
Happy fasting , happy sahur and happy reading π
βββββ
Dave POV.
Sudah dua hari tidak ada kabar apa pun dari Lisa. Apa dia masih marah padaku? Lalu kenapa juga teleponnya harus ia matikan?
Beberapa hari ini, kantorku sangat sibuk untuk mempersiapkan beberapa produk yang sebentar lagi akan lunching. Sehingga tenaga dan waktuku terkuras habis untuk perusahaan.
Aku juga sudah beberapa kali mengirimkan pesan singkat padanya, terkirim, tetapi tidak pernah dibacanya. Menghubunginya juga aku lakukan tetapi tidak ada jawaban. Hingga akhirnya ponselnya benar-benar tidak aktif.
Sikapku memang salah waktu itu. Semestinya aku bisa mengontrol emosiku saat bertemu dengan Tasya. Tapi tetap saja aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Sebuah kejadian menyakitkan yang rasa-rasanya aku tidak ingin mengalaminya lagi.
Aku begitu mencintai Tasya saat itu, memberikan semua apa yang ia inginkan. Berjuang keras untuk agar dapat berdiri dititik ini. Tidak pernah sedikitpun ada niatan untuk pergi meninggalkan wanita yang selalu menuntut sesuatu padaku.
Namun tidak kusangka, di saat aku tidak bisa memberikan apa yang ia inginkan, dia malah mencari hal itu pada lelaki lain. Mencari kurangnya aku pada lelaki lain. Sekarang katakan padaku, lelaki mana yang rela direndahkan seperti itu?
Di saat aku sedang berjuang, dia asyik menikmati harinya dengan lelaki lain. Bahkan keluar masuk hotel dengan lelaki itu. Dia pikir aku tidak mengetahui hal itu, tapi dia salah besar.
Tasya menyia-nyiakan cinta yang aku miliki untuknya. Dia menyia-nyiakan rasa setiaku bahkan ketulusanku untuk menerima dirinya apa adanya.
"Kenapa kita harus cerai?" Tasya meraung saat aku membiarkannya masuk ke dalam apartemen-ku. Sepertinya dia baru saja menerima surat talak dariku. Padahal sudah seminggu aku mengurus masalah itu dengan pengacaraku. Saat itu aku baru saja menempati apartemen yang sekarang, tetapi dengan isi yang masih seadanya.
"Agar kamu bebas," jawabku acuh membelakanginya. Rasanya tidak sudi mataku ini untuk kembali menatapnya.
"Tapi aku gak mau menyandang status janda!"
"Dan kamu senang menjadi pela*cur!" Aku membalikkan badan menatapnya.
PLAAK!!
Secepat kilat semua itu terjadi. Tasha mendaratkan telapak tangannya tepat di pipi kiriku. Dengan geram aku memandangi wajahnya. Tidak kutemukan sedikitpun rasa penyesalan yang terpancar di sana.
Tanpa kata, Tasha segera mengambil tasnya yang sebelumnya ia letakkan di atas meja. Kemudian melangkah keluar apartemen-ku, pergi meninggalkan memar cetakan tangannya pada wajahku.
Jantungku menggebu, napasku ikut tak beraturan. Bahuku naik dan turun. Tubuhku lemas dan merosot jatuh ke atas sofa. Aku tidak menyangka jika mulutku mampu meloloskan kata haram itu. Emosi yang meledak saat itu seolah menjadi tanda sebagai puncaknya batas kesabaranku selama ini.
Saat itu usahaku sedang berada dalam fase sedang merintis, tidak seperti sekarang.
Dan entah bagaimana caranya tiba-tiba saja proses perceraianku dengannya terbilang sangat alot. Bahkan memakan waktu hingga setahun belakangan ini.
Memang aku lah yang mengajukan, oleh sebab itu dikatakan sebagai cerai talak, maka persidangan akan lebih lama karena ada proses akhir yang disebut ikrar talak, yaitu pengucapan ikrar talak suami di hadapan persidangan setelah putusannya berkekuatan hukum tetap.
