Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 54


__ADS_3

"Emang Mamah mau ngasih kado apa ke Max?" tanyaku saat berjalan santai di mall dengan menggendeng tangan Mamah.


"Mamah juga bingung. Sebenernya apapun yang kita beliin buat dia, dia bisa beli sendiri."


"Jadi kita ngasih apa dong?"


"Kamu ga ada ide apa? Mamah kan ngajak kamu biar kamu bantuin Mamah mikir."


"Aduh Mah, boro-boro mikirin kado, aku aja lupa kalo dia ultah hari ini." sewotku.


"Astaga kamu ini keterlaluan ya!" pekik Mamah sambil menjewer telingaku.


"Aduuh aduuh Mah, ampun ampun." jawabku spontan, Mamah melepaskan jewerannya, "Kan sakit Mah, tega deh!"


"Kamu tuh yang tega. Berarti kamu belum nelpon ngucapin dong?" cerca Mamah lagi sambil menggiring ku memasuki sebuah toko.


"Ya belum. Ntar aja sekalian malam ini."


Aku melepaskan gendengan tanganku pada Mamah lalu segera melihat-lihat barang yang ada di dalam toko itu.


**********


Jefri POV.


Tookk..


Tookk..


Tookk..


Ku ketuk pintu rumah Pablo. Ku lihat sekeliling, tidak ada bel. Ku ketuk sekali lagi.


Tookk..


Tookk..


Tookk..


"Sorry, siapa ya?" ucap seseorang dari belakangku.


Aku berbalik. Ternyata itu suara Pablo. Dia terkejut melihat aku yang berdiri di hadapannya didepan pintu rumahnya.


"Gua mau ngomong." tegasku.


"Sorry, kita ngomong disini aja ya?" tawarnya sambil menyodorkan sebuah kursi santai didepan rumah.


Aku mengangguk, "Apa kabar lu?"


"Gua baik. Ada urusan apa lu kesini?"


"Nih.." ku sodorkan sebuah amplop padanya, "Lu baca aja isinya. Jangan sampai ada yang kelewat."


Pablo membuka amplop itu dengan wajah gusar. Membaca secarik kertas dengan seksama. Terlihat raut wajahnya yang berubah menjadi kaget. Aku memperhatikan setiap inchi perubahan wajah hingga gerak-geriknya.


"Apa-apaan nih?" serunya padaku.


"Itu hasil tes DNA dari Paul, anak Paula. Disitu tertulis jelas kalo dia bukan anak gua."


"Trus maksud lu liatin ini ke gua?"


"Gua mau minta lu buat tes DNA. Gua udah putus sama Paula. Dan gua ga mau Paula bikin alesan macem-macem lewat Paul biar gua ga ninggalin mereka."


"Kenapa gua?"


"Lu ga usah pura-pura lagi. Waktu gua pisah sama sama dia, kan dia sama elu?"


"Tapi akhirnya sama elu lagi kan?"


"Iya, sama gua, tapi ternyata waktu itu perut nya udah isi. Gua sempet curiga sih, soalnya sebelum dan sesudah ngelahirin dia gak ngabarin gua. Tau-tau udah 8 bulan aja umur tu anak." ceritaku agak kesal.

__ADS_1


Pablo hanya diam, menatapi secarik kertas yang masih dipegangnya erat.


"Gua berkali-kali coba hubungin Paula, selalu ga direspon. Pernah gua ikutin dia ke supermarket, begitu liat gua, dia langsung teriak histeris, jadi gua lari. Gua juga pernah ke rumahnya, gua mau nanya itu anak siapa tapi tetep aja dia menghindar. Sampe akhirnya gua ngikutin dia kemanapun, ujungnya gua ditangkep polisi dengan Paula sebagai pelapor. Gua dianggap mengganggu kehidupan dia, mengancam nyawa dia dan anaknya."


Aku tertegun mendengar ceritanya. Selama ini aku menganggapnya sebagai perusak hubungan kami. Tapi nyata nya, aku yang memisahkannya dari darah dagingnya sendiri.


"Gua baru keluar dari penjara 2 tahun yang lalu. Mulai dari itu gua udah ga berani lagi deketin dia sama anaknya."


"Mending lu cepetan tes DNA deh, lebih cepat lebih baik." saranku lalu aku berdiri, "Besok temen gua kesini buat bawa lu ke lab. Gua pamit dulu."


"Jeff, thanks ya lu udah bantuin gua."


"Hm." jawabku sambil pergi meninggalkannya.


**********


Tika POV.


"Udah Mah?" tanyaku saat di kasir.


"Udah, kamu?"


