Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 68


__ADS_3

Still Tika POV.


Pagi ini aku melakukan tes darah dan rongen untuk seluruh tubuhku. Dengan menggunakan kursi roda, Haikal membantu mendorongku menuju ruang pemeriksaan. Banyak suster dan dokter muda yang menyapa Haikal.


"Kok suster sama dokter disini kenal kamu sih? Kan ini bukan wilayah kekuasaan kamu?" ucapku dengan menggunakan masker yang sudah dibubuhi parfum.


"Ya iya lah kenal, aku kan dokter paling ganteng." ucapnya sombong.


Aku memutar kedua bola mataku, "Handsome but rusty!" ucapku penuh penekanan.


Tiba-tiba Haikal menyentil telingaku. Aku hanya meringis pelan sambil terkekeh geli.


Begitu pemeriksaan selesai, aku dan Haikal kembali ke kamar inapku. Aku masih menggunakan masker kain tadi sebagai menutup hidung dan mulutku. Haikal mendorong kursi roda ini dengan santai. Sambil sesekali menjawab sapaan suster-suster yang berpapasan.


"Suster disini cantik-cantik. Ramah. Bohay lagi. Kenapa gak pilih satu buat dijadiin pacar, Kal?" tanyaku random.


"Jangan asal ya! Milih pendamping itu ga mudah. Menjalani hubungan juga ga sesimpel kamu nunjuk orang trus happy. Komitmen itu rumit. Kalo bukan sama orang yang tepat ga mungkin bisa long time." jelasnya.


"Menurut kamu, aku sama Jefri udah tepat belum? Bisa long time gak?" tanyaku kembali random.


Niatku menanyakan itu untuk bercanda, memplesetkan kalimat long time yang bukan dengan arti sesungguhnya. U know lah ya..


Tapi ternyata ditanggapi lain oleh Haikal.


Dia menghentikan langkah dan dorongannya pada kursi roda ku. Aku menoleh ke atas, "Kenapa Kal? Kok setop?"


Haikal berjalan ke depan, menghadapku lalu berjongkok. Menyama ratakan tinggi kepalanya dengan tubuhku. Aku menatapnya bingung.


"Kamu sengaja nabrakin mobil kamu sama truk itu gara-gara aku bilang ngeliat Jefri nemuin mantannya?" Haikal serius sambil memegang sandaran tangan kursi roda ku.


Aku kaget mendengar pertanyaan Haikal itu. Terdiam sejenak.


"Jawab aku Tik? Kamu sengaja ya nabrakin diri kamu? Tik, jawab? Kamu sengaja?" nada Haikal semakin meninggi disetiap katanya.


Mata ku mengeluarkan air nya tanpa izin. Kedua tanganku menggapai masing-masing tangan Haikal. Ku genggam erat sambil menatapnya. Haikal agak berdiri sedikit lalu memelukku.


"Jawab aku Tik, aku ga mau salah mengartikan setiap tetesan airmata kamu. Dan jujur, sejak kemarin kamu nangis sama Max aku udah curiga. Tapi aku mau denger dari mulut kamu langsung." Haikal kembali menatapku tajam sambil memegang kedua lengan atasku.


"Curiga apa? Apa yang perlu didenger langsung? Ada apa ini?" tiba-tiba suara Jefri muncul.

__ADS_1


Aku terkejut, segera ku hapus airmata ku yang menetes. Seharusnya Jefri tidak ada, karena dia tadi subuh aku suruh pulang ke rumahnya untuk istirahat hari ini. Tapi ternyata dia malah kembali datang dengan pakaian yang berbeda.


Haikal melepasku dan berdiri, "Kok kamu balik lagi sih? Kan udah aku bilang, hari ini biar Haikal sama Max yang gantian nemenin aku." ucapku manja sambil berusaha menggapai tangannya.


Jefri mundur selangkah. Menatapku tajam. Aku melempar pandanganku pada Haikal sekilas.


"Kita balik ke kamar ya?" tanya Haikal sambil bersiap mendorong kursi rodaku.


Jefri seolah menghalangi tangan Haikal yang hendak menyantuh gagang dorongan kursi rodaku, "Jelasin dulu, curiga apa?" ucapnya tegas.


"Kita bicara dikamar aja ya. Ga enak disini banyak yang ngeliatin." ucapku sambil menengok wajah Haikal.


Tergurat jelas kekesalan di wajah Haikal saat ini. Untuk menatap Jefri saja seakan dia menolak. Seolah sekarang dia menyalahkan Jefri untuk semua yang terjadi denganku. Mungkin dipikirnya aku sengaja menabrakkan diri, akibat info yang diberikannya padaku. Pikirku. Kami pun segera beranjak dan menuju ke arah kamar inapku.


Begitu sampai di dalam kamar. Haikal seakan tidak rela Jefri menyentuhku untuk membantuku kembali ke atas ranjang.


"Ga usah, gua bisa ngurus adek gua sendiri!" ketus Haikal menepis tangan Jefri yang hendak membantuku.


Setelah diatas ranjang, ku tangkap tangan Haikal, dia menatapku. Sedangkan Jefri hanya berdiri di ujung ranjang. Dengan wajah yang juga sama kesalnya dengan Haikal.


"Aku memang nyetir dalam keadaan nangis. Kejadian itu terjadi hanya beberapa detik, aku ga bisa ngehindar lagi." jelasku sambil melihat ke arah mereka berdua bergantian.


