Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 58


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Lisa POV.


Di sepanjang perjalanan aku hanya menangis. Menangisi lelaki yang rasanya baru kemarin menyatakan cintanya padaku. Lelaki yang membantuku melupakan cinta pertamaku dan menumbuhkan cinta lainnya di hati ini.


Rasanya, aku menyesal saat itu menolaknya. Membuang cincin itu dan tidak memaafkannya. Tapi aku begitu egois saat itu. Tidak mau mendengarkan penjelasannya lalu membuang kasar cincin itu.


Bodoh!


Aku benar-benar bodoh. Mengapa penyesalan selalu datang diakhir?


“Lis, elu mau langsung pulang aja? Atau—”


“Bawa gua keliling dulu ya? Gua kalo sendiri di kamar pasti bakalan mikir yang enggak-enggak,” sahutku yang sesegukan.


Julia mengabulkan permintaanku dan membawaku mengelilingi kota ini. Langit masih begitu cerah. Dengan matahari yang masih bersinar terang walaupun udara mulai sejuk. Tapi tidak dengan hatiku saat ini.


Aku merasa kembali kacau. Perlahan aku mencoba mengontrol diri, agar dada ini tidak terlalu terasa sesak, tetapi rasanya percuma. Semakin aku tahan akan semakin terasa menyakitkan.


“Kita ke Parliement Hill aja ya, elu belum pernah ke sana 'kan?” tawar Julia, yang aku jawab hanya dengan sebuah anggukan kepala.


Sesampainya di sana, Julia memarkirkan mobilnya lalu mengajakku berjalan kaki itu menaiki bukit itu. Aku benar-benar belum pernah ke tempat ini. Tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku, menanyakan tentang tempat ini kepada Julia. Padahal biasanya aku akan sangat antusias untuk bertanya tentang tempat yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya.


Sebenarnya Parliement Hill adalah sebuah kawasan taman terbuka di sudut tenggara Hampstead Heath di London barat laut. Bukit yang mempunyai ketinggian sekitar 98 meter (322 kaki) ini terkenal untuk melihat pemandangan latar langit ibu negara. Bukit ini juga dikenal sebagai Primrose Hill. Saat ini, di sana adalah salah satu kawasan perumahan yang paling eksklusif dan mahal di London dan menjadi rumah kepada ramai penduduk terkemuka.


Begitu sampai di atas bukit, hatiku yang tadinya terasa pilu dan kacau, seketika takjub dengan pemandangan yang ditampilkan di sana. Aku terperangah lalu menoleh kepada Julia yang tersenyum melihat ekspresiku.


“Wow! Beautiful!” lirihku.


Julia hanya mengangguk lalu membawaku untuk lebih dekat ke arah tepi dari bukit itu yang sudah di batasi oleh beberapa tanda, lalu mengajakku duduk pada salah satu bangku yang di sediakan di sana. Banyak para pengunjung lainnya yang menyambangi tempat ini. Beberapa di antara mereka bahkan sengaja membawa selembar kain untuk di gelar dan menjadi alas mereka untuk duduk di atas tanah. Bersantai dengan orang terkasih sambil berbincang dan bersenda-gurau.


“Dulu kalau gue sedih, gue pasti ke sini. Duduk di sini sambil merenungi hidup. Sampai akhirnya gue menyadari satu hal penting dalam hidup.” Julia membuka suara.


"Apa?” tanyaku sambil meletakkan bokongku pada bangku kayu itu, lalu memandanginya.


“Di luar sana, masih banyak nasib orang lain yang berada jauh di bawah kita. Bukankah kita beruntung bisa sampai pada titik ini?” Julia mengembuskan napasnya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku itu. Dia melipatkan kedua tangannya di depan dada.


“Jadi ... untuk apa kita menyesali semua yang sudah terjadi? Kenapa enggak mencoba untuk merelakannya aja? Toh semua sudah terjadi, menyesal pun tidak akan ada gunanya.”


Aku memikirkan perkataan Julia itu, berulang kali, sampai akhirnya ... aku berhenti memikirkan semuanya. Mungkin memang butuh waktu untuk melupakannya. Bukan hanya Dave tetapi juga Max. Dan merelakan mereka untuk wanita lain yang ada dalam hatinya. Bukan memaksakan keinginanku.


Aku kembali memandangi hamparan ibu kota London dari atas sini. Terdapat banyak mercu bangunan yang dapat aku lihat, salah satunya The Shard dan Katedral St. Paul. Tempat ibadah utama keuskupan masyarakat di kota London.


