Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 10


__ADS_3

Still Max POV.


Aku mencoba melupakan getaran yang terasa tadi kemudian kembali fokus pada masakan yang akan aku buat.


Sederhana saja. Rencananya aku akan membuat capcay. Yang isinya semua full dengan sayuran. Aku mengambil beberapa bahan yang tadi aku beli. Ada sawi putih, brokoli, kol, wortel, kentang, baby corn dan tomat hijau. Semua bahan itu aku cuci lalu kupotong halus sesuai seleraku. Ada yang kupotong panjang, kotak, pipih bahkan lembaran. Aku panaskan wajan yang berisi sedikit minyak goreng lalu masukan juga sedikit margarine. Tumis bawang merah dan bawang putih yang sudah dirajang halus bersama dengan irisan bawang bombay serta cabai. Tambahkan potongan daging ayam, udang, jamur dan juga irisan baso. Aduk dan diamkan selama kurang lebih 5 menit. Kemudian masukan kembali semua jenis sayuran yang tadi telah dipersiapkan, aduk-aduk. Bubuhkan sedikit garam, gula dan bumbu saos tiram agar lebih gurih. Aduk sambil masukan sekitar 100 ml air dan biarkan sampai mendidih. Setelah mendidih, terakhir masukan larutan tepung maizena dan aduk hingga mengental. Kini capcay sederhana buatanku telah selesai kubuat.


Sebuah senyuman merekah di kedua sudut bibirku. Aku merasa puas dengan melihat hasil masakan yang sudah tersaji di dalam wajan. Lalu aku mengambil dua buah piring makan yang sebelumnya sudah diberitahukan Lisa di mana letaknya, menuangkan capcay itu ke masing-masing piring, membaginya sama rata.


Perlahan aku melangkah, membawa kedua piring makan itu menuju ke meja makan dan menatanya. Menyediakan dua buah gelas yang terisi dengan air mineral. Sambil melirik pintu kamar Lisa yang masih tertutup dengan rapat. Tidak ada suara apapun yang dapat aku dengar dari sini. Bahkan suara gemerecik air dari dalam kamar mandinya pun tidak terdengar. Aku menghela napas, lalu mengangkat kedua bahuku untuk menyatakan masa bodoh dengan apa gang dilakukan Lisa di dalam kamarnya sendiri.


Sambil menunggunya keluar dari kamarnya, aku kembali memyelesaikan membereskan beberapa belanjaan yang belum sempat aku letakkan di dapur. Seperti beberapa camilan dan beberapa botol minuman kotak serta kaleng yang kumasukan ke dalam kulkas. Ada sedikit rasa bangga melihat isi kulkas Lisa yang terisi lumayan lengkap. Yah, paling tidak ia bisa memasak sendiri juga saat sedang malas keluar rumah nanti.


Setelah selesai dengan semua itu, aku melepaskan celemek yang kukenakan lalu menggantungnya di sandaran kursi meja makan dan aku duduk di kursi tersebut. Aku melirik jam tanganku, sudah hampir sekitar tiga puluh lima menit Lisa di dalam sana. Lagi-lagi aku mengembuskan napasku dengan kasar, merogoh saku celanaku lalu mengambil sebuah benda tipis yang lumayan canggih. Aku memainkan ponselku untuk memb*nuh rasa jenuh sembari menunggu.


Beberapa menit berlalu, pintu kamar Lisa akhirnya terbuka. Ia keluar dengan baju piyama tidurnya dan lengkap dengan bagian atas rambutnya tang terlilit dengan handuk. 'Pantesan lama, dia keramas toh!' ungkapku dalam hati sambil menganggukkan kepalaku. Lisa berjalan mendekati aku yang sudah siap menyantap masakanku di meja makan. Aku melepaskan poselku, menaruhnga di samping piring makan.


"Kenapa gak makan?" tanyanya polos. Aku kembali menghela napas pelan lalu mengedipkan kedua mataku sekilas dan menatapnya lagi. Pertanyaan yang ia lontarkan ini seakan tidak ada rasa bersalahnya. Padahal jelas-jelas aku menunggunya untuk makan bersama.


"Nungguin, masa makan sendiri." Aku sengaja mengatakan itu, agar dirinya merasa bersalah karena telah membiarkanku menunggu lama. Tiba-tiba saja perutku berbunyi dan bunyi itu terdengar jelas sampai ke telinganya, membuatnya sontak tertawa seketika.


