Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 72


__ADS_3

Jefri POV.


"Kamu belum bilang sama tu cowo kalo udah mau nikah sama aku?" sewotku pada Tika.


Tika terdiam melihatku. Ku dekati dia, dia seperti melamun.


"Sayang!"


"Em. Kenapa?"


"Kamu belum bilang sama dia?" tanyaku lagi.


"Em. Aku ga ada ngehubungin dia."


"Kamu ga kasih undangan kita ke dia?"


"Ngapain? Males ah. Biii..." teriak Tika memanggil Bi Mince.


Aku menatapnya, dia seakan membuang muka. Tidak mau membalas tatapanku seperti biasanya.


"Bi, tolong dibuang ya ini. Aku ga mau ntar pulang kerja masih ngeliat ini di rumah." titahnya.


"Siap Non."


"Yuk kita berangkat. Aku ambil tas dulu ya.." ucapnya padaku.


Aku hanya diam mengikuti langkahnya menuju dapur.


"Mah, kami berangkat dulu ya?" pamitku pada Mamah yang sedang sarapan.


"Iya, kamu sudah sarapan?"


"Udah kok Mah." sahutku sambil bersalaman.


"Kalian besok liburkan?" tanya Mamah.


"Iya, kan besok tahun baru. Aku berangkat ya? Muach." Tika mengecup pipi Mamah nya.


Lalu kami pergi berangkat kerja. Selama diperjalanan aku hanya diam, sambil sesekali mencuri pandang melihat Tika. Dia melamun. Entah memikirkan apa, begitu ku sentuh tangannya, dia terkejut lalu menoleh padaku.


"Kenapa?" tanyanya.


"Kamu yang kenapa? Dari tadi ngelamun aja."


"Ga papa kok. Siang ini kita makan dimana?" tanyanya yang tiba-tiba menjadi bergelanyutan manja di lenganku.


"Em. Kamu mau makan dimana?"


"Makan di warung biasa aja ya? Sekalian ngasih undangan buat ibu nya."


"Boleh. Anything for you!" sahutku sambil mencubit pelan pipinya.


Dia tersenyum bahagia. Aku senang melihatnya yang seperti ini.


Begitu sampai di lobby kantornya, dia segera mengambil tas nya di kursi belakang lalu meminta jatah cium nya disetiap pagi. Ku kecup lembut keningnya.


"Jangan lupa nanti siang aku jemput."


Dia menganggukan kepalanya dan tersenyum lalu segera turun memasuki kantornya. Aku pun segera melesat pergi menuju kantorku.


**********


Lisa POV.


"Jangan lupa malam ini barbeque di rumah gua ya?" ucapku pada Tika via telepon.


"Iya-iya. Tapi gak nginep ya, soalnya ntar dimarahin Mamah klo nginep."


"Iya ga papa. Asal ngelewatin tahun barunya kita ngumpul. Lagian ga mungkin juga kan kalo ngadain di rumah lu. Ntar hancur persiapan nya." kami saling tertawa.


"Ya udah, lu mau dibawain apa ntar?"


"Enggak usah bawa apa-apa deh. Lagian gua sama Alex udah beli semuanya. Udah lengkap."


"Oke deh kalo gitu. Ntar jam 8an gua ke sana nya."


"Sip. Bye.."

__ADS_1


Ku putuskan sambungan telepon kami.


"Siapa yang kamu telepon?" tanya Alex yang tiba-tiba muncul dari pintu kamarku.


"Tika, ngasih tau kalo malam ini kita party nya disini."


"Oh, padahal aku udah ngechat Jefri tadi siang. Aku pikir dia libur eh tau nya masih ngantor dong. Tapi pulang jam 3."


"Oh ya? Tika malah libur."


"Iya, kata Jefri kantornya Tika libur hari ini sama besok."


Aku kembali fokus pada chat di ponselku. Alex lalu duduk disampingku, mengganggu fokusku sambil membelitku manja.


"Kamu kenapa sih? Biasa nya kalo udah gini pasti ada mau nya.." sewotku.


"Kapan aku bisa ngelamar kamu ke tante? Aku kan kepingin juga kayak Tika sama Jefri.." manjanya.


"Kan aku udah bilang, tante bisa nya di datengin sekitaran tanggal 20an keatas bulan depan."


