
Still Dave POV.
Begitu kembali masuk ke dalam apartemen-ku, aku langsung menuju kamar lalu membuka lemari pakaianku. Mengambilkan kemeja putih yang sudah tidak cukup lagi pada tubuhku. Lalu mengetuk pintu kamar mandi.
Tokk troo tokk tokk tokk tokk!
Ketukan pintu yang sengaja aku buat berirama, agar wanita di dalam sana tidak merasa takut padaku. Dua kali aku mengulang ketukan pintu itu hingga akhirnya pintu kamar mandi itu terbuka sedikit, tapi tidak ada siapa-siapa, hanya sebuah tangan yang menjulur keluar dari balik pintu. Aku terkekeh geli.
Tiba-tiba muncul sebuah ide untuk menjahilinya. Bukan pembalut itu yang aku berikan padanya, melainkan aku memberikan telapak tanganku dsn langsung menggenggam tangannya. Namun sepersekian detik kemudian ia buru-buru melepaskan tanganku dan memukul keras punggung tanganku dengan telapak tangannya. Aku mengaduh kesakitan.
"Gak usah becanda, gak lucu!" lirih suaranya yang menggema dalam kamar mandi. Semakin membuat kedua ujung sudut bibirku tertarik. Membentuk sebuah lengkungan yang tercetak sempurna di sana. Lalu aku memberikan kemejaku padanya.
"Buat apa ini?" tanyanya singkat. Maka aku pun menjawabnya dengan sangat singkat pula. "Dipakai."
Setelah itu ia kembali menjulurkan tangannya dan aku mengerti apa maksudnya. Aku serahkan bungkusan pembalut itu padanya. Dengan cepat ia segera menutup pintunya, tapi kuhalangi dengan tanganku yang nyaris terjepit.
"Apa lagi?"
Aku menoleh ke arah lantai, mencari sesuatu yang sangat penting baginya. Sialnya akubtidak menemukan benda tipis itu. "Celana dalam ka—"
"Udah! Udah aku ambil." Ia menggerakkan pintu itu sedikit, memberiku isyarat agar segera melepaskan tanganku darinl sana. Aku menuruti kemauannya.
Padahal, ia tidak perlu melakukan itu padaku, toh tadi malam aku sudah menelusuri seluk beluk tubuhnya. Bahkan aku sudah mencecap dan meninggalkan beberapa kiss mark di sana. Lantas untuk apa wanita ini masih malu? Sungguh lucu.
Aku terkekeh geli lalu kembali menuju ranjangku, duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselku. Menunggu wanita itu keluar dari sana. Baru saja aku hendak membuka sebuah aplikasi pasar saham yang ada di dalam ponselku, tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk.
Ting.
Kulihat nama sang pengirim muncul di layar utama, Julia. Aku langsung menegakkan dudukku, lalu membuka pesan yang ia kirimkan. Sebab jujur saja sejak tadi malam aku memang selalu mencoba menghubungi anak ini bukan?
Dalam pesan singkat yang ia kirimkan padaku saat ini, isinya hanya menanyakan ke mana aku pergi tadi malam. Lalu apakahbaku mengantarkan Lisa pulang ke rumahnya atau tidak?
Aha!
Aku menjentikkan jari tengahku yang bertaut dengan jari jempolku. Sebuah tanda bahwa aku baru saja mengingat suatu hal yang penting. Teramat penting, yaitu sebuah nama.
Yaps!
Nama wanita itu adalah Lisa.
Tapi bukankah tadi malam hanya aku yang sempat memperkenalkan diriku padanya? Bahkan untuk nama sekalipun, hanya aku yang mengatakannya padanya.
Mengingat tentang sebuah nama, pikiranku kembali mengawang sambil menatapi pintu kamar mandi yang masih bergeming. Aku kembali mengingat sebuah nama yang keluar dari mulut Lisa, yaitu Max. Siapa Max? Lelaki mana ini? Apa dia baru saja putus dengan lelaki yang bernama Max itu? Hingga membuat dia akhirnya pergi ke klub langgananku?
Entahlah, untuk apa aku memikirkan semua itu? Lebih baik aku mengurusi pekerjaanku.
__ADS_1
***
Saat ini aku sedang berada di dapur. Bukan untuk memasak sebab aku tidak bisa memasak. Melainkan untuk menyiapkan sarapan. Yap! Aku memesannya melalui delivery order. Dan saat aku sedang asik menyiapkan peralatan, aku terkejut saat melihat Lisa berjalan ke arahku.
