Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 58


__ADS_3

Jefri POV.


Aku dan Tika sudah berada di parkiran salah satu restaurant terkenal dikota ini. Ku lihat di barisan parkiran yang lain sudah ada mobil Papa bertengger disana, yang artinya Papa dan Mama sudah berada didalam.


"Ayo turun." ajak ku sambil menatapnya.


Ku buka pintu mobilku lalu aku keluar, tapi Tika masih saja duduk, tidak beranjak.


"Kenapa? Kamu nunggu aku bukain pintunya kayak di sinetron-sinetron?"


"A-aku aku gu-gugup." ucapnya innocent.


Duh gemesnya liat wajahnya begitu, batinku.


Aku tersenyum, lalu kembali masuk mobil dan menutup pintunya.


Ku tatap wajahnya sambil tersenyum, lalu ku genggam kedua tangannya, "Gugup kenapa? Tadi perasaan baik-baik aja deh."


Tika menghembuskan nafas panjang, "Ya jelas gugup lah, ntar kalo ditanya aku mesti jawab apa?"


Tika sungguh lucu di mataku. Apalagi dengan tingkahnya yang seperti ini.


"Ya jawab apa adanya aja. Kok repot banget?" tanyaku bingung.


"Kamu ga ngerti sih!"


"Ya gimana aku bisa ngerti kalo kamu ga jelasin maksudnya? Lagian kan dulu kamu udah pernah ketemu Mama Papa. Udah pernah makan bareng juga. Trus yang ini apa bedanya?" aku makin bingung.


"Ya ini beda," jawabnya lirih, "Tempat makannya disini, trus statusnya juga beda. Trus aku ga tau Mama Papa kamu suka aku apa enggak.." dengan wajah sedihnya.


Aku tertawa geli, "Sayaaangg, sini deh!"


Ku peluk Tika erat, "Ga peduli Mama Papa suka kamu apa enggak, yang penting tuh aku suka kamu!" ku kecup puncak kepalanya kilas.


Lalu ku tatap wajahnya, "Oke? Kan ada aku, jadi ga usah gugup."


Tika mengangguk pelan.


"Kemarin sebelum ngelamar kamu, aku malah ngadepin Max sendirian. Trus banyak orang lagi yang liat. Masa sekarang kamunya udah aku temenin malah masih gugup?"


"Cium dong.." pinta Tika tiba-tiba.


Aku tersenyum lalu mengecup bibirnya kilas.


"No, pake lidah." pintanya lagi dengan raut wajah datarnya, aku speechless menatapnya.


Sepersekian detik kemudian Tika mengecup bibirku, lalu melumatnya, ku pejamkan mataku lalu ku buka sedikit celah mulutku. Lidah Tika menyentuh lidahku, memainkannya lalu ia menyedot lidahku diakhiri dengan sedotan sensualnya pada bibir bawahku.


Aku masih agak syok dengan tingkahnya yang seperti ini. Dia tersenyum manis menatapku.


"Masih gugup?" tanyaku konyol.


"Udah lumayan. Yuk!" lalu dia menuruni mobil dengan cueknya.


Astaga, aku terpesona dengan sikap Tika yang seperti ini.

__ADS_1


Lalu aku menyusulnya dan menggenggam erat tangannya sambil memasuki restaurant.


"Table atas nama Atta Azhari?" tanyaku pada pelayan reception.


"Mari saya antar." balas pelayan tersebut.


Kami berjalan mengikuti langkah pelayan itu sampai akhirnya aku melihat Papa dan Mama sedang berbincang dengan segelas minuman di tangannya.


"Makasih." ucapku pada pelayan itu.


"Siang Tante," sapa Tika lalu bercipika cipiki dengan Mama.


"Siang Om." sapanya juga lalu menyalimi tangan Papaku.


Kulihat Mama dan Papa saling menatap lalu tersenyum menoleh padaku. Aku mengedipkan sebelah mataku. Lalu ku tarikkan kursi untuk Tika duduk disebelah Mama.


Tak selang berapa lama kemudian seorang waitress mendatangi meja kami. Memberikan buku menu nya. Mama dan Papa segera memesan appetizer, main course, dessert serta mocktail. Kami pun melakukan hal yang serupa.


FYI : Papa dan Mama mengajak kami lunch di restaurant bertaraf international.


Lalu setelah pesanan kami dicatat dan pelayan itu pergi, Mama mulai angkat bicara.


"Tika udah terima lamaran anak Tante?"


Tika menoleh padaku, terlihat memang wajahnya gugup, "Su-sudah Tante, langsung Tika jawab tadi malem."


"Kamu yakin sama Dul?" tanya Papa penuh penekanan.


"I-iya Om."


