Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 29


__ADS_3

Still Lisa POV.


Seketika Max mengubah posisi kami, ia mendekap tubuhku dengan lidahnya yang bergerak dalam rongga mulutku. Lalu membalikkan tubuhku menjadi di bawahnya. Mendadak ciuman yang dilakukan Max berubah menjadi sangat liar. Ia mencecap bibirku berkali-kali bahkan menyesap lidahku yang terbelit, saat aku mencoba mengimbangi gerakan lidahnya.


Jujur, ini adalah yang pertama kalinya untukku. Sebab sebelumnya aku hanya melihatnya di dalam film-film atau bahkan mencoba membayangkannya seperti di dalam tulisan buku-buku novel dewasa.


Ya, dewasa. Ini adalah adegan dewasa, bukan adegan anak remaja yang masih berusia belasan tahun. Dan bukan pula hal-hal biasa yang termasuk dalam kategori remaja. Jika adegan kecupan seperti ini dianggap sebagai adegan remaja, berarti yang menggolongkan itu otaknya sudah tidak waras. Sebab apapun yang terjadi setelah ini, pastilah tidak bisa diindahkan lagi, tidak bisa ditolak.

__ADS_1


Dan benar saja, Max semakin brutal mengecapiku, tidak ada suara lain yang terdengar selain suara yang dihasilkan dari tautan lidah dan bibir kami. Aku semakin paham cara mengimbangi gerakan ini. Semakin lama malah aku yang semakin mengecap lidahnya, menyusuri rongga mulutnya, lagi dan lagi, hingga kudengar suara kekehan terlepas dari mulutnya. Membuatku menghentikan gerakan lidahku dan melepasnya.


“Kenapa?” tanyaku dengan napas tersengal, dan akhirnya aku dapat merasakan asiknya bermain lidah dengan orang yang kita sukai.


Max tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan, nyaris tak terlihat. Kini sebelah tangannya ia letakkan di samping kepalaku sebagai penyangga tubuhnya, lalu salah satu kakinya menopang kedua kakiku, seperti sedang memeluk guling kesayangan. Sedangkan tangannya yang satunya lagi, ia gunakan untuk mengelus pipiku.


“Masih ingat ucapanku di awal tadi?” Max dengan pelan bertanya padaku, tentang ucapannya.

__ADS_1


“Jangan menyesal,” bisiknya pelan sambil kembali mengecup bibirku, membuat mataku membulat sempurna. Namun begitu lidahnya kembali bermain seketika mataku terpejam, terbawa sebuah rasa yang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Hingga membuat aku terbuai dan membalas gerakkannya.


Perlahan tapi pasti, aku rasa aku sudah dapat menguasai permainan di bagian ini. Aku sudah merasa paham betul dengan setiap gerakan yang dilakukan di sana. Aku sudah mengerti bagaimana harus membalas jika gerakan lidah yang seperti ini dan seperti itu. Bahkan sekarang aku bisa menikmati apa yang sudah aku baca dan aku lihat dengan kedua mataku. Merasakannya langsung dengan bibirku.


Cukup lama bibir dan lidah kami bertaut. Tidak ada lagi kecupan menggila seperti tadi, bahkan yang ini terasa begitu manis, lembut dan perlahan. Kami saling menikmati.


Terasa seperti sebuah sengatan listrik yang merayap pada sekujur tubuhku. Saat jemari Max menyelip masuk menyentuh tengkuk leherku. Ada perasaan bergidik yang tidak dapat aku ungkapkan. Max melepaskan tautan bibir kami, tapi bibirnya malah menempel pada sisi atas pipiku. Ia bernapas di sana, dengan jelas aku bisa mendengar napasnya yang membuat geli telingaku. Hingga akhirnya ia mengusap daun telingaku dengan ujung hidungnya.

__ADS_1


Aku semakin terbuai dan terhanyut dalam permainan yang baru sekali aku rasakan ini. Dan betapa terkejutnya aku saat tiba-tiba Max mengeluarkan lidahnya dan memasuki telingaku lebih dalam. Membasahinya hingga bulu kudukku berdiri. Tangannya semakin erat memegangi kepalaku dari sisi sebelahnya, agar aku tidak mengelak dengan apa yang ia lakukan. Sesekali ia mengecap daun telingaku, menciptakan bunyian-bunyian tidak senonoh hingga mulutku meloloskan sebuah suara laknat!!


Bersambung ...


__ADS_2