Perlahan aku menyandarkan kepalaku pada bahu Julia, sambil menikmati suasana di tempat ini. Indah dan juga sejuk dengan hamparan hijau rerumputan di atas tanah, terasa sangat menyehatkan mata.


Aku dan Julia menikmati pemandangan itu hingga sunset menjelang. Matahari yang seolah terbenam di balik gedung-gedung tinggi kota London membuat hatiku terasa lebih tenang saat ini.



Setelah puas duduk di sana hingga langit menggelap, aku dan Julia akhirnya memutuskan untuk kembali dan segera pulang. Mengakhiri hari yang terlalu berat bagiku.


“Makasih ya, Juls, udah nemenin hari ini.”


Julia menatapku dengan ekspresinya yang seakan ikut sedih melihatku. Lalu dia merentangkan kedua tangannya yang membuat aku tersenyum dan segera masuk ke dalam pelukannya.


“Juls, kalau misalkan suatu hari nanti lu ketemu sama Dave. Tolong ya ... tolong banget, kalau dia tanya tentang aku, kamu bilang gak tahu aja. Aku gak mau bikin istrinya terluka dan sakit hati. Karena aku tahu gimana rasa keduanya.”


Julia melepaskan pelukannya. “Lalu kamu sendiri?”

__ADS_1


“Mungkin suatu saat aku juga akan sebahagia itu. Tapi aku gak tahu kapan pastinya.” Aku hanya berusaha bijak saat ini, karena nyatanya hati ini masih terasa begitu terluka.


Julia langsung memilih untuk segera pulang, karena malam ini dia kembali akan melakukan pekerjaannya, sehingga dia membutuhkam istirahat terlebih dahulu. Awalnya dia mengajakku lagi, tetapi aku mencoba untuk menolak tawaran itu. Sepertinya aku memang memerlukan waktu sendiri. Ya, i need my space.


Aku segera kembali ke kamar apartemenku lalu mengurung diri di sana. Tidak menangis, aku tidak boleh menangis. Benar apa kata Julia, semua sudah terjadi, tidak seharusnya aku menyesali semua itu. Terlambat untuk mengatakan penyesalan.


Sambil duduk di kursi balkon kamar, aku kembali menyulut sebatang rokok lalu menikmatinya. Menatapi langit yang sudah menggelap dengan taburan bintang yang menghiasi di atas sana.


**


Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali. Lalu memutuskan untuk jogging. Berlari mengelilingi beberapa blok wilayah gedung apartemenku ini. Sambil menikmati udara sejuk di pagi hari.


Sudah lama aku tidak melakukan olahraga ini. Napasku menjadi lebih pendek dari sebelumnya. Mungkin juga karena pengaruh rokok. Tapi aku tidak bisa menghentikannya begitu saja. Bagiku, rokok adalah penyelamat jiwaku jika sedang bersedih. Lagipula aku masih mampu untuk membelinya di kota ini, walaupun harganya di sini hampir lima kali lipat lebih mahal dari pada di Jakarta.


Saat ini aku sengaja berlari kecil pada sebuah gedung tinggi yang mungkin sudah terlau jauh dari gedung apartemenku. Dan mungkin juga sangat jauh, sebab tiba-tiba saja aku mulai tidak mengenali daerah itu. Sepertinya aku berlari terlalu asal dan hanyut dengan lantunan lagu pada headset yang aku gunakan. 'Sial,' rutukku dalam hati sambil melihat ke kanan dan kiri.


Napasku sudah tersengal dan rasanya untuk berjalan kembali ke apartemen terlalu jauh dan melelahkan. Dan yang bodohnya lagi, di kota ini tidak ada 'ojek' ataupun 'angkot' seperti di Jakarta.


'Sepertinya aku memang harus berbalik dan berjalan santai untuk kembali ke apartemen,' pikirku pada akhirnya.


Namun, begitu aku berbalik tiba-tiba saja ...


BRUUK!!


Aku menabrak seseorang yang sedang membawa beberapa kotak di tangannya, hingga membuat aku terpental jatuh dan kotak itu menimpa tubuhku. Isinya langsung bertebaran tertiup angin pagi. Dengan gesit seorang lelaki si pemilik kotak itu langsung berlari ke sana-kemari untuk memunguti kertas itu. Aku juga dengan spontan memunguti beberapa benda yang berjatuhan di sekitaran badanku.


