
Selamat membaca ...
——————————
Still Lisa POV.
“Ikutin kata aku ya?” ucap Dana begitu membukakan pintu mobil untukku.
“Emang ini di mana sih? Kasih clue dong!”
“Kalau kasih clue, namanya bukan surprise tapi main tebak-tebakan.” Kami tertawa bersama.
Dana menggiringku berjalan, menunjukan arah dan mambawaku ke suatu tempat yang aku tidak tahu ini di mana. Hingga akhirnya dia menyuruhku untuk berhenti. Perlahan dia membukakan ikatan dasinya pada mataku
Aku terkejut begitu melihat sebuah ruangan mewah ada di depanku dan berbalik menatapnya. “Apa ini?”
“Apartemenku, kamu bisa pindah ke sini.”
Aku tercengang sejenak lalu kembali berbalik untuk melihat ruangan yang begitu luas ini, lalu buru-buru untuk menolaknya, sebab aku tidak ingin terlalu merepotkannya. Lagi pula tidak mungkin jika aku harus tinggal bersama dengannya di sini.
“Kamu gak perlu khawatir,” lirihnya seraya merangkul pinggangku, “aku tinggal di rumahku, bukan di sini. Tapi kalau kamu mau aku temani, aku tidak akan menolak.” Kecupnya pada leherku, seketika membuat tubuhku rindu dengan sentuhan seperti itu.
Aku membiarkan Dana mengecupi bagian itu hingga membuat napasku seketika memburu kuat. Sambil memejamkan kedua mata, aku menikmatinya. Lalu salah satu jemarinya kini mulai merayap memasuki pakaian yang aku kenakan. Menyentuh permukaan kulit perutku dengan begitu lembut lalu bergerak ke bagian atas.
Semua sentuhan yang dia berikan itu membuat tubuhku melonjak naik, menggeliat dengan napas yang mulai tersengal. Kini salah satu tangannya sudah berada di atas salah satu dadaku, bersiap untuk melakukan gerakan di sana sambil membisikan kalimat nakalnya yang membuat aku luluh begitu saja. Terhanyut dalam permainannya. Dan membiarkannya untuk bertindak lebih.
🎶
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go
🎶
Tiba-tiba saja ponselnya berdering membuat aksinya padaku terhenti seketika dan aku pun tersandar dari kebodohan yang aku lakukan.
Dana segera menerima panggilan telepon itu lalu terlihat panik, dia juga berseru pada orang yang meneleponnya di seberang sana. Bukan seperti Dana yang aku kenal selama ini. Lebih seperti Dana yang aku kenal saat pertama berjumpa, saat kaminmasih belum mengenal satu sama lain.
“Ayo, aku antar kamu pulang dulu, aku ada urusan.” Dana langsung membawaku keluar dari apartemennya lalu mengantarku pulang.
Di sepanjang perjalanan, aku tidak bertanya apa pun padanya. Hanya mengikuti apa yang dikatanya saja, lalu tepat saat di basemen apartemenku, Dana mengatakan jika aku boleh kapanpun ke apartemennya itu lalu dia juga memberikan kuncinya padaku.
“Jangan menolak, kapan pun kamu mau pindah, pindahlah. Jadi kamu tidak perlu bingung mencari tempat sewa.” Mendadak dia mengecup keningku.
“Tapi aku—”
Tiba-tiba dia memgecup bibirku, membungkam perkataanku seketika. Aku hanyut dalam kecupan itu. Apalagi saat dia menyelipkan lidahnya dan bergerak menyususri. Sampai akhirnya dia menghentikannya lalu kembali masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi.
__ADS_1
Aku mematung melihat kunci apartemen nya yang sekarang ada di tanganku. Aku memang membutuhkan sewaan baru dan aku juga belum menemukannya hingga saat ini, tetapi menerima apartemen Dana ini apakah sebuah jalan keluar bagiku?
Segera aku masuk ke dalam lift dan menuju ke kamar apartemen. Dengan penuh bimbang, aku menghempaskan diri ke tengah tempat tidurku lalu memandangi langit-langit kamar ini.
Napasku berembus dengan kasar, lalu aku kembali teringat dengan sentuhan yang Dana lakukan padaku tadi. Perlahan aku menutup mata, mencoba meresapi semuanya.
“Aku harus melupakan Dave!” gumamku dengan pasti.
——————————
Dana POV.