Aku terperangah melihatnya yang mengenakan kemeja dariku. Tadinya aku pikir jika dia pasti tidak akan mau mengenakannya, tapi nyatanya aku salah.
"Gaunku kok gak ada?" tanyanya saat sudah berdiri di depan meja bar. Dengan raut wajahnya yang ditekuk. Aku berusaha untuk tetap tenang saat ini, walaupun sebenarnya ada perasaan aneh yang membuat jantungku berdetak kencang.
"Sobek. Aku gak sengaja tadi malem," sahutku yang dengan gugup sambil mencoba mengalihkan pandangan mataku.
Shit!!
Perasaan apa ini?
"Duduk. Kamu mau susu atau orange?" titahku bagai diktator kejam. Ya, aku tidak ingin dia kembali kurang ajar lalu tiba-tiba menampar pipiku lagi nanti.
—————
Lisa POV.
Bodoh!
Kenapa aku mau saja diperintah oleh lelaki ini? Jangan-jangan nanti aku malah diterjangnya lagi?
Aku sudah duduk rapi di atas kursi yang tersaji di depan meja bar. Mataku berpencar, mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Apartemen ini sungguh megah, berbeda jauh dengan apartemenku. Padahal sebelumnya aku merasa apartemenku lah yang paling lumayan, ternyata masih ada lagi yang jenis seperti ini.
Ia memandangiku dengan kedua matanya yang tajam tapi seksi. Lalu caranya menahan pintu kulkas ... benar-benar membuat jiwa jombloku meronta-ronta, padahal ia hanya menyelipkan salah satu kakinya agar pintu kulkas tidak kembali tertutup.
"Hellooooo?" tegurnya sekali lagi dan menyadarkanku.
"Susu." Aku menjawab singkat. Kulihat ia menghela napas sambil berjalan ke arahku, dengan kedua tangannya yang membawa sekotak susu dan sekotak orange jus.
Di depanku sudah tersaji dua buah piring makan dengan isi jenis makanan khas British. Kulihat menu di dalam piringku sedikit berbeda dengan milik Dave. Di piringku, terdapat dua buah sosis, telur setengah matang, beberapa tomat panggang dan semangkuk kecil soup kacang. Sedangkan dalam piring Dave ada beberapa lembar roti tawar panggang sebagai pelengkap.
"Kenapa?" Lagi-lagi pertanyaannya memecah konsentrasiku.
Kulupakan sejenak kekesalanku akibat pakaianku yang menghilang entah ke mana dan kesakitan yang kurasakan di bawah sana saat aku berjalan. Sebab di depan mataku ini lebih penting. Perutku sungguh lapar. Tapi ...
"Makanlah!" titahnya tegas. Aku hanya diam, tidak berani bergerak ataupun menyentuh makanan di atas meja di hadapanku ini. Sebab ada rasa ragu yang tiba-tiba saja muncul dalam hatiku.
"Aku gak masukin obat pera*gsang ke dalam makanan itubatau ke dalam susu kotak ini." Ia memberikan alasan yang masuk akal bagiku. Untuk apa aku ragu?
Tanpa mengatakan apapun, tanganku langsung mengambil dua lembar roti yang ada di dalam piringnya lalu memindahkannya ke dalam piringku. Ia tidak protes, sebab saat aku melakukan itu sesekali mataku menatapnya.
Perlahan ia duduk di sampingku lalu menuangkan isi kotak susu itu ke dalam gelas minumanku. Sedangkan ia menuangkan orange juice ke gelas minumannya.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun lagi, masing-masing dari kami menyantap sarapan pagi ini dengan keheningan. Hanya terkadang suara dentingan sendok soup-ku yang bersanding menyentuh mangkuk. Tapi kedua mataku masih saja menyebar ke segala penjuru dapurnya. Bersih.
Desain kamar tidur dan ruangan lainnya yang tadi kulewati menuju dapur tidak berbeda jauh. Elegan dan benar-benar terlihat mewah dengan warna putih dan hitam yang mendominasi. Bahkan perabotan yang adapun terlihat sangat klasik. Semakin mempercantik isi apartemen ini. Sungguh luar biasa.
