
Lisa POV.
Santai. Sebuah kata yang memiliki arti terbebas dari segala kondisi ataupun rasa ketegangan yang membelenggu jiwa. Dan arti kata itulah yang sedang aku lakukan hingga saat ini, mencoba bersikap santai. Sebab sejak lelaki ini muncul di depan pintu rumahku, seketika jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Belum lagi saat ia mengutarakan perhatiannya padaku. Menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, mengisikan isi kulkasku tanpa aku minta, lalu memasak untukku. Ya, aku menyebut semua yang ia lakukan malam ini untukku adalah bentuk perhatiannya padaku. Aku tidak peduli, ini adalah bentuk perhatiannya pada seseorang yang dianggap adiknya atau pada seorang wanita. Yang jelas ia melakukannya padaku, saat ini.
Sesekali aku mencuri pandang meliriknya yang sedang asyik melahap masakannya sendiri. Aku akui, capcay ini memang begitu lezat. Mulut dan lidahku seakan tidak mau untuk berhenti mengunyah makanan ini. Menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam rongga mulutku. Hingga akhirnya isi piring ini habis aku makan. Aku meraih gelas minumku lalu meneguk airnya beberapa kali tegukan.
“Enak?” tanya Max, secara tiba-tiba ia melontarkan kalimat itu membuatku terpekik. Untung saja air di dalam mulutku sudah meluncur bebas di dalam sana, jika tidak, bisa-bisa semua isinya tersemprot ke depan wajah dan membasahi pakaiannya itu. Aku jawab cepat hanya dengan anggukan kepala.
Selesai makan, aku memutuskan untuk mencuci piring sekalian membersihkan dapur. Sedangkan Max memilih untuk merokok di halaman teras belakang. Sesekali aku memandanginya dari jendela yang ada di hadapan tempatku mencuci piring. Bahkan aku beberapa kali tersenyum melihatnya.
Apa begini rasanya jika serumah dengan Max?
__ADS_1
Dibuatkan makan malam jika ia telah selesai bekerja. Aku tertawa geli membayangkan semua itu. Lalu seketika tersenyum miris, andai saja semua itu bisa terwujud, tapi sayang, Max melakukan semua ini hanya karena aku sudah dianggapnya sebagai adiknya. Yeah, jadi untuk apa repot-repot aku kembali memikirkannya?
Aku memutuskan untuk sejenak menonton televisi sambil menurunkan isi makanan dalam perutku. Lalu tiba-tiba saja, Max juga ikut menonton televisi. Saat aku menoleh, ia juga membalasnya dengan senyum simpul di wajahnya. Tanpa aku sadari, aku terlarut dalam situasi yang mana membuat mataku mengantuk dan akhirnya tidur terlelap.
Cup!!
Sebuah ciuman dalam tidur dapat aku rasakan. Tidak lama, hanya pertemuan antara dua bibir yang saling menyentuh permukaan. Tidak ada kelanjutan dan sentuhan itu mampu membuatku mengerjabkan mataku berkali-kali. Mencoba tersadar dari tidur yang lumayan sebentar.
Orang yang mencium bibirku itu adalah Max. Ya, dia sedang menatapku saat aku membuka mata. Dengan setengah rasa keterkejutannya saat hendak beranjak dari duduknya di pinggiran ranjangku, aku menyelipkan tanganku, meraih lengannya.
Entah sejak kapan aku sudah berada di dalam kamar dan di ranjangku sendiri. Mungkin saat aku ketiduran di sofa depan lalu Max langsung berinisiatif untuk mengangkatku, memindahkanku ke kamar. Ia juga sudah mematikan lampu kamar, hanya lampu tidur di samping ranjangku saja yang masih menyala. Dan di bawah cahaya temaram itu, kami masih bisa saling memandang. Dan jujur saja, detak jantungku kali ini berdegup dengan kencangnya.
Tidak ada suara ataupun kata-kata yang diucapkan olehnya. Dan untuk kedua kalinya ia hendak berdiri bangkit dari duduknya. “Temani aku.” Lagi-lagi aku mengucapkan kalimat ambigu yang terdengar nakal.
__ADS_1
Bagaimana tidak?
Untuk apa minta ditemani dalam kamar dan dengan cahaya lampu yang minim seperti ini?
Ditambah lagi dengan posisi kami yang saat ini berada di atas ranjang. Bukankah kalimat itu terlalu nakal untuk aku ucapkan?
“Jangan kayak ini, Lis,” lirih Max dengan pandangan matanya yang berubah sendu. “Jangan terus-terusan menggodaku. Aku lelaki normal dan aku yakin, kamu juga wanita yang normal.” Max meraih tanganku yang memegang lengannya lalu melepaskan pegangan tanganku itu.
'Aku menggodanya? Yang benar saja, dia yang sudah menggodaku dengan sebuah makan malam!' jeritku dalam hati.
Max beranjak berdiri dari duduknya, tapi tangan nakalku malah dengan spontan menarik ujung kemejanya yang sudah keluar dari celananya sejak ia memasak di dapur tadi. Ia menoleh saat merasakan bajunya kutarik. “Please ...,” lirihku memohon padanya untuk minta ditemani saat ini.
Aku tidak bisa mendustai isi hatiku, walaupun pikiranku mencoba menolak dengan segala cara yang ada. Apa lagi jika mengingat sebentar lagi aku akan pergi. Apa aku tidak boleh merasakan kasih sayangnya, walau hanya untuk malam ini?
__ADS_1
Bersambung ...