"Trus habis lamaran aku di terima, mesti nunggu ketemu keluarga kedua belah pihak lagi, trus 3 bulan lagi baru nikah? Kayak Jefri? Jadi total sekitar 5 bulanan lagi gitu kita baru bisa hidup berdua?"


"Kamu kok ngebet banget?"


"Loh kamu gak kepingin?"


"Bukannya gak kepingin, santuuy dong!"


"Hm." sahut Alex dengan dehemannya.


Ciri khas kalo dia lagi ngambek.


**********


Tika POV.


"Maaahhh, mamaaahh.." panggil ku menuju kamar Mamah.


"Iya, Mamah di bawah.." sahut Mamah saat tanganku sudah berhasil menyentuh knop pintu kamarnya.


Lalu aku segera memutar haluan menjadi ke lantai bawah.


Di tangannya ada sebuah ponselnya dan di atas pangkuannya ada beberapa buku. Yang kulihat isinya daftar nama dan nomer telepon. Ku hempaskan tubuhku di sisinya. Duduk sambil memencet remote televisi, mencari channel yang seru.


"Ngapain sih Mah?" tanyaku iseng.


"Mamah nelponin keluarga Papah yang jauh-jauh. Buat ngabarin pernikahan kamu. Sebagian udah Mamah kasih undangan sih."


"Mah, kalo nanti Tika udah nikah, boleh gak Tika sama Jefri tinggal disini dulu?" tanyaku random.


Mamah melirikku dengan mengerutkan kedua alisnya, "Emang Mamah pernah bilang ke kamu kalo udah nikah kamu harus keluar dari rumah ini?"


"Hehe enggak pernah sih, Mamah cuman bilang itu ke Max sama Haikal. Soalnya mereka harus jadi pria mapan."


"Nah itu kamu tau, trus ngapain nanya?"


"Ya takutnya Mamah mikirnya Jefri bukan pria mapan yang punya rumah sendiri. Dia lagi ngebangun rumahnya. Dan itu butuh waktu, makanya aku nanya ini ke Mamah." jelasku.


"Mamah ga keberatan kalo kamu sama Jefri mau tinggal di rumah ini sama Mamah. Lagian gak mungkin juga kalo Haikal balik tinggal disini. Kan jauh sama rumah sakitnya."


Aku menyenderkan tubuhku kembali ke sandaran sofa kemudian menarik nafas panjang. Tiba-tiba Max muncul dari dapur.


"Loh Max? Kapan datang?" tanyaku spontan.


"Lumayan. Oh iya party after dress nya kamu jam 9 kan?"


"Iya jam 9 mulainya, kenapa?"


"Gak, ga papa. Kamu malam ini tahun baru dimana? Mamah ikut aku acara di hotel. Kamu ada acara gak?"


"Lisa ngadain party. Tadinya mau ngajakin Mamah, beneran Mah gak mau ikut ke rumah Lisa?"


"Gak ah, Mamah ikut Max aja, biar bisa bobo sama cucu." jawab Mamah simple.


Aku dan Max tertawa mendengar jawaban Mamah yang innocent.


Sore itu berlalu dengan sangat hangat. Hanya kurang Haikal di tengah-tengah kebersamaan kami. Aku menikmati itu.

__ADS_1


"Kok rumah sepi?" tanya Jefri saat datang menjemput ku, "Mamah mana?"


"Mamah ikut Max, katanya mau tahun baruan sama cucunya." jelasku saat masuk mobil.


"Oh. Trus kapan kita bikin cucu buat Mamah?"


Aku terkejut mendengar pertanyaan Jefri. Seharusnya sih biasa aja, kan udah sering ngelakuin, tapi entah kenapa malam ini pertanyaan itu seakan membuat kepala ku sakit dan gemetar. Tanda-tanda bakalan ada yang tidak beres ke depan nya, pikirku.


Aku hanya diam tidak menanggapi pertanyaan itu, pura-pura seolah tidak mendengar nya.


"Sayang, kamu kok diem sih di tanyain juga?"


"Em. Ga papa kok."


Sesampainya di rumah Lisa, kami langsung begabung dengan mereka. Ada yang membakar jagung, daging, ayam dan lainnya. Ada pula yang asik bercakap-cakap. Sedangkan Lisa asik di dapurnya membuat minuman.


