Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 22


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Lisa POV.


Dalam lelap, seketika ponselku berdering. Hingga membuatku harus terpaksa membuka mata dengan kesal. Meraih benda kecil yang tergolong sebagai salah satu alat komunikasi yang paling cerdas bagiku. Dengan mata yang terpejam sebelah, menyipit untuk melihat nama siapa yang muncul pada layarnya. Aku terperangah, untuk beberapa detik napasku terhenti ketika aku melihat nama Max yang muncul di layar ponselku ini.


Sudah lama aku memiliki nomernya, sejak kedua orang tuaku masih ada. Aku memilikinya karena dulu, Ayah pernah meminjam ponselku untuk menghubunginya, di saat baterai ponsel ayah lowbatt.


Aku segera bangkit dari ranjangku lalu mengusap kedua mataku secara bergantian. Diiringi dengan nada dering ponselku yang memang sangat aku sukai. Mendengar lagu ini membuatku seakan bersemangat.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Dengan detak jantung yang tidak beraturan, aku memainkan jempolku untuk menggeser tanda hijau di layar ponselku dan menempelkan benda itu ke telingaku. “Hallo?”


Sudah dua hari berlalu sejak kejadian di mana aku terlalu berani atau bahkan terkesan barbar, mencium pipinya serta memeluknya saat itu. Mengakibatkan aku takut untuk bertemu dengannya. Yang mana akhirnya aku hanya berdiam diri di rumahku sendiri. Padahal hari-hari sebelumnya selalu kuhabiskan untuk bersantai bersama adiknya, Tika.


Bahkan tak jarang aku pergi ke rumahnya untuk menginap. Tentu saja bersama Tika. Dan mungkin karena itulah, aku menjadi lebih sering bertemu dengannya. Yang tanpa aku sadari, perasaan ini muncul entah bagaimana awalnya.

__ADS_1


“Aku di depan rumah kamu,” ucap Max di seberang sana membuat aku kembali terperangah hingga mulutku sedikit terbuka, membentuk huruf 'O' kecil.


Lidahku seolah tak bisa bergerak. Aku gugup setengah mati, layaknya sedang ditatap oleh seseorang yang dapat membuatku salah tingkah. Kepalaku menoleh ke sana kemari. Panik.


“Kamu di rumah, 'kan?” ucapnya lagi yang mau tidak mau harus aku jawab dengan cepat. Aku mengiyakan keberadaanku, jika aku memang sedang di dalam rumah.


“Tu—tunggu ben—tar.” Aku gugup lalu langsung melemparkan ponsel itu ke tengah ranjang tanpa memutuskan sambungan telepon. Lalu aku melompat untuk bangun dari ranjang menuju kamar mandi.


Baru pagi ini aku menyadari jika kamar tidurku sangat berantakan. Sebab saat aku melangkahkan kakiku, tak jarang aku menginjak benda-benda aneh yang berserakkan di lantai. Salah satunya sebiji kacang dan sebuah mata bros yang terlepas dari induknya. Untung saja bukan menginjak peniti atau benda tajam lainnya. Tetapi kedua benda itu cukup untuk membuatku harus meringis kesakitan bahkan menggerutu.


Sesampainya di kamar mandi, dengan secepat kilat aku menggosok gigi dan membasuh wajahku dengan facial foam. Lalu tidak lupa merapikan rambutku lalu menguncirnya seperti buntut kuda. Dan entah mengapa, aku meraih sebotol splash cologne, lalu menuangkannya sedikit di kedua telapak tanganku secara bergantian dan menggosokkannya ke bagian leherku.


Sekali lagi aku mengecek semua kegiatan kilat yang aku lakukan itu, hingga saat aku hendak melangkah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba saja aku terpeleset dan jatuh. Ya, aku ceroboh sekali. Biasanya aku selalu menggunakan alas kaki begitu turun dari ranjang, tapi entah mengapa tadi aku tidak melakukannya.


Aku kembali mencoba untuk berdiri, meraih meja wastafel sebagai tumpuan tanganku untuk menarik tubuhku sendiri. Dengan susah payah, akhirnya aku bisa kembali berdiri tegak, diikuti dengan rasa nyeri pada bagian pinggang dan bokongku. Tertatih aku berjalan menuju pintu kamar dan meneruskan langkah mengarah pada pintu depan rumahku.


Ceklek ceklek!


Semua gerakkan yang Max lakukan terlihat seakan bergerak dengan sangat lambat pada penglihatanku. Di saat ia melepaskan ponselnya dari telinganya dan cahaya matahari yang menerangi bagian belakang tubuhnya membuatku semakin terpukau. Semilir angin yang menerjang helaian rambutnya membuat wajahnya kian menawan saat ini. Lalu ditutup dengan tarikan kencang dari kedua sudut bibirnya yang melukiskan sebuah senyuman mematikan. Sungguh tidak ada lelaki lain yang mampu mengalahkan pesona kakak pertama dari sahabatku ini.


“Keliatannya kamu baik-baik aja.” Max melontarkan kalimat pertamanya saat kami kembali bertatap wajah. Membuatku tiba-tiba saja merasa aneh dengan apa yang telah ia ucapkan. Terasa ada yang janggal.


Aku menganga lalu sedikit memajukan kepalaku lalu bertanya, “Hah?!”


Lagi-lagi Max memberikanku sebuah senyuman yang begitu terasa damai, terasa lembut saat aku melihat pesona itu. Aku melepaskan tangan kananku yang sedari tadi masih memegang kenop pintu lalu menepuk pipiku dua kali. Sambil merasakan tepukan tanganku, berharap apa yang aku alami saat ini bukanlah sebuah bunga tidur.


