
Selamat membaca ...
——————————
Dave POV.
Aku merasa beruntung masih memiliki seorang saudara yang dapat aku andalkan saat ini. Dan memang hanya dia yang bisa aku andalkan. Lagi pula, aku memang akan memberikan padanya semua yang sudah dia miliki itu. Seperti apartemen dan juga mobil. Untuk villa, seharusnya aku memberikannya nanti, begitu dia bisa menjalankan villa itu dengan baik.
Tetapi, di saat seperti ini, semuanya harus aku percepat, agar perusahaan milikku bisa kembali berjaya seperti dulu. Aku tidak ingin kembali hidup melarat di negara orang. Aku membawanya pindah ke sini, semata karena di sini adalah mata uang tertinggi, setidaknya jika kembali ke Indonesia dengan uang tabungan pun, kami akan terlihat kaya.
Jadi tidak mengapa bagiku, jika dia memiliki setengah saham dari perusahaan, toh saat ini dia yang membantuku. Dan aku harus cepat kembali pulih, aku harus menyelidiki penyebab terbakarnya bangunan kantorku di sore hari. Di saat semua karyawan sudsh berpulang ke rumahnya masing-masing.
“Bi, tolong buatkan air hangat di dalam wadah untuk merendam kakiku.”
“Tapi, Tuan, bukannya itu menggunakan garam khusus?” tanya bibi lagi.
“Iya, tapi kali ini aku hanya ingin mencoba saja. Aku tahu kita tidak memiliki garam itu.”
Tiba-tiba seseorang muncul dari ambang pintu kamarku yang terbuka dan itu adalah Mr. Andreas. Aku terkejut melihatnya, sebab aku sudah menghentikan proses terapiku dengannya dan Leo sudah menghubunginya.
“Bibi, tolong simpan ini dan larutkan satu sendok teh saja jika Tuan Dave ingin merendam kakinya,” ucapnya pada bibi di sana.
“Berapa yang harus aku bayarkan untuk sebotol garam itu?” seruku dari tepi tempat tidur.
“Tidak perlu, ini gratis untuk Anda.” Dia melangkah ke arahku sedangkan bibi langsung menerimanya dan pergi menjalankan tugasnya.
Mr. Anderson duduk di salah satu kursi yang ada di dekatku, yang sebelumnya aku gunakan sebagai alat penunjang latihanku beberapa hari ini.
Aku sedikit bingung dengan kemurahan hatinya itu. Entah angin apa yang membuatnya bersikap baik seperti ini dan tanpa mengharapkan imbalan apa pun untuk sebotol garam yang tadi dia berikan padaku.
“Kenapa baik sekali denganku?”
“Karena selama ini Anda sudah memperlakukan ayahku dengan baik, bahkan di saat kantor Anda mengalami kesulitan, Anda tidak memecat satu pun karyawan Anda dan aku berterima kasih untuk itu.”
“Ayahmu?” Aku sedikit bingung dengannya.
“Ya, aku sudah berkali-kali mengatakan pada ayahku untuk berhenti bekerja dari perusahaan Anda, tetapi beliau menolak. Ujarnya pekerjaan itu sangat mudah dan Anda memberikannya gaji yang lumayan untuk kami sekeluarga,” jelasnya.
Mr. Andreas sungguh membuatku semakin bingung dengan ucapannya itu. “Katakan siapa nama ayahmu itu?”
Dia tersenyum. “Antonio, beliau hanya seorang office boy di perusahaan Anda. Tetapi aku bangga memilikinya. Aku bangga dengan semangaatnya yang terus berjuang. Maka aku rasa, perbuatanku tidak ada apa-apanya.”
Kemudian Mr. Andreas juga mengatakan jika uang yang aku kirimkan untuk membayar jasanya, sebagian ia gunakan untuk membelikanku sebotol garam tadi lalu sisanya, dia berikan kepada kedua orang tuanya.
