
Still Lisa POV.
Ya, aku pikir awalnya aku menstruasi tapi ternyata tidak. Sebab saat menunggu Dave membelikan pembalut aku sempat mencari informasi tentang kepera*wanan dari ponsel pintar yang aku miliki. Sampai baterai ponsel itu habis. Dan ternyata itu adalah darah kesucianku.
Setelah melakukan lumatan-lumatan kecil, aku dan Dave akhirnya sepakat untuk membersihkan diri. Tidak bersama, melainkan secara bergantian. Sekali lagi aku mengecek, dan benar saja. Tadinya yang aku pikir sedang menstruasi tapi ternyata tidak. Aku salah terka. Dan tahukah kalian, jika selimut yang ku tinggalkan di dalam kamar mandi sangat penuh dengan darah yang hampir kering?
Yah, mungkin karena kami bermain dalam kegelapan tadi malam, ia tidak menyadari hal itu. Entahlah.
Setelah kami selesai membersihkan tubuh dan kembali mengenakan pakaian. Aku dan Dave memutuskan untuk segera keluar dari apartemen itu untuk mengantarkanku pulang.
Dave juga tidak lupa untuk menghubungi bagian housekeeping, untuk membersihkan kamarnya. Lebih tepatnya lagi, membersihkan kekacauan yang kami ciptakan bersama. Kulirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tanganku, tepat menunjukkan pada jam makan siang. Sesaat sebelum kami berdua memasuki lift.
Setelah pintu lift tertutup, tiba-tiba saja Dave menyisipkan rambutku ke belakang telingaku, lalu berkata, "Kamu tambah cantik pakai baju itu," bisiknya di telingaku lalu mengecup telingaku diiringi dengan desahan napasnya. Lagi-lagi membuatku merinding.
Bukan merinding karena ngeri, tapi merinding karena geli. Sebuah perasaan yang sulit untuk aku jabarkan secara gamblang. Salah satu tangannya kini menyentuh punggungku hingga menyentuh pinggang. Membuat mulut ku kembali melenguh dengan manja.
Seakan tidak ada letihnya, Dave kembali mengecup daun telingaku. Ia tidak memedulikan bahwa ada sebuah CCTV yang sedang terarah, menyoroti kami berdua saat ini. Tak lama kemudian ia bergeser ke hadapanku lalu langsung melumatku, membuat tubuhku tersandar pada dinding lift.
Lagi-lagi kami saling bertukar saliva, seakan tiada habisnya kami lakukan ini. Tapi aku menyukainya, aku menyukai getaran-getaran ini. Getaran yang dulu pernah aku rasakan. Hingga pintu lift berbunyi dan terbuka, barulah Dave menghentikan aksinya sambil tersenyum lalu mencubit daguku. Tak lupa ia langsung mengamit tanganku dan menarikku keluar dari sana.
Dave sangat tahu bagaimana caranya membuatku tersenyum, seakan kami sudah saling mengenal begitu lama. Aku sungguh menyukainya, apa lagi di saat dia dengan sopannya membukakan pintu mobilnya untukku lalu menutupkannya kembali. Aku merasa seperti seorang putri kerajaan.
Bahkan di sepanjang perjalanan, kedua mataku tidak ada hentinya menatapnya. Hingga tak jarang membuat dia juga membalas pandanganku sesekali.
"Mana tangan kamu?" tanyanya. Aku langsung menyodorkan tangan kananku dan ia menyambutnya dengan tangan kirinya lalu mengecup punggung tanganku.
Aku serasa melayang dibuatnya, akibat sikapnya itu. Padahal aku sadar, bahwa itu adalah salah satu trik lelaki playboy untuk mengambil hati wanita. Tapi entah mengapa, aku malah menyukainya.
"Kamu mau makan siang dulu gak? Aku laper." Dave merengek, masih memegangi tanganku. Dan ini pertama kalinya aku melihatnya merengek. Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku. Menyetujui permintaannya.
Dave memacu kecepatan mobilnya melintasi jalanan kota London, yang pada akhirnya membawaku menuju sebuah tempat untuk makan siang yang memukau.
"Kamu belum pernah ke sini, kan?" tanyanya sambil menoleh padaku sekilas. Aku menggelengkan kepalaku lalu Dave memutar setirnya, masuk ke dalam sebuah gedung untuk memarkirkan mobilnya. "Kita jalan kaki. Gak apa-apa 'kan?"
Aku tidak menjawabnya, hanya langsung menoleh ke arah sepatu yang kugunakan. Yap! Aku masih mengenakan high heels yang tadi malam aku kenakan. Kemudian Dave menarik tanganku, agar aku menoleh melihatnya. "Hm?"
"Nanti kita beli," ucapnya lalu melepaskan tanganku, "Tunggu." Ia membuka pintunya, turun dari mobil lalu berlari kecil mengelilingi mobil dan membukakan pintu untukku. Aku memutar bola mataku.