FYI : saat Lisa berada di luar negeri Lisa sempat mempelajari tentang beberapa minuman dan sempat belajar ilmu tentang cocktail dan mocktail.


Ada beberapa orang juga yang tidak ku kenali. Tapi Jefri mengenal mereka. Sampai akhirnya aku putuskan untuk duduk di sofa santai yang sering ku duduki jika ingin merokok di rumah Lisa ini.


Sudah lama aku tidak merokok lagi, terakhir sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan aku juga tidak pernah lagi berniat untuk membeli rokok. Padahal berkali-kali juga Jefri menawari ku untuk merokok tapi aku selalu menolaknya, entahlah.


"Kamu mau ngerokok? Biar aku beliin ke Sivell bentar." tawar Jefri saat duduk disampingku.


"Enggak ah. Ntar kalo mau aku bisa minta punya Lisa."


Jefri menganggukan kepalanya.


"Mereka itu siapa?" tanyaku pada Jefri sambil memonyongkan mulutku untuk menunjuk arah segerombolan lelaki dan perempuan yang sedang asik barbeque-an.


"Oh itu temen-temen Alex, mungkin Lisa udah kenal mereka."


"Ohhh."


"Sejak aku ngelamar kamu kan kita udah jarang ngumpul sama Alex. Maka nya mungkin Alex ngajak Lisa ngumpul sama mereka."


Kini aku yang menganggukan kepala sambil menyandarkan kepala ku pada dada bidangnya.


"Hai hai guys!!" sapa Kaisar yang baru datang bersama Ferry dan Dodi.


"Hai, apa kabar kalian?" sahutku.


"Baik dong, eh selamet ya, akhirnya kalian cemewew juga." goda Ferry.


Aku terkekeh geli.


"Cemewew apaan? Eh udah terima undangan nya kan?" tanya Jefri.


"Udah udah, trus kapan nih bujang party nya??" kali ini Kaisar yang menggoda kami.


"Ya ini udah sekalian bujang party nya." jawab Jefri.


"Wah curang, mana bisa sekaligus!" protes Ferry.


"Bisa dong. Itu didalam Lisa lagi ngeramu minuman. Jadi sekalian aja partynya. Lagian udah mepet waktunya, ga ada party-party an lagi." Jefri ngeles.


Aku tertawa nyaring mendengar percakapan mereka. Tak lama Lisa datang membawa kan beberapa gelas minuman hasil karya dari tangan dan lidahnya. Kami pun segera mengambil masing-masing satu gelas lalu bersulang bersama.


Semua berkumpul, ada yang duduk di lantai, ada yang di sofa, kursi plastik, bahkan ada pula yang saling berpangku dengan pasangan masing-masing. Saling bercerita, berkenalan dan saling tertawa bersana sambil menikmati makanan yang ada.


Hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan hampir jam 12 malam. Lisa dengan segera mengeluarkan fireworks yang memang sudah dibeli sebelumnya. Lisa memang seorang party planner yang handal. Semua dipersiapkan oleh nya dengan lengkap tanpa ada yang kurang.


Sebagian dari kami ada yang mulai menyalakan fireworks itu, sebagian lagi masih duduk seakan nyaman tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Kaisar dengan santai memainkan gitar, menyanyikan lagu dengan suaranya yang merdu. Kami yang mendengarkan sebagian terhanyut dan ikut bernyanyi bersama.


Fireworks itu begitu banyak di sediakan oleh Lisa.


Mereka begantian menyalakannya.



Aku dan Jefri masih berada di posisi yang sama sejak tadi. Tidak beranjak kemanapun. Kami bernyanyi sambil melihat ke arah langit hitam yang seakan di lukis indah oleh warna warni dan bentuk fireworks.


Akhir tahun ku di tahun ini begitu indah. Begitu berkesan dan bermakna. Tahun yang begitu melelahkan, menguras energi dan perasaanku, tapi juga penutup tahun yang sangat membahagiakanku.


Aku dan Jefri saling bergenggaman tangan, dia mendekapku dengan erat. Sambil sesekali mengecup belakang kepalaku.


"Makasih buat kesabaran kamu.." bisiknya di telingaku lalu mengecup pipi ku kilas.

__ADS_1


Kami memandangi langit yang begitu indah dengan pipi kami yang saling menempel..


__ADS_2