Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 52


__ADS_3

Still Tika POV.


Aku pergi menuju rumah Lisa. Bukan karena ingin bercerita dengannya, tapi lebih karena aku ingin merokok. Aku terlalu pusing.


Bukannya bahagia di perlakukan seperti tadi, yang ada aku malah merasa agak kesal. Aku merasa seperti wanita cadangan yang berhasil menggeser wanita peran utama di hidup Jefri dan itu membuat aku sedikit agak jijik.


Di otakku selalu berpikiran bahwa Jefri hanya nafsu denganku. Perasaan sayangnya itu tidak tulus untukku. Namun disatu sisi, aku benar-benar mencintainya. Cinta itu muncul setelah kami sukses bersetubuh. Tapi kini aku menjadi ragu dengan perasaan cintaku sendiri. Apa benar ini cinta? Bukan nafsu belaka?


Aku memarkir mobilku di halaman rumah Lisa.


Teeeett..


Teeeett..


Ku tekan bel rumahnya.


"Sebentar....." teriak Lisa dari dalam.


Aku menunggunya sambil mengetukkan ujung sepatuku dilantai marmernya.


Ceklek.


Lisa membukakan pintu, terlihat rambutnya yang acak-acakan. Dan baju yang kurang rapi. Aku mengernyitkan sebelah alisku.


"Gua yang seharian kerja kok elu yang jadi gembel sih?"


Lisa hanya senyam senyum sambil menyuruhku masuk. Aku kembali terkejut begitu memasuki ruang tengahnya. Semua serba berantakkan guys!


"Sa, lu baik-baik aja kan?"


"Lu tunggu di belakang yaa, kalo mau minum ambil sendiri di kulkas, trus di lemari bawah meja bar juga ada camilan, oke? Gua minta waktu bentaaaaarrr aja." Lisa berlalu masuk ke kamarnya lalu mengunci pintunya.


Aku langsung paham.


Oh lagi one afternoon stand toh!


**********


Lisa POV.


"Siapa?" tanya lelaki di balik selimutku.


"Tika." jawabku agak gugup, "Pintu keluarnya cuman satu ini. Aku udah nyuruh Tika nunggu dihalaman belakang kok."


"Jadi udahan nih?" tanya lelaki itu lagi.


"I-iya bisa kan kita lanjutin lain kali kan?" tanyaku takut lelaki itu marah.


"It's ok. Lagian gawat juga kalo sampe Tika tau." sahut lelaki itu sambil memunguti pakaiannya lalu masuk ke kamar mandiku untuk bersih-bersih.


Aku keluar dari kamar menyusul Tika yang sudah dengan santainya duduk di halaman belakang.


"Bagi rokoknya dong?" pinta ku pada Tika.


Dia langsung memberikannya tanpa berkata apa-apa. Aku menyulutnya.


"Tumben lu kesini gak ngabarin, biasa juga nelpon dulu?" tanyaku.

__ADS_1


"Gua lagi kepingin ngerokok. Eh elu kalo mau nuntasin one stand nya, silahkan. Ga papa kok gua sendirian."


"Gak lah. Masa gua biarin lu disini sendiri trus gua enak-enakan dikamar." jawabku santai.


"Hm. Mau sampe kapan lu begitu mulu? Nyalurin nafsu kemana-mana."


"Mulut lu yee, sadis banget. Kayak belati!!"


"Tapi kok lu bisa sih, ga punya rasa begitu habis gituan?"


"Sama yang ini kayaknya gua serius deh. Minggu depan gua diajakin ketemuan sama bokap nyokab nya." ceritaku malu-malu.


"Oh ya? Selamat deh kalo gitu." Tika tersenyum melihatku kilas.


"Barusan Jefri ke kantor gua Sa." lanjutnya lagi.


"Serius? Ngapain?"


"Dia bilang sayang ke gua.. Dia juga ngasih kalung berlian.."


"Apa? Jadi Jefri udah nembak lu Tik?" seru lelaki yabg tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Aku dan Tika melongo.


Aku langsung auto panic!!!


"What the **** is this? Alex?????" teriak Tika gempar.


Aku hanya mencoba menutup telingaku.


"Em. Hehe. Hai Tik?" sapa Alex salah tingkah.


"Tik dengerin dulu, please. Gua bisa jelasin!" tegas Alex.


Tika menatap kami bergantian.


"Tik, dari awal gua udah tau Alex punya pacar. Trus gak lama Alex diputusin pacarnya." jelasku cepat.


"Trus lu percaya?"


"Trus waktu tante gua kesini, dia ngenalin gua sama anak temennya, ya Alex ini. Trus makin kesini kita saling cerita, ternyata kita punya temen yang sama, ya elu sama Jefri." jelasku lagi.


