
Happy Ramadhan and happy reading π
βββββ
Still Lisa POV.
Hari ini sepulang kuliah, Dave tidak bisa menjemputku dan mengantarkanku pulang ke apartemen-ku. Sebab ia harus menghadiri pameran exhibition yang sedang di adakan di suatu tempat yang aku lupa apa nama tempatnya. Yang jelas tadi pagi dia menelponku dan memberitahukan kabar itu. Aku tidak keberatan.
Aku masih ingat cara menggunakan tube, kereta listrik bawah tanah. Dan aku juga masih memiliki kartunya. Jadi mudah untukku melakukan semua ini. Dari pagi hingga siang hari, aku habiskan waktu untuk berada di kampus. Mengikuti berbagai macam mata kuliah dan beasiswa yang aku miliki pun akhirnya bisa dapat aku jalani kembali.
Kring kring kring!!
Suara bel berbunyi hingga tiga kali, sebagai tanda bahwa pelajaran telah usai. Dan mata kuliah management bisnis ini merupakan kelas perkuliahanku yang terakhir untuk hari ini. Aku mengangkat tanganku dan melihat jam tangan yang melingkat terkunci erat pada pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh menit.
Aku melewatkan makan siangku saat jam istirahat tadi, agar aku dapat menyelesaikan tugasku yang tertunda tadi malam akibat rasa kantukku.
Bergegas aku merapikan bukuku serta peralatan menulisku lalu memasukkannya ke dalam tas. Kemudian meletakkan tali tas itu pada pundakku. Ya, hari ini aku memutuskan untuk menggunakan tas ransel.
Keluar dari kelas, aku memutuskan segera pergi ke kantin untuk mengisi perutku. Membeli beberapa jenis makanan. Pasalnya, tadi pagi oun aku tidak sempat untuk melakukan sarapan. Walaupun hanya setangkup roti.
Perlahan aku melangkahkan kakiku menuju loker, lalu meninggalkan beberapa buah buku yang tebal di dalam sana. Kemudian kembali berjalan melewati lorong demi lorong kelas hingga akhirnya menuruni tangga.
"Lisa ... Lisaa!!" Suara teriakan seseorang menggema di belakangku dan sontak membuatku terkejut lalu menoleh ke belakang. Mencari sumber suara itu.
Banyak anak-anak dari kelas lain yang juga memenuhi lorong yang tadi kulewati, hingga membuatku tidak bisa menemukan satu orang pun yang aku kenal. Saat aku hendal menutuskan untuk kembali menuruni tangga di hadapanku, tiba-tiba suara teriakan itu sekali lagi terdengar sampai masuk ke telingaku.
Sekali lagi aku menoleh dan akhirnya menemukan sesosok lelaki yang terengah-engah. Berhenti di depanku setelah sebelumnya berlari dan melewati kerumunan mahasiswa dan mahasiswi lainnya di lorong itu. Dia adalah Thom atau nama lengkapnya Thomas Hamilton.
Dia memegangi kedua lututnya dengan masing-masing telapak tangannya. Napasnya sedari tadi masih terdengar tersengal. Wajahnya juga menunduk ke bawah, seperti sedang menatapi lantai.
"Ada apa, Thom?" Aku bingung melihatnya. Thom juga salah satu teman sekelasku. Dia memiliki hobi yang sama denganku saat aku pertama kali mengikuti perkuliahan di kampus ini.
Membaca. Hobi yang sudah sangat lama aku tinggalkan. Apa lagi begitu mengenal Dave. Dulu saat pertama kali memasuki kampus ini, hal pertama yang aku tanyakan bukanlah di mana letak lokerku atau di mana letak kantin. Melainkan ruang perpustakaan.
Dulu aku juga sering menghabiskan waktu di dalam ruangan yang menyimpan puluhan, ratusan atau bahkan ribuan judul buku itu. Begitu selesai kuliah aku selalu memyambangi tempat paling tenang di kampus ini sekaligus temoat di mana otak kalian bisa terbuka dengan sangat lebar.
Tempat di mana seluruh ilmu pengetahuan dapat kalian miliki dengan gratis dan berkumpul menjadi satu di tempat itu. Aku selalu mengagumi setiap buku yang tertata dengan rapi di dalam rak-tak buku besar yang kokoh itu.