Aku tersentuh mendengar ucapannya. Dia yang begitu menghormati dan mencintai kedua orang tuanya, hingga bersedia memberikanku sesuatubyang memang aku butuhkan. Dan semua itu dia lakukan dengan tulus. Aku benar-benar tidak percaya, ternyata masih banyak manusia yang baik sepertinya.
“Terima kasih. Untuk saat ini aku tidak bisa membalas kebaikan hati kami itu, Mr. Andreas.”
“Tidak perlu di balas, Pak. Saya suka rela melakukannya.”
Kemudian bibi datang membawakan sebuah wadah yang juga sudah berisikan air bercampur garam untuk meredam kakiku. Beliau juga meminta Mr. Andreas untuk mengajarinya cara memijat kakiku, Mr. Andreas melakukannya dengan senang hati.
Aku tidak menyangka jika selama ini sudah di kelilingi oleh orang-orang yang baik hati. Aku pikir, aku hanya hidup berdua dengan Dana tapi ternyata tidak.
**
__ADS_1
Berbulan-bulan terus berlalu, semakin banyak kemajuan dari kaki ini, karena di setiap kesempatan aku selalu melatihnya. Begitu pula dengan otak dan pikiranku yang sudah semakin membaik dan perlahan melupakan Lisa yang tidak pernah menghubungiku.
Aku pernah menghubunginya, tetapi aku tidak pernah berani untuk berucap, walaupun hanya melalui sambungan telepon. Karena aku tahu diri, jika aku belum bisa sepenuhnya berdiri di depannya, apalagi berlutut untuk meminta maaf padanya. Aku tidak pantas.
Ya, aku memang pengecut, aku memang lemah dan aku memang tidak senang mengejar wanita yang membuangku. Aku mempelajari itu dari mantan isttiku. Dia sempat membuatku mati rasa bahkan geram dengan tingkahnya yang menghancurkan hubungan baru yang aku bina bersama Lisa.
Namun, aku juga tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya, andai saja aku jujur dari awal. Mungkin semuanya tidak akan terjadi dan mungkin dia akan ada di sini menemaniku.
Walau begitu, aku suka dengan dirinya yang memiliki prinsip kuat. Karena wanita harus memiliki sikap itu agar tidak mudah dilecehkan.
“Permisi, Pak. Sudah waktunya kita pergi,” tegur Leo.
Dengan menggunakan sebuah tongkat, perlahan aku berdiri, berjalan tertatih melewati kamar dan tangga, menuju ke mobil yang sudah berada di depan pintu rumah. Lalu masuk perlahan.
“Kita ke mana, Pak?” tanya Leo padaku setelah dia sudah siap akan mengemudikan mobilnya.
“Bawa aku ke University of London. Aku ingin bertemu dengannya, sebelum itu aku ingin membeli bunga mawar untuknya.” Aku mengembuskan napas.
Beberapa hari ini aku mengumpulkan keberanian untuk menemuinya. Aku hanya ingin melihatnya dan menanyakan kabarnya selama ini. Sebab dari tagihan kartu kredit yang aku terima setiap bulannya, tidak ada transaksi apa pun. Padahal aku sudah mengatakan padanya untuk menggunakan kartu itu agar kebutuhan sehari-harinya terpenuhi.
Begitu sampai di sana, Leo segera mencari keberadaannya, karena aku masih ingat betul jika hari ini adalah jadwal kuliahnya. Lama aku menunggu sampai akhirnya tiba-tiba aku melihat sebuah mobil yang melintas. Sebuah mobil yang aku kenali dengan pasti.
Di saat pintu mobil itu terbuka, betapa terkejutnya aku melihat seorang wanita yaang selama ini aku rindukan keluar dari mobil adikku sendiri. Dan dengan tertawa bahagia. Mereka berdua terlihat tertawa bersama.
Segera aku menutup kedua mata ini, lalu menundukkan kepalaku. "Mungkin aku hanya salah lihat! Tidak mungkin mereka saling kenal,” gumamku membodohi diri.
