Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 48


__ADS_3

"Gua ga tau lu sama Jefri ada problem apa. Yang jelas semuanya mesti clear secepetnya. Dan gua harap lu bisa ngomong sesuai kata hati lu, gua kenal banget sama pribadi lu yang begini." ucap Lisa blak-blakan sambil menyisir rambutku setelah aku selesai mengenakan bajuku.


"Lu pasti kejebak sama otak hati lu yang ga sinkron itu. Inget, kalo lu ragu, mending ga usah sama sekali lu kerjain. Tapi kalo lu kepingin tau hasilnya, kerjain dulu, pake cara yang mana aja, ntar klo hasil udah keluar baru lu perbaiki. Kalo gua sih selalu berusaha gitu." lanjutnya lagi lalu meletakkan sisirku di meja.


Aku sudah rapi dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Aku hanya mendengarkan Lisa yang sedari tadi berceloteh ria seperti berdogeng untukku.


"Lu turun aja, samperin Jefri. Gua nunggu disini. Malam ini gua temenin lu tidur disini. Oke?"


Aku tersenyum mengangguk menatapnya dari pantulan cermin.


Toookk..


Toookk..


Toookk..


Ceklek..


"Eh ada Lisa juga toh, Mamah mau pinjem hairdryer." ujar Mamah memasuki kamarku dan mendekati kami di meja rias ku.


Ku ambilkan hairdryer yang Mamah maksud, ku berikan, "Mamah mau kemana?"


"Mau nemenin Tante Sasa nyari oleh-oleh buat keluarganya. Mamah pinjem dulu ya?"


Aku mengangguk perlahan.


"Lisa disini aja kan? Nanti pulang Mamah beliin camilan buat kalian. Ya?"


"Iya Tante, Lisa nginep disini malam ini." sahut Lisa tersenyum.


Mamah keluar dari kamarku, lalu tak lama berselang aku juga keluar dari kamar menuju halaman belakang.


Kini ditanganku sudah ada 2 cangkir kopi, yang satu black coffe yang satunya lagi cappuccino. Ku lihat Jefri duduk di salah satu kursi jemur. Memandangi taman disekitaran kolam renang. Aku berjalan mendekatinya. Ia menoleh lalu tersenyum. Aku tersenyum membalasnya.


"Black coffee?" tawarku sambil menyodorkan salah satu cangkir.


Dia menyambutnya dengan kedua tangannya, "Thanks."


Aku mengambil posisi duduk di kursi jemur yang lainnya. Jaraknya lumayan jauh. Ku tangkupkan kedua telapak tanganku pada dinding cangkir. Aku menundukkan wajah, menatapi cangkir kopiku.


"Kok jauh banget duduknya?"


"We just talk, right?" aku membatasi diri.


Jefri tersenyum. Lalu ia menghirup kopinya.


"Aku bingung harus mulai dari mana. Tapi aku tau aku salah." dia menundukkan kepalanya, menatapi secangkir kopi ditangannya. Aku memperhatikannya dalam diam.


"Kejadian di mall tadi siang ga seperti yang kamu bayangin. Anak itu bukan anak aku, bukan darah daging aku. Tapi... Mamanya memang punya hubungan sama aku. Kami pacaran. Kamu pasti udah denger kan dari anak-anak kalo aku udah punya pacar?" sambil menatapku.


Ada rasa lega, namun ada pula rasa sakit yang aku rasakan. Lega karena dia bukan seorang ayah atau pun suami, namun sakit ternyata benar dia memiliki kekasih. Sekali lagi aku memaki diriku sendiri dalam hati. Aku tidak sanggup berkata-kata, ku balas hanya dengan anggukkan kepala.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


Sekali lagi, aku hanya mengangguk, mencoba untuk tenang sambil sesekali menghembuskan nafasku dengan kasar.


Jefri berdiri, melangkah mendekat, lalu duduk setengah bersila di sampingku, "Sejak kapan kamu sadar punya rasa buat aku?" bisiknya lirih.


