
Jefri POV.
"Haaaah!!" aku mencengkram rambut atasku dan menariknya kasar.
Kenapa sih Tika tiba-tiba begini?
Ga respon telpon sama chatku.
Susah ditemuin. Dicari ke kantor ga ada. Dicari ke rumah juga dia jarang di rumah. Pas giliran dia ke rumah Lisa ya tetep aja ga bisa ketemu.
Shit!!!
Perasaan tempo hari aku ga ada salah ngomong deh. Sama Mama Papa juga baik-baik aja. Waktu aku anter balik dia juga masih kayak biasa. Tapi kenapa begitu paginya dia ngilang duluan ke kantor sih?
Bukannya udah janjian juga.
Mata ku masih sibuk sambil melihat-lihat, siapa tau berpapasan dengan mobilnya di jalanan. Apa aku susulin dia ke rumah? Pasti balik ke rumah dong dia? Trus kalo ketemu nyokabnya aku harus ngomong apa? Eh tapi kan katanya Nyokabnya pergi 5 harian..
Aku ragu..
Tak berapa lama ponselku berdering..
Paula calling..
Aku malas mengangkatnya, ku tekan tombol mute.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi menuju rumah Tika. Begitu sampai didepan rumahnya. Aku kembali ragu untuk masuk. Lama aku memikirkannya didalam mobil. Lalu ku buka laci dashboardku, ku ambil paperbag kecil yang tersimpan rapi disana. Ku ambil kemeja putih didalamnya.
Ini adalah kemeja Tika. Kemeja yang waktu itu sempat terkena tumpahan wine. Kini sudah bersih setelah ku masukkan laundry. Beberapa kali ingin aku berikan tapi selalu lupa saat berdua dengannya.
Ku urungkan niatku untuk memasuki rumahnya, karena setelah ku pantau, tidak ada satu pun mobil terparkir di halaman. Aku memutuskan untuk pulang.
**********
Tika POV.
__ADS_1
Teeett..
Teeett..
Tidak ada yang membukakan pintu. Aku duduk di lantai. Berharap kakak ku, Haikal akan segera pulang dari Rumah sakit tempatnya bekerja. Haikal paling benci jika didatangi ke tempat kerja nya hanya untuk berbincang masalah sepele. Ku putuskan untuk langsung datang kesini, rumahnya hanya untuk sekedar menenangkan diri.
Setelah lumayan lama aku menunggu, akhirnya Haikal datang.
"Loh sejak kapan kamu disini?" tegurnya sambil membantuku berdiri.
"Sejam yang lalu."
"Kenapa gak nelpon? Kan bisa ambil kunci ke rumah sakit?" omelnya lalu membukakan ointu dan menyuruhku masuk.
Aku masuk lalu menghempaskan diriku ke sofa empuk di depan televisinya. Lalu aku menyalakan televisi, mencari saluran yang kiranya bisa menghibur perasaanku yang kacau.
"Nih minum." Haikal menyodorkan sebotol minuman favorite ku. Lalu dia duduk disebelahku.
"Habis ini kamu ke rumah sakit lagi?"
"Aku nginep disini boleh? Malam ini aja, besok aku pulang." lirihku.
Haikal memandangku, "Kamu ga lagi berantem sama Mamah kan?"
"Enggaklah, aku baik-baik aja sama Mamah, cuman lagi butuh tenang aja. Boleh ya?" aku memelas pada kakak ku yang satu ini.
Tiba-tiba dia berdiri, meninggalkanku memasuki kamarnya. Lalu tak berapa lama dia keluar, membawa selembar kaos gombrongnya yang mulai melebar.
"Nih, nanti jangan lupa mandi, kalo mau tidur masuk ke kamar ku aja. Aku mau siap-siap lagi." dia melemparkan kaos itu dan selembar handuk.
Aku dan Haikal hanya berbeda 1 tahun 2 bulan. Haikal merupakan sosok yang lumayan pendiam. Dia juga tidak suka basa-basi. Diumurnya yang sekarang dia termasuk kategori Dokter muda yang sukses. Sudah punya rumah sendiri, mobil sendiri, bahkan dia menghidupi diri nya sendiri sejak di bangku kuliah.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Membuka kulkasnya. Benar saja, di dalam kulkasnya masih lumayan banyak makanan junk food dan makanan instant lainnya. Daging segar. Ayam segar. Dan berbagai macam minuman botol. Aku mencari sesuatu yang bisa aku makan, karena jujur saja, selera Haikal adalah pilihan terakhir yang akan aku makan jika dalam keadan terdesak.
"Disana ga ada sayur. Cuman kulit tortilla, jagung, sama brokoli." tegurnya mengagetkanku.
__ADS_1
"Profesi dokter, tapi yang dimakan racun semua!" umpatku sambil masih sibuk melihat-lihat isi kulkasnya.
"Selagi masih bisa makan, makan aja, ga usah ditahan." sahutnya lagi sambil mengambil sekotak junk food lalu memasukkannya dalam microwave.
Ku ambil bungkusan tortilla, jagung, brokoli, dan sebutir telur. Lalu aku mulai memotong jagung dan brokoli, lalu menumisnya dengan sedikit margarine dan lada hitam. Lalu ku orak arik telur bersama dengan tumisan tadi. Setelah selesai ku masukan tumisan itu dalam lembaran tortilla dan ku gulung rapat. Baru ku goreng lagi tortilla itu dengan margarine. Aku membuatnya 2 pieces, karena aku tau, Haikal pasti akan mengambil satunya.
"Good job!! Bungkusin satu nya, buat aku bawa ke kantor. Di laci sana ada aluminum foil." ujarnya sambil mengeluarkan junk foodnya lalu memakannya di meja kitchen.
Ku sodorkan sebungkus tortilla yang tadi ku buat. Sedangkan punyaku ku masukkan ke dalam piring. Lalu ku bawa ke balkon samping rumahnya. Aku memakannya disana.
"Nanti kalo ada apa-apa kabarin ya?" Haikal tiba-tiba sudah ada dibalkon juga, menyalakan sebatang rokoknya.
"Iya tenang aja."
"Kamu juga nanti telpon Mamah, bilang kalo nginep disini. Ntar Mamah panik nyariin."
"Iya beres."
"Trus kalo mau ngerokok, bukain aja pintu ini. Blower dibawah lagi rusak."
"Iya tenang aja."
"Jangan lupa mandi ntar sebelum tidur."
"Iya beres."
"Ntar kalo mi......."
"Kok kamu jadi bawel banget sih?"
Haikal langsung terdiam. Lalu dia kembali berkutat dengan rokoknya. Setelah habis dia pamit untuk pergi. Kebiasaannya, dia mengecup pucuk kepalaku lalu menghilang. Ya selamanya dimatanya aku adalah adik kecilnya. Dan terkadang aku merindukan itu.
Munculah setetes air disudut mataku. Begitu ku dengar suara pintu tertutup, tanpa bisa ku halangi, air itu langsung membanjiri kedua pipiku. Tidak tau mengapa alasannya. Yang jelas airmataku terus saja keluar tanpa bisa ku hentikan, hingga aku terisak pelan.
Ku coba untuk menenangkan diri, aku berdiri mencuci piring bekas makan tadi. Sekalian membersihkan dapur. Lalu ku ambil tas ku, kembali duduk di balkon untuk merokok. Sudah lama aku tidak merokok, entah bagaimana rasa rokokku ini. Ku nikmati saja setiap batangnya, sambil sesekali ku usap mataku yang masih agak sembab. Dengan pikiran kosong yang melayang entah kemana.
__ADS_1