Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 7


__ADS_3

Max POV.


Aku menutup pintu kamarku setelah perdebatan kecil dengan adik bungsuku tadi. Langsung melemparkan tubuhku ke tengah-tengah ranjang dan memejamkan mataku sebentar, sebelum mandi. Sekilas ingatanku kembali melayang pada sikap Lisa tadi saat di rumahnya. Tidak pernah aku melihatnya seperti itu. Dan tidak semestinya ia berbuat seperti itu padaku, bukankah ia sadar jika aku ini adalah kakak dari seorang sahabatnya? Tidak pantas rasanya jika dia bersikap seperti itu, apa lagi jika sampai Tika tahu. Bisa-bisa mereka berkelahi.


Tapi tunggu dulu, pemikiran macam apa ini? Tidak sepantasnya aku memikirkan hal ini. Aku menegakkan tubuhku untuk bangun dari ranjang dan duduk di pinggiran. Aku kembali berkaca diri, mencoba mengingat lagi, apa semua yang terjadi hari ini juga karena sebab dari ulahku? Memang apa yang sudah aku lakukan? Rasanya tidak ada sedikit pun sikapku yang berlebihan. Aku juga tidak menggodanya, tidak pula berbicara gombal padanya.


Aku segara bangun dari tempat tidurku, lalu menghela napas dengan kasar. Pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


Setelah kembali berpakaian, aku memutuskan untuk duduk di halaman belakang. Bersantai sejenak sambil menyulut sebatang rokok. Menikmati setiap hirupan dan embusan dari asap rokok itu, sambil menenangkan pikiranku. Akan tetapi, bukanlah ketenangan yang aku dapatkan melainkan sebuah perasaan yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Terlalu abrak dan aku tidak mengerti.


Sambil duduk bersandar di kursi lounger pinggiran kolam renang, aku memandang kerlap-kerlip bintang di atas sana. Dengan kilauan yang sangat kecil tapi indah, begitu memesona. Dan diumurku sekarang, yang sudah bisa untuk dikatakan tua ini membuatku tersadar akan satu hal. Yaitu cinta.


Seorang pasangan yang seharusnya menemaniku. Aku memang banyak mendekati wanita, tapi semua itu hanya sebagai teman, tidak lebih. Dan memang tidak ada yang bisa membuatku tertarik. "Masa iya aku gay?" gumamku sambil terkejut lalu kembali duduk dengan tegak. Aku melipat kedua kakiku untuk duduk bersila di atas kursi. Menikmati rokok.


Bayangan wajah Lisa sekelebat terlintas, membuatku bergidik karena terkejut mendapatkan bayangan itu. Lalu pikiranku kembali melayang, mengingat kembali saat Lisa yang tiba-tiba menyerangku untuk menciumku kemudian di saat ia memeluk dengan detak jantungnya yang begitu keras, hingga aku dapat merasakan semua itu. Tapi aku tetap menganggapnya hanya sebatas adik, tidak lebih. Mungkin.


Entahlah, hati ini tiba-tiba bimbang jika kembali mengingatnya. Usia kami memang terpaut sangat jauh, hanya saja aku belum bisa memastikan gejolak perasaan macam apa ini?


Aku kembali menghela napas, mematikan putung rokok itu pada asbak kemudian kembali bersandar. Dengan kedua tangan yang kuangkat lalu kulipat sebagai tempat kepalaku bersandar. Memejamkan mata untuk sejenak berpikir dikala suasana tenang.


Namun, secara tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dengan pelan. Membuat aku kembali memuka mata dan melihat ke sekitar dan menemukan adik perempuanku yang kini berdiri tepat di sampingku.


"Kenapa?" tanyaku dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Aku lapar." Tika mengatakan sambil mengelus permukaan perutnya. Aku akui, umurnya memang sudah besar, sudah cukup bisa untuk mencari makanan sendiri di dapur atau pun mencoba untuk mencari bi Mince dan meminta beliau untuk memasak. Tapi sayangnya adikku yang satu ini bukan anak yang seperti itu. Ia lebih suka untuk mengganggu waktu istirahat kakaknya sendiri.


Aku beralih untuk duduk dan menjatuhkan kakiku ke lantai, kembali pada alas kakiku. Sedangkan Tika langsung merosot duduk di sampingku dengan mulutnya yang mengerucut, cemberut. "Kan bisa cari sendiri di kulkas, apa yang bisa dimakan di sana." Aku mengusulkannya agar ia bisa mandiri dan berhenti bermanja padaku.


"Aku mau makan di luar," pintanya lalu menoleh padaku. Aku mengernyitkan alisku lalu menatap jam tangan yang masih tersegel pada lenganku. Sudah hampir jam 11 malam dan ia meminta untuk makan di luar. Ini sungguh kebiasaan yang kurang baik. Yap! Kebiasaan itu yang dulunya diturunkan papah padanya.


