Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 60


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Lisa POV.


Waktu menunjukkan pukul sebelas saat aku keluar dari kelas yang sudah usai. Kemudian kembali menuju kantin, kali ini bukan untuk makan lagi tetapi untuk betemu dengan Julia. Sebab sebelumnya aku sudah menghubunginya, aku mengatakan ingin berbicara padanya.


Bukan untuk membahas tentang pekerjaan ekspress yang dia tekuni saat ini, melainkan untuk menanyakan tentang kamar apartemen di sekitar tempat tinggalnya itu.


“Hi, udah lama?” sapaku padanya sambil meletakkan dua buah botol minuman bersoda.


“Thanks. Ada apaan?” tanyanya heran.


Awalnya aku bingung, bagaimana cara menanyakannya. Tapi setelah memulainya dengan pertanyaan lain dengan berasa-basi akhirnya sampai juga pada pertanyaan tentang harga kamar apartemen di tempatnya itu.


“Kenapa? Elu mau pindah apa?” pekik Julia yang aku balas cepat dengan sebuah anggukan.


“Masih rencana sih. 'Kan yang sekarang itu sewanya sampai akhir semester. Jadi masih lumayan lama.” Aku kembali memberikan alasan.


“Bukan gara-gara Dave, 'kan?” celetuk Julia.


Seketika aku membeku, lidahku terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari Julia ini. Memang ada sedikit benarnya, tetapi semua ini aku lakukan untuk hidupku. Lebih banyak untuk masa depanku nantinya.


**


Selesai kuliah, Julia mengajakku berkeliling. Lalu dia memarkirkan mobilnya dan mengajak untuk berjalan kaki menyusuri Sungai Thames. Lagi-lagi aku ke tempat ini sambil melihat pemandangan di sekitaran sini. Kemudian aku berinisiatif untuk mengambil beberapa gambar dan mengirimkannya untuk Tika. Julia membantuku.




“Siapa Tika?” tanya Julia begitu ponselnya berhasil aku kembalikan, setelah meminjamnya untuk menuliskan sesuatu lalu memotonya, mengirimkannya pada Tika.


“Oh, dia teman gua satu-satunya di Jakarta. Sejak kecil gua sudah bersama dengannya. Keluarganya banyak membantuk”Aku menjelaskan pada Julia. Kemudian kami kembali melangkahkan kaki sambil membicarakan banyak hal.


Aku tidak menyangka jika aku akan sedekat ini dengan Julia. Dia mencerikan hidupnya padaku, begitu pula dengan aku yang tidak segan untuk menceritakan semua masalahku dengannya. Kami saling terbuka, saling mencurahkan isi hati masing-masing tentang betapa tidak adilnya dunia ini pada nasib kami berdua.


Hanya saja Julia lebih parah. Masa lalunya terlalu kelam, bahkan lebih gelap dari aku dan dia masih bertahan, lalu mengapa aku tidak bisa ikut bertahan?


Setelah lumayan jauh kami berjalan, akhirnya Julia mengajakku untuk mengunjungi sebuah tempat berjualan souvenir, namanya Camden Town dan dia mengajakku untuk pergi ke sana menggunakan tube (kereta bawah tanah), sebab begitu saat keluar dari stasiun di sana, mata ini sudah dimanjakan oleh berapa benda yang mengesankan dan cocok dijadikan sebagai oleh-oleh daln kesempatan kali ini.

__ADS_1


“Bukannya lusa elu bakalan balik ke Jakarta? Beliin aja beberapa barang di sini sebagai cinderamata nanti,” usul Julia.


Tanpa menunggu lama, aku langsung menarik tangan Julia begitu melihat orang yang menjual miniatur kota London. Ada Ig Big Ben, London Bridge, London Eye, Mini Bus hingga miniatur Telephone Box juga ada dia jual. Aku memilih beberapa untuk dijadikan sebagai oleh-oleh.


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, langit sudah kembali berubah menjadi gelap. Namun kali ini tanpa menghadirkan bubuhan binatangnya. Angin semakin kuat berembus saat kami kembali berjalan kaki menyusuri pinggiran Thames River menuju ke tempat parkir khusus mobil diletakkan.


“Gue langsung pulang ya?” pamit Julia begitu mengantarku sampai ke basemen gedung apartemenku.


“Makasih ya,”


“Lusa jam berapa pesawatnya? Biar gua anterin, jadi elu gak perlu repot naik tube sambil bawa-bawa koper.” Lagi-lagi Julia menawarkan bantuannya. Aku tertawa kecil.


“Jam sembilan pagi. Gue cuman bawa handbag. Gak pake koper kok, lagian cuman beberapa hari aja,” sanggahku.


“Ya udah kalau gitu, gue pulang. Bye ...,” pamitnya yang lalu melajukan mesin mobilnya. Meluncur keluar dari sini dan menghilang begitu berbelok memasuki jalan.


Dengan tersenyum tipis, aku melangkahkan kaki menuju lift dan kembali ke kamarku. Aku memgembuskan napas, sebelum akhirnya memutuskam untuk langsung melakukan packing. Memilih salah satu gaun yang aku miliki untuk menghadiri acara Max nanti.


Aku memang masih memiliki hati untuknya, aku akui itu. Tetapi biarkan itu menjadi bagian dari diriku dan biarkan aku menanggung cinta pertamaku itu. Karena setiap manusia berkah untuk memiliki cinta pertamanya. Entah sukses ataupun gagal sepertiku. Yang jelas, aku bisa tetap terus mengenangnya.