Aku mengusap wajahku, kemudian menyuruhnya untuk cepat duduk di kursi sebelahku dan memulai makan. Tapi sebelum itu, aku merasa ada satu hal yang kurang. Kupandangi dengan lekat piring makan di hadapanku. Lalu kulihat Lisa yang malah melangkahkan kakinya masuk ke dapur lalu mengambil sesuatu di sana dan kembali dengan menunjukkan dua pasang sendok dan garpu yang lupa aku siapkan. Tanpa sadar sebuah senyuman kembali mengembang di wajahku. "Makasih." Aku mengucapkan rasa terima kasihku saat Lisa memberikan sepasang alat makan itu padaku.


Tidak lagi aku memerhatikan Lisa yang sudah duduk di kursi sampingku. Sebab, aku langsung mulai memakan olahan aneka sayur yang kumasak sendiri malam ini. Begitu pun dengan Lisa. Setelah setengah isi piringku habis aku baru sadar, bukankah seharusnya aku menanyakan bagaimana hasil masakanku pada Lisa? Aku menoleh lalu melihatnya yang sedang asik menyantap masakanku. Kuurungkan niatku untuk memberikan pertanyaan tadi, karena sepertinya dia menikmati masakanku.


Ada rasa puas dalam hati ini begitu melihat seseorang yang aku buatkan makanan, melahap habis apapun yang aku masak untuknya. Bahkan tanpa protes dan tanpa keluhan apapun, Lisa terus saja menelan habis isi dalam piring itu.


Dan untuk ke sekian kalinya, aku tersenyum merasakan perasaan ini saat melihatnya.


—————


Lisa POV.


Santai. Sebuah kata yang memiliki arti terbebas dari segala kondisi ataupun rasa ketegangan yang membelenggu jiwa. Dan arti kata itulah yang sedang aku lakukan hingga saat ini, mencoba bersikap santai. Sebab sejak lelaki ini muncul di depanku pintu rumahku, seketika jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


Belum lagi saat ia mengutarakan perhatiannya padaku. Menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, mengisikan isi kulkasku tanpa aku minta, lalu memasak untukku. Ya, aku menyebut semua yang ia lakukan malam ini untukku adalah bentuk perhatiannya padaku. Aku tidak peduli, ini adalah bentuk perhatiannya pada seseorang yang dianggap adiknya atau pada seorang wanita. Yang jelas ia melakukannya padaku, saat ini.


Sesekali aku mencuri pandang meliriknya yang sedang asyik melahap masakannya sendiri. Aku akui, capcay ini memang begitu lezat. Mulut dan lidahku seakan tidak mau untuk berhenti mengunyah makanan ini. Menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam rongga mulutku. Hingga akhirnya isi piringku habis kumakan. Aku meraih gelas minumku lalu meneguknya beberapa kali tegukan.


"Enak?" tanya Max, secara tiba-tiba ia melontarkan kalimat itu membuatku terpekik. Untung saja air di dalam mulutku sudah habis kutelan, jika tidak, bisa-bisa semua isinya tersemprot bebas ke depan wajah dan membasahi pakaiannya itu. Kujawab cepat hanya dengan anggukan kepala.


Selesai makan, aku memutuskan untuk mencuci piring sekalian membersihkan dapur. Sedangkan Max memilih untuk merokok di halaman teras belakang. Sesekali aku memandanginya dari jendela yang ada di hadapan tempatku mencuci piring. Bahkan aku beberapa kali tersenyum melihatnya.


Terlintas sebuah pemikiran yang terlalu nakal bagiku.


Apa begini rasanya jika serumah dengan Max?


Dibuatkan makan malam jika ia telah selesai bekerja. Aku tertawa geli membayangkan semua itu. Lalu tersenyum miris, andai saja semua itu bisa terwujud, tapi sayang, Max melakukan semua ini hanya karena aku sudah dianggapnya sebagai adiknya. Yeah, jadi untuk apa repot-repot aku kembali memikirkannya?


Aku memutuskan untuk sejenak menonton televisi sambil menurunkan isi makanan dalam perutku. Lalu tiba-tiba saja, Max juga ikut menonton televisi. Saat aku menoleh, ia juga membalasnya dengan senyum simpul di wajahnya. Tanpa aku sadari, aku terlarut dalam situasi yang mana membuat mataku mengantuk dan akhirnya tidur terlelap.