"Kal, kalo aku sengaja, dan pikiran aku ga sehat, mending sekalian aku arahin mobil aku ke jurang. Ato kalo mau keren dikit, naik ke parkir building trus terjun bebas bareng mobilnya sekalian." jelasku lagi sambil meyakinkan Haikal, mengeratkan genggamannya.


Memelukku kilas.


"Aku ga ngerti.." lirih Jefri duduk diatas ranjang menghadapku.


"Kamu kemana aja seharian ga ad kabar sebelum aku celaka?" tanyaku sambil menggenggam tangannya.


"Aku minta maaf ga sempet ngabarin kamu malam itu. Paul tambah parah. Jadi aku langsung ke sana dan bat....."


"Dan elu pelukan sama mantan lu lama, gua liat." sela Haikal.


"Haikal.." tegurku.


"Gua ga suka! Bentar lagi lu nikahin adek gua, trus gua malah liat lu pelukan sama mantan lu. Dan gua ga peduli sama alasan yang membenarkan posisi lu. Ato mungkin lu lupa kali ya kalo udah ngelamar adek gua? Dan mungkin lu pikir ga papa juga pelukan sama mantan lu toh adek gua juga ga ada ga liat seberapa mesranya tu cewe meluk elu!" jelas Haikal berdiri dari sofanya, dengan satu tarikan nafas dia melampiaskan kalimatnya penuh dengan kekesalan.


Aku membiarkan Haikal mengatakan itu, sambil ku eratkan genggamanku dengan Jefri. Jefri hanya menatapku saat itu.

__ADS_1


Ku ambil nafas panjang, "Kak, bisa tolong tinggalin aku berdua sama Jefri?" pintaku jelas.


Haikal menampilkan raut wajah tidak menyangkanya. Lalu berjalan mengambil ponselnya dengan kasar diatas meja dan keluar. Sempat ku ucapkan terimakasih untuk keputusannya mengabulkan permintaanku saat dia hendak membuka knop pintu kemudian ia benar-benar keluar.


"Aku ga nyangka dia bakalan meluk aku. Aku udah nyoba buat lepasin. Dan sumpah, begitu nyampe sana aku udah mau ngabarin kamu, tapi hp aku batrenya abis. Trus Paul ternyata harus operasi. Dan aku gak tau kalo itu rumah sakit Haikal. Andai aku tau dan ketemu dia disana, aku pasti pinjem hp dia buat nelpon kamu. Semuanya terjadi dan kayak kebetulan. Aku ga ngada-ngada. Sumpah sayang.." jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku menatapnya tajam, ku longgarkan genggaman tangan ku padanya.


"Aku berani sumpah. Aku ga ada maksud lain ke sana. Paula ngabarin aku klo anaknya makin parah. Dan aku la......"


"Dihati kamu masih ada dia. Tapi kamu nolak aja ngakuin itu." jawabku santai.


Jefri menggelengkan kepalanya cepat, "Dihati aku udah lama ga ada dia. Berbulan-bulan sebelum ketemu kamu, aku nyari ayahnya Paul, ayah biologis nya. Aku sanggup ninggalin Paula sebelum ketemu kamu, tapi aku ga sanggup liat seorang anak yang selalu dibohongi dan selalu ditelantarkan sama neneknya."


"Kamu ga perlu jelasin apa-apa lagi, sayang. Aku cuman minta kamu buktiin aja omongan kamu." ku hembuskan nafasku kasar.


"Tapi aku......"


"Aku capek, aku mau istirahat." lirihku sambil mengelus pipinya.


Kemudian Jefri berdiri, menekan tombol untuk menurunkan sandaran ranjangku. Lalu aku pun berusaha untuk mencoba rileks dan memejamkan mataku untuk tidur. Ku rasakan kecupan bibirnya mendarat lembut di keningku yang masih tertutup perban.


"I love you more than anything in this world, forever." bisiknya pelan lalu mengecup pipiku kilas.


Ku dengar suara pintu terbuka, kemudian tertutup kembali. Mataku yang terpejam kini kembali meneteskan butiran air perlahan...


**********


Jefri POV.


Aku keluar dari ruang inap Tika, membiarkan dia beristirahat sejenak sebelum jam makan siang nya. Ku lihat Haikal duduk di kursi depan ruangan. Dengan kedua tangan berpangku pada lututnya menutupi kedua matanya.


Perlahan aku duduk disebelahnya, "Aku mencintai Tika bukan untuk main-main. Pernikahan yang aku janjikan bukan bertujuan untuk menikmati tubuhnya." lirihku pelan.


Haikal bergerak dari posisinya, memandang lurus ke depan, aku menoleh melihat nya, menatapnya dengan keyakinan, "Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya. Membina anak kami kelak bersama. Aku ingin menafkahi hidupnya." ucapku lantang.


Haikal kembali menundukkan pandangannya setelah menatapku.


"Lu buktiin aja omongan lu sendiri. Bukan ke gua, tapi lu buktiin ke Tika. Dan kalo sekali lagi gua liat dia nangis kecewa buat elu, gua ga segan-segan ngancurin idup lu!" tegas Haikal yang kemudian berdiri. Masuk ke dalam dan meninggalkanku sendiri duduk dikursi ini.

__ADS_1


Aku memejamkan mataku, menarik nafas panjang dan mengusap wajahku gusar.


**********


__ADS_2