku menghardiknya setelah keluar dari mobil. “Apaan sih lu? Ngagetin aja deh!”


“Elu enggak salah belok gedung nih?” tanta Julia berbisik. Aku menggeleng. “Jadi Dave tinggal di salah satu kamar apartemen di sini?” Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.


Kemudian aku mendengar decak kekagumannya pada basemen gedung ini. Entah apa yang membuat Julia kagum, tapi aku rasa kekaguman itu terlalu berlebihan.


“Elu tunggu di sini. Gua mau titipin ini kunci dulu.”


Julia tidak menyahui, dia sibuk terperangah sejak tadi tiba. Aku menggelengkan kepala sekilas.


“Permisi, aku ingin menitipkan kunci ini di sini, untuk Dave Winston, apa boleh?” tanyaku sambil menyodorkan kunci mobil Marcerdas-Benz itu pada salah seorang wanita yang berdiri di balik meja resepsionis.


“Nyonya Winston?” tegur seorang lelaki yang ternyata adalah pak tua yang dulu membantuku untuk menghentikan pertikaian dengan istri Dave.


Aku tersipu mendengarnya memanggilku seperti itu, andai saja ... lupakan!


“Sudah lama saya tidak melihat Anda. Apa ada yang bisa saya bantu?” tawarnya.


“Ah, iya, aku ingin menitipkan kunci mobil ini untuk Dave. Aku tadi mencarinya di kantor tapi dia tidak ada.” Aku sengaja berbohong pada pak tua ini. Pasalny, jika tidak seperti itu, aku yakin dia akan menolak permintaanku ini.


Beliau memandangiku dengan raut wajah kebingungan dan kedua alis yang bertaut. “Tapi tuan Dave sudah lama tidak ke sini ...,” sanggah beliau. Aku tersentak.


Berarti pemikiranku benar selama ini, dia sudah kembali dengan istrinya dan melupakan aku. Pantas saja dia tidak pernah lagi menghubungiku, walaupun jauh di dasar lubuk hati ini aku menantikannya.


Aku tersenyum tipis, lalu langsung meraih tangan pak tua yang ada di depanku ini dan meletakkan kunci itu di telapak tangannya dan berkata, “Tolong berikan ini padanya, jika dia kembali ke sini. Terima kasih. Senang bisa mengenal Anda.”


Setelah mengatakan itu, aku buru-buru meoangkah pergi dari sana dan menarik Julia masuk ke mobilnya, untuk segera membawaku pergi meninggalkan gedung itu. Meninggalkan semua masa laluku bersama Dave dan menguburnya dalam-dalam.


Bersambung ...


——————————


Maaf kalau masih ada typo. Editnya entar belakangan, jadi gak usah protes boss 😂


Jangan lupa jika kalian mendukung karya ini, berikan boom like dan komen sebanyak-banyaknya.


Tertapi jika ingin memberikan VOTE, silakan buka judul KEBAHAGIAN TAK SEMPURNA dan jadikan satu vote-nya ke judul itu. Oke?


Terima kasih untuk kalian semua.


(season awal/pertama/satu sedang tahap revisi.) Favorite-in aja dulu judul ini, nanti aku kasih tahu kalau revisi sudah selesai dan kalian bisa membaca ulang.


Sekian dulu,


Babay 💋


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2