"Sekali lagi maaf ...," ucapnya tiba-tiba, membuatku sontak menoleh padanya yang ternyata juga sudah menatapku terlebih dahulu. "Aku terbawa suasana tadi malam. Dan aku pikir kamu ...." Kedua bola mata kami saling beradu untuk beberapa detik lamanya, hingga akhirnya aku mencoba mengalihkan pandanganku.
Memang ada sedikit rasa kesalku padanya, sebab rasa sakit yang kurasakan. Namun tidak dapat aku pungkiri juga jika aku menikmati semua adegan tadi malam. Ya, aku memang mabuk, kepalaku memang pusing, tapi melakukan itu berkali-kali tidak lantas membuatku terus saja tidak sadarkan?
Bullshit jika sampai melakukan semua itu tapi tidak sadar juga. Kecuali jika aku diberikan obat bius, bisa jadi aku tidak merasakannya. Tapi jika hanya mabuk atau obat perangsang, semua itu masih bisa merasakan nikmatnya sebuah permainan dewasa.
Oleh sebab itu, aku hanya sedikit kaget dan tidak percaya dengan diriku sendiri. Bisa-bisanya aku melakukan ini dengan lelaki yang baru saja aku kenal? Tapi tidak bisa aku pungkiri, permainannya sungguh membuatku merasa ... puas? Bukan, bukan puas, tapi nikmat, membuatku merasakan candu yang sama seperti sebelumnya, saat Max bermain denganku tapi tidak memasukiku.
Shit!!
Aku kembali teringat akan mahkotaku yang jatuh di tangan lelaki ini. Sekali lagi aku menoleh, menatapnya yang sedang menikmati sarapannya lagi. "Kamu harus tanggung jawab," ucapku tiba-tiba dan membuatnya mendadak tersedak.
Uhuk uhuk!
Dave segera meraih segelas orange juice-nya untuk meredakan rasa tersedaknya. Lalu balas menatapku. "Maksudnya tanggung jawab?"
Aku berpikir sejenak. Jika dilihat dari wajahnya saat ini dengan begitu jelas, tanpa remang-remang lampu gemerlap, aku sangat yakin bahwa dia seorang pekerja, bukan mahasiswa. Ditambah lagi dengan apartemen yang begini mewahnya. Dia pasti kaya.
Mungkin ... aku bisa sedikit meminta ganti rugi dan terus memanfaatkannya bukan? Lagi pula keperawananku juga sudah direnggut olehnya. Bermain-main sedikit untuk menunjang kehidupan boleh lah yah.
Tingtong!
Suara bel apartemennya berbunyi.
Bel pintu orang kaya saja berbeda bunyinya dengan orang biasa seperti di apartemen-ku. Aku memutar bola mataku.
"Tunggu di sini jangan ke mana-mana," ucapnya, lagi-lagi seakan memerintahku.
Dave berjalan menjauh menuju pintu depan. Entah siapa yang datang bertamu pagi-pagi seperti ini. Aku kembali menyantap sarapanku yang masih banyak dalam piring makan di hadapanku.
Untung saja hari ini adalah hari Minggu. Jadi aku tidak perlu repot-repot untuk bergegas pulang dan pergi ke kantor. Dan untungnya lagi lelaki yang meniduriku adalah lelaki kaya. Mungkin tidak terlalu kaya layaknya sang penguasa seluruh perusahaan, tapi setidaknya aku bisa melihat isi apartemennya yang memang menandakan ia memiliki uang yang lumayan.
Jika kalian bertanya padaku, menyesalkah aku saat ini? Aku akan menjawabnya, tidak!! Karena inilah impianku.
Mungkin Max tidak memandangku karena aku hanya berasal dari keluarga yang biasa. Lalu jika dibandingkan dengan wanita yang sering tampil dalam story Instagem Tika, aku memang kalah jauh. Wanita itu begitu fashionable, beberapa barang yang melekat pada tubuhnya begitu bermerk.
Lalu aku?
Mungkin Max tidak mau mendekatiku karena aku tidak sederajat dengan mereka. Aku tidak selevel dengan keluarganya. Dan mungkin jika suatu saat nanti aku kembali ke Indonesia dan memiliki segalanya, ia akan melirikku.
Yah, jika cara ini bisa aku lakukan dengan cepat, mengapa tidak aku coba?
__ADS_1
Aku akan membuatnya menyukaiku.