Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 54


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Lisa POV.


Aku terbangun dari tidurku saat mencium suatu aroma masakan yang sepertinya sangat mengugah selera. Membuat perutku berbunyi tidak karuan. Segera aku mengerjabkan kedua mata dan mengusapnya sambil menoleh ke samping yang nyatanya Julia sudah tidak ada lagi di balik selimut.


“Ini pasti Julia yang masak,” gumamku sembari mengambil gelas air minumku untuk di bawa ke dapur.


Begitu melangkah keluar kamar, benar saja, aroma sedap tadi memang berasal dari dapur di apartemenku. Julia sedang asik bereksperimen di sana dan aku menyapanya.


“Morniingg!! Ngapain lu?” sapaku sambil melangkah mendekatinya lalu meletakkan gelas tadi di dalam wastafel.


“Ya, masaklah!”


“Dapet bahan dari mana? Kan isi kulkas gua udah bersih, udah gua buang-buangin semuanya.”


“Gue ke supermarket dua puluh empat jam tadi.”


Aku hanya menaik-turunkan kepala tanda setuju dengan apa yang dia kerjakan saat ini. Lalu aku kembali beralih memgambil gelas baru dan membuka kulkas. Menuangkan isi kotak orange juice ke dalam gelas dan meminumnya sambil melangkah menuju kursi di sisi lain meja kitchen ini.


Julia begitu cekatan dan juga lihai dalam menggunakan beberapa alat memasak di dapurku ini. Sudah seperti koki yang ada dalam acara stasiun televisi ternama itu. Mastery Shef *lol.


Tak lama aku menunggu, lalu Julia mengambil dua buah piring dab meletakkannya di depanku. Dengan spatula itu, dia mulai menyajikan isi wajannya. Membagikan dengan rata spaghetti yang ada.


Ya, Julia membuat spaghetti alla carbonara, yaitu masakan khas Italia yang dimasak dengan saus telur, keju dan daging. Carbonara diciptakan dari resep rakyat pedesaan Italia tengah yang berciri sederhana dan disajikan apa adanya.


“Ayo cicipin, enak gak?” Julia mengambilkan sebuah garpu untukku lalu menyodorkan sebuah piring itu untuk aku cicipi. Dan benar saja, Julia memang jago untuk urusan memasak. Sangat enak dan sangat lezat.


“Enak nih, boleh dong gue di ajarin masak yang begini? Jadi kalo elu gak ada, gua bisa hemat, masak sendiri.” Aku langsung kembali meneruskan mencicipi makanan itu hingga isi satu piring itu habis seketika.


Julia terkekeh melihat caraku makan. Lalu menawariku isi spagetti dalam piringnga yang masih tersisa setengah. Tanpa ragu, aku langsung menarik dan melahapnya habis.


Setelah selesai sarapan yang sepertinya terlalu lamat, karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku langsung membersihkan dapur dan membiarkan Julia ubtuk beristirahat. Sebab aku juga masih merasakan sedikit pusing pada sebelah kepalaku. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak meminum minuman beralkohol lagi.


Sambil mencuci piring aku bersenangdung, sambil mengingat kembali kejadian yang terjadi tadi malam. Dengan mudahnya Julia bisa mendapatkan uang dengan waktu yang singkat pula.


Lalu terlintas pada otakku, untuk mencoba apa yang telah Julia lakukan itu. Bukankah dengan begitu aku tidak perlu bekerja seharian penuh seperti dulu lagi? Dan aku masih akan bisa tetap kuliah, toh pekerjaan itu adanya malam hari. Iya 'kan?


Semua peralatan di dapur sudah selesai aku bersihkan dan aku rapikan kembali, meletakkanya ke tempatnya masing-masing. Aku memang tidak pernah menggunakan dapur ini, tetapi aku masih ingat betul di mana letak-letaknya.

__ADS_1


Kemudian aku segara kembali ke dalam kamar lalu menemukan Julia yang secara tiba-tiba menyodorkan segepok uang hasil pekerjaannya itu padaku.


“Nih, buat kamu. Makasih sudah nemenin tadi malam,” ucapnya santai membuatku terperangah dan takjub.


Aku benar-benar terkejut melihat dia yang memberikan uang itu padaku. “Enggak perlu, Jul.” Aku berusaha menolak.


“Sudahlah ... ini ambil.”


“Semuanya? Ini terlalu banyak, bukannya sedikit?”


“Sudahlah, anggap aja tadi malam aku lagi menang lotre. Nih.” Julia memaksa yang akhirnya aku menerima semua itu.


Kemudian aku Julia memintaku untuk menemaninya pergi ke bank, agar dia bisa menyimpan semua uang yang dia dapatkan tadi malam, aku menyetujuinya.


Dengan bergantian kami memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Lalu setelah aku selesai, dengan cekatan aku mengambilkan satu set pakaian untuknya. Meminjamkan pakaian yang dulu Dave berikan untukku. Mungkin setelah itu, pakaian ini bisa sekalian aku berikan saja pada Julia, agar aku bisa melupakan lelaku itu sekalian.


Aku mulai berdandan, hanya menggunakan beberapa jenis make-up untuk melapisi beberapa bagian pada wajahku ini. Lalu kembali menuju lemari dan mencari pakaian yang akan aku kenakan. Sampai akhirnya, aku memgambil sebuah blouse loose top yang dipadukan dengan celana jeans berwarna biru langit.


“Ini bajunya?” pekik Julia yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aku mengangguk.