Aku segera memutuskan untuk menuju ke ke suatu tempat, begitu mendengar kabar dari para orang-orang bayaranku, yang mana aku meminta mereka menyelidiki tentang kebakaran perusahaan beberapa bulan lewat.
Mereka mengatakan jika ternyata, peristiwa itu terjadi bukan karena aliran arus listrik yang pendek tetapi karena ada seseorang yang menyabotase segalanya dan membuat seolah-oleh semuanya itu adalah kecelakaan.
Tentu saja amarahku seketika meledak begity mendengar semuamya. Sudah aku duga sebelumnya jika semua ini pasti ulahnya karena dia sangat membenci Dave saat ini. Aku semakin bertambah kesal, tidak percaya jika wanita itu pada akhirnya akan bertindak sejauh itu.
Semakin aku percepat laju jarak tempuh mobil ini, hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah rumah yang terlihat sepi, tetapi mobilnya bertengger tepat di depan garasinya. Dan itu membuktikan jika sang pemilik rumah sedang berada di dalam.
BRUUG! BRUUG! BRUUG! BRUUG!
Aku menggedor pintu depan rumah tersebut. Rumah yang tampak asri dan tampak begitu nyaman untuk dihuni. Beberapa kali, hingga akhirnya aku kembali menggedornya sambil menyerukan namanya.
“Tasha! Buka pintunya! Tasha!” Suara gedoran pintu terus aku buat hingga aku mendengar sebuah bunyi anak kunci yang terputar dan pintu terbuka. Memunculkan seorang sosok wanita yang aku cari-cari.
“Dana?! Ada apaan sih malem-malem gedor pintu rumah orang!” bentaknya.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku langsung mencekik lehernya lalu membawanya jatuh ke atas sofa. Dia sempat berteriak tetapi aku langsung secepat kilat membungkam mulutnya dengan telapak tanganku yang satu lagi.
Aku terus mencekik lehernya hingga tiba-tiba saja dia semakin kuat untuk berontak dan berhasil menjatuhkanku ke atas meja kacanya hingga pecah.
PRAANGG!!
“Aargh!” Aku menggeliat kesakitan. Punggungku rasanya begitu perih menghantam menghantam pecahan kaca di lantai.
“Uhuuk!! Uhuk!” Wanita itu terlihat batuk untuk menyesuaikan kembali pernapasannya yang sempat aku sumbat di lehernya.
“Dia harus membayar semua perbuatannya karena menceraikan aku!.
Perlahan aku menggeliat dan mencoba untuk kembali berdiri. “Dave sudah cukup menderita! Dia hampir saja tidak bisa berjalan lagi karena kamu!”
Aku berbalik, kemudian kembali menyerang Tasha yang tidak berbicara apa-apa, dia hanya mencoba lari menuju dapurnya, tetapi tangan dan langkah kakiku begitu panjang hingga dengan mudahnya aku dapat menarik rambutnya hingga dia terjatuh.
BRAAK!!
Tasha berteriak kesakitan dan terbaring telentang di lantai, dengan cepat aku langsung kembali menungganginya lalu mencengkeram erat rahangnya.
“Kamu ingin membuat kami melarat? Kamu lupa siapa yang sudah bantuin kamu jadi model? Kalau bukan aku kamu gak bakalan bisa terkenal! Lalu dengan mudahnya kamu khianatain Dave?!”
“Cuh!! Aku sampai titik ini karena usahaku sendiri!” Tasha meludai wajahku. “Kalau bukan aku yang meniduri Produser itu, mana bisa aku begini? Kalian berdua tidak ada gunanya!”
PLAAK!!
__ADS_1
Wanita ini selalu menguji kesabaranku. Selama ini aku selalu diam, saat dia selalu mencoba masuk menyelinap ke dalam kamarku dulu. Hingga aku lebih memilih keluar dari rumah itu. Setelahnya, dia malah berselingkuh saat Dave terpuruk jatuh bangun mengembalikan perusahaannya itu.
“Tampar aku lagi ... ayo tampar!!” tantang wanita itu di bawahku.
Rasa kesalku semakin menjadi dan entah mengapa, aku memilih untuk mencekik lehernya, menarik kepalanya lalu menghempaskannya dengan keras ke lantai. Benturan itu terdengar begitu kencang.
