Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 59


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Dave POV.


Tok tok tok!


“Permisi, Pak!” ucap Leo sopan setelah mengetuk pintu ruang kerjaku. Kemudian aku menyuruhnya untuk menutup pintu itu.


“Pasti Dana yang sudah lancang menyuruh kamu buat ke sini.” Aku berucap sambil memandangi perkebunan bunga mawar di belakang rumah ini. Sesekali aku meliriknya yang masih tertunduk, tidak menatap padaku seperti biasanya jika saat sedang di kantor dulu.


Ya, sudah berbulan-bulan berlalu dan aku tidak pernah lagi datang ke kantor. Hanya Dana yang aku minta untuk ke sana. Aku juga tidak pernah menghubungi Leo, semuanya aku sampaikan melalui Dana. Padahal bisa saja aku menelepon Leo sendiri, untuk menugaskan pekerjaannya, tapi tetap tidak aku lakukan.


Bahkan kemarin sore saat aku mengaktifkan kembali benda tipis itu, aku hanya bisa memandanginya. Membaca setiap pesan yang masuk tanpa membalasnya. Memeriksa panggilan masuk, tanpa berniat menelepon kembali.


Semua terasa biasa, tidak ada yang spesial dan tidak ada yang menarik perhatianku. Bahkan chat terakhir dengan wanita itu, Lisa, selalu saja aku pandangi. Berharap dia menghubungiku tetapi ternyata tidak.


Aku sepertinya bukan lelaki yang beruntung seperti Mr. Mike Lewis. Yang dapat membuat istrinya bertekuk lutut mencintainya seumur hidup. Dan dengan semua yang pernah aku berikan pun sepertinya tidak cukup untuk membuatnya bertahan. Apa dia benar-benar wanita yang berbeda dengan Tasha? Yang tidak mementingkan uang dan harta?


“Maaf, Pak, jika saya lancang. Seharusnya saya menunggu izin Anda untuk datang ke sini lagi.” Leo mengucapkannya dengan nada yang gemetar.


Aku menoleh kepadanya yang masih tertunduk lemas. “Lupakan saja. Ada perlu apa kamu jadi sampai harus kemari? Apa ada pekerjaan yang tidak bisa kamu handle sendiri?”


Leo akhirnya mengangkat wajahnya dan menatapku. “Bukan begitu, Pak. Kemarin sore saya sudah mendapatkan sebuah kabar tentang putusan pengadilan, bahwa Bapak memenangkannya,” jelas Leo terbata.


Aku embuskan napas ini dengan kasar. Sudah berbulan-bulan berlalu hal ini baru saja berakhir di saat hubunganku dengan Lisa juga sudah berakhir, sepertinya. Ditambah lagi dengan kondisi tubuhku yang seperti ini.


Rasanya tidak pantas jika aku menemuinya lalu mengatakan akan berjanji membahagiakannya, tetapi kondisiku saja tidak bisa membahagiakan diri sendiri. Terlalu tidak relevan.


“Lalu ada berita apa lagi?” tanyaku biasa saja padanya.


“Hanya tentang perusahaan, Pak. Banyak klien yang mencari dan ingin bertemu dengan Bapak secara langsung.”


Kemudian aku menggerakkan kursiku menuju meja kerja dan menyuruh Leo untuk duduk di depan meja kerja ini. Lalu aku juga memintanya untuk menceritakan secara detail kondisi perusahaan saat ini.


——————————


Dana POV.

__ADS_1


“Dasar wanita tidak tahu diri. Sudah menabrak dan menjatuhkan barangku, malah pergi!” umpatku sambil menatapnya melalui kaca spion.


Puas rasanya bisa mengumpat wanita itu di depan banyak orang. “Biar tahu rasa! Biar malu sekalian!” tambahku lagi, lalu segera menginjak pedal gas dan menancap pergi meninggalkan wanita tidak jelas itu untuk segera kembali pulang ke rumah.


Begitu sampai di rumah, aku langsung pergi ke kamarku dengan membawa serta dua buah kotak dari apartemenku tadi. Aku menyusun isinya satu per satu ke dalam koper. Lalu segera menurunkan ke lantai dasar.


Setelah aku rasa barang-barang semua sudah siap, baru aku melangkahkan kaki menuju ke ruang kerja Dave. Yang mana aku duga, Leo pasti masih berada di sana.


Tok tok tok!


Cklek!


Aku langsung menekan kenop pintu dan mendorongnya, lalu melihat mereka berdua yang sedang asik berbincang satu sama lain. Sepertinya Dave sudah mulai mencair kembali. Baguslah.


“Maaf, Dave. Aku pinjam Leo dulu sebentar untuk mengantarkan aku ke bandara. Setelah itu berpuas-puaslah kalian berdua berseteru,” sapaku asal lalu menarik sekilas kerah kemeja Leo. “Ayo, Leo!”


Belum lagi kedua kaki aku berhasil keluar dari ruangan itu, tiba-tiba saja Dave berkata, “Aku sudah mengubah tiket kamu untuk ke Bali terlebih dahulu. Besok paginya baru kamu akan ke Jakarta. Dan nanti akan ada tugas yang harus kamu lakukan. Bukan hanya sekedar mampir di sana untuk bersenang-senang.”


Seketika itu aku berbalik menatapnya, kenapa dia bisa mengatakan hal seperti itu? Kenapa dan dari mana dia tahu kalau aku akan pergi ke Jakarta terlebih dahulu lalu baru akan ke Bali??