Tiba-tiba aku terkejut, begitu melihat sebuah foto sepasang manusia yang mana wanitanya sepertinya aku kenali. Hanya saja aku tidak terlalu yakin. Sebab wanita itu sedang mengenakan sebuah jaket hoddie dan terlihat sedang mengecup pipi seorang lelaki.


“Perbuatan ini sama saja dengan menguntit!” ucap tegas seorang lelaki yang langsung menarik selembar foto itu dari tanganku lalu juga menarik sebuah kotak miliknya yang aku pegangi.


Wajah lelaki itu sangat mirip dengan lelaki yang ada di dalam foto tadi. Aku lumayan terkejut saat dia mengatakan aku mirip penguntit. Sialan!


Aku tidak percaya lelaki ini akan berkata seperti itu. Ternyata tidak hanya di Jakarta saja ada lelaki kasar, di sini juga ada. Dengan emosi aku menghentakkan kakiku lalu langsung berlalu pergi tanpa mengatakan apa pun. Aku tidak ingin membuang tenaga dan menghancurkan mood-ku hanya untuk meladeni ocehan lelaki sialan itu.


“Hei!! Kamu seharusnya mengucapkan maaf kepadaku!!” teriaknya di belakang sana membuat orang-orang yang melintas berlawanan arah kepadaku jadi menatap aneh.


Seketika hatiku geram karena ulah lelaki tidak dikenal itu, dia benar-benar mempermalukanku. Sialan!


Tidak, aku tidak berbalik ke arahnya dan melakukan apa yang dia mau, tetapi sebaliknya. Aku malah semakin mempercepat langkah kakiku, pergi meninggalkannya. Ya, itu adalah keputusan yang terbaik.


Setelah melewati sekitar dua blok gedung, napasku semakin tersengal. Aku berhenti sejenak di ujung jalan dengan membungkukkan tubuhku dan menopangnya pada kedua tanganku yang mencengkeram lututku.


Aku berdiri pada deretan paling depan, bersiap untuk menyeberang jalan bersama dengan warga lainnya yang sudah siap pergi ke tempat kerjanya masing-masing. Lampu pejalan kaki masih terlihat merah lalu tiba-tiba saja sebuah mobil melintas berbelok ke arah jalan di depanku dengan begitu pelan dan dengan kaca jendela mobil yang terbuka. Dari posisisku sekarang, aku dapat melihat dengan jelas siapa orang yang ada di dalam mobil itu.


Seorang lelaki yang mengenakan kaca mata hitam dengan pakaian yang terlihat familiar di mataku. Sontak aku mengingatnya begitu dia mengacungkan jari tengahnya padaku dan berseru, “How bit*h you are!!” umpatnya padaku lalu melesat pergi meninggalkan aku dengan sejuta rasa kesal karena para pejalan kaki lainnya memandangiku dengan tatapan aneh dan jijik.


Dalam hati, ingin sekali aki menjerit saat itu, tetapi aku tahan. Hingga akhirnya lampu pejalan kaki itu berubah menjadi hijau lalu aku segera berlari dari kerumunan itu, melintasi gedung demi gedung dengan rasa geram.


Sampai di dalam apartemen, aku langsung melepaskan topi yang aku kenakan tadi laly melemparkannya ke atas sofa. Begitu juga dengan headset dan ponselku yang menjadi pelampiasanku untuk melempar kencang ke sudut sofa.


“F*ckhead!! Ash*le!!!” Aku mengumpat kencang. Mungkin kamar sebelah juga akan mendengar umpatanku ini.


Dengan napas tersengal aku menghempaskan bokongku ke sofa itu lalu menyandarkan tubuhku. Merebahkan kepalaku dan memejamkan mata sebentar, sambil mengatur napasku.


Kedua kaki ini rasanya sangat letih berlari berblok-blok hanya untuk menghindari lelaki sialan itu. “Dia yang tidak punya mata! Menabrak wanita bukannya minta maaf malah mengataiku jal*ng! Membuat malu saja!!” kesalku lagi.


Napas ini rasanya belum begitu stabil dan belum terlalu sempurna. Masih dengan kesal aku melepaskan sepatu olahragaku satu per satu lalu melemparkannya ke lantai dengan emosi. Hingga menghasilkan suara gaduh.


“Awas aja kalo ketemu lelaki itu lagi. Akan aku gigit bahunya sampai membiru! Ash*le!! Ash*le!! Ash*le!!” Aku masih berteriak meledak-ledak, melampiaskan rasa kesal di hati ini.