Plak plak!

__ADS_1


Tidak sakit, hanya terasa jika aku menampar pipiku sendiri, artinya ini bukan sebuah delusi atau khayalanku semata bukan?


“Hei, kenapa?” Secepat kilat Max menangkap tanganku lalu menggenggamnya. Ia menarikkan kedua alisnya dengan mata yang sedikit membulat. Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Lalu aku menundukkan wajahku, menatap tangan Max yang masih saja memeganggi tanganku. Dia sadar ke mana arah pandanganku lalu seketika melepaskan genggaman tangannya, membuatku sontak kembali mendongakkan pandanganku padanya sambil menatapnya tersenyum.


“Ada apa?” ucapku dalam gugup. Sebenarnya aku hanya sedang berpura-pura untuk tidak menampakkan kegugupanku. Karena aku masih merasa seperti sebuah halusinasi yang selama ini aku inginkan. Bagaimana tidak? Seorang Max mau kembali datang ke rumahku hanya untuk menemuiku sepagi ini. Bukankah itu adalah suatu pertanda yang bagus?


Namun, sepertinya semua pemikiranku itu salah. Semua yang aku harapkan sepertinya tidak akan terwujud dan tidak akan pernah terjadi. Sebab, dari kejauhan tiba-tiba saja pandangan mataku menangkap sebuah langkah kaki Tika yang mendekat ke arah kami berdiri. Lalu memukul lengan kakaknya. “Kenapa gak bangunin aku sih?” protesnya lalu mendorong tubuh kakaknya itu. Max tetap bergeming di posisinya.


Aku harus menelan kenyataan pahit. Senyuman hambar terulas pada sudut bibirku. Tadinya aku pikir, Max ke sini sendirian untuk membicarakan suatu hal yang penting. Atau dia ke sini sekedar untuk meminta maaf atas sikap dingin yang ia berikan padaku tempo hari. Tapi ternyata aku salah besar. Aku menghela napasku dengan kasar lalu membiarkan pintu depan terbuka lebar untuk mereka berdua. Sedangkan aku langsung mengambil langkah berbalik menuju ke dapur. Aku butuh segelas air.


Langkah kakiku yang pelan membuat Tika dengan secepat kilat bisa mengimbangiku menuju ke dapur. Lalu berhenti di depan kulkas dan membukanya, kuraih sebotol minuman dingin dan segera membukanya, mereguk isinya untuk melepas dahaga pada tenggorokkanku.


Tiba-tiba saja Tika menegurku saat pintu kulkas sudah kututup kembali. “Lu kok tumben udah wangi jam segini? Ada janji ya?"” Tika mencercaiku dengan berbagai macam pertanyaannya.


Semenjak dua hari yang lalu, Tika secara tiba-tiba saja menjadi lebih cerewet dari sebelumnya. Padahal biasanya dia tidak sebawel sekarang. Dia mengikuti ke mana saja langkah kakiku. Menanyakan hal-hal yang menurutku tidak terlalu penting untuk dipertanyakan dan untuk dibahas.


Aku juga melihat Max yang melangkah masuk ke dalam rumahku lalu duduk di sofa di depan televisi lalu menyalakan televisi itu. Mengganti beberapa kali saluran televisi hingga ia menemukan sebuah saluran yang menampilkan sebuah berita tentang perekonomian dunia.


Mendadak tangan Tika menangkap kedua pipiku lalu membawa pandangan wajahku untuk melihat kepadanya. Hanya melihat mata serta wajahnya. “Ayo pergi jalan.” Tika mengatakannya dengan mendadak, membuat aku juga dengan spontan menarik mundur wajahku hingga terlepas dari kungkungan kedua tangannya. Aku terkejut dengan ajakkannya yang tidak biasanya itu, apalagi dengan kehadiran Max yang juga ada di sini.


Mungkin jika Tika hanya sendiri dan Max hanya mengantarkannya sampai ke depan pintu rumahku saja, aku pasti tidak akan berpikiran aneh ataupun sejenisnya. Sebab seperti hari-hari sebelumnya, Tika juga datang ke rumahku. Mengajakku bermain game, mengajariku cara memasak. Bahkan lagi-lagi ia membantuku untuk mencuci pakaianku.


Kali ini aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Karena jika aku menolak, aku harus memberikan sebuah alasan yang masuk akal untuknya serta untuk Max. Tapi jika aku menerimanya, maka selama bersama mereka aku harus menyembunyikan rasa sakit yang aku rasakan. Lalu aku harus bagaimana?


Aku memutuskan untuk segera pergi mandi, sambil menjernihkan pikiranku dan memikirkan sejenak tawaran Tika itu. “Gua mau mandi dulu,” ucapku memberitahu pada Tika, ia tersenyum membuatku kembali merasa aneh dengan senyumannya itu. “Kenapa senyum?” tambahku lagi.


“Artinya kita jalan, 'kan? Mau, 'kan?” Mata Tika nampak terbelalak membulat, bersinar terang sebagai tanda dari sebuah kesenangannya.

__ADS_1


“Gua bilang mau mandi, belum tentu mau ikut jalan.” Aku berlalu setelah mengatakan itu. Meraih kenop pintu kamarku lalu masuk dan menuju ke kamar mandi. Tidak sempat aku melihat reaksi dari wajah Tika, setelah aku mengucapkan kalimat tadi. Apa ucapanku itu terlalu kasar? Entahlah. Aku hanya ingin mandi sebentar, membasahi seluruh tubuhku, dari ujung rambut hingga dari ujung kaku. Sambil menjernihkan pikiranku.


Bersambung ...


__ADS_2