'Aku pikir dia akan melakukan apa,' batinku lalu tersenyum.
"Aku tahu cara buka tutup pintu mobio kamu. Jafi gak usah begini." Aku mendelik sambil mengucapkannya. Sedang Dave hanya terkekeh geli lalu mengamit pinggangku, agar aku tidak jauh-jauh dari sisinya, mungkin.
__ADS_1
Perlahan kami berjalan berdampingan, menyusuri Greenwich Market, sebuah kawasan di daerah Greenwich Peninsula yang terbentang hamparan jajanan street food dengan begitu banyak. Dari jajanan pinggir jalan hingga beberapa restoran terdapat di sana.
Walaupun tempat ini tidak sebesar Borough Market yang berada di tengah perkotaan, tetapi jajanan yang tersedia di sini juga tidak kalah lengkapnya. Mulai dari jajanan ringan hingga makanan berat seperti steak ada di sini.
Dave menyuruhku untuk mencicipi hampir seluruh jajanan yang tidak aku ketahui. "Kamu harus coba satu per satu jajanan yang belum pernah kamu lihat." Dua berkata dengan sangat antusias.
"Kenapa?" Aku bingung menoleh padanya.
"Biar kamu tahu perbedaan bumbu masakkan di sini dengan di negara kamu."
"Dan itu negara kamu juga." Aku terkekeh sambil mencolek pinggangnya.
Yah, satu hal yang belum kalian ketahui. Dave juga berasal dari Jakarta. Hanya saja ia sudah lama tinggal di negara ini. Tapi aku belum mengetahui apa yang membuatnya bertahan cukup lama di kota ini.
"Nih ...," ucapnya lembu, ia menyerahkan sebuah kertas pembungkus yang di dalamnya terdapat sepasang sendal jepil. Tapi bukan sendal jepit Nipoon atau Sweloow ya, lebih bagus pokoknya.
"Tadi aku nemunya itu doang, nanti kita cari lagi," ucapnya seraya duduk di sampingku. Dia langsung menelan segelas air putih dengan sekali angkat, yang sudah tersaji di depannya dan memintanya lagi ke pelayan di restoran itu.
Sebelumnya aku memang sedang menunggunya di sini, setelah ia memesankan makanan. Ia berkata akan pergi sebentar untuk mencari sesuatu. Tidak kusangka, ternyata dia pergi untuk mencarikan sepasang sendal ini. Padahal kami juga belum berkeliling di tempat ini, tadi hanya sambil lewat dan membeli beberapa camilan.
"Kamu udah berapa lama stay di sini?" tanyaku sambil mencoba melepaskan tali high heels yang membelit pergelangan kakiku.
Dia menoleh padaku lalu berkata sambil membantuku melepaskan tali itu. "Hampir sepuluh tahun."
Kemudian kami memulai makan siang kami sambil bercerita banyak hal. Dave menceritakan bahwa ia di sini memiliki sebuah perusahaan property, yang mana apartemen yang di tempatinya itu juga merupakan salah satu bisnis usahanya.
"Kamu sendiri kenapa kuliahnya gak di terusin? 'Kan kerjanya capek. Pusing lagi liatin grafik saham tiap detik." Ia sambil mengunyah makanannya. Sedangkan aku sambil menikmati camilan tadi, sebatang churros yang lengkap dengan saus cokelatnya.
"Trus kalo aku berhenti kerja, lanjutin kuliah, duit gaji aku bakalan abis dong buat transport. Bolak-balik kampus tiap hari," jawabku asal lalu mengambil gelas minumanku dan menyedot isinga melalui sedotan stainless.
"Ya udah, besok aku beliin mobil."
Uhuuk uhuuk!!
Aku tersedak mendengar ucapannya yang begitu santai. Dia segera mengelus punggungku sambil kembali menyuruhku untuk minum. Beberapa pasang mata yang juga berada di meja lainnya saat ini mengarahkan pandangan mereka pada kami. Membuatku malu setengah mati.
Wanita mana yang tidak akan tersedak, jika tiba-tiba saja seoramg lelaki yang baru di kenalnya, bahkan belum genap dua puluh empat jam. Sudah mengatakan akan membelikannya sebuah mobil? Jadi wajar saja aku terkejut.
"Maaf, kita jadi pusat perhatian," ucapku sambil menundukkan wajah.
Aku masih dapat melihat jika di sekeliling kami, masih ada beberapa pasang mata yang memandangi. Namun tiba-tiba saja, Dave menarih daguku, mengangkat wajahku lalu langsung ******* bibirku. Membuat mataku spontan membulat dan melebar, terkejut sekaligus tidak siap dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Matanya tertutup saat itu. Dengan lembut ia melakukan lumatan itu. Cukup lama hingga akhirnya aku hanya bisa meremat churros yang masih ada di tangan kiriku dan gelas minumanku di tangan kananku. Lalu membalas kecupan itu, mengimbangi caranya memperlakukanku.