Jarak antara mulutnya dengan telingaku hanya dua jengkal. Belum lagi wangi tubuhnya menggeser oksigen yang hendak memasuki lubang hidungku. Diposisi ini pula, telingaku dengan jelinya bisa mendengar hembusan nafasnya.


"Tikaaaaaa....." seru Mamah yang berjalan mendekati kami, "Eh ada Nak Jefri, apa kabar? Sudah lama banget ga main kesini, sibuk kemana aja?" sapa Mamah santai.

__ADS_1


Aku kaget namun berusaha tenang. Sebenarnya aku ingin menggeser sedikit pantatku, terlalu dekat jarak kami duduk. Tapi entah kenapa kaki dan pantatku seolah kompak untuk tidak bisa bergerak.


"Iya Tante, aku sibuk kerja, bulan-bulan ini kan tambang lagi produksi jadi kadang bisa lembur." jelas Jefri santai.


"Oh pantesan. Oh iya Sabtu depan ulang tahun Kakaknya Tika, Max. Nak Jefri dateng ya? Bisa kan?" ajak Mamah.


Aku terkejut, kenapa Mamah mengundangnya? Batinku dengan raut wajah yang tidak biasa, "Mah, itu kan acaranya bukan kita yang adain? Ga enak dong sama Ka Shilla.."


"Ga papa kok. Acaranya di Twilight Palace, jam 8 malam. Kalo bisa dateng ya?" celoteh Mamah lagi.


"I-iya Tante, aku usahain."


"Ya udah, Tante tinggal dulu ya. Lisa tadi belum turun? Mamah jalan dulu deh ya, muach!" sambil mengecup pipiku.


Mamah pergi meninggalkan kami. Aku melemparkan pandanganku ke kolam sambil menghembuskan nafasku.


"Kalo kamu ga mau aku dateng ke acara Max, ga papa kok. Aku bisa bilang sibuk sama Mamah kamu." ucapnya memecah keheningan.


Aku tidak sanggup untuk menatapnya karena jarak yang terlalu dekat sekarang. Pandanganku masih mengarah ke kolam renang. Pikiranku mulai kacau.


"Pertanyaan aku tadi belum kamu jawab."


"Terserah kamu mau dateng apa enggak, kan Mamah yang ngundang, bukan aku." jawabku mencoba santai.


"Bukan itu pertanyaan aku."


"Trus pertanyaan yang mana? Emang ada nanya?" aku mulai sewot dan menoleh melihatnya.


Jefri tersenyum sumringah, diletakkannya secangkir kopi yang sejak tadi di pegangnya, "Tadi kan aku nanya... Sejak kapan kamu suka sama aku?" ujarnya dengan nada yang mendayu-dayu, sengaja.


Aku rasa aku malu. Mungkin saat ini wajahku terlihat merah seperti kepiting rebus, tapi aku tetap berusaha rileks.


"Emh.. Emang aku pernah bilang suka sama kamu?" tanyaku tanpa berani melihat kedua matanya.


"Kan aku nanya.."


"Kamu emang ga pernah bilang suka, tapi aku inget, kamu pernah bilang kalo 'cinta ga butuh alasan'. Dan itu keluar dari mulut kamu sendiri." jelasnya sambil mendekatkan wajahnya, "Inget gak?"


Lama aku terdiam. Hingga Jefri mengambil secangkir kopi ditanganku dan meletakkannya didekat cangkir kopinya. Aku masih tidak menatapnya. Lalu ia menggenggam tanganku.


"Tadi siang aku putus sama Paula. Aku udah tau semua kebohongan Paula. Anak-anak yang bantuin aku buat nyari tau kebenarannya." lalu dia mengecup punggung tanganku.


Aku menoleh, melongo melihatnya. Bukan karena dia mengecup tanganku tapi karena kalimatnya. Apa aku ga salah denger? Dia udahan sama cewe yang bertahun-tahun ngisi hari-hari nya? Aku salah denger kali nih, batinku.


Spontan ku tarik tanganku, "Kamu bilang apa tadi?"