Saat itu karena jarak antara aku dan Tasha tingga sangat jauh hingga proses semakin lama. Dan ya, akhirnya aku resmi bercerai dengannya tepat sebelum Lisa ulang tahun. Dan sejak itu akubsudah tidak pernahblagi berhubungan dengannya. Bahkan nomernya pun saat ini sudah aku blockir.
Kemudian baru-baru ini aku dengar dari pengacaraku, jika dia kembali datang dan mengajukan harta gono-gini yang tentu saja membuatku semakin geram.
Aku berusaha sendiri membangun usahaku. Kemudian tiba-tiba saja dia kembali datang dan menuntut hak yang sebenarnya tidak pernah ia miliki. Dengan semua itu bagaimana aku bisa diam saja? Siapa yang tidak kesal melihat wanita itu kembali menganggu kedamaian yang aku ciptakan sendiri?
"Aaarrgghh!!" geramku sambil meremat rambutku.
Napasku kembali terengah. Kisah masa lalu yang aku alami selalu mampu membuat mood-ku hilang seketika.
Tokk tokk tokk!
Suara pintu ruanganku berbunyi. Kulihat sosok Leo berdiri di ambang pintu yang terbuka. Aku menyuruhnya untuk masuk.
"Ada apa?" tanyaku saat ia sudah mendekat dan aku mencoba untuk bersikap biasa saja padanya. Mengendalikan emosiku yang sempat meledak, karena kembali mengingat tentang Tasha.
"Maaf, Pak. Di bawah ada seorang wanita yang mencari. Katanya dia tamu istimewa, tapi di jadwal yang saya pegang, di jam ini bapak tidak memiliki tamu yang harus di temui. Jadi saya hanya ingin mengkonfirmasi, Pak." Leo menundukkan wajahnya.
"Siapa namanya?"
"Natasha Noleen, Pak."
DEG!!
Jantungku seketika berdegup. Mau apa lagi wanita yang satu ini? Mood-ku kembali berubah seketika, aku menyadari itu. Kemudian aku menyuruh Leo untuk menerima wanita itu dan mengantarkannya untuk masuk ke ruanganku. Aku tidak ingin ia membuat onar di bawah sana.
Tak perlu ditanyakan lagi, mungkin mudah baginya untuk menemukan di mana keberadaan kantorku saat ini. Aku beranjak dari kursiku lalu berdiri dengan tegap di depan mejaku. Bersiap-siap menghadapi wanita picik ini.
__ADS_1
"Hai, darling!" serunya seraya mendekat padaku lalu membuka lebar kedua tangannya yang hendak memelukku. Tapi segera ku tepis kedua tangannya itu dengan kasar.
Ya, kasar. Aku rasa, aku tidak perlu sebuah kelembutan lagi, bagi wanita yang suka selingkuh dan membagikan tubuhnya untuk dinikmati oleh lelaki lain.
"Ah!!" pekik Tasya saat aku menepisnya. Aku benar-benar sudah tidak tertarik lagi padanya.
"Jangan kasar dong. Aku ke sini 'kan baik-baik, Darling!" ucapnya pura-pura lembut dengan sebuah seringaian tipis.
Aku mulai jengah, "Apa mau kamu?"
Tasha mengangkat salah satu sudut bibinya. "Kamu 'kan deket sama Sam? Minta dia buat masukin aku ke daftar model Victori Secret. Setelah itu aku gak bakalab ganggu hidup kamu lagi," ucapnya dengan lantang membuatku sontak tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang terlontar dari mulutnya.
"Apa yang lucu" serunya.
Aku berdecih, "Cih! Dulu-dulu kamu juga begitu. Tapi nyatanya, masih punya nyali buat ketemu aku."