__ADS_1


***


Cup!!


Sebuah ciuman dalam tidur dapat aku rasakan. Tidak lama, hanya pertemuan antara dua bibir yang saling menyentuh permukaan. Tidak ada kelanjutan dan sentuhan itu mampu membuatku mengerjabkan mataku berkali-kali. Mencoba tersadar dari tidur yang lumayan


Orang yang mencium bibirku itu adalah Max. Ya, dia sedang menatapku saat aku membuka mata. Dengan setengah rasa keterkejutannya saat hendak beranjak dari duduknya di pinggiran ranjangku, aku menyelipkan tanganku, meraih lengannya.


"A good night kiss?" tanyaku dengan memegang lengan atasnya.


Entah sejak kapan aku sudah berada di dalam kamar dan di ranjangku sendiri. Mungkin saat aku ketiduran di sofa depan, Max langsung berinisiatif untuk mengangkatku, memindahkanku ke kamar. Ia juga sudah mematikan lampu kamar, hanya lampu tidur di samping ranjangku saja yang masih menyala. Dan di bawah cahaya temaram itu, kami masih bisa saling memandang. Dan jujur saja, detak jantungku kali ini berdegup dengan kencangnya.


Tidak ada suara ataupun kata-kata yang diucapkan olehnya. Dan untuk kedua kalinya ia hendak berdiri bangkit dari duduknya. "Temani aku." Lagi-lagi aku mengucapkan kalimat ambigu yang terdengar nakal.


Bagaimana tidak?


Untuk apa minta ditemani dalam kamar dan dengan cahaya lampu yang minim seperti ini?


Ditambah lagi dengan posisi kami yang saat ini berada di atas ranjang. Bukankah kalimat itu terlalu nakal untuk aku ucapkan?


"Jangan kayak ini, Lis," lirih Max dengan pandangan matanya yang berubah sendu. "Jangan terus-terusan menggodaku. Aku lelaki normal dan aku yakin, kamu juga wanita yang normal." Max meraih tanganku yang memegang lengannya lalu melepaskan pegangan tanganku itu.


'Aku menggodanya? Yang benar saja, dia yang sudah menggodaku dengan sebuah makan malam!' jeritku dalam hati.


Max beranjak berdiri dari duduknya, tapi tangan nakalku malah dengan spontan menarik ujung kemejanya yang sudah keluar dari celananya sejak ia memasak di dapur tadi. Ia menoleh saat merasakan bajunya kutarik. "Please ...," lirihku memohon padanya untuk minta ditemani saat ini.


Aku melihat dadanya yang menurun dan mengembuskan napas. Lalu tanpa mengatakan sepatah kata lagi, Max menaiki ranjangku lalu duduk bersandar di sampingku. "Jangan menyesal," lirihnya. Pandangan matanya lurus ke depan, ke arah televisi yang menempel di dinding kamarku, tapi dalam keadaan tidak menyala.


Aku berpaling menghadapnya, menyampingkan tubuhku lalu menatapnya dengan puas. Terbesit sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja ingin aku tanyakan padanya. Namun aku ragu untuk mengucapkannya, apa lagi saat ini detak jantungku tidak bisa diajak kompromi. Setelah berulang kali aku yakinkan hati ini, akhirnya aku memutuskan untuk melontarkan pertanyaan yang menyesakkan dadaku. Sebab jika tidak aku utarakan, mungkin aku akan merasa menyesal seumur hidup. Seperti ucapannya tadi.


"Aku boleh nanya?" lirihku pelan, ia menoleh menatapku. Aku anggap tatapnya saat ini adalah sebuah bentuk jawaban dari rasa penasarannya pada pertanyaan yang akan aku ajukan. "Apa kamu gak sayang sama aku?"


Aku sungguh memberanikan diri untuk mengatakan kalimat itu. Bahkan setelah kalimat itu terucap, bukannya menjadi tenang, jantungku malah semakin kuat lagi berdetak. Hingga aku harus meraih sebuah bantal kecil dan memeluknya di dadaku dengan kedua tanganku.


Max semakin menatapku dengan lekat, lau berkata, "Bukannya pertanyaan itu sudah aku jawab beberapa hari yang lalu?" ucapnya tegas.