"Aku belom dapet yang cocok. Kita keliling lagi ya bentar? Sekalian beli cake."


Aku mengajak Mamah berkeliling lagi sampai aku mendapatkan hadiah yang cocok untuk Max. Ya aku memilih sepasang sepatu pantofell yang mengkilat. Cocok dengan dia yang suka kerapian dan kebersihan. Setelah itu aku dan Mamah tidak lupa membeli sebuah cake ulang tahun yang simple.


Setelah semua selesai, Mamah segera mengantar ku kembali ke kantor.


"Gimana si Bos nyariin gua?" sapaku pada Metta yang masih fokus dengan kerjaannya.


"Gak, dia tadi cuman nanyain kerjaan gua aja."


"Nih buat lu, makasih yaa." ku berikan sekantong plastik berisi berbagai macam roti dan kue.


Aku kembali mengerjakan pekerjaanku yang sempat tertunda.


"Lu ga pulang Mett?" tanyaku pada Metta yang masih saja sibuk dengan keyboard nya.


"Bentar lagi, gua mau kelarin ini dulu."


"Kalo gitu gua duluan ya. Bye."


"Makasih ya oleh-olehnya." ucapnya setengah berteriak.


Aku menuruni tangga dengan tertawa kecil. Malam ini acara ultah Max dibuat meriah oleh istrinya, kakak iparku. Setahuku para undangan ada sebagian yang merupakan rekan bisnisnya. Dan seperti biasanya, acara ini bukan hanya makan malam biasa.


Aku sudah memesan sebuah gaun beberapa bulan yang lalu bersama dengan kakak iparku, Ka Shilla. Kami menggunakan gaun dengan warna yang sama, yaitu biru dongker.


Diperjalanan pulang, aku sempat memikirkan aksesoris apa yang akan aku kenakan nanti? Entahlah. Mungkin nanti bisa minta pendapat Mamah, pikirku.


🎢


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine...


🎢


Ponselku berbunyi.


Haikal calling.


Ku tekan tanda loudspeaker.


"Iya?"

__ADS_1


"Kamu dimana?"


"Dijalanlah, baru juga pulang ngantor. Kenapa?"


"Bilangin Mamah, nanti kalian aku jemput jam 7 lewat yaa. Kita bareng aja."


"Ninggalin UGD?" tanyaku.


"Ya sekali-sekali kan bisa. Lagian klo ga dateng ntar Max ngamuk!"


Aku tertawa lepas, "Ya udah, bye.."


Telepon berakhir. Aku tersenyum sepanjang jalan. Kedua kakakku ini memang punya karakter yang berbeda. Tapi mereka juga terkadang bersikap seperti anak-anak.


"Maaaaa, Mamaaaaahh!" teriakku saat menaiki tangga rumah menuju ke kamar Mamah.


Ceklek.


"Mah?" aku memasukkan kepalaku diantara celah pintu yang ku buka.


"Iya, kenapa?" sahut Mamah yang duduk didepan meja riasnya.


"Nanti Haikal yang jemput, jam 7 lewat. Katanya bareng dia aja perginya."


"Akhirnya, bisa juga dia ngelepas talinya." ucap Mamah yang lagi mengeringkan rambutnya.


"Tali?" aku bingung lalu memasuki kamar Mamah dan duduk di atas ranjang.


"Iya, kalo ga Mamah omelin dulu, baru deh dia mau lepas dari UGD nya."


"Oh Mamah yang ngomelin, pantesan dia ngabarinnya ke aku, bukan ke Mamah langsung."


"Ya kalo ga gitu, kasian Max. Mamah juga kan malu sama besan. Udah kamu siap-siap sana. Kamu tuh ntar yang ga ontime."


"Iya iyaa.." aku pergi menujur ke kamarku dan mulai bersiap-siap.


**********


.


.


.


.


.


Udah siap baper belum??


Jangan lupa like dan comment yah..


Siapa tau ada kritik dan saran buat cerita ini 😜


Jangan lupa bantu author untuk membagikan laman novel ini disemua medsos kalian, biar makin banyak yang baca dan jadi favorite.


Oh iya, author lupa..


Harap bijak dalam memilih bacaan ya..


Bagi yang imajinasinya terlalu tinggi jangan sampai cerita di novel ini dicoba-coba dalam kehidupan dunia nyata yah. Bahaya πŸ˜…


Author juga gak henti-hentinya berterimakasih untuk kalian semua yang selalu menunggu updatean setiap part nya.


Makasih juga buat kalian yang sudah mendoakan kesehatan author. Tanpa kalian semua author bukan apa-apa 😘


Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan kehidupan yang membahagiakan yaa.


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2