Cukup lama aku menundukkan wajah dan mencoba mengendalikan ritme detak jantungku. Bahkanbsku merasa sedikit takut untuk mendongak dan melihat kembali. Karena sku tidak yakin dengan apa yang sudah aku lihat tadi. Sebab mungkin saja itu hanya halusinasiku sesaat.
Tidak berapa lama setelah itu pintu mobil terbuka dan Leo kembali masuk. Dia mengatakan jika jadwal kuliah Lisa telah di majukan beberapa hari yang lalu. Sehingga hari ini tidak ada jadwal untuk kuliah.
——————————
Lisa POV.
Hampir setiap hari di beberapa minggu terakhir ini, Dana selalu menghubungiku. Lelaki yang mempermalukanku sekaligus yang berkenalan denganku di pesawat. Dia sering mengajakku makan siang, makan malam ataupun sekedar untuk mengantarkan aku pergi kuliah. Dia juga lelaki yang cukup baik, bahkan dia selalu membuatku tertawa dengan cara bercandanya. Membuat hariku kembali berwarna.
Seperti kali ini, tadi pagi dia mengajakku untuk sarapan bersama lalu segera mengantarkanku kuliah. Bahkan hari ini penampilannya sedikit terlihat berbeda. Jika kemarin-kemarin dia hanya mengenakan kemeja polos dan celana kainnya, tadi dia berpakaian lengkap beserta dengan jasnya. Menawan. Aku menyukai lelaki yang berpenampilan seperti itu. Lebih seksi.
“Floo!!” Suara teriakan seseorang dari belakang membuatku sontak berbalik.
“Apa?!” hardikku pada seorang lelaki yang berteriak tadi, namanya adalah Jonathan. Mahasiswa berprestasi nomer satu di kampus ini.
“Tadi ada cowok yang nyariin elu di ruang piket. Trus juga nanyain jadwal kuliah elu. Trus pergi deh! Elu ngapain ke kampus hari ini? Tahu begitu gua suruh dia nungguin elu aja tadi.”
Aku mengernyitkan alis, merasa bingung dengan apa yang Jonathan katakan. Tetapi aku seakan tidak ingin terlalu memikirkan itu, karena tugas kuliahku lebih penting untuk aku pikirkan. Akhirnya aku hanya mengucapkan terima kasih kepadanya lalu beranjak pergi menuju ke perpustakaan.
**
Hingga hampir menjelang malam, aku habiskan waktu untuk menyelesaikan semua tugasku, sebab besok aku harus mengajukan tugas akhirku khusus untuk semester ini, agar semester depan aku dapat mengambil mata kuliah yang lebih spesifik lagi dari jurusan yang aku tekuni.
Aku segera membereskan beberapa buku yang berserakan lalu mengembalikannya ke tempat asal di mana aku mengambilnya. Lalu ada beberapa buku lagi yang aku pinjam dari sana. Di saat aku baru saja keluar dari perpustakaan tiba-tiba saja ponselku berbunyi.
🎶
Wait, can you turn around, can you turn around?
__ADS_1
Just wait, can we work this out, can we work this out?
Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you
🎶
Aku segera mengambilnya dari dalam tas dan memeriksa, nama siapa yang tertera pada layar dan aku mendapati nama Dana di sana. Segera aku terima sambungan telepon itu. “Hallo?”
Kemudian dari seberang sana, Dana mengatakan jika saat ini dia sudah keluar dari ruang meeting. Lalu dia ingin berniat untuk menjemputku setelah aku katakan jika aku masih berada di kampus saat ini.
“Ya udah, kalo gitu aku tungguin di kafe depan kampus aja ya? Aku dehidrasi soalnya.” Aku memberikan alasan. Kemudian setelah itu kami mengakhiri panggilan tersebut.
Aku langsung menuju kafe di depan kampus dan memesan segelas black coffee ice dan duduk menunggu Dana menjemput.
