Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 42


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Lisa POV.


'Iya, dia memang akan meninggalkan aku untuk selama-lamanya!' jawabku dalam hati.


Aku memang benar-benar wanita lemah. Cinta pertama memang selalu menyakitkan seperti ini. Banyak pasangan di luaran sana yang gagal dalam mempertahankan cinta pertamanya. Mungkin banyak faktor penyebabnya. Tapi cinta pertama untukku, mengapa harus seperti ini?


Gantung dan tidak jelas bagaimana arahnya.


Dan bodohnya lagi, mengapa aku masih bisa merasakan cinta pertama yang tidak jelas ini? Padahal saat ini sudah ada lelaki yang jelas-jelas benar menyayangiku. Memperlakukanku dengan sepantasnya dan tidak pernah menyakiti hatiku. Aku memang bodoh!


Semakin erat aku memeluk Dave, sambil mengembuskan napas untuk membuang semua pemikiranku tentang Max. Sekaligus untuk menguatkan hatiku kembali. Jika Max memang hanya sebuah mimpi yang tidak akan terwujud. Sedangkan yang aku peluk saat ini lebih berharga di bandingkan yang lainnya.


Berharga bukan hanya karena hartanya yang mampu untuk menghidupi dan menaikkan derajatku. Tetapi juga karena Dave terlihat sangat tulus menjalin hubungan denganku. Bukan hanya karena kenikmatan tubuhku semata.


Aku tidak ingin lagi terjebak dalam sebuah fatamorgana, jika ujung-ujungnya semua itu hanya sakit yang aku dapatkan. Ya, aku harus memulai semuanya lagi dan aku benar-benar harus menjauh darinya, yang mana artinya, mungkin aku juga harus menjauh dari Tika. Dan mungkin memang ini caranya. Tetap dekat dengan Tika akan membuatku semakin sakit.


“Gimana kalo kita jalan? Sambil makan siang. Kamu mau gak?” ucap Dave tiba-tiba membuatku mendongakkan wajah memandanginya.


“Ke mana?”


“Ke mana aja, biar mood kamu kembali lagi. Aku gak mau lihat kamu yang sedih seperti ini.”


Aku tersentuh dengan kalimatnya itu. Apa sebegitu cintanya lelaki ini padaku? Apa dia sungguh ingin membuatku bahagia dengan layak seperti wanita lainnya?


Sebuah senyuman aku kembangkan di wajahku untuknya, khusus hanya untuknya. Lalu aku bergerak memajukan wajahku, mencecap bibir tebalnya dengan lembut. Dave membalas perlakuanku itu juga dengan begitu lembut dan tanpa sebuah nafsu.


'Sepertinya aku memang harus kembali belajar mencintainya lebih dalam lagi, seperti seekor angsa yang setia kepada pasangan seumur hidupnya,' batinku.

__ADS_1


**


Rencananya siang ini Dave akan membawaku makan siang terlebih dahulu di salah satu restoran favorite-nya. Di salah satu sudut kota London yang memesona ini. Dave juga memesankan menu makanan kesukaannya untukku.


Selama makan siang, mataku tidak ada henti-hentinya untuk terus menatapnya. Mengabaikan pemandangan di sekitar restoran hingga Dave tiba-tiba menyadari tingkah laku anehku itu.


“Kenapa ngeliatin aku terus?” ucapnya menoleh padaku. Aku menggelengkan kepala sembari terus menatapnya sambil mengunyah makanan.


Dave melepaskan jemarinya dari garpu dan juga pisau yang ia gunakan untuk makan. Lalu membenarkan posisi duduknya, menghadap kepadaku dengan tatapan matanya yang tajam.


“Ada apa?” tanya dengan lembut.


Aku melipat sebelah tanganku dan menempelkan daguku di sana untuk menopang kepalaku lalu berkata, “Apa kamu mencintai aku?”


“Tentu!” jawabnya tegas dengan raut wajahnya yang juga begitu serius.


“Alasannya? Berikan aku alasan yang masuk akal.” Aku memintanya.


Ucapan Dave itu terdengar sangat tulus di telingaku. Terdengar begitu jujur tanpa paksaan dan juga tanpa nafsu. Seolah dengan spontan terlontarkan begitu saja dari mulutnya ... dan itu menurutku.