“Bagus banget, baju mahal ini. Tuh 'kan merek terkenal. Ini Dave yang beliin?” pekiknya lagi sambil menghampiriku. Lagi-lagi aku mengangguk tegas.


Setelah drama perselisihan tentang baju itu, akhirnya kami pergi menuju salah satu bank ternama di kota ini. Julia langsung berdiri mengantri pada sebuah mesin penyetor uang. Sedangkan aku juga ikut berdiri di sampingnya untuk menemani.


“Jul, elu itu cuman nemenin aja, 'kan? Beneran gak ngelakuin apa-apa, 'kan?” tanyaku masih penasaran.


Julia mengangguk kemudian kembali terfokus pada layar ponselnya. Dan aku masih berpikir sengan sejuta terkaan lainnya yang memadati otakku.


“Malam ininada lagi gak?” bisikku pelan.


Julia menatapku lalu mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam tas. Dengan kedua tangan yang dilipatnya di depan dada, Julia memandangiku dengan heran.


“Gue cuman temenin dia minum dan sebelum-sebelumnya gue pernah lakuin ini, Lis. Dan semua ini bahaya. Gue cuman beruntung tadi malam ketemu pria sebaik itu.” Julia menjelaskan.


Kemudian tiba giliran kami di depan mesin itu. Julia langsung memasukkan kartunya lalu menyetorkan uang itu. Aku juga menitipkan segepok uang yang tadinya dia berikan padaku untuk di kirimkan langsung ke rekeningku saja dan Julia melakukannya.


Julia juga meninggalkan beberapa lembar uang di dalam tasnya itu, mungkin agar dia tidak terlalu repot untuk ke ATM lagi. Setelah dari sana, aku dan Julia memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran untuk melakukan makan siang sambil bersantai sejenak.


**


Akhirnya Julia membawaku makan ke salah satu restoran yang menyajikan cita rasa Asia, yaitu restoran Rasa Sayang. Restoran ini merupakan tempat makan yang berada di Chinatown, 10 Wardour St, West End, London.

__ADS_1


Aku bisa mendapatkan menu makanan Malaysia dan Singapura di tempat ini, sehingga cita rasa makanan yang tidak akan asing di lidahku dan juga perutku, tentunya. Ada beberapa menu tersaji di tempat ini. Namun yang menjadi andalan adalah Roti Canai, Curry Prawn, Sate Ayam, Beef Rendang, Dadar Gulung, dan masih banyak lagi.


Di restoran ini juga masih menyajikan minuman yang beralkohol. Bagi Julia, mungkin sudah biasa makan dengan ditemani minuman beralkohol tetapi tidak denganku yang terbiasa dengan segelas air putih.


Aku kembali membahas tentang pekerjaan yang ternyata sudah digeluti oleh Julia selama beberapa bulan terakhir. Karena dia membutuhkan uang untuk membayar kuliahnya. Dan cara yang paling cepat memang seperti itu. Hanya saja resikonya terlalu besar.


“Jadi sudah lama lu begini?” tanyaku sambil menyesap air putih pada gelas minumanku.


Julia mengangguk lalu berkata, “Beberapa bulan sebelum elu pisah sama Dave.”


“Trus trus?”


Kemudian Julia menceritakan semua tentang dirinya, kehidupannya bahkan tentang masa lalunya yang hampir sama denganku. Bedanya, Julia sendiri yang memergoki pacarnya saat itu sedang bercumbu denga wanita lain. Padahal kondisinya saat itu Julia masih berstatus pacaranya dan juga sudah pernah melakukan hubungan terlarang tersebut.


Karena bagi Julia, kehidupan dan budaya di negara Indonesia sangat berbeda jauh dengan budaya pada kehidupan masyarakat London. Yang mana di sini dengan bebas bisa mengekspresikan ungkapan isi hati.


Bahkan menurut Julia, di kota London sendiri banyak anak-anak yang sudah berusia remaja harus keluar dari rumah orang tuanya lalu berusaha dan berjuang sendiri untuk menghidupi diri. Bukan di usir, hanya saja mereka diajarkan untuk benar-benar menjalani kehidupan yang mandiri.


Dan lagi, di kota ini banyak pasangan muda yang sudah tinggal serumah dan hidup layaknya suami istri tetapi mereka belum menikah sama sekali.


Pola pikirku menjadi berubah saat ini, begitu memandang kehidupan kota asing yang aku tempati sekarang. Membuat aku harus berpikir lebih realistis dan juga lebih luas. Tanpa terasa sudah beberapa jam kami berdua lalui di dalam restoran itu. Tidak hanya memesan berbagai macam menu masakan dan juga camilan. Tetapi kami juga mencoba berbagai macam minuman yang di sediakan di sana, hingga malam kembalu menjelang.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa jika kalian mendukung karya ini, berikan boom like dan komen sebanyak-banyaknya.


Tertapi jika ingin memberikan VOTE, silakan buka judul KEBAHAGIAN TAK SEMPURNA dan jadikan satu vote-nya ke judul itu. Oke?


Terima kasih untuk kalian semua.


(season awal/pertama/satu sedang tahap revisi.) Favorite-in aja dulu judul ini, nanti aku kasih tahu kalau revisi sudah selesai dan kalian bisa membaca ulang. Yang jelas aku bakalan bikin lebih bagus dari pada versi asli yang katanya terlalu vulgar. Dih itu mulut nyinyir amat, kalo iri bilang boss 😂


Sekian dulu, maaf curhat dikit!


Babay 💋


#salambucin dan terima kasih.


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2