**

__ADS_1


Seharian aku berada di kamar, tidak ada yang aku kerjakan. Hanya merebahkan diri sambil berguling-guling di atas tempat tidur, dengan sebuah benda canggih di tanganku. Sambil melihat-lihat beranda sebuah aplikasi media sosial. Menggulirkan jari terus dari bawah ke atas untuk melihat gambar-gambar yang diungggah oleh orang lain.


Sekotak pizza pesan antar, telah habis aku lahap hingga tidak bersisa. Menimbulkan rasa kantuk pada kedua mataku. Hingga akhirnya aku merasa bosan sendiri. Lalu tiba-tiba ponsel yang sedang aku pegang itu langsung berdering kencang sambil memunculkan nama Tika di sana.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Aku langsung mengubah posisiku menjadi duduk, lalu memggeserkam tombol hijau pada layar ponselku itu. “Hallo?”


Suara Tika di seberang sana terdengar sangat gembira. “Hai!!! Elu lagi ngapaiiiin?”


“Dih, nanyanya biasa aja dong! Jangan lebay!” Aku menyahutinya, dia terkekeh geli.


“Eh, katanya Reza, dia udah kirimin elu tiket via email. Cek gih!!” titahnya.


“Iya entaran gua cek!! Lagi males!” Aku kembali merebahkan tubuhku sambil menatap dinding langit-langit kamar ini.


“Apa kabar cowok elu? Kenapa gak ajak dia sekalian buat ikut ke sini? Biar lu ada temennya di dalam pesawat berjam-jam.” Tika mulai berceloteh sesuka hatinya.


“Udah putus! Udah jomblo lagi gua! Kita udah gak selevel lagi!” rengekku manja.


Tika tertawa. Lagi-lagi seolah mengejekku. Sudah berkali-kali dia seperti ini. Menyebalkan!


“Oh iya, gimana kabar cowok elu? Ntar nikahan Max, dia hadir dong?” Aku lumayan penasaran dengan kekasihnya, sebab ini adalah kekasihnya yang pertama.


“Ya gitu deh, gak tahu dia bisa dateng apa enggak pas acara nanti. Yang pasti dia katanya malam ini mau dateng ke sini!” Tika terdengar gembira dan bersemangat sekali mengatakan itu padaku. Aku cukup senang mendengarnya. Bahkan saat dia menceritakan kedekatan mereka.


Mendengar cerita Tika itu, sekilas mengingatkan aku lagi kepada Dave. Saat di mana aku begitu bahagia menjadi hari dengannya di sini. Di negara asing yang sama sekali tidak aku kenal. Hingga dia membawaku berkeliling kota ini dan mengenalkan berbagai sudut kota ini. Sampai akhirnya membuatku betah tinggal di sini.


Tapi sayangnya, semua itu hanya sementara. Dan aku harus segera menyelesaikan kuliahku. Agar aku bisa bekerja, mengumpulkan uang sebelum benar-benar pulang ke Jakarta.


“Oh iya, ntar kalo elu pulang, gua nitip oleh-oleh ya? Itu tuh camilan yang dulu kita beli di Borough Market sama bagel yang enak itu. Aman 'kan kalo dibawa dalam pesawat?”


Aku terkekeh geli mendengar permintaannya, begitu sederhana seperti anak umur dua belas tahun yang kelaparan. “Kalaupun gak aman, nanti bakalan gua cari cara biar jadi aman bawanya sampai ke tangan elu!” Kemudian kami tertawa bersama. Dan melanjutkan obrolan lainnya hingga berjam-jam.


Dalam hatiku berkata, 'Enak juga ya hidup kayak Tika, apa pun yang dia mau sepertinya akan terkabul. Tanpa harus cemas memikirkan kelangsungan hidupnya. Sedangkan aku?'


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa jika kalian mendukung karya ini, berikan boom like dan komen sebanyak-banyaknya.


Tertapi jika ingin memberikan VOTE, silakan buka judul KEBAHAGIAN TAK SEMPURNA dan jadikan satu vote-nya ke judul itu. Oke?


Terima kasih untuk kalian semua.


(season awal/pertama/satu sedang tahap revisi.) Favorite-in aja dulu judul ini, nanti aku kasih tahu kalau revisi sudah selesai dan kalian bisa membaca ulang.


Sekian dulu,


Babay 💋


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2