Aku tertunduk lemas. Aku pikir dia sudah melupakan kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian di mana aku terlalu liar dan terlalu berani padanya. Dan seharusnya aku bisa menahan diri, menyimpan rasa kagumku sendiri. Karena dari awal aku seharusnya tahu diri, sadar diri dengan statusku yang tidak seberapa ini. Dan lagi, dulunya orangtuaku bukan siapa-siapa sebelum bergabung bekerja pada perusahaan orangtuanya.


Belum lagi diriku sendiri. Aku bukan siapa-siapa. Bukan model, bukan artis, bukan anak pejabat atau pun anak dari seorang konglongmerat. Aku hanya Lalisa Florencia, gadis biasa yang memiliki cita-cita segudang. Memiliki banyak impian yang belum tentu akan terwujud. Aku hanya seorang wanita yang sebentar lagi akan mencoba peruntungan nasibnya di negeri orang. Aku mengembuskan napas beratku.


Tanpa terasa tanganku bergerak menyentuh jemarinya yang tepat ia letakkan di samping tubuhnya. Lalu menyelipkan jemariku untuk saling menggenggam. "Mungkin gak kalo aku gak kenal sama adik kamu, kita bisa sama-sama?" lirihku lagi. Kali ini kalimat yang aku ucapkan sungguh berasal dari lubuk hatiku.


"Mungkin." Suaranya yang tiba-tiba menjawab pertanyaanku itu sekejap membuatku terkejut. Aku mendongakkan kepalaku menatapnya, bagai sebuah air yang menyirami hatiku yang gersang. Bagai sebuah pelangi yang kudapatkan setelah badai menerpaku. Dan bagai sebuah kehangatan yang kurasakan setelah berbagai macam penolakan yang aku dapatkan.


Tangan Max menyentuh pipiku, mata kami saling beradu sedangkan tangannya yang tadi kugenggam kini terasa membalas genggamanku. Dengan perlahan ia memajukan wajahnya, mengikis jarak di antara kami. Sesaat aku dapat mendengar suara embusan napasnya, bahkan aroma wangi dari parfum yang ia gunakan pun langsung semerbak merasuk ke dalam rongga hidungku. Membuat cara kerja otakku menjadi lebih dewasa dari umurku saat ini.


Matanya yang tajam kini menatapi kedua bola mataku. Jemarinya yang masih menempel di pipiku kini terasa seperti mengelus lembut, ditambah dengan gerakan jempolnya yang sungguh menghanyutkan belaian itu. Aku turunkan arah pandanganku ke bibirnya yang tebal, membuat jantungku semakin tidak karuan. Dengan susah payah aku menelan saliva-ku begitu melihat ada sedikit celah yang terbuka pada kedua bibirnya. Aku mencoba menahan hasratku hingga akhirnya, Max yang kalah.


Cup!!

__ADS_1


Max kembali menempelkan bibir kami. Lalu ia menarik leherku agar memperdalam ci*man ini. Aku terkejut dengan reaksi yang ia berikan, tapi bukannya menolak aku malah menikmati. Memejamkan mata dan mencoba untuk tetap diam tidak bergerak. Sampai akhirnya dia melepaskan ciuman itu. Menempelkan kening dan menempelkan ujung hidung kami.


Napasnya menjadi semakin berat, begitupun dengan napas yang aku embuskan. Aku membuka mataku, mencoba menatapnya dengan jarak sedekat ini. Masih bisa kulihat matanya yang terpejam dalam keheningan.


"Sudah aku bilang, aku lelaki normal," bisiknya dengan sisa napas yang tersengal. Tidak banyak yang aku pikirkan saat itu. Hanya saja aku menginginkan hal yang lebih dari ini.


Aku mendorong tubuhnya, menempelkan kembali bibir kami. Bantal kecil yang tadinya kupeluk kini sudah menempel di antara dada kami, seolah menjadi pembatas. Namun aku dapat merasakan kedua telapak tangannya yang memegang pinggulku, lalu berubah menjadi sebuah cengkraman. Di saat itu terjadi, tiba-tiba Max mengeluarkan lidahnya dan menyelipkannya pada kedua bibirku. Aku yang terkejut sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk melakukan pertahanan, setidaknya untuk menutup bbibirku rapat-rapat.