"Sudah lama aku tidak melihatmu pergi ke perpustakaan." Thom berucap masih dengan napas yang terengah.
"Iya, kamu bener. Tapi mungkin setelah ini aku bakalan ke sana. Aku ingin membaca sebuah novel."
"Sungguh?"
Aku mengangguk sembari tersenyum padanya.
"Lalu sekarang kamu mau ke mana?"
Dengan ragu-ragu aku mengatakan bahwa aku ingin pergi ke kantin untuk makan siang. Kemudian dia mengatakan hal yang serupa, jika ia juga ingin makan siang. Akhirnya kami berdua melangkah bersama menuju kantin.
Setelah aku membeli beberapa makanan, ditemani dengan Thom dan duduk di salah satu sudut meja di dalam ruangan kantin, kami berdua sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Aku dan Thom terdiam, terhanyut pada kegiatan makan siang masing-masing, walaupun sesekali mata kami saling menatao dan bertabrakkan.
Aku tidak banyak memiliki teman di kampus ini dan hanya mengenal beberapa orang saja. Bahkan yang dulunya satu angkatan denganku, sudah jarang aku temui akibat satu tahun lebih aku meninggalkan kuliahku.
Jadilah aku sendiri di kampus ini. Belum lagi dari mereka yang kebanyakkan tinggal di asrama sekolah. Memungkinkan mereka untuk mengenal banyak teman. Berbeda denganku yang tinggal jauh di apartemen.
Selesai dengan makan siang, aku dan Thom langsung menuju perustakaan. Namun sesaat sebelum aku menitipkan tas ranselku pada penitipan barang di pintu depan tiba-tiba saja ponselku berbunyi.
πΆ
Wait, can you turn around, can you turn around?
Just wait, can we work this out, can we work this out?
Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you
πΆ
"Maaf di dalam dilarang berisik. Jika bisa ponselnya menggunakan nada senyap saja," tegur salah seorang penjaga.
"Ah, maaf sebentar. Saya permisi dulu. Kamu duluan aja, aku harus nerima telepon ini," ucapku sopan pada penjaga perpustakaan dan pada Thomas.
__ADS_1
Aku bergegas keluar dari pintu depan lalu merogoh saku celanaku untuk melihat siapa yang sedang menghubungiku. Saat ku lihat ternyata Dave. Aku segera menerima panggilan telepon itu.
"Hallo?"
"Hai, kamu di mana?"
"Em, aku di depan gedung perustakaan. Kenapa?"
"Di kampus?"
"Iya," sahutku singkat. "Kenapa?"
"Temui aku di depan," ucapnya santai.
Aku mengernyitkan kedua alisku. "Loh, bukannya kamu ada pameran ya?"
"Aku tunggu di depan. Muach!" Dave mematikan sambungan telepon kami secara sepihak, membuatku penasaran dengan apa yang sedang ia lakukan. Berada di depan kampusku saat ini, yang mana seharusnya ia sedang berada di pameran bersama karyawannya.
Dengan langkah cepat aku berjalan menuju ke depan kampusku dan benar saja, aku mendapati dirinya sedang bersandar pada pintu mobil. Dengan mengenakan pakaian yang lebih santai tetapi tetap terlihat formal.
Dari kejauhan aku juga melihatnya menggunakan sebuah kacamata yang dulu pernah ia gunakan saat berjalan berdua denganku. Kedua sudut bibirku tersenyum lebar melihatnya siang menjelang sore hari ini.
Saat aku berjalan menuju ke arahnya, banyak ku dengar mahasiswi-mahasiswi lainnya yang sedang terkagum-kagum padanya. Yang mana mereka juga memandangi dari kejauhan.
"Oh my God! That is amazing. I have never seen like that before."
"I admire him so much!!"
"How beautiful is your creation, Oh God!"
Dan masih banyak kalimat lainnya yang para wanita itu ucapkan. Dan entah mengapa itu membuatku merasa bangga memilikinya. Hingga akhirnya langkahku terhenti tepat di depannya.
"Hey boy! Do you know? Sepanjang jalan aku menuju ke titik ini, berdiri di sini, banyak wanita di sana yang terkagum-kagum sama kamu?" ucapku dengan semangat.
"Oh ya? Trus?"
