Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 17


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Max POV.


Sekilas memori otakku kembali menampilkan kilas balik saat aku masih kecil. Saat di mana aku baru saja mendapatkan seorang adik laki-laki. Setelah setahun berselang aku mendapatkan adik lagi dan kali ini perempuan, yaitu Tika. Sangat senang rasanya. Begitu pula kedua orang tuaku.


Dan tambah lengkap lagi kebahagiaan mereka, saat mendengar kabar jika istrinya om Rizal melahirkan dan mendapatkan bayi perempuan juga. Om Rizal adalah asisten papah, satu-satunya orang kepercayaan papah, yang mana beliau adalah ayahnya Lisa.


Jadi bisa dipastikan, bahwa umur Lisa dan Tika hanya terpaut beberapa hari saja. Hingga akhirnya setelah lulus SMP mereka berdua kembali akrab sampai sekarang. Menjalani hari-hari terberat bersama, melewati hari-hari terburuk juga berdua. Saling mengingatkan dan saling menguatkan. Aku terkekeh saat mengingat itu semua.


Kemudian aku kembali mengingat akan rencana Lisa yang akan melanjutkan sekolahnya ke luar negeri, kota London tepatnya. Om Reza yang memberi tahuku saat kami asyik mengobrol. Beliau adalah pengganti posisi pak Rizal yang mana, beliau adalah saudara kandung ayahnya sendiri.


“Aku denger kamu dapet beasiswa kuliah di London,” selidikku. Lalu menatapnya, menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


“Iya.”


“Kapan berangkat?”


“Satu minggu lagi.” Lisa menjawab dengan sangat singkat. Padahal aku ingin Lisa bisa kuliah bersama Tika di Malang. Agar aku ataupun mamah bisa dengan mudah mengontrol serta mengunjungi mereka berdua. Sebab aku masih ingat betul akan tanggung jawab yang mamah janjikan kepada kedua orang tua Lisa, saat mereka pergi untuk mengurusi masalah perusahaan papah.


Aku terkekeh geli. “Pasti nanti Tika minta beiin tiket buat liburan ke sana kalau dia kangen kamu.”


Lalu Lisa kembali menyahuti perkataanku tadi, “Apa kamu gak akan kangen aku nanti?”


Sontak ucapannya itu membuatku terkejut, aku menoleh padanya yang ternyata juga sedang menatapku. Tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Sedangkan Lisa tiba-tiba saja mengubah posisi duduknya. Menjadi lebih dekat dan menghadap tepat di sampingku. Ia menatapku dengan intens, menunggu jawaban yang akan aku ucapkan. “Pertanyaan kamu gak salah?”


Sebuah pertanyaan yang tergoling bar-bar yang Lisa ajukan padaku. Dan aku tidak menyangka jika ia akan seberani ini mengajukan pertanyaan itu.


Tapi aku akui, Lisa adalah seorang wanita yang baik. Ya, dia sudah pantas untuk aku sebut sebagai wanita. Sebab ia sudah berhasil menyelesaikan masa sekolahnya dan kini memasuki masa kuliahnya. Bahkan dengan kondisinya saat ini, yang mewajibkan ia harus berpola pikir seperti wanita mandiri pada umumnya, membuat aku salut padanya. Dan sikap itu ia tularkan pada adikku yang kini perlahan meninggalkan sikap manjanya. Aku bersyukur untuk itu.

__ADS_1


Namun, semua itu tidak lantas membuat aku tertarik padanya. Karena sedari kecil aku hanya menganggapnya sebagai adikku, tidak lebih. “Kamu sama kayak Tika, adik aku.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, aku langsung berdiri dari tempat dudukku, berniat untuk segera pamit dan mengakhiri obrolan aneh di antara kami. Tapi siapa sangka, baru saja aku hendak berdiri, Lisa sudah menjatuhkan tubuhnya padaku. Membelit pinggangku dengan kedua tangannya dan telinganya yang menempel pada dadaku.


Aku terkejut, akan tetapi akibat wangi dari aroma helaian rambutnya, mampu membuatku tiba-tiba saja menikmati dekapannya itu. Hingga tanpa sadar aku membelai kepalanya. Bukan! Bukan tanpa sadar, melainkan dengan kesadaran penuh. Tapi tidak lebih, hanya sekedar membelai kepalanya, sama saat aku membelai kepala Tika saat ia memelukku.


“Aku memang adik kamu, tapi kita gak sedarah.” Lisa terus saja menolak apa yang menjadi keputusanku. Ia tidak bisa menerima semua perkataanku. Direnggangkannya pelukan itu, ia mendongakkan kepalanya menatapku lalu berkata, “Bukankah kakak-adik yang gak sedarah boleh saling mencintai?”


Pertanyaan bar-bar lainnya yang keluar dari mulutnya membuat aku benar-benar merasa mati akal. Tapi dengan posisi kami yang seperti ini dan dengan tubuhnya yang menempel sempurna padaku, rasanya bullshit jika aku tidak berpikir liar. Dan lagi, aku adalah lelaki normal, yang pasti akan tergoda jika diperlakukan seperti ini.


Namun, berkali-kali aku mencoba menepis pikiran liarku. Menguatkan pendirianku.


Aku mencengkram kedua bahu Lisa dan melepaskan pelukannya dari tubuhku. Lalu aku segera berdiri. “Lebih baik kamu mandi, bersihin pikiran kamu!” ucapku tegas kemudian berlalu, melangkah pergi menuju pintu depan dan keluar dari rumahnya.


Aku segera masuk ke dalam mobilku menyalakan mesinnya lalu menginjak pedal gas, melaju dengan kekuatan penuh untuk keluar dari kompleks perumahan itu. Pikiranku sungguh kacau. Aku tidak mengira jika Lisa akan senekat itu dalam mengungkapkan perasaannya. Terlebih lagi untuk mengungkapkannya padaku. Seorang kakak dari sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Tapi sebagai seorang lelaki, aku juga tidak bisa bersikap acuh seperti itu saja padanya. Aku lelaki normal, yang mana saat ini aku juga tidak memiliki pasangan. Tapi dia adalah sahabat adikku, tidak sepantasnya aku berpikiran seperti ini. Semua kalimat ini saling bersahutan di dalam otakku, mencari pembelaan masing-masing. Membuat perasaanku semakin tidak karuan.


Bersambung ...


__ADS_2