Begitulah aku dan dia, semakin hari semakin dekat dengan cara berbincang kami berdua yang juga ikut berubah. Sudah menggunakan aku dan kamu. Terkadang jika mengingat awal perkenalan aku dengannya selalu membuat aku tersenyum sendiri.
Mungkin sudah sekitar lima belas menit aku duduk di sini sambil menghabiskan minumanku, hingga akhirnya lelaki yang aku tunggu itu akhirnya datang dengan memarkirkan mobilnya tepat di balik dinding kaca di mana aku duduk, lalu dia keluar dari sana tanpa mengenakan jas yang tadi pagi dia kenakan.
“Ada minuman apa yang enak di sini?” tanyanya sembari duduk di depanku dengan matanya yang menoleh papan besar di atas dinding yang menuliskan beberapa jenis menu di kafe ini.
“Kamu maunya minum apa? Yang manis, seger atau yang panas?” tawarku.
“Kalau yang manis, aku sudah punya kamu, yang seger juga ada di kamu, cuman kalau yang panas aku belum nemuin sih ada di kamu atau enggak,” candanya sambil tersenyum tipis padaku.
“Gombal aja terus!” balasku mengejeknya.
Dana hanya tersenyum lalu memerhatikanku sambil melipat tangannya di atas meja. “Aku punya ide, dua minggu lagi apartemen kamu habis sewanya, 'kan?”
Aku mengangguk dan mengatakan jika belum menemukan tempat yang cocok untuk pindah yang biaya sewanya lebih murah di bandingkan dengan yang sekarang. Beberapa barang juga sudah aku jual secara online, untuk menambah uang tabunganku selama ini. Dan aku tidak menyangkan jika barang-barang itu akan cepat laku dan juga lumayan memiliki nilai walaupun dijual secara bekas-pakai.
“Ide apa?”
“Ikut aku,” ucapnya sembari menarik tanganku untuk segera keluar dari kafe itu lalu masuk ke dalam mobil.
Aku bingung melihat tingakahnya kali ini. Lagi-lagi penuh kejutan dan penuh misteri. Dana langsung melepaskan dasinya begitu dia meletakkan tas dan bukuku di kursi belakang, lalu berkata, “Aku kasih kamu kejutan, tapi pakai ini buat penutup mata, gimana?”
Untuk sejenak aku berpikir, lalu mengambulkan permintaannya untuk menutupi mataku dengan dasi yang di kenakannya. Setelah itu mobil yang dinaiki ini lamgsung melesat pergi setelah dia menyalakan mesinnya.
Tidak ada yang aku katakan selama dalam perjalanan, Dana hanya menggenggam tanganku dengan begitu erat, hingga membuat jantungku berdetak dengan cepat, napasku seketika bergemuruh begitu Dana menarik tanganku dan mengecup punggung tanganku dengan begitu lembut.
Ini bukan pertama kalinya dia mengecup punggung tanganku, bahkan sudah berkali-kali dia melakukan itu, hingga di tempat umum saat kali sedang makan malam. Dia seakan sudah biasa melakukan itu, tapi tidak untukku.
Bagiku, hanya Dave yang pernah melakukannya hingga tiba-tiba saja pikiranku kembali teringat dengan lelaki itu. Dengan Dave yang selalu menbuatku bahagia. Lalu perlahan dalam relung hati ini, aku kembali merindukan kehadirannya. Aku merindukan belaian serta sentuhan lembutnya.
Dalam keadaan mata tertutup seperti ini dan perlakuan Dana yang seperti ini , membuat pikiranku terus saja membayangkan jika Dave-lah yang melakukan semua itu padaku. Bukan Dana. Karena caranya menyentuhku, sama persis dengan cara Dave memperlakukanku dan itu baru aku sadari saat ini. Dengan kondisi yang seperti ini.
Bersambung ...
——————————
Sekian dulu,
Babay 💋
@bossytika
__ADS_1