"Lebih baik kita cepet pergi," usulku.
Aku memukul pelan dada bidangnya lalu ia berkata, "Biar mereka semua yang ada di sana tahu, kalau aku cuman milik kamu." Kemudian Dave menggeserkan langkah kakinhaylalu membukakan pintu mobilnya untukku. Aku pun segera masuk dan duduk dengan tenang.
Kugigiti bibirku saat Dave sedang berjalan memutari mobil lalu masuk dan duduk di balik kemudi. Kami saling menatap sebelum akhirnya Dave menginjak pedal gas mobilnya lalu meluncur, keluar dari wilayah kampusku.
"Gimana kuliahnya hari ini?" tanya Dave lembut. Sesekali ia melirik ke arahku duduk.
"Good. Why?"
"Kamu ini kenapa sih? Dari tadi di telepon nanyanya juga kenapa kenapa dan kenapa. Gak ada pertanyaan lain?" protes Dave.
"Aku bingung aja kok kamu sekarang ada di sini? Memang pamerannya udah selesai?"
Dave hanya melirik sekilas padaku lalu mengatakan jika acara pemerannya belum selesai. Lalu tak lama ia membelokkan setir mobilnya memasuki sebuah kawasan fashion and mode yang cukup terkenal.
Kemudian Dave mengajakku turun dari mobil dan memasuki tempat itu.
Aku pikir kami hanya akan lewat tapi ternyata tidak. Dave langsung meminta pada pelayan toko untuk memilihkan pakaian untukku.
"Hei, kenapa enggak kamu aja yang pilihin buat aku?" Aku bergelanyutan di tangan Dave.
"Seriously?" Matanya terlihat berbinar.
"Ya, aku akan memakai apapun yang kamu pilihkan, asal masih dalam batas kewajaran. Lagi pula kita mau ke mana sampai aku harus ganti baju?" cerewetku mulai keluar.
"Rahasia ...," jawabnya sambil terus berjalan pada sela lemari untuk memilih pakaian untukku.
"Kenapa gak pulang dulu aja ke apartemen-ku? Pakaian aku masih banyak kok." Lagi-lagi aku memprotesnya.
Hal ini tidak hanya sekali pernah terjadi. Taoi sudah berkali-kali dan entah ini yang ke berapa kalinya. Dave selalu dengan spontan mengajakku pergi ke acara-acara yang menurutnya formal. Dan membutuhkan aku untuk menemaninya.
Bahkan ia juga sering mengajakku untuk berkumpul dengan teman-teman lelakinya. Yang usianya pun jauh di atasku. Dave seakan tidak malu untuk memgenalkanku yang berdiri di sampingnya.
"Kali ini acada formal apa yang mau kita datangi?" Aku meraih tangannya dan menariknya.
__ADS_1
Saat itu terjadi, dia sudah mendapatkan sebuah pakaian model jumper short di tangannya. Hingga akhirnya ia memintaku untuk mencobanya dan menghiraukan pertanyaanku. Aku menurutinya.
"It looks really nice on you!" serunya saat melihatku keluar dari fitting room.
Lalu dia meminta pelayan dari toko itu untuk mengambil barcode dari bajuku dan menunggunya melakukan pembayaran. Dave juga menyuruhku untuk tidak melepaskan kembali pakaian itu. Yah, dia memintaku untuk langsung mengenakannya.
Tenang saja, aku pikir pakaian ini sangat bersih dari kuman, bekas tangan-tangan orang lain yang memegangnya. Sebab saat mencobanya, para pelayan itu mengambil kan barang yang masih baru. Sehingga aman jika aku langsung menggunakan pakaian ini tanpa harus mencucinya atau pun merendam dengan air hangat terlebih dahulu.
Aku membawa pakaiankubyang sebelumnya ke meja kasir, di mana Dave sudsh berada di sana dengan memegang sebuah jaket wanita. Lalu ia juga memberikan jaket itu padaku.
"Thanks." Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi saat ini.
Ini juga salah satu sifat Dave. Ia senang sekali membelikanku beberapa lembar pakaian. Hingga suatu ketika aku pernah adu mulut dengannya hanya karena selembar pakaian, yang ia belikan untukku sebagai hadiah dari nilai tugas kuliahku yang kelewat sempurna baginya. Sembilan puluh lima atau sering dianggap sebagai nilai A+.