Aku tatap kedua matanya dengan lekat. “Bukankah cinta butuh alasan?”


“Bagiku tidak,” sahutnya dan dia kembali menyantap makanannya. “Cinta tidak butuh alasan. Cinta akan membuat otak kamu berpikir, tetapi kamu tidak akan mendapatkan jawabannya, karena cinta itu kebahagiaan. Dan jika kamu sudah menemukan kebahagiaan itu, maka di situlah cinta kamu berada.”


Lagi-lagi Dave membuat otakku berpikir. Dia senang memainkan kosakata dalam ucapannya itu hingga aku selalu merasa tertantang untuk mencerna setiap kalimat yang dia ucapkan. Kemudian merasa senang jika sudah mengerti dengan maksud ucapannya.


Seperti saat ini, aku merasa senang bisa mengerti arti ucapannya dan bertukar pendapat dengannya. Dia selalu membuatku bahagia dengan caranya. Dia selalu mampu menghilangkan rasa jenuh dan kesepianku karena tinggal di kota ini seorang diri. Hidup sendiri, jauh dari keluargaku. Dan Dave benar-benar membuatku bahagia.


**


Selesai makan, Dave kembali membawaku ke suatu tempat yang sebelumnya tidak pernah aku kunjungi, yaitu Royal Ascot. Tempat ini adalah salah satu tempat pacuan kuda termahal di kota London sejak muncul pada tahun 1711. Tempat kuda terbaik dunia bersaing untuk memenangkan hadiah utama sebesar lebih dari 5 juta pound.

__ADS_1


Keluarga Kerajaan Inggris memiliki ikatan erat dengan Royal Ascot dan Ratu Elizabeth II selalu menghadiri acaranya setiap tahun. Lebih dari 300.000 orang datang ke acara ini setiap tahun pada bulan Juni. Namun, ada peraturan formal dan ketat yang diberlakukan di sana, terkait dengan pakaian yang dikenakan jika ingin menghadiri acara pacuan kuda itu.


Untuk wanita harus mengenakan topi atau hiasan kepala serta gaun yang pantas dikenakan saat musim panas, sedangkan sang pria harus mengenakan jas, kemeja, dan juga dasi. Aturan ini membuat Royal Ascot menjadi seperti acara mode fashion ternama dari tahun ke tahun hingga saat ini. Banyak para selebriti dan juga keluarga kerajaan yang datang ke tempat itu.


Oleh karena itulah, sebelum kami pergi ke sana, Dave mengajakku untuk berbelanja ke salah satu butik langganannya. Para pekerja di butik itu terlihat ramah dan juga sudah mengenal Dave, tentunya. Lalu salah satu pekerjanya diminta Dave untuk membantuku memilihkan pakaian mana yang cocok untukku. Yang cocok dengan bentuk tubuhku.


Tidak hanya aku, Dave juga mengganti pakaiannya. Lalu kembali menghampiriku yang sudah dua kali berganti gaun.


“Aku suka yang ini,” seru Dave begitu melihatku yang sedang bercermin, memantaskan gaun yang aku kenakan.


'Ya, memang sangat cocok di tubuhku, terlihat classy dan juga seksi,' pikirku.


Kemudian secara mendadak dia menjentikkan jarinya lalu berdiri, melangkah menuju sebuah meja persegi di tengah ruangan lalu menunjukkan sesuatu di sana. Seorang pekerja lainnya segera menarik bagian samping meja yang membuat sisinya terbuka, lalu dia mengambil sesuatu dari dalam sana.


Fascinator. Itulah namanya untuk sebutan sebuah aksesori di atas kepala yang biasanya digunakan oleh wanita di kota ini. Biasanya benda itu berbentuk layaknya sebuah topi kecil. Para wanita di kota ini selalu menggunakan fascinator jika mereka ingin menghadiri acara-acara formal. Entah itu pernikahan ataupun upacara penting.


Dave langsung meletakan fascinator itu di atas kepalaku dan dibantu oleh pekerja lainnya untuk melekatkannya. Lalu Dave menyelipkan wajahnya di atas pundakku sambil memegangi kedua pinggangku dari belakang lalu berkata, “Perfect!!” Kemudian dia mengecup tengkuk leherku di depan banyak pekerja butik ini, membuatku malu setengah mati.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Babay 💋


Terima kasih.


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2