Sama seperti Dave. Biarlah dia mengisi salah satu relung hati ini. Sebagai sebuah kenangan indah dan sebagai sebuah pembelajaran hidup bagiku.


Dan biarkan aku menjalani sisa hariku di kota ini nanti dengan hati yang lapang. Agar aku merasa tidak terbebani dengan perasaan apa pun. Dan nanti, semoga saja saat bertemu dengan Max, dia masih menganggapku sebagai adiknya. Semoga.


——————————


Dave POV.


Setiap hari aku lalui dengan memaksa diri untuk selalu berlatih menjalankan kaki ini, menggerakkan keduanya untuk turun dari tempat penyangga pada kursi roda ini. Tetapi tetap terasa sia-sia hingga tiba-tiba saja aku bisa mengangkat jari jempolku kaki ini. Hanya beberapa kali tapi cukup membuatku puas.


Tok tok tok!


“Permisi, Tuan, Mr. Andreas sudah datang.”


“Suruh dia segera kemari. Aku ingin menunjukkan sesuatu padanya.” Dengan antusias aku menyuruh maid itu cepat-cepat membawa Mr. Andreas.


Begitu melihat Mr. Andreas sudah melangkah melewati ambang pintu kamar, aku langsung berseru, “Lihatlah! Aku sudah bisa menggerakkan jempolku dan sekarang jemariku. Cepat bantu aku untuk berdiri.”


Dengan lincah dia membantuku untuk berdiri lalu memapahku hingga perlahan aku bisa menggerakkan beberapa bagian pada kaki ini. Sesekali dia menyuruhku beristirahat, duduk lalu dia kembali membasuh kedua kaki ini dengan menggunakan air hangat beserta campuran garam. Aku rasa apa yang dia lakukan cukup ampuh. Yang jelas saat melakukan terapi dengannya jemariku bisa digerakan kembali.


Setelah sekitar tiga jam lebih siang ini aku melakukan latihan dengan Mr. Andreas, sorenya aku kembali berlatih dengan Mr. Tony rekan dari Leo. Aku jadi semakin lancar untuk menggerakkan otot-otot persendian di kaki ini.

__ADS_1


Bahkan saat ini aku sudah bisa berdiri sendiri dari kursi roda ini, walaupun dengan bantuan sebuah benda kuat yang bisa aku tarik. Seperti saat ini, aku menarik tubuhku dengan menggunakan kenop pada daun pintu.


Perlahan aku mencoba menyisir dinding dengan berpegang pada sebuah besi yang menancap di selasar dinding di setiap sudut rumah ini. Entah mengapa dulu saat membuatnya, aku memasukkan detail itu untuk berpegangan.


“Bapak Dave?!” pekik Leo saat melihatku sedang berdiri menyisir dinding. Aku hanya tersenyum simpul padanya kemudian dia berlari memegangiku.


“Benar 'kan, Pak, apa kata saya. Bapak pasti bisa kembali berjalan seperti sedia kala lagi, hanya perlu terus mencoba dan jangan berhenti.” Lalu Leo membantu kembali mendudukanku di kursi roda.


"Bagaimana jika kita ke dokter, Pak? Untuk memeriksa keadaan. Hanya untuk memastikan,” usulnya.


Aku mengangguk, “Buatlan jadwal untuk itu dan kamu yang membawaku untuk melakukan pemeriksaan.”


**


Keesokan harinya Leo membawaku untuk memeriksakan kedua kaki ini di rumah sakit yang berbeda. Dan betapa terkejutnya aku ketika mendengar dokter itu mengatakan bahwa otot-otot pada kakiku mulai kembali mengendur dan ada kemungkinan perlahan akan berangsur-angsur pulih.


“Terima kasih, Dokter!”


“Jangan berhenti mencoba, lakukan terus sebelum tidur dan setelah bangun pagi. Semua butuh proses.” Dokter itu menasihatiku. Ya, kali ini aku percaya dengan semuanya yang berproses. Pasti akan menghasilkan sesuatu yang tidak kalah berharga dan bernilainya.


Seperti kembalinya kedua fungsi dari kaki ini. Sebab kedua kaki inilah yang nantinya akan menjadi modalku dalam meraih masa depan. Mengejar impian dan juga menunjangku untuk melebarkan usaha.


Bersambung ...


——————————


Maklumi typo masih ada aja 😋


Jika ingin memberikan VOTE, silakan buka judul KEBAHAGIAN TAK SEMPURNA karena ini lanjutannya dan jadikan satu vote-nya ke judul itu. Oke?


Terima kasih untuk kalian semua.


(season awal/pertama/satu sedang tahap revisi.) Favorite-in aja dulu judul ini, nanti aku kasih tahu kalau revisi sudah selesai dan kalian bisa membaca ulang.


Trus aku juga sedikit mengubah alur di sini, karena ingin mengalihkan bagian scene yang Lisa pergi ke Bali buat skidipapap sama judul dulu. Tolong hargai keputusan aku buat mengembalikan alur ini. Tapi semua alurnya tetap akan menjadi satu kesatuan, hanya mengalihkan saja bagian 'itu'. Karena tidak ada collaboration lagi selain Tiga Mba Getir. Terima kasih.


Sekian dulu,


Babay 💋


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2