Seketika Max mengubah posisi kami, ia mendekap tubuhku dengan lidahnya yang bergerak dalam rongga mulutku. Lalu membalikkan tubuhku menjadi di bawahnya. Mendadak ci*man yang dilakukan Max berubah menjadi sangat liar. Ia mencecap bibirku berkali-kali bahkan menyesap lidahku yang terbelit, saat aku mencoba mengimbangi gerakan lidahnya. Jujur, ini adalah yang pertama kalinya untukku. Sebab sebelumnya aku hanya melihatnya di dalam film-film atau bahkan mencoba membayangkannya seperti di dalam tulisan buku-buku novel dewasa.


Ya, dewasa. Ini adalah adegan dewasa, bukan adegan anak remaja yang masih berusia belasan tahun. Dan bukan pula hal-hal biasa yang termasuk dalam kategori remaja. Jika adegan kecupan seperti ini dianggap sebagai adegan remaja, berarti fix!! Yang menggolongkannya otaknya sudah tidak waras. Sebab apapun yang terjadi setelah ini, pastilah tidak bisa diindahkan lagi.


Dan benar saja, Max semakin brutal mengecapiku, tidak ada suara lain yang terdengar selain suara yang dihasilkan dari tautan lidah dan bibir kami. Aku semakin paham cara mengimbangi gerakan ini. Semakin lama malah aku yang semakin mengecap lidahnya, menyusuri rongga mulutnya, lagi dan lagi, hingga kudengar suara kekehan terlepas dari mulutnya. Membuatku menghentikan gerakan lidahku dan melepasnya.


"Kenapa?" tanyaku dengan napas tersengal, dan akhirnya aku dapat merasakan asiknya bermain lidah dengan orang yang kita sukai.


Max tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan, nyaris tak terlihat. Kini sebelah tangannya ia letakkan di samping kepalaku sebagai penyangga tubuhnya, lalu salah satu kakinya menin*ih kedua kakiku, seperti sedang memeluk guling kesayangan. Sedangkan tangannya yang satunya lagi, ia gunakan untuk mengelus pipiku.


"Masih ingat ucapanku di awal tadi?" Max dengan pelan bertanya padaku, tentang ucapannya.


Aku mencoba mengingatnya sebentar dengan bola mataku yang bergulir ke sana kemari, berharap mendapatkan jawabannya secepat kilat. "Apa? Lupa," jawabku pada akhirnya.


"Jangan menyesal," bisiknya pelan sambil kembali mengecup bibirku, membuat mataku membulat sempurna. Namun begitu lidahnya kembali bermain seketika mataku terpejam, terbawa sebuah rasa yang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Hingga membuat aku terbuai dan membalas gerakkannya.


Perlahan tapi pasti, aku rasa aku sudah dapat menguasai permainan di bagian ini. Aku sudah merasa paham betul dengan setiap gerakan yang dilakukan di sana. Aku sudah mengerti bagaimana harus membalas jika gerakan lidah yang seperti ini dan seperti itu. Bahkan sekarang aku bisa menikmati apa yang sudah aku baca dan aku lihat dengan kedua mataku. Merasakannya langsung dengan bibirku.


Cukup lama bibir dan lidah kami bertaut. Tidak ada lagi kecupan menggila seperti tadi, bahkan yang ini terasa begitu manis, lembut dan perlahan. Kami saling menikmati.


Terasa seperti sebuah sengatan listrik yang merayap pada sekujur tubuhku. Saat jemari Max menyelip masuk menyentuh tengkuk leherku. Ada perasaan bergidik yang tidak dapat aku ungkapkan. Max melepaskan tautan bibir kami, tapi bibirnya malah menempel pada sisi atas pipiku. Ia bernapas di sana, dengan jelas aku bisa mendengar napasnya yang membuat geli telingaku. Hingga akhirnya ia mengusap daun telingaku dengan ujung hidungnya.


Aku semakin terbuai dan terhanyut dalam permainan yang baru sekali aku rasakan ini. Dan betapa terkejutnya aku sat tiba-tiba Max mengeluarkan lidahnya dan memasuki telingaku lebih dalam. Membasahinya hingga bulu kudukku terdiri. Tangannya semakin erat memegangi kepalaku dari sisi sebelahnya, agar aku tidak mengelak dengan apa yang ia lakukan. Sesekali ia mengecap daun telingaku, menciptakan bunyian-bunyian tidak senonoh hingga mulutku meloloskan sebuah desahan lak*at!!