Saat itu rencananya, kami akan melakukan acara dinner setelah ia mengetahui nilai fantasfis dari ujianku. Pada sore harinya, ia mengirimkan seorang wanita ke apartemen-ku untuk mendandaniku.
Tadinya aku berpikir bahwa ini semua terlalu mewah, apa lagi dengan seorang make-up artist. Hanya untuk sebuah dinner biasa. Tapi tidak sampai aku mendapatkan sebuah kiriman lainnya. Yaitu sebuah dress yang harganya sama dengan harga sewa apartemen-ku selama dua bulan.
Tanpa berpikir panjang. Aku langsung meraih ponselku lalu menelponnya. Aku mengatakan jika semua yang ia lakukan sungguh menghamburkan uang dan tidak menghargai aku sebagai wanita. Tapi jawaban yang ia berikan padaku justru lebih membuatku mati akal.
"Justru karena aku menghargai kamu makanya aku pilihkan pakaian itu. Jangan dilihat dari harganya, Babe. Itu pantas untuk kamu."
Yah, jawaban itu cukup membuatku malu dan berpikir. Dan semakin hari, aku semakin terbiasa dengan semua pemberiannya itu. Termasuk saat ia membelikan sebuah mobil padaku.
Audi RS5 Cebriolet, berwarna biru benhur tiba-tiba terparkir di basemen apartemen-ku saat Dave menelpon dan memintaku untuk segera turun dan menemuinya. Saat itu sudah dua hari aku tidak bertemu dengannya karena dia sedang sibuk ke luar kota.
Aku terkejut begitu dia menciumku dan mengatakan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal rasa-rasanya aku tidak pernah memberitahukan padanya kapan tanggal lahirku. Lalu ia menyerahkan kunci mobil itu ke tanganku.
"Apa ini?" tanyaku setengah tertawa.
"Hadiah ulang tahun kamu." Dengan lembut ia mengatakan hal itu hingga membuatku benar-benar tidak percaya pada apa yang terjadi di depan mataku.
Tentu saja aku memeluknya, hingga tidak terasa airmataku tiba-tiba jatuh saat itu. Hingga membasahi kemejanya. Lalu ia memintaku untuk mengantarkannya pulang dengan menggunakan mobil baru itu.
Hari-hari ku semakin berubah. Bahkan saat mendengar kabar jika sahabatku, Tika, tidak jadi datang berkunjung pun aku merasa tidak apa-apa. Biasa saja. Padahal sebelumnya, aku sangat menantikan kehadirannya di sini.
Dave benar-benar memanjakanku. Membuat hidupku semakin lebih indah.
Hari ini tidak ada jadwal kuliah yang harus aku jalani. Aku memutuskan untuk bersantai sejenak di kamar tidurku sambil membaca buku novel seri Sherlock Holmes yang belum berhasil aku selesaikan. Hingga tiba-tiba saja suara ponselku berdering.
πΆ
Wait, can you turn around, can you turn around?
Just wait, can we work this out, can we work this out?
Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you
πΆ
Seperti biasanya, dari Dave.
"Hallo?"
"Kamu gak ada kelas 'kan hari ini?" tanyanya dari seberang sana.
"Gak ada, kenapa?"
"Temani aku, lima belas menit lagi aku jemput."
"Ke mana?"
"Temanku ulang tahun. Pakaian santai aja. Bye." Dia memutuskan sambungan telepon.
Aku segera meloncat dari tempat tidurku, meninggalkan novel Sherlock Holmes-ku yang tercinta di atas ranjang. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap.
Tak butuh waktu lama, begitu aku selesai dengan dandananku, sebuah notif pesan singkat berhasil berbunyi di ponselku. Dari Dave.
Ia mengatakan jika dirinya kini sudah berada di basemen gedung apartemen-ku. Sebuah senyuman mengembang pada wajahku.
Sekali lagi aku berkaca, mengecek penampilanku. Takut-takut akan ada sesuatu yang terlihat aneh. Begitu selesai aku langsung meraih tas kecil dan memasukkan dompet serta ponselku di dalamnya.
__ADS_1
Menyemprotkan parfum dan siap untuk keluar dari pintu apartemen-ku. Mendatangi Dave yang sudah menunggu di bawah.