Semakin kuat aku mengeratkan cengkraman pada lehernya, hingga dia benar-benar tidak bisa lagi berkata apa pun. Aku juga menekan tengah tenggorokannya. Dan pelan-pelan tubuhnya tidak lagi berontak, melemas hingga akhirnya matanya yang tadinya membulat memandangiku, tidak lagi terbuka.
Napasku menggebu melihat wanita ini mungkin sudah tidak bernyawa lagi. Tapi kekesalan yang aku rasakan seolah belum cukup membuatku. Begitu di belakang kepalanya mengalir darah segar, barulah aku merasa terperanjat.
“Sialan!”
——————————
Dave POV.
Baru beberapa jam yang telah lalu, aku mengetahui bahwa kejadian kebakaran pada perusahaanku beberapa bulan yang telah lalu bukanlah murni karena kecelakaan konsleting listrik. Bukan murni karena aliran arus pendek hingga menyebabkan peristiwa kecelakaan itu. Tetapi karena ada yang memang sengaja ingin melenyapkan perusahaanku.
Aku terkejut saat mendengar berita itu dari Leo. Bahkan semakin tidak percaya saat sebuah nama muncul sebagai pelaku utama dan dalang dalam permainan ini. Siapa lagi kalau bukan mantan istriku, Natasha Noleen.
Semakin terkejut lagi aku saat mendengar jika Dana sudah mengetahui hal ini dan pasti dia langsung pergi menuju ke rumah Tasha dengan berbagai macam perasaan. Yang jelas dia pasti meluapkan semua yang dirasakan olehnya dan itu sangat berbahaya bagiku.
Aku tidak ingin dia mengulang kesalahannya yang sama lagi beberapa tahun yang lalu itu. Beberapa kali aku mencoba menghubungi telepon genggamnya, tapi seolah percuma, Dana tidak menerima satu pun dari panggilan yang aku lakukan padanya.
Tanpa berpikir panjang dan dengan langkah yang tertatih aku berjalan menuju keluar kamar dan mengambil kunci mobil. Nekat menuju ke garasi dan masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin untuk segera menuju ke rumah Tasha. Ya, benar, Dana pasti menyerang Tasha saat ini.
Panik dan kacau, seperti itulah perasaanku saat ini. Nyeri pada kakiku pun sama sekali tidak aku pedulikan. Aku terus saja memacu kecepatan mobil dengan maksimal menuju ke rumah Tasha.
Kawasan rumahnya memang terbilang perumahan yang sepi karena perumahan baru. Dan karena sepi itulah aku menjadi semakin takut, sebab Dana bisa berbuat hal brutal tanpa dia sadari.
Beberapa menit kemudian aku sudah memasuki wilayah perumahan itu dan dari kejauhan aku melihat mobil Dana yang bertengger di depan halaman rumah Tasha. Setelah mematikan mesin mobil, dengan perjuangan aku melangkah masuk ke dalam pintu depan yang masih terbuka.
“Dana?!” Aku terpekik melihat Dana yang mematung duduk di atas tubuh Tasha yang tergeletak
Aku langsung mendorong tubuhnya, agar menjauh dari Tasha yang sudah bersimbah darah pada belakang kepalanya. Tatapan mata Dana terlihat kosong. Cepat-cepat aku menampar wajahnya lalu mengarahkannya untuk menatapku.
PLAAK!
“Sadar, Dan!! Lihat aku!! Pulang sekarang dan sadarkan diri kamu sekarang!! Biar ini aku yang bereskan. Paham? Dan?” Dia mengangguk pelan hingga akhirnya aku melihat tatapannya yang kembali seperti semula, seakan baru tersandar dari dirinya yang lain.
Segera Dana pergi dari sini sedangkan aku terdiam membeku melihat tubuh Tasha yang tidak lagi bernyawa. Tergeletak lemah di atas lantai, tanpa perlawanan sepertinya.
Aku merogoh ponselku dalam saku celana lalu segera menelepon Leo, memintanya membantuku menyelesaikan masalah ini, sebelum semuanya terlambat. Tubuhku bergetar dan berkali-kali aku mengusap wajahku. Melihat isi rumah ini yang sudah sangat berantakan.
Aku akui, dalam hati ini memang ada sedikit perasaan lega melihat wanita ini mengembuskan napasnya. Yang mana artinya dia tidak akan lagi mengganggu hidupku hari esok dan seterusnya.
Bersambung ...
——————————
Sekian dulu,
Babay 💋
__ADS_1
@bossytika