"Kamu punya duit? Aku gak mau bayarin." Aku membuat alasan agar dia tidak jadi memintaku untuk menemaninya keluar rumah kali ini. Tapi ternyata trikku tidak berguna, ia sudah lebih dulu mendatangiku dengan membawa dompet serta ponselnya. Lalu memaksaku untuk menemaninya yang mana akhirnya menuruti permintaannya.


Setelah mengambil dompet dan ponselku lalu kumasukkan pada saku celanaku. Kami berjalan menuju garasi melalui pintu dapur kemudian membuka pintu garasi, mengeluarkan sebuah motor sekuter. Kami memang sudah sepakat untuk menggunakan kendaraan ini, sebab tempat yang kami tuju tidaklah terlalu jauh. Hanya di dekat komplek perumahan.


Aku meminta Tika untuk ikut mengenakan helm sebagai pelindung kepalanya, walaupun hanya pergi ke depan komplek. Begitu pula denganku.


"Kamu tadi ke mana aja sih sama Lisa?" tanya Tika sesaat setelah aku duduk di sampingnya dengan mengajukan sebotor air mineral. Kami memutuskan untuk duduk di sebuah lapak tikar yang di letakkan oleh abang gerobak penjual sate di pinggiran jalan.


Ia terus saja menatap jauh ke dapan, ke arah jalan raya yang kini sudah mulai menyepi. "Lisa suka kamu, Max!" tegasnya yang membuatku sontak terperangah!


Aku menatap Tika dari samping, pelahan dia juga menggerakkan kepalanya dan menatapku. "Sudah lama aku tahu kalo dia suka sama kamu. Tapi selalu aja disangkal. Sampai hari ini tadi, beberapa kali aku liat dia perhatiin kamu dari jauh. Makanya aku kasih waktu buat kalian."


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, terlalu memgejutkan untuk jantungku. Karena sebenarnya hal ini lah yang aku takutkan sejak dulu. Bahkan hingga beberapa menita yang lalu.


"Aku gak tahu apa yang sudah terjadi, antara kalian setelah aku selesai bicara sama Lisa lewat telepon kamu. Yang jelas, tadi Lisa bilang kalo dia butuh waktu buat sendiri. Dan gak biasanya Lisa begitu." Tika mengembuskan napasnya.


"A—aku,"

__ADS_1


"Aku gak tahu dan aku gak mau tahu, apa yang udah terjadi di antara kalian. Tapi aku cuman minta satu hal dari kamu. Jangan kasih dia harapan kalo memang kamu gak bisa buat nepatin. Apapun itu!" Tika semakin menegaskan setiap kalimat yang ia ucapkan. Yang mana semua kalimat itu adalah benar segara logis. Tapi secara batin? Secara perasaan hati?


Aku tertunduk memandangi kedua ujung jempol kakiku. Merasa bersalah karena sikapku tadi pada Lisa saat di rumahnya. Aku belum sempat mengatakan apa pun, bahkan untuk menyentuh hatinya saja tidak aku lalukan, lantas apa semua itu juga akan menyakiti hatinya?


Tadinya aku pikir tidak, sebab dengan begitu mungkin ia akan melupakanku. Dan sekali lagi kutekankan, ternyata tidak!


Lalu apa yang harus aku lakukan?


Perlahan aku melahap sepiring sate yang sebelumnya di berikan oleh abang pedagang itu. Dengan otakku yang masih saja melayang, memikirkan kondisi Lisa yang kurang baik akibat ulahku tadi.


***


Waktu fajar telah tiba, aku masih terbaring di balik selimut putih lembut yang selalu menemaniku disetiap malam. Perlahan aku membuka mata karena cahaya terang yang masuk melalui jendela, yang tirainya lupa aku tutup tadi malam. Akibat terlalu letih. Bukan tubuhku yang merasa letih, melainkan jiwaku.


Aku menegakkan posisiku untuk bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Lalu menatap lurus ke depan, ke arah dinding kamar yang terbuat dari kaca. Memperlihatkan pemandangan kolam renang beserta tumbuhan hijau yang ada di luar sana. Dari posisiku duduk sekarang saja, sudah jelas sekali terlihat jika udara di luar sana pasti terasa sangat sejuk dan nyaman.


Kemudian aku mencoba untuk beranjak dari tempat tidurku, melihat jam dan juga para gambar di dinding yang rasanya tiba-tiba saja ingin aku musnahkan. Tahu mengapa aku spontan ingin melakukan itu? Karena otakku tidak ada henti-hentinya memikirkan wanita itu. Wanita yang menjadi sahabat adikku, yang sering bertemu denganku di rumah ini.


Selintas, aku kembali mengingat semua perkataan Tika tadi malam. Satu per satu kata coba aku pahami dan aku cari maknanya. Dan sekarang aku mengerti, bahwa cinta bisa muncul hanya karena terbiasa.


Terbiasa melihat, terbiasa mendengar, terbiasa memuja bahkan terbiasa karena keadaan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2