"Kita ketemu itu gak sengaja," Lagi-lagi dia membela dirinya dan aku benar-benar jengah dengan semua alasan dan alibinya.
"Enggak!! Jangan harap. Kamu udah gak cocok lagi jadi model. Kenapa gak balik jadi pela*ur aja?" Aku kembali tidak bisa mengontrol mulutku sendiri.
PLAKK!!!
Lagi-lagi aku mendapatkan cetakan panas tangannya di pipi kiriku. Pipi yang sama saat setahun lalu aku mengucapkan kalimat yang serupa. Desiran hawa panas kini menyebar ke seluruh tubuhku.
Mulai saat aku berjanji, aku membenci para wanita yang berselingkuh dan suka memberikan tubuhnya pada lelaki lain. Menjadikan lelaki hanya sebagai sebuah permaian bagi hidupnya. Dan kika aku menemukan wanita seperti itu maka aku akan menyiksanya tanpa ampun. Memaksa otaknya agar merekam dengan baik bagaimana rasanya di lecehkan dengan sebuah penghianatan.
Aku berteriak memanggil Leo dan membalikkan wajahku, menyuruh Leo untuk mengusir paksa wanita yang bernama Natasha itu dari ruanganku dan tidak membolehkannya lagi untuk mengunjungi tempat kerjaku.
Setelah kepergian wanita itu. Bahuku yang tadi tegap kini merosot, napasku yang tadi terbatas kini aku dapat menghirupnya dengan rakus. Perlahan aku mencoba untuk sedikit menenangkan perasaanku.
Tiba-tiba pikiranku melayang untuk mendatangi sebuah klub di malam ini, hanya untuk minum beberapa gelas dan menenangkan hati. Yah, sepertinya itu adalah ide yang bagus.
βββββ
Tika POV.
Lisa sudah menghabiskan makanannya. Kemudian aku segera membersihkannya. Saat itu aku juga melihat Max yang sedang makan di meja kitchen di dapur. Menyantap makan siangnya.
Max terus saja memerhatikan aku yang sedang makan, hingga aku merasa risih karenanya.
"Kenapa?"
Max menggerakkan kepalanya, mencoba mengintip ke dalam kamar Lisa. "Dia lagi ngapain?"
Aku melanjutkan makanku sambil menjawab pertanyaannya, "Tadi sih lagi mainin hape-nya, kenapa emang?"
"Gak apa-apa, aku nanti tidur di hotel. Kamu di sini aja sama dia." Max berkata tegas lalu mulai memesan kamar hotel dari ponselnya.
Aku yang melihat itu sontak mengambil ponselnya, lalu melotot ke arahnya, "Nanti yang beliin makan malam siapa? Masa aku ninggalin Lisa sendirian sih?" Aku sengaja merengek pada Max sambil mengerucutkan bibirku.
Max menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dari mulutnya yang mengembang. "Ya udah, balikin sini hape-nya."
Aku menarik kedua sudut bibirku untuk tersenyum paksa menatapnya. Lalu mengembalikan ponselnya yang sempat aku rebut tadi.
Setelah aku selesai makan, aku membiarkan Max yang kini berada di ruang tengah. Sibuk dengan laptopnya dan beberapa pekerjaannya. Sedangkan aku kembali masuk ke kamar Lisa dan mendapati Lisa yang masih asyik dengan ponselnya.
Aku merebahkan tubuhku di sampingnya. Lalu juga memainkan ponselku saat Lisa tiba-tiba kembali melontarkan pertanyaannya.
"Jadi kalian baru nyampe langsung ke sini?" tanya Lisa padaku. Aku menoleh lalu mengangguk.
"Rencananya berapa lama?" tanyanya lagi.
Aku kembali menoleh. Lalu mengubah posisiku berbaring, menjadi setengah bersangga pada tanganku yang dilipat, seperti saat sedang di pantai. Lalu miring menghadapnya dengan kedua kaki yang kutekuk. "Gak lama kok, cuman beberapa hari. Soalnya gua sengaja izin kuliah buat ikutan Max ke sini."
