Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 70


__ADS_3

Dana POV.


Tika terlihat kaget melihatku menjenguknya.


"Apa kabar?" tanyaku.


Diruangannya terlihat dua orang lelaki. Aku tidak mengenali mereka.


"Ba-baik. Kok tau aku disini?" ia meminta bantuan lelaki di sampingnya untuk duduk.


"Tadi aku ke kantor, trus kata Bos kamu, kamu kecelakaan jadi ga masuk kerja."


"Oh. Bukannya udah final ya design kamu?"


"Iya, aku cuman mau mampir aja tadi, kebetulan ada proyek lagi disini. Oh iya ini buah-buahan buat kamu. Masih suka buah dong?" tanyaku sambil meletakkan buahnya di tas meja.


"I-iya masih. Thanks ya? Oh iya sorry, em kenalin, ini Haikal. Yang itu Jefri."


Aku menjabat tangan mereka bergantian sambil tersenyum kilas. Lalu langsung duduk di kursi kosong yang sudah ada disamping ranjang. Sedangkan kedua lelaki itu langsung menjauh dan duduk di sofa. Ku pikir mereka akan keluar, bersikap sopan dengan tamu Tika, batinku kesal.


"Kok bisa sampe begini sih?" tanyaku yang kemudian memandangi Tika.


"Aku ngelamun waktu nyetir."


"Oh, aku pikir kamu di tabrak orang." asumsiku.


Tika tersenyum manis. Badan nya penuh dengan luka dan lebam yang sudah mulai memudar.


"Ada project apa disini?" tanya Tika menghentikan pandanganku.


"Hm. Cuman project kecil. Oh iya kamu mau apelnya? Biar aku kupasin?" tawarku.


"Tika udah terlalu banyak makan buah hari ini. Lagian bentar lagi jam nya makan malam. But thanks buahnya." sahut lelaki yang membukakan pintu tadi sambil berjalan mendekati ranjang Tika.


"Oh oke, sorry. Kali aja Tika mau kan?" ucapku lagi sambil terpaksa senyum pada lelaki itu.


"Em iya, aku udah banyak banget makan buah hari ini, takut ntar malam bocor. So-sorry ya Dan?" sela Tika saat aku menatap lelaki itu.


"It's ok." sahutku tersenyum pada Tika lalu ku lirik jam tanganku.


Lelaki itu kini sudah berdiri disamping ranjang sambil memandangiku. Aku risih.


"Emm. Kalo gitu aku pamit dulu ya Tik? Udah jam 3 sore. Masih ada yang di urus juga." ucapku penuh penekanan.


Aku jengkel aja. Lelaki itu bilang 'bentar lagi jamnya makan malam' maksudnya apa coba? Baru jam 3 bro.. Emang kalo di rumah sakit makan malamnya jam 4 ato jam 5 gitu? Batinku.


"Aku pulang ya? Ntar lain kali pasti ke sini lagi, jengukin kamu. Cepet sembuh." lalu ku usap keningnya kilas.


Tika hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Kemudian aku pergi dari sana.


**********


Jefri POV.

__ADS_1


"Apaan sih dia, ngelus-ngelus kepala kamu seenaknya? Dia itu kan yang sering ke kantor kamu? Yang pegang-pegang tangan kamu waktu itu." sewotku setelah dia keluar dari sini.


Tika hanya menatapku dingin. Tanpa ekspresi apa-apa.


"Kamu gak ngasih tau dia apa kalo kamu udah punya calon suami?" sewotku lagi sambil kembali duduk di kursi singgasana ku.


"Ngapain dikasih tau?"


"Ya kasih tau lah, biar dia ga sembarangan lagi. Biar dia bisa ngontrol ucapannya sama ngejaga tangannya, biar ga kelayapan seenak jidatnya!" aku semakin kesal.


Tika hanya memandangiku sambil mengernyitkan sebelah alisnya.


"Lu cemburu?" celetuk Haikal yang kemudian berdiri. Berjalan mendekat ke arah kami.


"Gimana rasanya? Calon bini lu dideketin sama cowo lain? Sakitkan? Trus ngeliat Tika di pandangin sama cowo lain, risahkan lu? Ini sih masih biasa aja.." balas Haikal.


"Kal udah dong, please." sela Tika.


"Don't!! Tu cowo masih megang doang ke kepala Tika. Gimana kalo tiba-tiba tu cowo meluk Tika tadi? Hayo, lu bisa apa?" Haikal meninggikan suaranya.


"Elu yang jelas-jelas pelukan trus ketemu nya ga bilang sama Tika, trus Tikanya masih rela aja tuh ngebela elu! Kurangnya adek gua dimana coba?" ucap Haikal kemudian berjalan keluar ruangan, meninggalkan kami.


Aku mencoba menatap Tika. Lalu mengambil nafas panjang sambil memejamkan mataku.


"Sorry kata-kata aku tadi kasar."