"Anak-anak bantuin aku...."


"Bukan itu, sebelumnya?"


"Paula bohongin aku selama ini."


"Bukan.. Bukan.. Sebelumnya lagi.."


"Ohhh aku udah putus sama Paula." ucapnya santai sambil mengerdikkan kedua bahunya.


"Kenapa? Kok bisa?"


"Pokoknya udah putus aja."


"Trus?"

__ADS_1


"Ya udah gitu aja."


"Teruuuussss?" ada rasa bahagia yang muncul, sudut bibirku mengembang sedikit namun ku tahan.


Sekali lagi, Jefri mengerdikkan kedua bahunya lalu tersenyum padaku. Perlahan tangannya melepas tanganku kemudian memelukku dari samping. Mencium tekuk ku kilas. Lalu menaruh dagunya di bahuku.


Aku agak menjauhkan wajahku saat menoleh, "No!!"


"Whaaat?" pekiknya.


"Lepasin."


"Loh kenapa? Ga boleh meluk kamu?"


"Haha (tertawa sarkas) jangan keenakkan ya." sahutku lalu segera bediri, "Kamu pikir aku percaya?"


Jerfi meraih tanganku. Menatapku dengan wajah memelasnya, "Aku serius, aku udah putus sama Paula."


"Trus kalo kamu udah putus, emang ada hubungannya sama aku?"


"Ya adalah, kan aku sayang kamu." akunya.


"Apa? Sayang? Jangan ngomong bullshit deh." kulepaskan tanganku dan segera pergi masuk ke dalam rumah.


Hari mulai gelap, angin terasa makin dingin. Sweeter yang ku gunakan tidak mampu menahan hawa dingin tersebut.


"Tik, tunggu dong, aku serius ngomong ini.."


Aku menoleh padanya yang mengejarku di belakang, "Kamu putusin cewe itu karena kamu sayang aku kan? Gitukan tadi kata kamu? Yakin kamu sayang? Bukan nafsu sama aku?" nada bicaraku mulai meninggi.


Jefri melongo mendengar perkataanku, "Kamu kok....."


"Apa? Aku sarkas? Iya aku sarkas, yakin masih mau sama cewe sarkas?" aku berbalik lagi berjalan menuju dapur.


Mengambil gelas dan menuangkan air kedalam nya. Jefri masih mengikuti langkahku. Aku meneguk habis air di gelas itu perlahan, sambil memperhatikan Jefri yang masih saja menatapku.


Ku letakkan kembali gelas yang telah kosong itu di meja kitchen.


"Apa? Masih ada yang mau di omongin?"


"Aku ga ngerti deh sama kamu, tadi lembut sekarang jadi kasar. Ntar na......"


Aku tersenyum terpaksa, "Itu sisi lain diri aku yang gak kamu tau. Masih banyak lagi kok yang jelek-jelek dari aku. Yakin yang kamu rasain itu sayang, bukan nafsu sama tubuh aku?"


"Aku yakin." jawabnya mantap.


Aku mengerdikkan bahuku, "Kalo gitu ya buktiin dong."


"Apaan nih yang mesti di buktiin?" sambar Lisa yang tiba-tiba muncul di belakang Jefri.


Aku kaget, sekilas ku lirik Jefri yang masih setia memandangiku, "Ga papa kok Sa." aku tersenyum.


"Oh iya, kata nya tadi kamu mau pulang kan?" usirku halus pada Jefri sambil tersenyum.


"Oh mau pulang lu Jeff?" tanya Lisa.


Jefri terlihat salah tingkah, "I-iya gu-gua pulang dulu, B-bye." Jefri langsung berbalik dan pergi.


Ya aku memang kasar padanya tadi. Aku akui itu. Memang sebenarnya ada rasa bahagia mendengar pengakuannya, tapi aku tidak bisa percaya begitu saja.


"Hmm, gua yakin makin runyam nih.." decak Lisa.

__ADS_1


Aku memutar kedua bola mataku sambil mengerdikkan kedua bahuku.


__ADS_2