Kali ini Lisa yang mengangguk-anggukan kepalanya, "Oh iya, makasih ya, lu udah beresin apartemen gua."
"Iya," ucapku yang sesekali melirik padanya sambil memainkan ponselku, membalas pesan singkat dari kekasihku.
Kemudian Lisa juga menanyakan tentang hal lainnya. Aku senang bertemu dengannya setelah hampir setahun lebih tidak bertemu. Hanya melihatnya melalui video call atau bahkan melihatnya yang berfoto di akun media sosialnya.
Lalu kami juga membicarakan tentang tentang pasangan kami masing-masing, saling bertukar cerita. Bahkan aku mengagumi lelaki yang menjadi kekasih Lisa saat ini. Terlihat sekali jika Lisa sangat bahasia dengan lelaki itu.
__ADS_1
Bagaimana tidak?
Setahuku saat ini, Lisa bisa kembali melanjutkan kuliahnya tanpa harus bekerja untuk mencari tambahan uang bulanannya. Bahkan menurut cerita darinya pula, saat ini kekasihnya itu yang selalu memberikan uang padanya untuk biaya hidup bulanannya.
Pasti sangat beruntung rasanya menjadi seperti Lisa. Aku turut bahagia akan senyuman yang selalu mengembang di wajahnya, di setiap harinya.
"Trus-trus ceritain yang itu dong, yang awal ketemu." Aku memintanya untuk menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan kekasihnya itu. Tetapi Lisa malah memintaku untuk menutupkan terlebih dahulu pintu kamarnya.
Setelah menutupkan pintu kamarnya, aku kembali bergegas untuk mendengarkan cerita panas antara pertemuannya pertama kali dengan kekasihnya itu. Dan yang kini awet berjalan hingga berbulan-bulan lamanya.
"Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa ya? Dan lu jangan coba-coba buat ngelakuin juga." Lisa mengancamku, aku hanya mengangguk-anggukan kepala lagi. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya saat Lisa melakukan itu untuk pertama kalinya. Apa benar ujaran teman-temanku di kampus?
Lisa mulai menceritakan kejadian demi kejadian yang terjadi antara dirinya dengan kekasihnya itu. Bahkan Lisa juga menjelaskan beberapa posisi yang membuatnya dapat menikmati segalanya.
Tak jarang kami tertawa bersama. Tetapi Lisa sudah tidak terlalu malu lagi untuk menjelaskan tentang keintiman itu padaku. Dan aku juga menanggapinya dengan pemikiran yang terbuka, tidak serta merta memberikan vonis bersalah padanya.
Sebab aku paham betul posisiku saat ini. Aku hanya sahabatnya, yang bisanya hanya mengingatkan, bukan melarangnya. Aku juga bukan saudara kandungnya yang memiliki hak untuk mengatur hidupnya. Selama aku melihatnya bahagia, aku pasti mendukungnya.
Setidaknya Lisa tidak hidup dalam kesunyian dan kehampaan di negara ini. Negara yang cukup jauh untukku.
Wajah Lisa semakin lama sudah semakin kembali bercahaya. Kembali terlihat ada aliran darah yang menyebar di sana. Tidak seperti tadi saat aku dan Max menemukannya pingsan setelah membukakan pintu untuk kami. Dia semangat sekali menceritakan tentang kekasihnya itu.
"Loh, jadi sekarang kalian lagi berantem? Marah-marahan ngabek gitu?" tanyaku spontan saat Lisa menceritakan bahwa terakhir kali dia bertemu dengan pacarnya adalah dua hari yang lalu.
"Ya gitu deh. Keknya waktu itu gua emosi liat dia yang bisa-bisanya mendadak kasar, gak mood sampe jadi pendiem. Padahal waktu itu kami mau ke acara ulang tahun temennya 'kan."
