
Selamat membaca ...
——————————
Still Lisa POV.
Baru saja aku duduk di kursi itu, tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan kami. Membuat aku dan Tika serempak menoleh.
Tokk ... Tokk ... Tokk ...
Kemudian pintu terbuka, menampilkan Max yang berdiri di balik pintu. “Tiik ...,” serunya seraya melangkah masuk. Dia adalah kakak pertama dari sahabatku ini—Maxwelliam.
Tika menyahuti dan mengatakan jika kami sedang ada di balkon, kemudian Max melihatku dan langsung tersenyum menemukan kami yang sedang bersantai.
“Kalian udah makan?” tanyanya dengan menyadarkan dirinya pada pintu kaca.
__ADS_1
Siang ini, Max begitu terlihat memesona mataku. Dengan tampilannya yang mengenakan kaos polo shirt berkerah warna abu-abu tua, dipadukan dengan celana jeans berwarna senada. Lalu tidak lupa kancing bajunya dia biarkan terbuka. Semakin membuat aku menahan napas untuk sekedar melirik ke arah lelaki yang berstatus sebagai kakak sahabatku ini.
Jantungku seketika berdegup dengan kencangnya. Padahal jarak di antara kami cukup jauh, belum lagi ada Tika di hadapanku saat ini. Aku tidak mau jika dia sampai mengetahui isi hatiku yang sebenarnya ini. Aku malu!
“Udah dong, 'kan tadi bi Mince masak, Kak! Kenapa emang? Mau traktir makan?” Tika meloncat dari kursinya, segera berdiri lalu menghampiri kakaknya itu dengan wajah yang berseri, mirip anak-anak berumur ssembilan tahun yang kesenangan jika diajak makan.
Max mengangguk lalu mengatakan, jika ia belum makan sama sekali dan malas untuk makan di rumah. Sontak Tika melompat kegirangan sambil bertepuk tangan, lalu memeluk kakaknya. Andai saja aku yang bisa memeluk Max seperti itu. Dan andai saja aku yang menjadi adiknya, mungkin aku akan sangat bahagia memiliki kakak sepertinya. Walaupun aku hanya sebagai adiknya, aku sudah cukup bahagia.
Kemudian mereka juga mengajakku untuk ikut pergi bersama mereka. Aku menyetujuinya dengan sekali anggukkan kepala.
Di sepanjang perjalanan Tika terus saja mengoceh dan berdebat, menentukan di mana tempat yang pantas untuk menjadi pilihan makan siang Max. Sedangkan aku hanya mendengarkan mereka berdua. Aku selalu terkekeh geli jika Tika sudah merengek pada Max. Dan sikap itu membuat Max harus terpaksa mengalah.
Sesekali aku mencuri pandang ada Max yang sedang mengemudi. Pasalnya posisi aku duduk sekarang adalah di kursi penumpang tepat di sebelahnya. Membuat jantungku kembali berdegup, tapi sudah mulai bisa aku kendalikan perlahan.
Jika sedang berjalan-jalan keluar, bertiga seperti ini, Tika selalu menyuruhku untuk duduk di depan. Sedangkan Max selalu tidak keberatan dengan ulah adiknya. Ya, kami sering pergi bertiga, sebab Haikal, sedang berada di luar negeri untuk kembali menyelesaikan sekolahnya, menyelesaikan kuliahnya sebagai dokter.
__ADS_1
Sedangkan Max sekarang sedang berada di semester akhir kuliahnya. Dan yang aku dengar, Max juga akan kuliah lagi nanti untuk mengambil sebuah gelar baru, entah apa itu, aku lupa. Yang jelas, Max tampak begitu gagah dan cerdas di mataku. Memang pantas jika dia dielu-elukan oleh wanita lain.
Namun selama aku mengenal mereka semua satu per satu, aku belum pernah melihat mereka semua dengan masing-masing membawa atau mengenalkan pasangan mereka. Mungkin mereka belum memiliki pasangan. Sama halnya seperti Tika yang baru saja di dekati oleh seorang lelaki.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk klik like untuk mengukungku, lalu favorite agar kalian mendapatkan notification apabila terdapat updatean baru, kemudian berikan komentar untuk kritik dan saran yang membangun.
Terima kasih.
Babay!
#salambucin 💋
__ADS_1
@bossytika