Kemudian ia melepaskan lumatan itu, aku terengah dan ia terkekeh geli. Lalu melanjutkan makan siangnya dengan cuek. Menikmati setiap gigitan yang masuk ke dalam mulutnya. Sesekali aku mencuri pandang, hanya untun melihatnya makan di sampingku.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore saat itu. Kami masih menyusuri Greenwich Market, hanya saja saat ini mengarah menuju ke gedung parkir mobil Dave. Sambil sesekali bersenda gurau. Salah satu tangan Dave melingkar di pinggangku. Sedangkan tangannya yang satunya lagi sedang memegang high heels milikku.
Tidak ada rasa malu saat ia menenteng benda itu. Bahkan saat sebelumnya aku ingin membungkus sepatu itu dengan pembukus sendal tadi, dia menegurku. "Gak usah! Sini biar aku yang bawa!" Kemudian ia langsung merebut sepatu itu dari tanganku.
Aku tidak memaksanya dan tidak juga beradu argumen padnaya. Aku akan membiarkannya melakukan apapun untukku. Jika dia memang menganggapku sepenting itu baginya saat ini dan hari-hari berikutnya. Lagi pula, aku ingin merasakan bagaimana rasanya dimanja seperti Tika. Aku juga ingin merasakan hidup yang mewah. Walaupun bukan Max yang melakukan semua itu padaku.
Tidak perduli apakah itu artinya aku harus melayani nafsu lelaki ini atau tidak, yang jelas aku pun juga menikmati segalanya. Terlebih lagi jika memang benar lelaki ini akan memberikanku sebuah mobil. Karena setahuku harga mobil di negara ini cukup mahal. Apa aku juga harus pura untuk tidak bisa menyetir? Agar dia mengajariku?
***
Aku menunjukkan arah jalan menuju ke apartemen-ku. Dengan bantuan GPS tentunya, sebab aku belum terlalu hapal nama jalanan di sini. Sedangkan Dave tidak memerlukan GPS lagi, dia sudah hapal seluk beluk jalanan di perkotaan kota London. Lengkap dengan hiburan malamnya.
Sesampainya di basemen gedung apartemen-ku, aku menawarkan padanya untuk masuk ke dalam, tapi dia malah menggodaku.
"Boleh aku ikut ke atas? Kalau aku ketiduran di sana gimana?" ucapnya manja. Membuatku tersipu.
"Jika itu terjadi, aku gak akan menolak." Aku katakan dengan cukup lantang. Lalu aku langsung turun dari mobilnya, tanpa menoleh lagi, berjalan menuju lift.
Brukk! Tittit!
Suara pintu mobil di belakangku berserta suara alarm kunci mobil. Itu tandanya Dave turun dan berjalan di belakangku, mengikuti langkahku. Aku sadari, sebuah senyuman merkah di kedua sudut pipiku. Entah mengapa aku merasa senang.
Ting!
Pintu lift terbuka, aku masuk dan di susul oleh Dave yang mengambil tempat, tepat di sampingku. Kutekan tombol lift dengan angka tiga, sebab apartemen-ku berada di lantai tiga.
Kami sama-sama terdiam, tidak mengatakan sepatah kata pun. Tidak seperti tadi, di saat kami berada di Greenwich Market, berjalan kaki berdua menyusuri tempat itu. Saat ini terasa ada sebuah jarak yang membatasi ruang gerak kami berdua. Hingga akhirmya kami sampai di lantai tiga.
Aku melangkah keluar dari lift dan Dave masih mengikuti langkah kakiku, menuju pintu kamarku. Lalu aku membuka pintunya dan membukakan pintu itu dengan lebar. Mengisyaratkan padanya untuk menyuruhnya masuk ke dalam apartemen kecilku ini.
Begitu masuk aku langsung menutup pintunya. Menyalakan lampu. Sedangkan Dave langsung melangkah menyusuri satu per satu setiap ruangan yang ada. Hingga kamar tidur dan kamar mandiku pun menjadi sasaran kunjungannya. Sudah seperti inspeksi mendadak dari bapak kost. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat apa yang dia lakukan.
Aku langsung menuju dapur untuk mengambil segelas air dan meminumnya. Mengatasi rasa dehidrasi di tenggorokkanku. Sambil menunggu lelaki itu keluar dari pintu kamarku.
"Udah kayak bapak kost aja, ngecek sampe ke kamar," ucapku lalu menggigit bibir bawahku yang kering. Ia tertawa lalu berjalan mendekatiku.
Mengecup bibirku tanpa permisi. Meletakkan kedua tangannya pada meja kitchen set di belakangku. Lalu merapatkan tubuhnya, mengikis jarak di antara kami. Ia mengambil gelas yang dari tadi aku pegang. Lalu meletakkannya di belakangku. Dave kembali mencumbuku.
__ADS_1
Teetttt teettt!
Suara bel dari pintu apartemen-ku ...