"Astaga, kok bisa gitu sih? Emang tu cewek siapa?" tanyaku lagi.
"Kalo gak salah namanya Arsha apa, gua lupa. Ya lu bayangin aja, kalo gua gak minta pulang waktu itu. Malah milih nerusin pergi ke acara pesta itu, bisa-bisa selama di sana kami diem-dieman! Kek orang baru kenal. 'Kan gak lucu. Bisa malu gua!" sewotnya sambil bercerita panjang lebar.
Aku terus mendengarkan ceeitanya yang pada akhirnya membuatnya merasa kesal sendiri dan memilih untuk tidak makan selama dua hari itu. Lagi pula isi kulkasnya kosong dan dia malas untuk keluar dari apartemen-nya ini.
Makanya, ia hanya meminum air putih saja saat itu san memilih kembali menikmati rokoknya.
"Lu masih ngerokok?" seruku yang tiba-tiba dibekap oleh Lisa.
"Ssssttt ntar Max denger," lirihnya yang spontan membuatku terkekeh. "Ya masih lah, tapi kadang-kadang aja, kalo kepala lagi mumet."
Tokk tokk tokk!!
Suara pintu kamar Lisa di ketuk, lalu beberapa saat kemudian terdengar suara Max yang meminta izin kami untuk pergi keluar sebentar.
"Gua mau keluar dulu bentar!! Kalian ada mau nitip sesuatu gak?" teriaknya di balik pintu.
Aku menatap Lisa, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambir mengerdikkan bahu. Menyatakan tidak ada yang ia inginkan.
"Gak ada, Max. Tapi kalo kamu sampai malem di luar, pulangnya jangan lupa beliin makan." Aku membalas teriakannya.
"Oke. Jangan lupa kunci pintunya."
Kemudian aku kembali menatap Lisa dan mengangkat kedua bahuku dan tertawa.
"Kalian tadi dari bandara ke sini naik apa?" Lisa kembali bertanya.
"Mobil. Max langsung sewa mobil di bandara. Oh iya, gua udah lihat mobil lu di basemen. Itu keren banget! Sumpah! Coba aja di Indo ada, gua mau deh minta beliin Max."
"Yah, itu juga hadiah dari dia. Hadiah ulang tahun."
Begitu Lisa menyebutkan kalimat 'ulang tahun' seketika aku mengingat satubhal yang sedari tadi aku lupakan. Aku langsung meloncat berdiri dari ranjangnya dab melangkah menuju dapur. Membuka kulkasnya lalu kembali ke kamarnya dengan membawa sebuah kue yang aku beli saat perjalanan menuju ke apartemen ini.
"Happy birthday to you~ happy birthday to you~ bahagia sejahtera~ selamat ulang tahun~" Aku menyanyikan lagu ulang tahun dariku untuknya. Kulihat kedua matanya yang berkaca-kaca hampir menumpahkan airmatanya.
"Mana korek?" tanyaku padanya yang kemudian ia menunjuk sebuah laci di meja riasnya. Aku membukanya kemudian menemukan sebuah kotak rokok beserta pemantiknya. Lalu menyalakan lilin-lilin kecil yang sudah menancap di atas kue itu.
Perlahan aku mendekatinya. Lalu duduk di depannya di atas ranjang dengan kue itu di hadapan kami berdua.
"Sorry ya telat. Trus waktu tanggalnya aku lupa nelpon, cuman ngechat sama bikin story di Instagram," lirihku dengan penuh penyesalan.
Seketika aku melihat airmatanya jatuh, membasahi kedua pipinya. Lisa menghapusnya dengan kasar. Kemudian aku juga ikut larut dalam suasana yang aku ciptakan sendiri. Aku juga langsung menyuruhnya untuk meniup lilin yang ada di hadapan kami ini.
"Jangan lupa make a wish!" bisikku sembari mengedipkan sebelah mataku padanya.
__ADS_1
Bersambung ...