Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 13


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Tika POV.


Tidak berapa lama kemudian, ponselku kembali berbunyi.


🎶


So I'm gonna love you like I'm gonna lose you


And I'm gonna hold you like I'm saying goodbye


Wherever we're standing


I won't take you for granted


'Cause we'll never know when, when we'll run out of time


🎶


Tapi kali ini bukanlah tanda notification melainkan sebuah nada panggilan telepon. Aku lihat nama lelaki itu muncul di layar ponselku bersamaan dengan foto profile wajahnya. Aku terkejut, kemudian segera ku geser tanda hijau pada layar untuk menerima panggilan telepon itu. Dan menempelkan benda itu pada telingaku.

__ADS_1


“Hallo?” sahutku dengan santai tapi sedikit ragu. Aku tidak menyangka dia akan menelepon sebab sebelumnya aku sudah membalas pesannya dengan sangat jelas.


Sekali lagi, lelaki itu menanyakan keberadaanku yang kujawab dengan jujur, bahwa aku sedang berada di mall dan ia menyanggupi permintaanku dengan satu alasan. Dan aku juga menyanggupi permintaannya. Lalu aku mengucapkan terima kasih.


“Ya udah kalo gitu, bye!” Aku memutuskan sambungan telepon kami dengan menggeser tombol merah pada layar. Lalu sesaat kemudian Lisa datang menghampiriku dengan beberapa benda yang ia beli.


“Siapa?” Lisa menanyakan siapa yang barusan saja menelponku itu sambil mengarahkan tatapannya pada ponsel yang kugenggam.


Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala dan tersenyum tipis. Kemudian kami melanjutkan proses antrian hingga pada akhirnya sampailah giliran kami.


“Jadiin satu aja, Mbak!” ucapku pada wanita yang duduk di balik meja kasir itu dengan sebuah mesin di depannya. Kemudian aku melotot pada Lisa yang hendak memprotes perkataanku hingga membuatnya mengurungkan niatnya untuk membantah keinginanku.


Aku mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet Max lalu memberikannya pada wanita di hadapanku sebagai alat pembayaran barang yang kami beli. Setelah itu Lisa langsung menerima kertas bungkusan belanjaan kami, di saat aku sedang sibuk memasukkan uang kembaliannya ke dalam dompet Max lagi. Lalu kami melangkah bersama keluar dari store.


“Nih, aku haus. Ngopi ya?” pintaku lagi saat kami sudah menemui Max sambil mengembalikan dompetnya. Max meraihnya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya di bagian belakang. Ia menerima permintaanku untuk membeli minuman tapi setelah selesai menemaninya melihat-lihat di toko itu.


***


Kami sengaja memilih sebuah meja di pojokan café dan di smoking area, agar Max bisa dengan bebas dan kapan saja menyalakan rokoknya. Untuk beberapa saat kami berbincang. Max menanyakan apa saja yang kami beli di store pernak-pernik itu. Tapi di saat Lisa hendak menunjukkannya, tiba-tiba saja ponselku kembali berdering, membuatku terkejut.


Aku meminta izin pada mereka berdua untuk menerima panggilan telepon itu lalu berdiri, sedikit menjauh dari tempat mereka duduk. “Iya? Gua di Setarbak. Lu gak usah parkir, langsung aja. Ntar begitu udah di depan klakson aja, gua samperin.” Setelah mendengar jawaban dari seberang sana, aku segera memutuskan sambungan telepon itu lalu berbalik.


Bruk!

__ADS_1


“Aw!” Aku menabrak dada bidang seseorang yang tidak lain adalah dada kakakku sendiri, Max. Dia memandangiku dengan penuh selidik. Dan aku hanya menunduk sambil mengelus keningku sendiri.


“Siapa barusan?!” tanya Max. Pertanyaan inilah yang membuat jantungku tiba-tiba saja berdegub dengan kencang. Sebab inilah rencanaku sebenarnya.


Meninggalkan Max berdua dengan Lisa saat minuman mereka masih penuh. Jadi mereka memiliki waktu berdua. Sekaligus membiarkan agar Lisa bisa lebih leluasa jika ingin mengobrol dengan Max.


Bukannya aku setuju jika Lisa menyukai Max dan bukan pula aku tidak setuju. Aku hanya ingin memberikan jalan pertama saja kepada mereka berdua. Sebab pada akhirnya salah satu di antara mereka pasti akan menceritakan kejadian nanti saat aku meninggalkan mereka berdua. Dan lagi setahuku, mereka berdua sedang sama-sama kosong.


“Aku baru inget kalo ada janji sama temen aku. Dia udah di bawah, aku nitip Lisa, ya? Gak apa-apa 'kan?” rengekku dengan menggenggam erat lengan Max dan ia hanya mengangkat kedua bahunya.


Dengan memelas aku meminta izin padanya yang mana akhirnya ia mengizinkan tapi setelah aku meminta izin pada Lisa untuk meninggalkannya. Aku segera berlari menghampiri Lisa. Lalu memberitahukan padanya jika aku melupakan sebuah janji dengan seseorang, padahal itu hanya akal-akalanku saja.


“Sorry ya?” rengekku sambil memberikan raut wajah memelasku, agar ia mengizinkanku untuk pergi.


“Trus gua, sama siapa di sini? Itu minuman juga masih banyak, liat deh,” sahutnya setengah panik.


Titt ...


Titt ...


Suara klakson dari sebuah mobil yang aku kenali sudah berada di depan sana, tak jauh dari tempat kami duduk. Aku segera berdiri lalu melambaikan tanganku. “Tenang, elu gak sendirian kok! Itu Max lagi beli bagel. Trus itu jepitan gua nitip ya! Bye!” Aku segera menempelkan pipi kanan dan kiriku pada kedua sisi pipinya lalu melambaikan tangan pada Max yang ada di dalam sana sedang mengantri membeli camilan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2