Max semakin menjadi, sentuhan lidahnya kini mengecup permukaan kulit di tengkuk leherku. Dengan lihai semua itu ia lakukan. Tubuhku menggeliat kegelian merasakan sensasi yang ia berikan bertubi-tubi tanpa henti. Sungguh belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.


Sebelah kakinya yang mengunci tubuhku terasa begitu kuat. Kedua tanganku kini dengan erat mencengkram lengannya yang menyilang di atas dadaku, menahan kepalaku agar tidak bergerak. Sialnya aku malah mengangkat kuat kepalaku ke atas, sehingga membuatnya lebih leluasa untuk menikmati leher jenjangku.


Kini lidahnya berjalan di bagian depan leherku. Lalu tubuhnya terangkat, kedua lututnya kini bertumpu untuk menahan tubuhnya. Tangannya memalingkan kepalaku ke arah sebaiknya dan ia langsung menyerang daun telingaku yang satunya lagi. Menyesapnya hingga membuat tubuhku kembali bergetar dan mulutku lagi-lagi mengeluarkan sebuah desahan yang aku sendiri jijik mendengarnya.


Namun tidak dapat kutolak lagi, sensasi ini begitu membuat candu bagiku. Aku seperti ingin selalu merasakannya. Menikmati getaran di setiap detiknya. Dengan mulutku yang masih terbuka akibat meloloskan sebuah desahan, tiba-tiba saja tangan Max merayap ke pinggangku, menyusup masuk ke dalam baju piyama yang kukenakan. Lalu mengelus lembut di sana, menciptakan sensasi yang berbeda dari sebelumnya.


Aku menarik tubuhku dengan kuat, membentuk sebuah lengkungan dari setengah lingkaran, yang menyebabkan buah mahkotaku menyentuh dadanya yang bidang. Sedangkan kedua tanganku mencengkram erat sprei ranjangku. Entah hilang ke mana bantal kecil yang tadinya menjadi pembatas di antara dada kami. Aku tidak peduli. Yang jelas aku sangat menikmati semua sentuhan ini.


Seakan tidak ada lelahnya, Max terus saja menikmati leher serta sesekali ia kembali mencarak telingaku. Napasku semakin tersengal, aku ngos-ngosan dibuatnya. Ia menghentikan sejenak aksi liarnya, membiarkan aku mengatur napasku. Dadaku dibuat naik turun olehnya. Kini posisinya tepat berada di atasku, dengan tatapan matanya yang tajam dan senyumannya yang meruntuhkan imanku. Aku masih berusaha mengatur pola pernapasanku yang hilang akibat ulahnya. Saat jemarinya merayap menyentuh permukaan kulit di bagian pinggangku.


Lagi-lagi aku melenguh manja, memejamkan mata dan menikmati sentuhan lembut yang diciptakan oleh ujung jemarinya. Tanpa sadar jika kancing baju piyamaku kini sudah berhasil dibuka olehnya satu per satu. Disingkapnya bagian depan piyamaku yang sontak membuatku terkejut dan membuka mata menatapnya. Secepat semua itu terjadi, secepat itu pula kedua tangannya mencengkram tanganku. Sedangkan kakiku sudah tidak dapat bergerak lagi, sebab bersamaan dengan tenaganya yang menduduki pahaku, aku tidak dapat bergerak untuk mengelak.


Ia memandangi tubuhku yang kini terbuka di matanya, hanya pada bagian buah mahkotaku yang masih tertutup dengan rapi oleh penutupnya. Tanpa berkata apa-apa, Max melepaskan cengkramannya pada kedua tanganku dan langsung mengecup bagian atas buah mahkotaku, menikmatinya dengan begitu liar, sedangkan sebelah tangannya tak tinggal diam, ia gunakan untuk menangkupkan pada buah mahkota yang satunya lagi.


Bodohnya aku, semua yang terjadi malah membuatku ingin terus merasakannya, bukan menolaknya. Bahkan mulutku seakan bahagia melepaskan beberapa desahan kecil yang kutahan sebagai arti dari sebuah rasa yang bernama 'kenikmatan'.

__ADS_1


__ADS_2