“Dave, jangan bilang kalau kamu memata-matai dan memerhatikan gerak-gerikku selama ini?” Aku menoleh melihatnya dengan tatapan yang tidak percaya atas apa yang aku dapati di depanku kali ini.


Di sepanjang perjalanan menuju bandara, Leo menanyakan beberapa hak tentang Dave. Salah satunya tentang apa yang sudah terjadi padanya selama ini. Aku pun menceritakan sedikit padanya.


“Dave kecelakaan mobil beberapa bulan yang lalu saat pulang menuju ke apartemennya. Akibat dari semua itu otot kakinya sebagian mengalami pembengkakan dan juga ada yang kaku. Kata dokter akan bisa sembuh jika dia terus berlatih,” tuturku.


“Saya memiliki kenalan yang bisa melakukan terapi otot kaku, Pak,” tawar Leo bersemangat.


Aku langsung menoleh padanya, “Benarkah?” Leo mengangguk, “Kalau begitu begitu coba tawarkan padanya, siapa tahu dia mau mencobanya. Selama ini dia selalu mencoba segala kemungkinan yang akan membuatnya bisa menggerakkan kedua kaki itu dan aku harap, semangatnya untuk sembuh itu selalu ada,” ucapku gembira sambil berandai-andai.


Sepanjang perjalanan aku dan Leo terus saja berbincang, membahas tentang Dave seorang. Hingga tidak terasa akhirnya kami sampai di bandara.


“Aku titip Dave ya? Tolong sedikit perhatikan dia. Sisanya akan aku atur bersama dengan para maid yang ada di rumah,” titahku padanya seraya pergi meninggalkannya.


Hanya pada Leo aku bisa menitipkannya. Lagi pula Leo juga merupakan asisten di kantornya. Jadi seharusnya aku tidak perlu banyak mengkhawatirkannya.


Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Dave tadi, tiket pesawatku saat ini sudah berubah tujuan menjadi ke Bali, bukan lagi ke Jakarta dan dengan tiket terusan keesokan harinya baru menuju ke Jakarta.


Dave memang sialan, entah bagaimana caranya jadi dia bisa sampai mendapatkan ini dan melakukan semua ini padaku.

__ADS_1


Sembari menunggu, aku mengambil ponselku untuk mengirimkan sebuah pesan kepada kekasihku itu jika aku merubah jadwal keberangkatanku untuk ke Jakarta, agar dia tidak menungguku.


——————————


Lisa POV.


Bukan benci yang membuat aku menjauh, tetapi kecewa yang membuat hati ini seolah rapuh.


Benar, aku merasakan kerapuhan pada hati yang aku miliki sejak dulu. Karena aku selalu saja tidak bisa mempertahankan perasaan yang aku rasakan. Sejak dulu.


Aku mengerjabkan kedua mataku lalu langsung memandangi jam dinding di kamar yang menunjukkan pukul sebelas malam. Lagi-lagi aku tertidur dengan jam yang mulai tidak teratur. Padahal besok pagi aku memiliki kelas untuk kuliah.


Setelah lumayan lama aku merenung dan berpikir, aku kembali mengambil sebuah laptop dan berusaha melihat-lihat kembali pada situs online untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Karena sepertinya pekerjaan itu akan memiliki jam kerja yang teratur. Tidak seperti pekerjaan Julia yang akan membuat jam tidurku semakin kacau.


Atau mungkin aku harus pindah ke apartemen yang lebih murah untuk semester depan. Agar aku bisa menabung dan menghemat banyak biaya. Tiba-tiba saja ide itu melintas di benakku. Mungkin besok aku bisa bertanya pada Julia untuk harga kamar apartemen di tempatnya. Jadi aku bisa pindah dan menjual beberapa barang di sini lalu menabung. Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.


Ya, dalam pikiranku saat ini hanya satu, aku ingin memiliki banyak uang. Aku ingin kembali hidup seperti saat memiliki kartu debit platinum milik Dave. Sehingga untuk membeli apa pun, aku tidak perlu lagi memeriksa label harganya. Tetapi juga berusaha untuk hidup lebih sederhana selama di sini. Setidaknya hingga kuliahku selesai.


Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah bangun dari tidurku dan bersiap untuk segera pergi ke kampus menggunakan kereta bawah tanah. Aku terkekeh pelan, menatapi ujung kakiku saat ini, merasa tidak percaya jika aku bisa kembali menginjak alat transportasi umum yang satu ini.


Sesampainya di kampus, masih banyak waktu yang aku miliki sebelum kelasku di mulai dan ini memang sengaja aku lakukan, agar aku bisa menikmati sarapanku terlebih dahulu di kantin kampus ini.


Tidak banyak mahasiswa ataupun mahasiswi yang aku kenal di kampus ini, sebab aku tergolong wanita yang sangat jarang untuk berinteraksi sosial. Apalagi di lingkungan kampus. Jadi wajar saja, jika saat ini aku terlihat sendirian duduk di kantin, menyantap sarapanku dengan lahap tanpa memedulikan keadaan sekitar.


Bersambung ...


——————————


Maklumi typo masih ada aja bertebaran.


Jika ingin memberikan VOTE, silakan buka judul KEBAHAGIAN TAK SEMPURNA dan jadikan satu vote-nya ke judul itu. Oke? Karena kisah Lisa juga akan bersambung ke sana nantinya.


Terima kasih untuk kalian semua.


(season awal/pertama/satu sedang tahap revisi.) Favorite-in aja dulu judul ini, nanti aku kasih tahu kalau revisi sudah selesai dan kalian bisa membaca ulang.


Sekian dulu,


Babay 💋

__ADS_1


@bossytika


__ADS_2