"Enggak, kamu bener kok. Dia mestinya tau kalo kamu calon suami aku. Jadi dia bisa jaga sikapnya." ujar Tika santai.


"Kamu masih anggap aku calon suami kamu?" tanyaku senang saat mendengarnya mengatakan itu.


"Mau lah." ku genggam erat kedua tangan Tika, "Aku bakal buktiin ke kamu semuanya. Tapi sampai saat itu datang, aku mohon kamu jangan tinggalin aku." pintaku.


Tika hanya tersenyum padaku. Kemudian tangannya seolah mengisyaratkan aku untuk mendekatinya. Aku berdiri, duduk di pinggiran ranjangnya. Tika menggenggam tanganku.


"Kamu yakin masih mau aku jadi istri kamu?" tanyanya padaku.


"Iya dong.."


"Badan aku ga semulus dulu loh, yakin?"


"Iya yakin.."


"Aku cuman bikin malu kamu aja."


"Enggak, aku ga malu sama kondisi kamu kayak gini, yang penting kamu sayang aku, kamu percaya aku. Aku bakalan buktiin ke kamu kalo ga ada cewe lain lagi yang ada disini selain kamu." ucapku sambil meletakkan telapak tangannya di daerah jantungku.


Tika hanya tersenyum menatapku, kemudian dia bangkit dan memelukku. Aku mengecup puncak kepalanya.


**********


Max POV.


Setelah bekerja, aku memutuskan untuk mampir ke rumah sakit, melihat kondisi Tika. Kata Mamah via telpon tadi siang, semua perban ditubuhnya sudah dicabut dan dia terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Aku segeja melajukan gas mobilku agar segera sampai ditempat tujuan.


Tokk..


Tokk..


Ku ketuk pintu kamarnya lalu segera masuk. Jefri turun dari duduknya di ranjang Tika. Aku mendekati mereka.


"Gimana kondisi kamu?" tanyaku pada Tika setelah menjabat tangan Jefri.


"Baik kok. Kapan aku boleh pulang? Udah bosen." rengek Tika.


"Sehari lagi ya?"


"Gak mauu, besok ya? Kan ada Haikal yang bisa rutin ngecek.. Lagian udah ga mempan pewanginya, bisa-bisa aku muntah loh tiap ada yang masuk!"


"Ya udah nanti begitu dari sini aku datengin dokternya. Tapi obatnya selalu diminum gak?"


"Minum kok, di pecahin dulu tapi, trus yang kapsul direndam gitu."


"Kamu ini kayak anak kecil!"


"Aku udah bosen banget. Mau keliling tapi bau. Di kamar terus ya tambah bosen kan."


"Sabar, belajar sabar dong. Giliran yang begini aja ga sabar." sahutku lagi.


"Ya udah deh kalo gitu, eh Jefri lu udah makan?" tanyaku pada Jefri.


"Belum, dia belum makan dari tadi siang." sela Tika.


"Bener belum makan? Ya udah temenin gua makan di depan yuk. Tika biar aja ditinggal sendiri, dia baik-baik aja kok."


"Tapi Tika...."


"Udah makan sana, temenin Max. Dadaahh!" sela Tika lagi.


Lalu aku pun segera keluar kamar dengan ditemani Jefri. Kami mengobrol ringan diseoanjang lorong rumah sakit sampai akhirnya di sebuah rumah makan seberang rumah sakit. Kamibmulai memesan makanan lalu duduk disalah satu meja. Sambil menyantap makanan kami masing-masing.


"Jeff, selama lu jagain Tika, berarti lu gak kerja dong?" tanyaku membuka obrolan.


"Iya, gua izin seminggu."


"Dengan kondisi Tika yang begitu, lu masih mau dia jadi istri lu? Lu ga berubah pikiran?" ku tanyakan dengan hati-hati.


Jefri mengangkat kepalanya, menatapku sambil menelan makanan yang ada dalam mulutnya.


"Ya gua nanya sebagai sesama lelaki aja, bukan sebagai kakaknya. Dan lu pasti tau, mungkin kalo bekas goresan di sekujur tubuhnya itu bisa ilang dengan cepet. Tapi bekas luka di bahu dan paha nya agak lama baru bisa hilang." jelasku lagi.


"Gua sayang sama dia bukan karena fisik. Jadi gua tetep sama pilihan gua." jawab Jefri singkat.


Aku hanya menganggukan kepalaku. Syukurlah kalo memang Jefri sudah benar-benar mantap dengan Tika disegala kondisi. Aku jadi lebih sedikit agak lega, batinku.


Sebenarnya aku tau Tika dan Jefri ada masalah. Haikal sudah menceritakan semuanya padaku. Tapi ku lihat dari cara Tika dan Jefri yang tidak memperlihatkan masalah itu didepan semua orang, aku yakin, mereka dewasa. Mereka bisa mengatasi masalah mereka berdua.

__ADS_1


Semoga saja pemikiranku benar.


__ADS_2