"Ma, Pa, udah deh. Kasiankan menantu kalian di intimidated begitu. Ga liat apa dia udah gugup banget?" ucapku santai sambil mengelus kilas punggungnya yang berduduk tegak.


Mama dan Papa langsung tertawa.


"Jangan panggil Tante lagi dong. Panggil Mama Papa gitu kayak Dul. Kan udan dilamar Dul." jelas Mama sambil mengelus pundak Tika.


"Abis Tante, eh Mama sama Papa mukanya serius banget ngeliatin dari aku tadi duduk." jawab Tika dengan manjanya.


Diiihh, kepingin banget aku cubit pipinya!! Batinku lagi.


"Iya Ma, dari tadi pagi loh dia gugupnya. Trus tadi Pa, sebelum masuk, dia gugup banget lagi." sindirku.


"Iiih apaan sih!" elaknya.


Kami tertawa bersama. Lalu satu persatu pesanan kami datang. Sambil mengobrol ringan tak terasa, dessert kami pun telah habis. Kini Papa mulai memimpin pembicaraan, menceritakan masa-masa ku kecil hingga menceritakan kenakalan-kenakalan ku. Cerita dari aku kecil hingga kuliah, habis terbongkar siang ini.


Tak ayal berkali-kali aku memunculkan raut wajah malu dengan senyuman terpaksaku. Sampai akhirnya ponsel Papa berbunyi dan dia segera pergi menjauh untuk menerima telepon tersebut.


"Jadi kapan kami bisa datang ke rumah kamu? Ketemu Mama sama kedua kakak kamu?" tanya Mama spontan.


"Loh Tante eh Mama, kok Mama tau aku punya dua Kakak?"


Mama tersenyum.


"Ya kan aku ceritain sama Mama tentang kamu semuanya." selaku.

__ADS_1


"Oh.."


"Jadi kapan?" perjelas Mama lagi, lalu Papa kembali bergabung duduk dengan kami.


"Em, aku belum nanyain jadwal Mamah sama Kakak-kakak aku sih. Mungkin nanti kali ya Ma, aku kabarin. Soalnya mesti diskusi dulu juga." jelas Tika.


"Apa datang ini langsung pake acara keluarga besar aja?" candaku pada Tika.


Aku senang menggodanya dengan hal-hal seperti ini. Ekspresi wajahnya benar-benar gak bisa aku duga.


"Aduh ga tau ya, nanti di omongin sama Mamah aku dulu deh. Aku ga ngerti soalnya."


"Ya udah, kamu tanyain dulu aja, nanti keputusannya kabarin, biar Papa sama Mama bisa nyiapin segala hal yang di perlukan." ucap Papa mantap.


Aku dan Tika mengangguk perlahan sambil berpandangan.


Setelah lunch selesai. Kami pun segera berpamitan karena Tika juga akan bekerja lagi. Aku mengantarkannya kembali kantornya.


"Nanti pulang kerja aku jemput, jam 5 kan?" aku memastikan.


"Ga usah, soalnya aku ada meeting di luar habis ini, paling ntar dianterin Metta." tolak Tika sambil melepas safety belt nya.


"Meeting sama siapa? Cowo yang badannya kekar itu?" cercaku.


"Hah badan kekar?


"Iya, yang kapan hari itu pegang-pegang tangan kamu didepan lobby.." jelasku.


"Pegang tangan?"


"Iyaa, dulu juga dia pernah tuh nyium kamu didalam mobil depan rumah." jelasku lagi.


Dengan ekspresi kagetnya, "Kamu pernah ngikutin aku?"


"Bu-bukan ngikutin sih, pas kebetulan aja." aku baru sadar keceplosan.


"Tapi aku ga pernah ciuman sama cowo lain deh sejak kenal kamu." bantah Tika.


"Masa? Coba deh inget-inget lagi. Yang pegang tangan kamu di lobby beberapa hari yang lalu siapa?"


Tika berpikir dengan bola matanya yang bergerak kesana kemari, "Oh Dana, ya?"


"Mana aku tau namanya, pokoknya orang itu orang yang sama yang nyium kamu." jealous ku.


"Astaga! Kamu salah liat itu. Dia emang pernah nyosor tapi aku dorong. Ga kena!" jelasnya.


"Masa?"


"Iya, suer deh! Sumpah. Sejak kenal kamu, ya emang kamu aja yang pernah nyentuh."


"Kenapa gak nyari cowo lain?"


Tika memutar kedua bola matanya, "Kan udah pernah aku bilang soal ini, ngapain nyari yang lain yang belum tentu rasanya sama?"


Aku tersenyum lebar mendengar jawabannya. Lalu dengan spontan ku ***** bibirnya lembut. Dia membalasnya tak kalah lembut. Aku sungguh mencintai wanita ini.....

__ADS_1


__ADS_2