Tika sudah mulai terlihat agak tenang.


"Iya Tik. Gua serius kok sama Lisa. Sumpah jangan lu sama-samain gua sama Jefri. Bukan berarti dia *** sih. Cuman yaa, gua sama Jefri beda. Makanya tadi begitu gua denger lu bilang kalo Jefri nembak lu, gua agak kaget.." tambah Alex lagi.


"Bukan nembak sih, dia cuman bilang sayang doang. Kalian juga ngapain sih kalo emang serius mesti sex pra nikah!" umpat Tika kesal, terlihat dari nada bicaranya.


Aku dan Alex tertawa lebar.


"Alex udah ngelamar gua." ucapku bahagia sambil memperlihatkan cincin yang melingkar dijari kananku.


"Oh my God!!!" guman Tika dengan wajah anehnya, "Serius ini Lex?"


"Iya dong, masa becanda. Cincin mahal tuh!" sombong Alex.


Tika memelukku sampai berderai airmata. Aku memeluknya bahagia, sambil tersenyum memandangi Alex.

__ADS_1


Tika melepaskan pelukannya, "I'm happy for you guys.."


Alex berdiri, masuk ke dalam dan kembali dengan beberapa minuman botol ditangannya. Lalu membagikannya pada ku dan juga Tika.


"Kenapa kalian ga cerita dari kemarin-kemarin sih?"


Aku memandang Alex, dia angkat bicara, "Masa kami tega sih cerita begini sama lu, padahal lu nya lagi dilema.."


"Dilema apaan? Gak lah.."


"Kata Lisa kan lu lagi labil. Dilema sama perasaan lu sendiri." goda Alex. Aku cekikikan.


"Trus kalo Jefri bilang sayang, kok elu masih dilema gini? Harusnya happy dong." sambarku.


"Gua ga yakin. Boro-boro yakin sama dia, yakin sama diri gua sendiri aja gua ragu."


"Astaga Tikaaaaaaa! Lu ga yakin sama dia di sisi yang mana sih? Cerita sama gua. Gua tau banget tu anak gimana. Lu mau tanya apa? Gua jawab sejujur-jujurnya." Alex bersemangat.


Tika menyulut rokoknya lagi.


"Lex, perasaan dia ke Paula gimana sih?"


"Setau gua, sejak dia kenal sama lu dia jadi tambah ogah-ogahan sama Paula. Lagian Paula bukan cewe baik-baik. Sebenernya udah lama banget Jefri kepingin mutusin Paula, cuman belum cukup bukti aja." jelas Alex sambil menyulut rokoknya juga.


Sedangkan aku hanya menjadi pendengar setia. Karena aku sudah lebih dahulu tau ceritanya.


"Trus anak kecil itu, anak siapa?" lirih Tika.


"Gua sama Jefri pernah ngajakin tu anak jalan, trus waktu tu anak ketiduran, gua potong rambutnya beberapa helai. Trus besoknya gua sana Brandy yang masukin tu rambut di lab buat tes DNA."


"Trus?"


"Hasilnya ga cocok sama Jefri, cocoknya sama Pablo, mantan pacarnya Paula. Nahh karena waktu itu timing nya tepat. Makanya Jefri mutusin Paula."


"Ohh.. Trus Jefri pernah cerita tentang gua gak?"


"Ciee kepooo!!!" godaku memecah keseriusan.


"Hahaha cerita tentang lu sih banyak. Dia cerita sampe ***** sendiri.." Alex mengakak.


"Eiuwwh!" seru Tika sambil menutup matanya jijik.


***********


Tika POV.


"Jadi gua mesti gimana ini?"


"Ya terserah lu lah, ikutin kata hati lu. Tapi inget kalo hati sama otak lu lagi ga sinkron, jangan coba-coba lu pakai nafsu lu. Oke sweety?" saran Lisa sambil nyengir.


"Gua udah bantu dari sisi Jefri. Yang gua tau sekarang dia tergila-gila banget sama lu. Dan itu real, bukan nafsu." ujar Alex.


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil menikmati rokokku.


"Lagian gua ga pernah liat dia segigih ini. Belum lagi tiap hari gua di repotin sama dia. Bentar-bentar nelpon nanyain beli bunga dimana, ntar nanyain lagi beli coklat dimana, ntar nanya lagi beli ini beli itu dimana, cara pesennya gimana, berapa lama nyampenya. Pokoknya ribet sendiri deh." tambah Alex lagi.


"Hm.." aku menghembuskan nafas kasar lalu berpikir.

__ADS_1


Ya, aku merindukannya!


__ADS_2